Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 77.


__ADS_3

Pagi hari Avika bangun sembari mengerang kesakitan. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan sendinya terasa ngilu. Kepalanya juga pusing dan tatapannya berkunang-kunang. Mungkin pengaruh obat yang dia konsumsi tadi malam.


"Aaaah..."


"Aduh..."


Avika mencoba duduk dan bersandar pada kepala ranjang sembari memijat dahi.


Rintihan Avika terdengar sampai ke telinga Rai yang masih terlelap di sofa, dia terbangun dan membuka mata perlahan.


"Vi..." gumam Rai dengan suara serak dan mata separuh terbuka. Dia mengucek mata dan duduk di sisi sofa. "Kamu sudah bangun?"


"Rai, aku dimana?" tanya Avika dengan manik mata bergerak liar menatap sekelilingnya. Sepertinya dia lupa bahwa semalam dia dibawa Rai ke apartemen.


"Kamu di apartemen milikku. Maaf, aku terpaksa membawamu ke sini. Aku takut Tante Aina syok melihat keadaan kamu semalam," jelas Rai.


"Semalam?" Avika menautkan alis, dia memutar otak mengingat kejadian semalam. Tiba-tiba tubuhnya bergetar dengan mata berkaca-kaca. "Semalam aku diperkosa, iya kan Rai? Aku kotor kan? Mereka menggilir ku, aku sudah-"


"Vi... Apa yang kamu bicarakan?" Rai bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Avika, lalu duduk di sisi ranjang. "Semalam tidak terjadi apa-apa, kamu masih suci."


"Bohong, aku ingat keenam pria itu ingin menggauliku. Mereka-"


"Tidak Avika, itu tidak terjadi. Aku yang menyelamatkanmu dari mereka. Kamu masih perawan, aku jamin itu." jelas Rai.


"Tapi Rai-"


"Vi... Lihat aku!" Rai menangkup tangan di pipi Avika, seketika manik mata keduanya saling bertemu. "Percaya padaku, semalam tidak terjadi apa-apa."


"Kamu tidak bohong?" Avika menyipitkan mata.


"Tidak, untuk apa aku berbohong? Mau kita coba sekarang?" seloroh Rai mengulum senyum, tatapannya tiba-tiba berubah mesum.


"Coba apa?" Avika bergidik ngeri melihat tatapan Rai yang tak biasa.


"Mempraktekkannya, biar kamu percaya." goda Rai.


"Apaan sih?" Avika menggembungkan pipi dan menepuk tangan Rai, lalu mendorongnya dengan kasar. "Jangan gila kamu!"


"Siapa yang gila? Aku cuma mau membuktikan keraguanmu itu," Rai mengulas senyum tipis.

__ADS_1


"Jangan kurang ajar, mau aku pukul?" geram Avika dengan tatapan tajam.


"Kalau aku kurang ajar, tidak mungkin aku minta izin terlebih dahulu. Semalam banyak sekali kesempatan, tapi aku tidak mau melakukannya. Kamu lupa berapa kali kamu menggodaku dan memintaku menyentuhmu?" terang Rai.


"Kamu pasti bohong, mana mungkin aku menggoda mu?" sanggah Avika.


"Orang mabuk mana mungkin ingat. Tapi kamu cantik loh semalam, wajahmu imut sekali saat menggodaku." sanjung Rai menahan tawa.


"Tidak mungkin, ini pasti akal-akalan kamu saja untuk menekan ku." bantah Avika.


"Untuk apa aku menekan mu? Yang aku katakan benar, kamu cantik sekali dalam keadaan mabuk. Aku ingin menggigit mu," goda Rai.


"Cukup Rai, jangan menggodaku!" Avika mulai gelagapan, pipinya mendadak bersemu merah bak tomat.


"Hehehe... Ya sudah, sekarang bersihkan dirimu. Aku akan mengantarmu pulang," Rai menjauh dan kembali duduk di sofa. Jika diteruskan dia takut tidak bisa mengendalikan diri.


Avika mengulum senyum dan melompat turun dari ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandi.


Setelah membersihkan diri, Avika kembali memakai pakaian milik Rai. Tidak apa-apa, nanti saat pulang Rai akan mampir di toko pakaian wanita dan membelikan baju untuk Avika. Tidak mungkin Avika pulang dalam keadaan seperti itu.


"Ayo, aku akan mengantarmu pulang sekarang!" ajak Rai setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian.


Avika mengangguk lemah dan berjalan menuju pintu mengikuti langkah Rai.


