
Tobi : "Bang, kami menemukan seorang wanita di rumah itu tapi sayang dia tidak mau bicara sejak tadi."
Baron : "Paling tidak tanya siapa namanya,"
Tobi : "Sudah Bang, tetap saja dia tidak mau bicara. Aku curiga kalau wanita ini bisu,"
Baron : "Astaga, ini benar-benar musibah."
Tobi : "Musibah apa Bang? Apa terjadi gempa bumi di sana?"
Baron : "Gempa bumi otakmu. Bawa saja wanita itu ke kediaman Airlangga, kami akan segera pulang."
Tobi : "Baik Bang,"
Setelah berbalas pesan dengan Baron, Tobi pun memerintahkan Andi dan Dori membuka ikatan tangan dan kaki wanita itu lalu membawanya ke mobil.
Wanita itu hanya diam tanpa bicara, sepertinya dia sudah pasrah mau dibawa kemana saja.
Satu jam berlalu sampailah mereka di kediaman Airlangga, tidak lama setelah itu mobil Baron juga tiba di sana. Selisih beberapa menit saja mobil Aksa juga masuk ke dalam gerbang setelah mendapat telepon dari Baron tadi.
Setelah semua masuk ke dalam rumah, Aina bergegas menghampiri wanita itu. Dia terlihat ketakutan dengan sekujur tubuh gemetaran.
"Jangan takut, kami bukan orang jahat." ucap Aina, lalu memeluk wanita itu seperti putrinya sendiri.
Aryan yang melihat itu sontak terperanjat, matanya membulat dengan kening mengkerut. Wanita itu terlihat lebih dewasa dari dirinya, lebih pantas dijadikan kakak daripada dijadikan istri.
"Apa benar kamu wanita yang semalam ada di kamarku?" tanya Aryan mencari tau. Rasanya sangat mustahil tapi Aryan juga tidak ingat apa-apa.
Wanita itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Aryan. Dia benar-benar takut sehingga memilih menundukkan kepala, dia tidak berani menatap siapapun.
"Sayang, kenapa diam saja? Apa benar kamu yang bersama Aryan semalam?" tanya Aina penasaran.
Wanita itu menggeleng lalu mengangguk lemah. Sekilas terlihat seperti orang linglung tanpa tau harus menjawab apa.
Semalam dia memang bermalam dengan seorang pria tapi yang dia tau pria itu bukanlah Aryan.
"Siapa nama kamu?" imbuh Aina.
Lagi-lagi wanita itu hanya diam tanpa menjawab apa-apa.
"Apa kamu bisu?" tanya Aryan tanpa berpikir. Dia mulai geram melihat tingkah wanita itu.
Wanita itu mendongak dan menatap Aryan dengan tatapan sendu, lalu mengangguk mengiyakan pertanyaan Aryan.
__ADS_1
"Ti-Tidak mungkin," Aryan termundur ke belakang. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. "Tidak, ini tidak benar. Dia bukan wanita itu," sanggah Aryan sembari memukuli kepalanya.
"Aryan..." bentak Aina yang tidak suka mendengar penolakan putranya.
"Ma, Aryan memang tidak ingat apa-apa. Tapi suara wanita itu masih terngiang-ngiang di telinga Aryan hingga detik ini. Dia tidak bisu Ma, dia bisa bicara." jelas Aryan dengan penuh keyakinan.
"Bagaimana mungkin kamu ingat? Itu hanya halusinasi kamu saja, sudah jelas wanita ini yang bersama kamu semalam." tegas Aina.
"Tidak Ma, Aryan yakin sekali bahwa wanita itu bukan dia. Aryan bisa merasakannya Ma," sahut Aryan.
"Cukup Aryan, jangan mencari-cari alasan untuk menolak pernikahan ini. Mau dia bisu atau lumpuh sekalipun, kamu tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu!" geram Aina meninggikan suara.
"Iya Ma, Aryan akan bertanggung jawab. Tapi pastikan dulu kebenarannya, Aryan yakin bukan dia orangnya." jawab Aryan.
"Cukup Aryan! Mau tidak mau malam ini juga kamu harus menikahinya. Papa akan mengatur semuanya sekarang juga," timpal Arhan. Dia kemudian meninggalkan semua orang dan menghubungi Hendru dan memintanya mengatur jadwal dengan seorang penghulu.
