
Dua sirine ambulans sahut menyahut di tengah padatnya jalanan ibukota, para pengguna jalan segera menepi memberi ruang agar dua mobil itu bisa lewat dengan leluasa.
Satu mobil diisi oleh Aksa dan Aryan. Aksa tersandar lesu memegangi lengannya yang sudah diperban untuk menghentikan pendarahan, sedangkan Aryan terbaring lemah dengan bantuan alat medis seadanya. Detak jantungnya sangat lemah, sepertinya sudah tidak ada harapan lagi.
Di mobil belakang, Dara juga terbaring lemah tak berdaya. Penyiksaan yang dia alami membuat tubuhnya kehilangan tenaga, dia juga syok saat menyaksikan Aryan tertembak di depan mata kepalanya.
Setibanya di rumah sakit, para tim medis bergerak cepat memindahkan mereka bertiga ke brankar. Aksa dan Dara dibawa ke ruang IGD, sedangkan Aryan harus masuk ke ruang ICU.
Selang beberapa menit, mobil Baron tiba di parkiran. Lima pria yang ada di dalam mobil itu berhamburan menuju ruang IGD tempat Aksa ditangani.
"Harusnya tidak aku biarkan Aksa pergi sendirian. Apa yang harus ku katakan pada Aina?" sesal Baron sembari meninju dinding beton untuk meluapkan kemarahannya.
"Cukup Bang, jangan begini! Semua sudah terjadi," ucap Tobi. Dia meraih pundak Baron, mencoba menenangkannya dan membawanya duduk di kursi tunggu.
"Aku juga salah, Om. Sahabat macam apa aku ini?" lirih Rai yang terduduk lesu di dasar lantai, air mata penyesalan jatuh di pipinya. Avika pasti kecewa jika tau bahwa Rai membiarkan kakaknya menyelamatkan Dara sendirian.
"Yang aku bingung, kenapa bisa ada Aryan di mobil itu? Kapan dia masuk dan dimana dia duduk?" timpal Dori mengerutkan kening.
"Mungkin dia menyelinap di dalam bagasi saat kalian semua masuk ke dalam rumah, waktu itu aku juga ke belakang memanggil Bang Tobi." Andi mencoba menerka-nerka.
"Bisa jadi, kita saja yang tidak menyadarinya." sahut Tobi manggut-manggut.
"Kalian semua tunggu di sini, aku mau melihat Aryan di ruang ICU." lirih Baron dengan mata berkaca.
Entah bagaimana keadaan putranya itu sekarang? Aksa bisa saja bertahan karena peluru merupakan makanan sehari-hari baginya, tapi Aryan...
Dia tidak sekuat Aksa, dia anak manja dan cengeng. Mana mungkin dia sanggup menghadapi ini? Dua peluru bersarang di dadanya, bagaimana kalau peluru itu mengenai organ tubuhnya?
Semakin Baron memikirkannya, semakin besar perasaan bersalah menggerogoti hatinya.
Kenapa Baron bisa sebodoh ini? Kenapa dia tidak berpikir sejauh ini sebelumnya?
Melihat pintu ruangan ICU yang tertutup rapat, pemikiran buruk hilang timbul di benak Baron. Jika sesuatu terjadi pada Aryan, dia tidak akan sanggup menatap wajah Arhan setelah ini. Dia merasa gagal mengemban amanah yang dititipkan Arhan padanya.
"Aaaaaakh..." kembali Baron meninju tembok beton untuk melampiaskan kekecewaan pada dirinya sendiri.
"Kamu harus bertahan, Aryan. Kamu harus kuat, ingat ada Dara yang membutuhkanmu saat ini!" gumam Baron berbicara sendiri seperti orang gila.
Tidak lama, terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekatinya. Baron mendongak dan mengerjap saat menangkap kedatangan Arhan dan Hendru yang tadi dia hubungi.
__ADS_1
Dengan air muka penuh penyesalan, Baron menangkup tangan dan menundukkan kepalanya. "Maafkan aku, aku gagal menjaga mereka semua. Aku yang salah, tidak seharusnya aku-"
"Sudahlah, tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi! Di sini tidak ada yang salah, kita semua sudah berusaha tapi merekalah yang selalu datang mengganggu keluarga ini." potong Arhan. Dia menepuk pundak Baron dan memilih duduk di kursi tunggu.
Percuma saling menyalahkan dalam situasi seperti ini, hal itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Lagian semua yang terjadi berawal dari Arhan sendiri, dia yang salah dalam memilih pendamping hidup sehingga anak, istri, menantu dan semua anggota keluarganya menjadi korban.
Sepertinya Arhan harus bergerak sendiri dan menemui Tasya secara pribadi. Dengan begitu dia bisa tau apa yang diinginkan wanita iblis itu sebenarnya. Sudah cukup Tasya membuat keributan di keluarganya, Arhan tidak mungkin diam setelah banyaknya kekacauan yang ditimbulkan.
Dari ruang IGD, pintu berderit sehingga pandangan semua orang tertuju pada seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan keponakan saya, Dok?" tanya Tobi penasaran. Matanya tiba-tiba menyipit menunggu jawaban.