Lalu keduanya turun dan masuk ke butik mencari pakaian untuk Avika. Gadis itu langsung mengenakannya di kamar ganti dan mengembalikan pakaian Rai.


Setelah Rai membayar pakaian itu, mereka berdua meninggalkan butik dan masuk ke dalam mobil. Rai kembali mengendarainya mobil itu menuju kediaman Airlangga.


...****************...


"Bang, Avika kemana sih? Kok jam segini belum pulang juga?" tanya Aina saat di meja makan. Dia mulai khawatir karena tidak biasanya Avika bertingkah seperti ini.


"Kan udah Abang bilang, Avika nginap di rumah sahabatnya. Mungkin mereka langsung ke kantor advokat untuk melihat hasil wawancara kemarin. Kan pengumumannya keluar hari ini," alibi Arhan agar Aina tidak curiga dan bertanya terus. Arhan takut Aina drop jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Saat semua orang tengah fokus pada Aina, tiba-tiba suara seseorang berkumandang mengagetkan telinga. "Selamat pagi semuanya," sapa Avika dari kejauhan. Semua mata langsung tertuju padanya.


"Avika, akhirnya kamu pulang juga Nak." Aina berhamburan dari duduknya dan memeluk Avika dengan erat.


"Mama kenapa sih, Avika baik-baik saja kok. Jangan berlebihan begitu," ucap Avika menenangkan sang mama. Dia mengusap punggung Aina perlahan.

__ADS_1


"Lain kali jangan begini lagi ya, kalau urusan kamu sudah selesai langsung pulang saja. Tidak perlu nginap di rumah sahabat kamu segala," ucap Aina.


"Iya Ma, iya. Kalau begitu biarkan Avika duduk dulu, Avika lapar sekali." Avika melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Aina.


Avika berjalan menuju kursinya, tapi air mukanya tiba-tiba menggelap saat tak melihat Rai di sana. Apa Rai sudah pergi? Kenapa dia tidak ikut masuk ke dalam?


Aksa yang menyadari itu ikut memutar manik matanya ke arah depan tapi tak melihat Rai masuk ke dalam. "Permisi,"


Aksa bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar. Sayang yang dia saksikan hanya buntut mobil yang baru saja keluar menuju gerbang.


Kenapa sahabatnya itu malah pergi? Kenapa tidak masuk dulu dan ikut sarapan bersama? Padahal Aksa ingin bicara dan mengucapkan terima kasih.


Ketika Aksa kembali ke dalam, Baron memberi kode dengan kedipan mata. Aksa membalasnya dengan mengangkat bahu dan mencebik bibir.


Setelah sarapan selesai, Avika meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Dia masuk ke kamar dan membersihkan diri di kamar mandi, lalu bersiap-siap karena harus ke kantor advokat untuk melihat pengumuman.


Setelah mengganti pakaian dan berdandan ala kadarnya, Avika menyambar tas dan turun ke bawah. Dia berpamitan dengan semua orang dan berjalan meninggalkan rumah, Aksa menyusulnya dari belakang.


"Mulai sekarang kalau mau kemana-mana tidak boleh sendirian," seru Aksa yang membuat Avika tergelinjang.


"Kak Aksa apaan sih? Bikin kaget saja," keluh Avika sembari menyentuh dada.


"Om Tobi!" seru Aksa memanggil Tobi yang tengah berjemur di taman.


Tobi segera mendekat. "Ada apa Aksa?"


"Om, mulai hari ini Aksa mau Om jadi bodyguard Avika saja. Om harus menemani kemana pun Avika pergi, Aksa tidak mau kejadian semalam terulang lagi." ucap Aksa.


"Tidak masalah," sahut Tobi dengan senang hati.


"Tapi Kak-"


"Tidak ada tapi tapi. Kalau kamu tidak bersedia, maka sebaiknya di rumah saja. Kamu tidak diizinkan kemana-mana," tegas Aksa.


"Jangan dong Kak, Avika kan mau kerja." balas Avika.


"Kalau begitu nurut, tidak ada alasan untuk menolak. Sekarang berikan kunci mobil kamu sama Om Tobi!" titah Aksa.


Avika mengangguk lemah dan memberikan kunci mobilnya pada Tobi. Tidak apa-apa deh, yang penting tidak dikurung di rumah seperti seekor burung. Lagian Avika juga masih trauma dengan kejadian semalam.

__ADS_1


Setelah Tobi masuk dan menyalakan mobil, Avika ikut masuk dan duduk di samping Tobi. Tidak ada sopir atau majikan, Avika sudah menganggap Tobi sebagai ayahnya sendiri sejak dia masih kecil.


Bersambung...


__ADS_2