Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 41.


__ADS_3

Aksa keluar dari kamar setelah mengobati lukanya dan berganti pakaian, lalu turun ke bawah menemui Rai. Kebetulan pria itu tengah duduk di ruang tengah setelah membersihkan diri.


"Uhhh..." Aksa duduk sambil menyilangkan kaki.


"Apa di sini tidak ada makanan? Perutku lapar sekali," tanya Rai sambil mengusap perutnya yang sudah keroncongan.


"Beli saja, jangan merepotkan Pak Joko!" sahut Aksa.


"Tara... Makanan sudah siap," decak Inara .


Setelah membersihkan diri tadi, Inara langsung turun dan masuk ke dapur. Awalnya Pak Joko yang ingin menyiapkan makan malam, tapi Inara melarangnya dan memintanya istirahat.


Dengan bahan seadanya, jadilah mie goreng pedas, ayam kecap dan telur balado.


Setelah menata nasi dan makanan di atas meja, Inara melangkah menuju ruang tengah. Tanpa pikir dia langsung duduk di samping Aksa dan menempelkan lengan mereka.


"Masih sakit?" tanya Inara menyipitkan mata.


"Apa yang kamu pikirkan?" Aksa mengerutkan kening. "Aku bukan anak-anak yang harus merengek saat kesakitan." imbuh Aksa dingin.


"Iya, bukan anak-anak tapi kekanak-kanakan. Hehe..." balas Inara sambil nyengir kuda.


Aksa mengeratkan rahang dan mengikis jarak diantara mereka, lalu berbisik di telinga Inara. "Jangan asal bicara! Jika aku mau, sifat kekanak-kanakan yang kau sebut itu bisa membuat perutmu mengandung anak."


"Wah, benarkah?" Inara membulatkan mata sambil tersenyum. "Sayangnya aku tidak percaya. Kamu tidak akan berani melakukan itu karena-"


"Karena apa?" potong Aksa.


"Karena aku adikmu, hahaha..." sambung Inara.


"Sudahlah, tidak perlu banyak bicara. Sekarang ikut aku yuk, kita makan dulu!" Inara melingkarkan tangannya di lengan Aksa, lalu menariknya. "Rai, makan bareng yuk!" imbuh Inara menatap sekilas pada Rai.


Rai memutar leher menatap keduanya yang sudah berdiri. "Memangnya boleh?"


"Tidak..." ketus Aksa menahan tawa.


Inara membungkam mulut Aksa dengan cepat. "Apaan sih Kak, tidak boleh begitu. Ayo Rai, ikut kami!"


Inara menarik lengan Aksa meninggalkan ruang tengah, Rai mengikuti mereka dari belakang.


Setelah ketiganya duduk, Inara mengambilkan makanan untuk Aksa lalu menaruhnya di hadapan pria itu.


"Aku tidak diambilkan sekalian?" Rai menggembungkan pipi sesaat setelah Inara duduk.


"Oh iya, tunggu sebentar!" Inara kembali berdiri, mata Aksa mengobarkan percikan api melihatnya.

__ADS_1


Rai yang menyadari itu nampak mengulum senyum. "Mampus," batin Rai penuh kemenangan.


"Gadis ini..." Aksa semakin kesal dengan jari-jari mengetuk permukaan meja. Ingin sekali dia mencekik Rai sampai mati, dia tidak suka melihat Inara melayani pria lain.


"Sudah, ayo makan!" ajak Inara santai. Dia bahkan tidak menyadari bahwa Aksa sudah bersungut-sungut memandanginya.


Dalam kekesalan, Aksa melahap makanannya dengan cepat. Saking cepatnya, opor kiri opor kanan langsung gol. Hanya dalam waktu beberapa menit saja nasi di piringnya langsung tandas.


"Permisi,"


Setelah mengatakan itu, Aksa meninggalkan meja makan dan pergi entah kemana. Rai dan Inara menyipitkan mata kebingungan.


"Cinta ini membunuhku," gumam Rai. Dia mencebik sambil mengangkat bahu.


Inara memelototi Rai. "Apa maksudmu?"


"Entahlah, kamu pasti tau jawabannya." Rai kembali melanjutkan aktivitas makannya.


Sesaat ruang makan menjadi hening, baik Inara maupun Rai terdiam seribu bahasa. Rai diam karena takut salah bicara, sementara Inara diam memikirkan Aksa.


Lima menit kemudian, Inara mengarahkan pandangannya ke arah Rai. Dia menilik manik mata pria itu seakan mencari sesuatu di dalamnya.


