
Setelah kepergian Avika, Rai duduk di sisi ranjang dengan air muka keruh dan tatapan nanar. Ternyata menaklukkan hati Avika tak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan setelah berkorban sampai babak belur dihajar Baron pun tak membuat Avika luluh sedikitpun.
Di luar sana, Avika langsung menyambar tasnya yang tergeletak di atas meja.
"Ma, Tan, Avika pergi dulu ya. Mungkin pulangnya agak malam, habis dari kantor advokat Avika mau jalan dulu sama Indah dan Tia." ucap Avika saat berpamitan pada Aina dan Inda.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya. Jangan kemalaman pulangnya!" sahut Aina.
"Avika, bagaimana keadaan Rai?" tanya Inda yang masih penasaran.
"Sudah baikan kok Tan, cuma luka kecil saja."
Setelah mengatakan itu, Avika menyalami keduanya dan berlalu meninggalkan rumah. Saat memasuki mobil, diam-diam Rai menatapnya dari jendela kamar. Rasanya Rai sudah tidak sanggup menahan diri untuk tidak mendekati Avika tapi apalah daya tangan tak sampai.
Setelah mobil Avika pergi meninggalkan gerbang, Rai berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Beruntung pakaian Rai masih ada di dalam lemari, jadi masih ada yang bisa dia kenakan selepas mandi nanti.
Setengah jam berlalu, mobil Avika tiba di parkiran kantor advokat. Kebetulan Indah dan Tia sudah menunggu di sana. Pagi ini ada wawancara yang harus mereka lakukan, Avika berharap bisa diterima karena kemampuan yang dia miliki.
"Huftt..." Avika menghela nafas berat dan membuangnya kasar. Begitu juga dengan dua orang sahabatnya yang kini sudah duduk di ruang tunggu. Ada sekitar lima puluh orang yang mengantri di sana, hanya sepuluh yang akan diterima di kantor tersebut.
"Avika, apa kita akan diterima? Aku deg-degan sekali loh ini. Sepertinya mereka semua lebih unggul dari kita, lihat saja dandanan mereka sudah seperti seorang pengacara handal." kata Indah.
"Hust, tidak boleh pesimis begitu. Kita harus yakin dengan kemampuan kita sendiri, tidak perlu menilai orang dari sampulnya!" ujar Avika.
"Tapi benar loh kata Indah, aku jadi ragu dengan kemampuanku sendiri." sambung Tia.
"Kamu juga, bukannya memberi semangat malah ikut-ikutan Indah. Kalau kalian seperti ini jangan harap kalian bisa sukses kedepannya. Pengacara itu harus kuat mental dan tahan banting. Kalau begini lebih baik simpan saja ijazah kalian di rumah, pajang di dalam lemari buat kenang-kenangan." selang Avika dengan tatapan tajam kepada kedua sahabatnya itu.
Tidak lama, nama Avika dipanggil lebih dulu. Kebetulan dia mendaftar lebih awal dari yang lainnya. Avika menghela nafas panjang lalu masuk ke dalam ruangan.
Di dalam sana ada tiga orang wanita dan satu orang pria yang duduk berdekatan. Awalnya Avika nampak canggung, tapi lama kelamaan dia mulai terlihat santai menghadapi mereka semua. Avika tidak boleh gugup, dia harus menunjukkan wibawanya seperti Arhan sang papa. Sia-sia darah Arhan mengalir di dalam dirinya kalau dia tidak memanfaatkan kelebihan itu.
Satu persatu pertanyaan yang dilontarkan padanya dia jawab dengan cepat, tegas dan lantang tanpa gugup sedikitpun.
__ADS_1
...****************...
"Kak..." panggil Inara. Keduanya tengah duduk di sofa dengan posisi Inara yang tengah duduk di atas pangkuan Aksa. Mereka berdua menonton film action yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.
"Kenapa sayang?" sahut Aksa dengan tangan melingkar erat di perut Inara, sementara wajahnya tenggelam di tengkuk istrinya itu.
"Tidak apa-apa, cuma manggil saja." Inara mengulas senyum dan kembali fokus pada layar televisi.
Karena gemas, Aksa pun menggigit tengkuk istrinya. Sontak Inara terperanjat dan memutar leher yang muat bibir mereka tak sengaja bertemu.
"Ish, curang." Inara mengerucutkan bibir dan mencubit dada Aksa.
"Aww... Sakit sayang," rintih Aksa.
"Rasain, siapa suruh nakal terus jadi orang." Inara menajamkan tatapan.
