Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 85.


__ADS_3

Malam hari semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk menyaksikan pernikahan Aryan yang akan dilangsungkan sebentar lagi.


Penghulu yang akan menikahkannya juga sudah stay di rumah itu. Tinggal menunggu Aryan dan wanita itu keluar dari kamar.


"Aksa, tolong panggil Aryan di kamarnya. Ijab qabul akan dilangsungkan sebentar lagi." seru Arhan pada putra sulungnya.


"Iya Pa," angguk Aksa, lalu meninggalkan semua orang dan naik menuju lantai dua.


Sesampainya di depan pintu kamar Aryan, Aksa mengetuknya tapi tak mendengar sahutan sama sekali.


Aksa mulai panik dan memilih mencari kunci cadangan, sayang sepertinya Aryan sudah mengambilnya terlebih dahulu.


Mau tidak mau Aksa terpaksa mendobrak pintu karena takut Aryan melakukan sesuatu yang tak diinginkan di dalam sana.


"Braak!"


Dalam hantaman ketiga kali, pintu akhirnya terbuka dengan paksa. Segera Aksa berlari memasuki kamar tapi tak menemukan siapa-siapa di sana.


"Aryan..." seru Aksa dengan manik mata berguling liar menyisir setiap sudut. Balkon dan kamar mandi pun tak luput dari pencariannya.


Sayang Aksa tidak bisa menemukan Aryan dimana-mana. Apa Aryan kabur dari tanggung jawabnya?


Kembali Aksa berlari ke balkon dan menyisir setiap pagar pembatas.


"Deg!"


Aksa terperanjat saat mendapati beberapa helai kain yang di simpul menjadi satu. Jelas bahwa Aryan sudah melarikan diri dari pernikahan ini.


Dengan air muka panik Aksa lekas berlari meninggalkan kamar dan turun dengan langkah seribu. Semua orang yang ada di bawah terkejut melihat kedatangannya yang terburu-buru.


"Aryan kabur Pa," seru Aksa dengan nafas tersengal, lalu memberi kode kepada Baron untuk mencari keberadaan adiknya itu.


"Apa?" Aina membulatkan mata dengan sempurna, dia terhenyak di atas sofa sembari memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Apa yang kamu lakukan Aryan? Apa kamu ingin membunuh Mama secara perlahan?" lirih Aina berderai air mata. Dia tak menyangka Aryan akan mempermalukannya seperti ini. Jika Aryan kabur, lalu bagaimana nasib wanita yang sudah duduk di depan penghulu itu?


"Sayang, Aina jangan banyak pikir ya. Kita akan menemukan Aryan secepatnya," Arhan duduk di samping Aina dan memeluknya sembari mengusap punggung istrinya itu.


"Aina rasanya ingin mati saja Bang kalau begini," isaknya pilu.


"Sssttt... Jangan bicara seperti itu! Apa Aina tidak kasihan sama Abang?" Arhan mengusap pipi Aina, dia juga tidak habis pikir dengan kelakuan Aryan.


Aksa yang melihat itu ikut larut dalam kesedihan sang mama. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lainnya.


"Sayang, Kakak harus pergi mencari Aryan. Kamu di rumah dulu ya," ucap Aksa pada Inara.


Inara mengangguk pelan tanpa menjawab apa-apa, dia juga syok atas kelakuan Aryan yang menurutnya tidak menunjukkan sikap seorang pria yang bertanggung jawab.


Setelah mendapatkan izin, Aksa mengedipkan mata ke arah Rai yang tengah berdiri di samping Avika. Rai membalas kedipan itu dan mendekatkan wajahnya ke telinga Avika.


"Vi, aku pergi dulu ya." bisik Rai meminta izin.

__ADS_1


Avika mengangguk lemah tanpa menjawab apa-apa. Sama seperti Inara, dia juga syok atas kejadian ini.


Aksa dan Rai kemudian meninggalkan semua orang dan masuk ke dalam mobil. Baron menyusulnya dan masuk ke mobil lain setelah memanggil Tobi. Dua mobil itu berpencar sembari terus berkomunikasi melalui telepon genggam.


Di tempat lain, Aryan nampak frustasi sembari menenggak minuman keras yang sudah dia habiskan sebanyak dua botol. Dia terus saja meminta seorang bartender menyuguhkan minuman untuknya.


Satu jam yang lalu dia sengaja melarikan diri dari rumah. Tepat saat pos penjagaan sedang kosong, motornya berhasil keluar dari gerbang tanpa sepengetahuan orang rumah.


"Aku akan menikahinya, aku janji. Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku, tapi aku yakin bukan dia orangnya. Aku bisa merasakannya," lirih Aryan dengan mata memerah karena kepalanya mulai pusing pengaruh minuman sialan itu.


Setelah membayar minuman yang dia habiskan, Aryan meninggalkan tempat laknat itu dan mengemudikan motornya tanpa tau arah tujuan. Dia hanya ingin menjauh sembari mencari kebenaran.


Tak terasa sudah dua jam Aryan melajukan motornya hingga sampailah dia di pelosok yang cukup jauh dari pemukiman warga.


Saat melewati jalanan yang sepi dan gelap, motornya tak sengaja menghantam lubang yang cukup dalam sehingga keseimbangan Aryan tak bisa dia kendalikan.


"Ciiit!"


"Bruuk!


Motor itu jatuh dan terseret sejauh sepuluh meter, lalu menghantam sebuah tiang.


Suara benturan yang cukup keras tiba-tiba membangunkan tidur seseorang hingga terduduk saking terkejutnya. "Ya Tuhan, suara apa itu?" gumamnya.


