Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 45.


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, Aksa memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah apartemen.


"Tetaplah seperti ini!" ucap Aksa sambil membelai rambut Inara. Setelah itu dia turun dan menggendong Inara ala M Shape. Seperti anak kecil yang digendong di perut sang mama.


Saat Aksa berjalan menuju lobby, Inara mempererat pelukannya. Dia tidak peduli dengan pandangan semua orang yang sudah tertuju pada mereka.


"Permisi, kartu aksesku ketinggalan di rumah. Bisakah aku meminjam kartu akses lain, mungkin ada duplikat nya." tanya Aksa pada bagian resepsionis.


"Maaf Tuan, kalau boleh tau atas nama siapa ya?" tanya seorang wanita yang berdiri di meja resepsionis.


"Aksa... Eh, maksudku King Aksa Airlangga. Aku baru membeli apartemen di sini beberapa hari yang lalu." jelas Aksa.


Ya, saat tiba di Ibukota waktu itu, Aksa memang sengaja membeli apartemen untuk dia tinggali bersama Rai. Maksudnya agar dia dan Inara bisa menjaga jarak, tapi ternyata kini jarak mereka malah semakin dekat. Rasanya sangat sulit dipisahkan.


Mendengar nama yang disebutkan oleh Aksa barusan, wanita itu tiba-tiba tercengang. Siapa yang tidak tau dengan keluarga konglomerat satu itu. Dia tak menyangka akan bertemu pewaris kedua keluarga itu di sini.


Lalu dengan cepat wanita itu mencari data atas nama Aksa. Benar saja, baru beberapa hari lalu Aksa membelinya. "Tunggu sebentar ya Tuan!"


"Hmm..."


Sembari menunggu, Aksa memilih duduk di kursi dengan posisi yang sama. Inara masih bergelayut di gendongannya seperti anak kecil yang tidak mau lepas dari gendongan sang ayah.


Sepuluh menit kemudian, wanita tadi menyodorkan sebuah kartu ke tangan Aksa. Aksa mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Dia bangkit dari duduknya dengan susah payah karena beban yang harus dia pikul. Lama-lama dia mulai kewalahan karena bobot Inara yang semakin terasa berat, tapi mau bagaimana lagi, gadis itu benar-benar tidak mau lepas darinya.


Setelah sampai di lantai enam, Aksa berjalan menuju pintu apartemen dan menempelkan kartu akses miliknya, lalu mendorong pintu dan menutupnya kembali. Aksa kemudian membawa Inara ke kamar.


"Sudah ya, kita sudah sampai." ucap Aksa. Dia menjatuhkan diri di atas kasur dengan posisi menindih tubuh Inara. Saat Aksa melepaskan tangan Inara yang melingkar di tengkuknya, Inara beralih memeluk pinggang Aksa.


"Benarkah aku wanita liar? Apa aku terlihat seperti wanita murahan? Kalau begitu jadikan aku wanita seperti itu!" lirih Inara dengan mata berkaca.


"Sssttt... Ngomong apa sih? Kamu bukan wanita seperti itu, kamu istimewa." sahut Aksa. Dia tidak suka mendengar Inara merendahkan dirinya sendiri.


"Tapi kata Bunda... Mmphh..."


Belum selesai Inara melanjutkan ucapannya, bibirnya sudah dilahap oleh Aksa.


"Tidak usah memikirkan itu, Bunda mungkin syok saat melihat kita tidur di atas ranjang yang sama." ucap Aksa. Dia membelai rambut gadis itu, lalu mengelus pipi Inara yang masih memerah akibat tamparan Nayla yang begitu kuat. "Masih sakit?" lirih Aksa.


"Iya," angguk Inara dengan bibir mencebik. Seumur-umur baru kali ini dia merasakan kekerasan seperti itu, apalagi dari wanita yang sudah melahirkannya.


Aksa mendekatkan wajah mereka, lalu dikecupnya pipi Inara sebanyak mungkin dengan harapan sentuhan bibirnya mampu menghilangkan rasa sakit di pipi Inara.


"Sudah Kak, geli." Inara terkekeh sambil menggeliat dan mendorong wajah Aksa.


Seketika hati Aksa menjadi tenang, senyum dan tawa Inara mampu meneduhkan jiwanya. Aksa sendiri bingung kenapa harus gadis itu yang mengisi hatinya diantara banyaknya gadis cantik dan seksi di luar sana.

__ADS_1


"Ra..." lirih Aksa dengan tatapan sendu.


"Hmm..." Inara bergumam.


"Apa kamu sudah memaafkan Kakak?" tanya Aksa penasaran.


Inara terdiam sejenak, manik matanya menatap Aksa dengan intens.


"Tidak," Inara mencebik dan mendorong Aksa dari atas tubuhnya.


"Ahh..."


Setelah Aksa terguling di sampingnya, Inara duduk terburu-buru dan berjalan memasuki kamar mandi.


Ya, Inara belum bisa memaafkan Aksa. Dia paling benci dibohongi apalagi menyangkut masalah hati. Dia merasa dibodohi hingga jatuh cinta pada orang yang salah.


Inara pikir Akbar mencintainya dengan tulus, tapi ternyata ada permainan di balik itu semua.