"Pasien pria baik-baik saja, peluru sudah dikeluarkan dan beliau hanya butuh waktu untuk istirahat." dokter itu mengulas senyum tipis.
"Lalu bagaimana dengan adiknya, Dok?" tanya Tobi lagi.
"Pasien sudah sadar, hanya saja dia sepertinya syok sehingga mentalnya sedikit tertekan. Butuh waktu untuk memulihkannya, kami terpaksa memberinya obat penenang." jelas dokter itu.
"Tapi tidak ada yang serius kan, Dok? Luka cambukan itu?" Tobi mengerutkan kening.
"Luka itu akan hilang dengan sendirinya, pasien tidak menganggap serius luka itu tapi pikirannya yang lebih mengkhawatirkan." terang dokter itu.
"Mungkin karena trauma, dia melihat jelas suaminya ditembak. Itulah yang mengganggu pikirannya saat ini, dari tadi dia bergumam memanggil nama Aryan." potong dokter itu.
"Baiklah, terima kasih. Kalau ada perkembangan tolong beritahu kami!" ucap Tobi.
"Baik," angguk dokter itu, lalu kembali masuk ke dalam ruangan. Masih ada tugas yang harus dia selesaikan di dalam sana.
Kemudian Tobi meninggalkan Rai, Andi dan Dori di sana. Dia menghampiri Baron yang kini sedang duduk bersama Arhan dan Hendru.
Lalu dia menjelaskan apa yang dikatakan dokter tadi kepada mereka bertiga. Setidaknya mereka semua bisa menghela nafas lega karena Aksa dan Dara sudah dipastikan baik-baik saja. Kini pikiran mereka terpusat pada Aryan, entah bagaimana keadaannya saat ini?
Satu jam kemudian, seluruh anggota keluarga Airlangga tiba di rumah sakit. Semua wajah terlihat panik, terutama Aina yang tidak bisa berpikir jernih setelah mengetahui keadaan kedua putra dan menantunya.
"Bang..." seru Aina berderai air mata.
Sadar akan kehadiran istrinya, Arhan dengan cepat menyapu wajahnya. Begitu juga dengan yang lain, mereka semua berusaha terlihat santai seakan tidak terjadi apa-apa.
"Sayang..." lirih Arhan, dia lekas berdiri dan menyusul Aina yang tengah berlari ke pelukannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Bang? Kenapa jadi seperti ini?" tangisan Aina pecah di dada Arhan. Dia tidak kuat menghadapi kenyataan ini.
"Tidak apa-apa, jangan menangis! Semua pasti baik-baik saja, mereka semua anak yang kuat." Arhan berusaha menenangkan Aina sembari mengusap punggungnya pelan. Sebisa mungkin Aina harus tenang agar jantungnya tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan.
Tidak berselang lama, pintu ruangan IGD berderit. Mereka semua berlarian menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan.
"Bagaimana keadaan cucu saya, Dok?" tanya Airlangga khawatir.
"Dua pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang inap. Kalian tenang saja, mereka sudah membaik."
Mendengar itu, semua anggota keluarga saling menatap dan menghela nafas lega.
Dua brankar didorong keluar oleh beberapa orang suster menuju ruangan yang sudah disiapkan.
Saat semua orang mengikuti para suster, Avika hanya mematung melihat suaminya yang masih duduk di dasar lantai. Dia seperti tidak mempedulikan kehadiran Avika di dekatnya.
"Rai..." Avika menekuk kaki dan berjongkok di hadapan suaminya.
Rai mengangkat kepala dan mematut Avika dengan mata berkaca, pandangannya mengabur. "Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga mereka. Aku tidak berguna," lirih Rai dengan tetesan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Tidak Rai, ini bukan salahmu." sahut Avika, lalu melingkarkan tangan di kepala suaminya.
"Tapi, Vi-"
"Cukup Rai, tidak perlu menyalahkan diri sendiri! Tidak ada yang salah, ini sudah kehendak takdir." Avika mendekap Rai erat sembari mengusap kepala suaminya itu. Rai pun memeluknya dan tenggelam di dada Avika.
"Sudah ya, sekarang bukan waktunya menyesali apa yang sudah terjadi. Lebih baik berdoa untuk kesembuhan mereka bertiga!" Avika mengelus pipi Rai dan mengecup rambutnya.
Seketika Rai mendongak, tatapan keduanya bertemu pandang. "Kamu tidak marah?" tanyanya dengan tatapan sendu.
"Tidak sayang, untuk apa aku marah?" Avika mengulas senyum dan menarik hidung mancung suaminya itu karena gemas.
"Sekali lagi," pinta Rai yang ikut mengukir senyum.
"Sudah, jangan aneh-aneh! Ingat, ini rumah sakit." Avika membelalakkan mata.
"Tapi sayang-"
"Sssttt... Ayo, cepat bangun!" Avika melepaskan pelukannya dan bangkit lebih dulu, lalu menarik tangan Rai agar berdiri sejajar dengannya.
__ADS_1
Setelah Rai berdiri tegak, keduanya melangkah pergi menyusul semua orang yang sudah memasuki ruang inap Aksa dan Dara yang bersebelahan.