Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 93.


__ADS_3

Sesampainya di ruang tengah, Aryan membawa Dara duduk di sofa. Dia terus saja menggenggam tangan gadis itu dengan erat.


Setelah Arhan, Aina dan Aksa ikut duduk. Aryan mulai membuka suara.


"Aku tau aku salah, tapi malam itu aku benar-benar tidak sadar. Aku dijebak oleh sahabatku sendiri, dia menyuguhkan minuman yang dicampur obat dan membawaku ke kamar itu. Aku yang melakukannya, pria bajingan itu adalah aku." ungkap Aryan penuh penyesalan.


Seketika Dara tersentak dengan jantung berdegup kencang. Jadi pria yang bersamanya beberapa hari ini adalah pria yang sudah merenggut kesuciannya. Dara bahkan tidak tau dan tidak mengenalinya. Malam itu gelap dan Dara tidak bisa melihat apa-apa, yang dia tau seorang pria memasukinya dengan kasar hingga dia jatuh pingsan. Saat terbangun dia sudah berada di rumah sakit.


"Maafkan aku Dara, aku tau perbuatan itu salah. Aku bersumpah atas nama Mama dan Papa, aku tidak berniat melakukannya. Aku benar-benar dijebak hingga pikiranku tidak bisa dikendalikan." imbuh Aryan.


Bukannya menyahut, air mata Dara malah menetes membasahi pipinya. Dia tau semuanya, dia tau bahwa dirinya dijadikan umpan untuk menghancurkan hidup seseorang. Hanya saja dia tidak menyangka bahwa pria itu adalah Aryan. Seminggu tinggal bersama, Aryan tidak pernah bertindak kurang ajar padanya. Aryan sangat baik dan juga sopan.


"Ya, aku tau kamu tidak bersalah. Aku juga tau bahwa kamu hanya korban. Sekarang biarkan aku pergi, kamu tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi. Anggap saja itu musibah," Dara membuka suara setelah beberapa saat terdiam.


Dia tidak mau dikasihani. Apalagi kejadian itu bukan sepenuhnya salah Aryan. Dia tidak layak berada di rumah itu, rasanya tidak pantas. Dia juga tidak ingin menjerat Aryan dalam hidupnya yang pelik.


"Maaf Nyonya, Tuan, semuanya, aku permisi dulu." Dara bangkit dari duduknya dan menarik tangannya dari genggaman Aryan.


"Tidak Dara, kamu tidak boleh pergi." Aryan ikut bangkit dan menarik Dara ke dalam pelukannya. "Jangan pergi, aku mohon!" lirih Aryan menitikkan air mata.


"Lanjutkan hidupmu Aryan, kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku bisa menjaga diri." Dara mendorong Aryan hingga pelukannya terlepas, lalu mengayunkan kakinya menuju pintu utama.


"Dara... Tolong jangan pergi Nak, Mama mohon!" seru Aina terisak, lalu berhamburan mengejar gadis itu.


"Mama?" Dara meneteskan air mata saat berbalik. Keduanya saling memeluk dengan erat.


"Jangan pergi sayang, Mama mohon! Biarkan Aryan bertanggung jawab atas perbuatannya. Bagaimana jika kamu hamil? Anak itu pasti butuh sosok ayah. Mama sudah pernah berada di posisi ini, rasanya tidak enak sayang. Tetaplah di sini, jadilah anak Mama!" isak Aina.


Dia tau persis bagaimana rasanya kehilangan kesucian dengan paksa dan mengandung tanpa sosok seorang suami. Dia tidak ingin Dara merasakan hal yang sama, Dara harus mendapatkan hak nya. Aryan harus menikahinya.


"Mama..." lirih Dara berderai air mata.


"Iya sayang, panggil Mama ya, kamu anak Mama juga." Aina membelai rambut Dara dengan sayang.


"Aku tidak tau bagaimana rasanya punya Mama," Dara terisak pilu, Aina bisa merasakan sekujur tubuh Dara yang bergetar.


Semua orang yang melihat pemandangan itu ikut terharu dan meneteskan air mata, terlebih Arhan yang paling merasa bersalah atas semua yang sudah terjadi. Dia merasa karma sedang mempermainkan keluarganya.


Di tempat yang sama Nayla tiba-tiba menangis di pelukan Hendru, sedangkan Inara ikut terisak di dalam dekapan Aksa. Sementara Inda langsung berlari menuju dapur, dia tidak kuat melihat itu. Dia juga pernah berada di posisi yang sama meski pada akhirnya Baron membuktikan bahwa dia masih perawan.

__ADS_1


Begitu juga dengan Aryan, dia benar-benar menyesal menerima ajakan sahabatnya untuk minum-minum pada malam itu.


"Sekarang kamu sudah punya Mama. Kamu akan mendapatkan kasih sayang yang sama dengan Kak Aksa, Kak Inara, Kak Avika, Aryan dan juga Bara. Kamu juga punya Papa, Bunda, Ayah, Tante dan juga Om. Kamu tidak sendiri, kami semua akan menjadi keluarga kamu dan menyayangi kamu dengan sepenuh hati." terang Aina.