"Yea, apa salahnya? Kan istri sendiri," jawab Aksa enteng dan membelit tubuh Inara gemas.
"Kak..." gumam Inara saat Aksa menjatuhkan tubuh mereka di atas kasur. Inara membuka mata lebar-lebar dengan pipi bersemu merah.
"Kenapa?" sahut Aksa mengulum senyum, tatapannya terlihat menuntut.
"Kak... Nanti saja ya, aku... Mmphh..." Belum selesai Inara berbicara, Aksa sudah mengesap bibirnya dan menggerayangi tubuhnya.
Seperti madu yang baru diambil dari pohon, rasanya sangat manis dan nikmat. Apalagi gundukan kenyal yang menggantung di dada Inara, sangat lezat dan menggoda.
Aksa melahapnya setelah melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Inara, menyosor nya seperti anak bayi yang tengah kehausan.
"Kak... Aakhh..." de*sah Inara dengan tubuh menggeliat. Manik matanya hilang meresapi nikmat yang luar biasa, lidah Aksa begitu lincah mengitari ujung dadanya, menghisap dan menggigitnya sesekali.
Kemudian Aksa turun dan menekuk kaki Inara. "Aughhh..." Seketika jeritan kecil lolos dari mulut mungil Inara saat merasakan lidah panas Aksa yang tengah menari di liang surganya.
Mata Inara memicing, dia menggigit bibir menahan rasa yang entah yang menguasai dirinya. Sekujur tubuhnya gemetaran dengan nafas tercekat.
__ADS_1
"Aughhh... Kak... Ya... Enak Kak," racau Inara. Dia meremas rambut Aksa dan menekan kepalanya. Tentu saja Aksa semakin gencar menghisap intisari istrinya.
"Gantian ya," ucap Aksa setelah Inara mencapai puncak kepuasannya. Aksa juga ingin adiknya dimanjakan seperti yang dia lakukan pada Inara barusan.
"Tapi Kak, aku tidak bisa." Inara membulatkan mata dengan bibir mencebik.
"Makanya belajar, Kakak sebelumnya juga tidak bisa tapi setelah dicoba ternyata rasanya enak. Coba dulu, baru bilang bisa atau tidak!" jelas Aksa.
Inara mengangguk lemah. Ya sudah, apa salahnya dicoba dulu. Lagian Inara juga penasaran bagaimana rasanya.
"Aakhh... Yah... Enak sayang," racau Aksa saat adiknya hilang timbul di mulut Inara. Wanita itu sampai terbatuk saat kepala adik Aksa menyentuh tenggorokannya.
Karena tak kuat menahan libi*do yang sudah memuncak, Aksa pun dengan cepat menarik adiknya. Dia menarik Inara dan memposisikan bokong istrinya di sisi ranjang, lalu menekuk kakinya.
Pelan-pelan adik Aksa mulai bergerak mencari pintu masuk. Inara menjerit kecil saat Aksa memasuki dirinya.
Ya, rasanya sangat perih. Apalagi ini masih pengalaman baru bagi Inara. Semalam saja intinya sampai lecet dihajar Aksa sebanyak tiga ronde. Sekarang sudah dijelajahi lagi dengan gerakan membabi buta.
Aksa tiba-tiba menjelma seperti monster yang sangat menakutkan, tapi meskipun begitu Inara tetap suka. Rasanya sangat endul, sulit diungkap dengan kata-kata.
"Aughhh..." de*sah Inara dengan suara yang sangat menggoda.
Puas dengan posisi seperti itu, segera Aksa membalikkan tubuh Inara. Dia mendatanginya dari arah belakang dan menggempur inti Inara dengan leluasa. Inara sampai menjerit menikmati permainan suaminya.
Saat lutut mulai goyah, Aksa kembali membalikkan Inara. Dia memiringkan tubuh Inara dan mengangkat sebelah kakinya. Aksa datang dari belakang dengan ayunan yang kian lama kian cepat seiring keringat yang mengucur deras di tubuh keduanya.
"Aughhh... Aakhh..." de*sah Inara diiringi jeritan kecil, seketika kaki Inara gemetaran dengan mata memicing dan menggigit bibir.
"Aakhh..." susul Aksa mengerang hebat. Akhirnya lumpur itu menyembur di dalam inti Inara.
Aksa membelit Inara dengan sangat erat, nafasnya tak lagi beraturan. Sedangkan Inara sendiri langsung tertidur di pelukan Aksa.
Bersambung...
__ADS_1