Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 101.


__ADS_3

"Ma, Pa, Dara sudah bersedia menikah dengan Aryan." pekik Inara sebelum tiba di ruang tengah. Sontak mata para orang tua yang masih duduk di sana melengos pada sumber suara. Terlebih Aina yang langsung bangkit dari duduknya. Seketika mata ibu tiga anak itu berkaca, tak terbilang berapa bahagianya dia mendengar itu.


Setelah Inara dan Dara berdiri di hadapan mereka semua, Aina langsung berhamburan memeluk Dara. Gadis cantik yang mulai detik ini akan menjadi putrinya.


"Sayang, Mama tidak salah dengar kan? Kamu yakin mau menikah dengan Aryan?" tanya Aina memastikan sembari membelai rambut Dara. Air matanya menetes menanyakan itu.


"Iya Ma, Dara mau." angguk gadis itu dengan yakin. Tidak hanya Aina, yang lain turut terharu mendengar pernyataan Dara.


Baru saja mereka semua membahas tentang itu, mencoba mencari cara untuk meyakinkan Dara agar mau menerima Aryan sebagai suaminya. Ternyata gadis itu sudah lebih dulu memberikan jawaban yang membuat hati semua orang menjadi lega.


"Sayang, bagaimana cara kamu meyakinkan Dara? Kenapa tiba-tiba Dara berubah pikiran?" tanya Nayla pada putrinya Inara.


"Entahlah Bun, tadi Kak Aksa cuma menceritakan bagaimana kejamnya wanita jahat itu pada keluarga kita. Sepertinya Dara tau tentang semua itu, Inara juga tidak tau alasan Dara menerima pernikahan ini." jawab Inara apa adanya.


Sontak semua mata tertuju pada Dara yang masih berdiri di tengah Aina dan Inara.


"Aku hanya mengikuti kata hatiku saja, mungkin ini sudah takdirku. Aku ingin memberi Aryan kesempatan, itupun kalau dia-"


"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah kamu berikan padaku. Aku janji akan membahagiakanmu dan aku juga janji akan menjadi suami yang baik untukmu." potong Aryan yang tiba-tiba datang bersama Aksa. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya, menandakan bahwa dia sangat bahagia mendengar keputusan Dara.


"Syukurlah kalau begitu, Papa senang mendengarnya." timpal Arhan yang ikut merasa bahagia karena kekhawatirannya telah lenyap seiring anggukan Dara. "Sekarang tugas kami para orang tua tinggal menentukan hari baik untuk kalian semua." imbuhnya dengan senyum memukau.


"Tapi Avika dan Rai mana? Kok mereka tidak masuk bersama kalian?" tanya Inda penasaran karena tak melihat sepasang calon pengantin itu diantara mereka.


"Jangan ditanya Tan, mereka lagi memadu kasih di luar sana." jawab Aksa dengan senyuman menyindir. "Ya sudah, karena semuanya sudah clear, Aksa pamit dulu. Ayo sayang!"


Aksa menghampiri Inara dan menggenggam tangannya, lalu membawanya ke lantai atas. Dia butuh obat untuk meredakan rasa pusing setelah berjibaku memikirkan kemelut yang terjadi diantara Aryan dan Dara.


Tentu saja Aryan tidak mau kalah dengan kakaknya itu. Aksa sudah ke kamarnya bersama Inara, Avika juga sedang berduaan dengan Rai di luar sana, dia juga ingin menghabiskan malam bersama wanita yang sudah mencuri hatinya itu.


"Ayo, ikut aku! Biarkan para orang tua memikirkan semuanya, itu bukan urusan kita." ajak Aryan. Dia menggenggam tangan Dara dan membawanya menuju lift.


"Aryan..." seru Arhan yang membuat langkah putra bungsunya itu terhenti.


"Tolong jaga sikap, jangan sekali-sekali-"


"Papa tenang saja, Aryan tau batasannya. Aryan tidak akan macam-macam sebelum Dara resmi menjadi istri Aryan." potong Aryan, lalu melanjutkan langkahnya. Dara hanya diam mengikutinya.


"Biarkan saja Arhan, toh mereka mau menikah juga." Baron membuka suara.

__ADS_1


"Bicara memang gampang, aku khawatir Dara masih trauma karena kejadian malam itu." Arhan menajamkan tatapan ke arah Baron. "Lagian Aina sih, kenapa harus menempatkan Dara di kamar Aryan? Abang sangsi, takut Aryan-"


"Loh, kok nyalahin Aina sih?" Aina mengerucutkan bibir. "Lalu Dara mau ditaruh dimana? Kamar kita lagi?" kesalnya.


"Tidak di kamar kita juga sayang, kamar tamu kan ada." Arhan tersenyum kecut melihat ekspresi istrinya.


"Kamar tamu letaknya di bawah Bang. Sementara kita semua berada di lantai atas, yang di bawah cuma Rai. Kalau Dara kenapa-kenapa di tengah malam siapa yang akan tau? Tidak mungkin Rai kan? Bisa ngamuk putri kesayangan Abang itu, kemarin saja sampai marah gara-gara salah paham." ketus Aina dengan wajah cemberut.


"Iya, iya, terserah Aina saja deh." terpaksa Arhan mengalah dan menghampiri Aina, lalu membawanya duduk untuk membahas persiapan pesta yang harus dirombak dari awal.