"Mama..." isak Dara. Dia memeluk Aina dengan erat. Dia sama sekali tidak peduli dengan Aryan, dia hanya ingin merasakan kasih sayang dan sentuhan seorang ibu.


"Ya, ini Mama Nak. Kamu harus janji sama Mama, tidak boleh pergi dari rumah ini tanpa izin Mama." Aina melepaskan pelukannya, lalu menyapu jejak air mata di pipi Dara. Gadis itu mengangguk lemah.


"Sudah, jangan menangis lagi. Sekarang Mama kenalin sama keluarga baru kamu ya."


Aina menarik tangan Dara dan membawanya ke sofa dimana semua orang tengah berdiri memandangi mereka berdua.


"Ini Papa Arhan, suami Mama alias Papanya Aryan." tunjuk Aina pada Arhan.


Arhan kembali memeluk Dara dengan perasaan tak menentu. "Panggil Papa ya, Nak!" lirihnya. Dara pun mengangguk pelan.


"Kalau ini Kak Aksa, putra sulung Mama dan ini Kak Inara istrinya Kak Aksa." Aina menunjuk Aksa dan Inara bergantian.


Dara mengulas senyum tipis, dia sudah kenal dengan Aksa tapi tidak dengan Inara. Dia pun menyalami keduanya bergiliran.


"Lalu ini Bunda Nayla dan Ayah Hendru. Mereka berdua orang tuanya Kak Inara." Aina menunjuk Nayla dan Hendru secara bergantian.


"Dan ini Tante Inda," seru Inda sembari melangkah menghampiri mereka semua. Inda pun memeluk Dara dengan erat, lalu mengecup keningnya.


"Loh, Avika mana?" Aina menautkan alis saat tak melihat Avika diantara semuanya.


"Rai juga tidak ada," sambung Nayla.


"Paling lagi pacaran, Mama sama Bunda seperti tidak pernah muda saja." seloroh Aksa mengulum senyum.


"Pacaran?" ulang Aina dan Nayla bersamaan.


"Makanya Mama sama Bunda jangan di dapur terus. Gak tau kan kalau putrinya lagi PDKT sama Rai." lanjut Aksa.


Setelah mengatakan itu, Aksa pamit meninggalkan mereka semua. Dia ingin mandi terlebih dahulu sebelum turun kembali untuk makan malam.


"Bang, apa yang dikatakan Aksa tadi benar?" tanya Aina memastikan.


"Ya, Aina siap-siap saja. Sepertinya kita akan mengadakan resepsi untuk ketiganya sekaligus." jawab Arhan enteng.

__ADS_1


"Bagus itu, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Gaspoll..." timpal Hendru.


"Apaan sih Mas?" Nayla menyikut perut Hendru. Sudah tua tapi kelakuannya seperti ABG saja.


"Nay, Inda, tolong siapin makan malam ya. Aku ke atas sebentar,"


"Dara, kamu ikut Mama ya." Aina menggenggam tangan Dara dan membawanya memasuki lift. Sesampainya di lantai atas, Aina membawa Dara ke kamarnya.


"Ma..." Dara menahan langkahnya saat menginjakkan kaki di kamar Aina. Matanya terbelalak memperhatikan ruangan yang sangat luas itu. Pernak pernik di dalamnya juga terlihat mewah. Apa Dara sedang bermimpi?


"Tidak apa-apa sayang, ini kamar Mama. Sekarang kamu mandi dulu, Mama akan menyiapkan pakaian untuk kamu. Setelah itu kita turun untuk makan malam,"


"Tapi Ma-"


"Tidak ada tapi tapi, anak baik itu harus nurut sama orang tua." potong Aina.


"I-Iya Ma," angguk Dara, lalu berjalan memasuki kamar mandi.


Satu menit berselang, Dara menjulurkan kepalanya dari balik pintu yang terbuka sedikit. "Ma, Dara tidak tau cara mandinya. Di sini tidak ada gayung," soraknya.


Mendengar itu, Aina tiba-tiba tertawa kecil lalu berjalan menghampiri Dara. "Ayo buka pintunya, biar Mama mandiin sekalian!"


"Tapi Ma-"


"Sssttt..."


"I-Iya Ma,"


Dara menjauh dari pintu dan membiarkan Aina masuk ke dalam, lalu menutupnya kembali.


Di dalam sana, Aina menunjukkan bagaimana cara mandi menggunakan shower dan cara menyalakan air panas. Tak lupa pula Aina menunjukkan bagaimana cara mengisi bathtub jika Dara ingin berendam.


Setelah membuatkan busa, Aina menyuruh Dara masuk ke dalam bathtub dan memandikannya seperti Avika waktu kecil.


Mendadak air muka Dara berubah sendu. Jadi beginikah rasanya memiliki ibu? Dara mulai nyaman berada di sisi Aina.


Selesai mandi, Aina melingkarkan handuk di tubuh Dara lalu membawanya keluar. Aina kemudian memberikan piyama tidur untuk Dara lengkap dengan pakaian dalam. Setelah Dara mengenakannya, Aina menyuruh Dara duduk di depan meja rias dan mengeringkan rambutnya lalu menyisirnya hingga rapi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2