Sementara Aryan sendiri sudah terkapar dengan luka gores yang cukup serius di kepala, lengan dan kakinya. Darah segar tak hentinya keluar dari kulitnya yang terkelupas.


"Aaaah..." rintih Aryan yang sudah tergeletak tak berdaya dengan kondisi setengah sadar.


"Deg!"


Betapa terkejut gadis itu saat menangkap keberadaan seseorang yang sudah tergeletak di dekat sebuah tiang.


Tanpa pikir, gadis itu langsung berhamburan menghampiri korban. Matanya membulat mendapati seorang pria yang sudah tak berdaya dengan suara rintihan yang terdengar memilukan.


"Tolong..." lirih Aryan dengan pandangan berkunang-kunang.


"I-Iya..." ucap gadis itu terbata.


Seketika manik mata gadis itu berguling liar menoleh ke sana kemari untuk mencari bantuan, sayang tak ada satupun manusia yang lewat di kawasan itu.


Dengan segala kekuatan yang dia miliki, gadis itu terpaksa membantu Aryan bangun dari tanah dan memapahnya ke gubuk miliknya.


Dia kemudian membaringkan Aryan di atas tempat tidur kayu yang hanya beralasan kasur kapas yang sudah tipis.


Setelah meluruskan tubuh Aryan dan menaikkan kakinya, gadis itu lekas menuangkan air hangat yang ada di dalam termos, lalu membuka pintu lemari kayu yang sudah lapuk.


Dia kemudian mengambil kain untuk menyeka dan membalut luka Aryan yang masih mengeluarkan darah.


"Maaf kalau rasanya sedikit sakit, tapi lukamu harus dibalut agar darahnya tidak keluar terus." ucap gadis itu dengan suara yang sangat lembut, lalu membersihkan luka Aryan dan membalutnya dengan kain. Hanya itu yang bisa dia lakukan karena di gubuknya tidak memiliki kotak p3k.


Aryan hanya diam sembari mematut wajah polos gadis itu. Suaranya menenangkan hati dan mata almond nya sangat indah untuk dipandang.

__ADS_1


Gadis itu memiliki bulu mata lentik dan hidung yang lancip, semakin sempurna dengan bibir mungil yang merah seperti buah ceri.


"Terima kasih, maaf merepotkan mu malam-malam begini." gumam Aryan.


"Tidak apa-apa, namanya juga musibah. Lain kali berhati-hatilah dalam berkendara. Jalan di sini gelap dan banyak lubangnya." jawab gadis itu.


"Hmm... Sekali lagi terima kasih," ucap Aryan.


"Iya sama-sama, sekarang kamu istirahat saja dulu. Akan aku buatkan teh untukmu," gadis itu segera membereskan baskom air hangat dan sisa-sisa kain yang dia robek tadi, lalu membuatkan teh untuk Aryan.


Setelah beberapa menit, gadis itu kembali menghampiri Aryan dengan secangkir teh melati yang ada di tangannya. Dia kemudian membantu Aryan duduk dan menyodorkan teh itu ke tangan Aryan. "Minumlah, maaf cuma ada ini." ucapnya.


"Tidak apa-apa, sekali lagi terima kasih karena sudah bersedia membantuku." sahut Aryan.


"Jangan berterima kasih terus, sesama manusia bukankah kita harus saling membantu." jawab gadis itu.


"Iya, kamu benar." Aryan kemudian meneguk teh itu hingga tandas. "Tehnya enak, ada rasa bunga melatinya." sanjung Aryan sembari mengukir senyum.


"Hehe, itu memang teh melati." gadis itu tersenyum tipis.


"Benarkah? Padahal aku paling benci sama bunga melati, baunya aneh." ungkap Aryan.


"Tapi kenapa kamu meminumnya sampai habis?" gadis itu menautkan alis.


"Entahlah, mungkin karena kamu yang membuatnya." seloroh Aryan mengulum senyum.


Gadis itu ikut tersenyum dan mengambil alih cangkir yang ada di tangan Aryan, lalu membawanya ke belakang.


Seumur-umur baru kali ini dia mendapatkan sanjungan dari orang lain, tentu rasanya sangat berbeda. Dia seperti dihargai sebagai manusia yang diasingkan.


Setelah menaruh cangkir itu di dapur, gadis itu kembali dan membentangkan tikar di dasar lantai. Dia mengambil kain dan bantal lalu berbaring di bawah sana.


"Kamu tidur di sini saja, biar aku yang tidur di bawah." ucap Aryan merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, kamu di sana saja." gadis itu tersenyum tipis dan mulai memejamkan mata.


Aryan menatapnya dengan intim, gadis itu seperti tak asing di matanya. Apalagi suara gadis itu, Aryan merasa pernah mendengar suara itu sebelumnya.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku seperti pernah mendengar suaramu," tanya Aryan mengerutkan kening.


"Tidak, aku tidak pernah keluar dari gubuk ini. Aku tidak pernah bergaul dengan siapapun, mungkin kamu salah orang." jawab gadis itu dengan mata terpejam.


"Hmm... Bisa jadi." Aryan menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. "Kamu tinggal sendirian saja?" imbuh Aryan.


"Ya, aku sebatang kara." jawab gadis itu tanpa membuka matanya.


Mendengar itu, tiba-tiba air muka Aryan berubah sendu. Sungguh malang nasib gadis itu, dia cantik dan juga baik. Tapi kenapa dia harus menyendiri di tempat sepi seperti itu? Apa yang terjadi dengan gadis itu sebenarnya?


Lama bercakak dengan pemikirannya sendiri, Aryan tiba-tiba menguap hingga akhirnya tertidur menyusul gadis malang itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2