"Maaf Ma, Aryan tidak mau menikah dengan cara seperti ini. Darimana kalian tau bahwa wanita inilah yang Aryan tiduri semalam? Wanita itu tidak bisu, Aryan sangat yakin dengan itu. Pasti wanita ini adalah komplotan penjahat itu, dia ingin menjebak Aryan."
Setelah mengatakan itu, Aryan berlari meninggalkan semua orang dan memilih mengurung diri di kamar.
"Aaaah..."
"Bruuk!"
Satu persatu perkakas yang ada di kamar Aryan berhamburan dan hancur berkeping-keping, termasuk cermin yang terpajang di depan matanya.
Aryan bukannya ingin lari dari tanggung jawab, tapi dia sangat yakin bahwa wanita itu bukanlah orang yang sama.
Meski tidak bisa mengingat apa-apa, tapi Aryan merasa dihantui oleh suara seorang wanita yang menjerit minta dilepaskan.
Semua itu berawal saat Aryan membaringkan diri di apartemen Aksa tadi. Entah itu mimpi atau nyata, tapi jeritan wanita itu sangat jelas terdengar di telinganya.
"Bukan dia, aku yakin bukan dia." teriak Aryan sangat lantang. Dia sepertinya sangat frustasi memikirkan kejadian itu. Beberapa kali dia membenturkan kepalanya ke dinding, berharap memori semalam bisa muncul di ingatannya.
"Aaaah..."
Kembali Aryan meraih perkakas yang ada di dekatnya dan melemparnya ke dinding hingga hancur berantakan.
Dia tidak akan mau menikahi wanita itu sebelum tau kebenarannya.
...****************...
"Mangsa sudah masuk ke dalam perangkap, wanita itu sudah dibawa ke kediaman mereka."
__ADS_1
"Bagus, sekarang tinggal menunggu saat yang tepat. Biarkan wanita itu menjadi bagian dari keluarga mereka, setelah itu kita akan menghancurkan keluarga itu sampai tak bersisa."
"Baik bos, kami mengerti. Lalu gadis ini mau diapakan?"
"Kembalikan dia ke gubuk, hanya tempat itu yang pantas untuk sampah seperti dirinya."
"Siap bos,"
Setelah sambungan telepon itu terputus, sebuah mobil melaju ke arah pelosok yang cukup jauh dari pemukiman warga.
Tubuh gadis itu diseret dari mobil dan dilempar ke gubuk kecil yang biasa dia tempati.
"Kembalilah ke asalmu, sekarang tugasmu sudah selesai. Jangan coba-coba untuk pergi dari sini jika kamu masih ingin bernafas lebih lama!"
"Bug!"
Gadis itu hanya bisa menangis saat kepalanya membentur tiang kayu. Dua pria yang melemparnya langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Hiks..."
"Apa salahku pada kalian? Kenapa kalian semua begitu jahat?"
Gadis itu menekuk kedua kaki dan memeluk lututnya dengan erat. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan.
Kemana dia harus mengadu?
Tidak ada, dia tidak memiliki siapa-siapa setelah kepergian nenek yang membesarkannya.
Tidak hanya kehilangan hak untuk bergaul dengan masyarakat luas, kini dia juga harus menahan luka atas kejadian yang dia alami semalam.
Kesuciannya direnggut secara paksa, dia bahkan tidak sempat melihat wajah pria yang sudah menggauli dirinya.
Apa ini adalah hukuman untuknya? Tapi dosa apa yang sudah dia perbuat sebelumnya?
Jangankan menyakiti orang lain, bergaul saja dia tidak pernah. Hidupnya benar-benar sebatang kara seperti kaktus yang tumbuh di tengah padang pasir. Tidak ada teman apalagi keluarga.
Kenapa hidup ini begitu kejam padanya? Bukankah ini tidak adil?
Dari kecil dia hidup tanpa kasih sayang seorang ibu apalagi ayah. Almarhumah sang nenek juga tidak pernah menceritakan apa-apa padanya.
Jangankan foto, bagaimana dia hadir ke dunia ini saja dia tidak tau. Kadang terlintas di benaknya bahwa dia adalah anak haram yang sengaja dibuang untuk menutupi malu.
Bersambung...
__ADS_1