Di luar sana, Avika dan Rai masih betah duduk di bangku taman sembari menghitung bintang yang bertebaran di langit sana. Suasana nampak canggung karena keduanya masih setia mengunci mulut. Apalagi Avika yang masih kesal karena kejadian siang tadi.


"Aku masuk dulu," ucap Avika. Dia semakin kesal karena Rai sepertinya tidak berniat untuk minta maaf, baginya diam tidak akan menyelesaikan masalah.


Baru berjalan beberapa langkah, Avika tiba-tiba mematung saat tangan Rai melingkar di perutnya. Nafasnya tercekat di tenggorokan ketika bibir Rai menyentuh pundaknya. Deru nafas keduanya terdengar memburu.


"Jangan pergi dulu, aku masih ingin bersamamu." bisik Rai tepat di telinga Avika. Gadis itu tergelinjang merasakan hangatnya hembusan nafas Rai.


"Percuma bersamaku kalau hanya diam tanpa bicara, lebih baik masuk dan istirahat." ucap Avika dingin, sedingin hembusan angin yang menerpa tubuhnya.


"Kamu sendiri juga diam, lalu aku harus bicara apa?" lirih Rai mempererat pelukannya. "Aku ingin tau apa yang kamu rasakan, aku ragu dengan perasaanmu padaku." imbuhnya.


"Setelah semua yang terjadi diantara kita, kamu masih ragu padaku?" tanya Avika dengan nada meninggi.


"Tidak, bukan begitu-"


"Mikir tuh pakai otak Rai, jangan pakai dengkul. Apa semua yang terjadi diantara kita belum cukup untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu?" Avika tak habis pikir dengan keraguan Rai pada dirinya.


"Aku sudah mengatakan pada kedua orang tuaku bahwa aku mencintaimu, aku ingin menikah denganmu. Apa itu belum cukup?"


"Lalu aku marah dan cemburu saat melihatmu bersama Dara, aku kabur dari rumah hanya untuk meminta maaf atas kesalahpahaman itu. Apa itu belum cukup juga?"


"Bahkan aku membiarkanmu menyentuh tanganku, mencium bibirku dan memelukku. Apa itu masih kurang?"


"Selama ini aku bahkan tidak pernah bersentuhan tangan dengan pria mana pun kecuali keluargaku dan kamu."


"Gila kamu Rai, kalau begini sebaiknya batalkan saja pernikahan ini. Untuk apa menjalin hubungan jika begitu banyak keraguan di hatimu untukku?"


Avika mendorong Rai dan lekas berbalik. Saat dia hendak melangkah, Rai kembali memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Jangan pergi Vi, aku mohon!" Rai memeluknya semakin erat. "Maaf, tolong maafkan aku. Aku takut cinta ini bertepuk sebelah tangan, aku ingin menikah sekali seumur hidup. Aku tidak akan pernah melepaskanmu jika hubungan ini sudah terikat. Aku hanya ingin memastikan perasaanmu padaku, jangan sampai kamu menyesal memilihku." jelas Rai.


"Alasan, bilang saja kalau kamu-"


"Tidak Vi, aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi milikku dan berada di sisiku sampai aku mati. Hanya kamu wanita yang aku inginkan di dunia ini," ungkap Rai.


"Begitupun dengan aku, kamunya saja yang bodoh." umpat Avika. "Sudah, sekarang lepaskan aku. Aku mau tidur," imbuhnya kesal.


"Hmm... Aku memang bodoh Vi, cinta ini yang membuatku menjadi orang bodoh." angguk Rai mengakui kebodohannya.


"Bagus jika kamu mengakuinya, sekarang lepaskan aku!" ketus Avika.


"Tidak mau, aku ingin memelukmu malam ini." sahut Rai.


"Jangan gila Rai, mau kepalamu dipenggal sama Papa?" mendadak Avika tertawa ulah kebobrokan calon suaminya itu. "Semalam ada kesempatan malah disia-siakan, kini giliran di rumah mintanya macam-macam." omel Avika.


"Beda sayang, semalam katanya hubungan kita sudah berakhir. Kamu sendiri yang bilang begitu, sebab itulah aku meragukan perasaanmu. Aku takut setelah menikah nanti, ada masalah dikit kamu langsung minta cerai." keluh Rai mengungkapkan ketakutannya.


"Memang dasar bodoh kamu, Rai. Kalau sudah nikah beda cerita dong, kamu pikir aku mau jadi janda?" geram Avika.


"Siapa tau saja kamu mau? Bukankah jaman sekarang banyak wanita yang merasa bangga menyandang status itu?" Rai mengangkat bahu.


"Plaak!"


Rai terdiam saat tangan Avika mendarat di pipinya.


"Sakit tidak?" tanya Avika mengulum senyum, lalu berbalik setelah melepaskan tangan Rai dari perutnya.


"Lumayan," gumam Rai bengong.


"Hahaha... Mmuach..." Avika mengecup bekas tamparan tadi dan berlari menjaukan diri.


"Avika..." geram Rai dengan gigi menggertak kuat. Beraninya gadis itu menciumnya diam-diam seperti tadi.


"Dah sayang, mmuach..." seru Avika dari kejauhan dan memajukan bibirnya seolah-olah tengah mengecup pipi Rai.


Beberapa detik kemudian Avika langsung menghilang dari pandangan Rai.


Rai mengulas senyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ingin sekali dia menggigit leher Avika dan menghisap darahnya sampai habis.

__ADS_1


__ADS_2