Setelah Inara menghilang dari pandangannya, Aksa duduk sambil mengusap wajah, menghela nafas sebanyak-banyaknya untuk menenangkan diri. Aksa tau ini berat untuk Inara, tapi Aksa akan berjuang untuk mendapatkan maaf dari gadis itu.


Aksa kemudian merogoh kantong celana, mengeluarkan iPhone miliknya dan membuka platform resmi. Pertama Aksa memesan pakaian untuk mereka berdua, setelah itu Aksa memesan makanan. Perutnya sudah sangat lapar karena belum berisi apa-apa sejak tadi malam.


Di kediaman Airlangga, Nayla tengah duduk di ruang tengah mengingat kejadian tadi. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan putra dan putrinya itu.


Haruskah kakak adik tidur di ranjang yang sama dengan posisi saling berpelukan? Aksa bahkan dalam keadaan bertelanjang dada. Tidak masuk akal menurut Nayla.


"Aku tidak lapar, Mas makan saja sama yang lain!" sahut Nayla dingin.


"Tapi sayang-"


"Cukup Mas, aku tidak mau makan!" ketus Nayla meninggikan suara.


Melihat ketegangan yang terjadi diantara Nayla dan Hendru, Arhan dan Aina menghampiri mereka dan duduk berhadapan dengan keduanya. Baron dan Inda pun menyusul duduk setelah anak-anak pergi meninggalkan rumah.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Baron membuka suara.


"Entahlah, Nayla belum mau bicara." sahut Hendru.


"Mas, sebaiknya kita pindah saja dari sini." ucap Nayla.


Sontak Hendru dan yang lainnya tersentak mendengar itu.


"Nayla, apa maksudmu? Kenapa harus pindah? Ini rumah kalian juga," tanya Arhan mengerutkan kening.


"Maaf Bang, tapi keputusanku sudah bulat." balas Nayla.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Apa alasannya?" timpal Aina.


"Nayla, kamu jangan gegabah mengambil keputusan! Ceritakan apa yang terjadi, kita cari solusinya sama-sama!" selang Baron.


"Menurutku ini adalah solusi yang tepat, aku tidak mau Inara mengganggu Aksa. Ini salah," jawab Nayla.


"Mengganggu bagaimana? Bicara yang jelas!" sambung Arhan.


"Inara sudah sering kali membuat ulah, tapi kali ini aku tidak bisa tinggal diam. Aku malu memiliki putri seperti dia, aku malu pada kalian semua." lirih Nayla. Dia menekuk wajah, setetes cairan bening di sudut matanya tumpah begitu saja.


"Memangnya apa yang dilakukan Inara? Kenapa harus malu?" tanya Arhan.


"Aksa dan Inara tidur bersama semalaman. Mereka saling memeluk, bahkan Aksa dalam keadaan bertelanjang dada. Apa ini benar? Tentu saja ini salah, kakak adik mana yang berani melakukan itu?" ungkap Nayla berlinangan air mata.


Mendengar itu, semua orang tiba-tiba membelalakkan mata. Tidak untuk Arhan dan Baron yang terlihat biasa saja.


"Lalu apa yang salah dengan itu? Mereka sudah dewasa, aku rasa hal itu wajar-wajar saja." ucap Arhan dengan enteng.


"Bang..." Aina menepuk lengan Arhan.


"Ya, Arhan benar. Apa yang salah dengan itu? Nikahkan saja mereka, beres kan?" sambung Baron dengan santai.


"Jangan asal bicara kalian! Mana mungkin mereka menikah, mereka berdua bersaudara." timpal Hendru.


"Kau benar, mereka memang bersaudara tapi mereka tidak memiliki ikatan darah. Pernikahan mereka sah-sah saja kok," imbuh Arhan.


"Tidak, itu tidak akan terjadi. Aksa tidak akan mau menikah dengan Inara. Apa kalian tidak ingat sebenci apa Aksa pada Inara?" Nayla menentang keras saran Arhan dan Baron.


"Nayla benar, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi." Hendru menimpali. "Jika kami tidak boleh pindah dari sini, maka perjodohan itu akan tetap dilanjutkan. Aku akan menghubungi Pak Eko hari ini juga. Inara akan menikah dengan Erick agar tak mengganggu Aksa lagi. Anak itu sudah membuat kami malu."


Setelah mengatakan itu, Hendru bangkit lebih dulu dan berjalan meninggalkan rumah. Nayla juga pergi menuju kamarnya.


"Perjodohan ini tidak akan pernah terjadi. Apapun caranya, hanya Aksa yang boleh menikah dengan Inara." geram Arhan.


"Bang, jangan ikut campur! Hanya Hendru yang berhak menentukan masa depan Inara." ucap Aina.


"Abang juga berhak. Abang Papanya." ketus Arhan.


"Tapi Bang-"


"Sayang, percaya sama Abang. Asal Aina tau saja, Aksa dan Inara itu saling mencintai. Mereka berdua tidak bisa dipisahkan, sama seperti kita." ungkap Arhan.


"Hah?" Aina membulatkan mata dengan sempurna, begitu juga dengan Inda.


"Sekarang kalian sudah tau kan, jadi lebih baik kalian semua mendukungku. Belum tentu juga Inara akan bahagia bersama pilihan Hendru. Inara hanya akan menikah dengan Aksa, titik." tegas Arhan.

__ADS_1


Setelah berdebat cukup lama, Arhan meninggalkan rumah bersama Rai.


Bersambung...


__ADS_2