"Sejak kapan kamu dekat sama Kak Aksa?" tanya Inara penasaran.


"Lebih dari tiga tahun," jawab Rai jujur.


"Semuanya," sahut Rai singkat.


"Semuanya?" Inara menautkan alis. "Apa itu artinya kamu juga tau tentang kehidupan pribadinya?" imbuh Inara.


"Sangat tau," Rai tersenyum kecut.


"Apa Kak Aksa pernah pacaran? Maksudku... Apa dia pernah dekat dengan seorang wanita?" Tanpa sadar pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Inara.


"Pernah, sayang wanita itu tidak menanggapinya. Wanita itu mencintai orang lain, kasihan dia harus patah hati." jawab Rai.


"Siapa? Apa dia wanita Korea?" Inara semakin penasaran.


"Tidak, dia asli orang Indonesia. Sekarang sedang duduk di depanku,"


"Di depanmu?" Inara kembali menautkan alis.


"Kamu orangnya, hanya kamu lah satu satunya wanita yang pernah dekat dengan dia. Selama aku bersamanya, baru kali ini aku melihatnya begitu tertarik dengan wanita. Dia bahkan sudah seperti orang gila setiap kali memikirkan mu. Aku tau ini aneh, tapi begitulah kenyataannya. Sejak bertemu denganmu di kota Busan waktu itu, sikapnya mulai berubah. Awalnya aku pikir dia hanya main-main, tapi makin ke sini aku melihat keseriusan di dirinya."


"Sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak bermaksud ikut campur dengan urusan kalian, tapi sebaiknya menjauhlah kalau kamu tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Kasihan dia,"

__ADS_1


"Satu lagi, sore tadi dia benar-benar panik saat tau kamu diculik. Dia bahkan tak memikirkan apa-apa lagi selain kamu, dia sangat takut kamu terluka."


Setelah mengatakan semuanya, Rai meninggalkan meja makan. Inara masih bergeming menelaah kata-kata Rai barusan.


Selepas membereskan meja dan mencuci piring kotor, Inara berjalan mencari keberadaan Aksa. Mulai dari lantai satu sampai lantai dua, Inara tak kunjung menemukan Aksa.


Lalu Inara ke luar dan berpapasan dengan Pak Joko.


"Pak, apa Bapak melihat Kak Aksa?" tanya Inara langsung pada intinya.


"Mungkin di ruang bawah tanah Non. Terakhir ke sini Tuan Aksa mengurung diri di sana. Sepertinya beliau sedang sedih, jadi-"


"Makasih ya Pak, Inara pergi dulu." potong Inara sebelum Pak Joko menyelesaikan ucapannya.


Inara berlari kecil menuju taman samping, lalu masuk ke lorong yang menghubungkan kolam renang dengan ruang bawah tanah.


Sesampainya di bawah, Inara menekan kode. Seketika pintu itupun terbuka lebar.


Dalam remang-remang cahaya yang dikelilingi sisi dinding yang berwarna hitam pekat, Inara melangkah masuk dengan kaki meninjit pelan. Siluet seorang pria tertangkap dalam sorot matanya.


Mendadak langkah Inara terhenti, kakinya bergetar dengan tangan yang mulai basah mengeluarkan keringat dingin.


Inara bergeming, matanya membulat dengan sempurna. Lidahnya kelu untuk berkata-kata.


Setelah menunggu selama satu bulan lebih, akhirnya Inara menemukan jawaban tanpa bertanya.


Inara tergopoh, kakinya tiba-tiba lemas sehingga punggungnya tak sengaja membentur dinding. Bahkan detak jantungnya mendadak kacau dan berdenyut sangat ngilu.


"Lupakan aku, ada pria lain yang sangat mencintaimu!"


"Pria itu sangat dekat denganmu,"


"Lupakan Akbar, buka hatimu untuk Kak Aksa!"


"Kak Aksa sayang kamu Ra, Kak Aksa cinta sama kamu."


"Tunggu saja Akbar mu itu sampai lebaran kingkong, aku pastikan dia tidak akan kembali ke dunia ini."


Semua ucapan itu tiba-tiba melintas di benak Inara. Dia menitikkan air mata sambil menutup mulut, sesak memang tapi begitulah kenyataannya. Inara belum bisa percaya sepenuhnya.


Pelan-pelan Inara beringsut pada permukaan dinding, tangannya bergerak menyentuh stop kontak.


"Teg!"


Lampu tiba-tiba menyala, Aksa terlonjak, matanya melotot tajam saat menyadari kehadiran Inara. Dengan cepat Aksa meraih selimut dan menutupi tubuhnya yang ternganga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2