
Sesaat kamar mandi menjadi hening. Rai terbawa suasana, dia enggan sekali melepaskan bibir Avika yang kenyal dan manis. Begitu juga dengan Avika yang hanya mematung menikmati luma*tan Rai yang sangat lembut. Saking lembutnya sekujur tubuh Avika tiba-tiba merinding.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud kurang ajar padamu." gumam Rai setelah melepaskan pagutan nya. Dia mengusap bibir Avika yang basah karena ulahnya.
Rai kemudian menempelkan keningnya di dahi Avika. Nafasnya terdengar memburu dan menerpa wajah gadis itu. "Aku tau aku salah, tapi demi Tuhan aku tidak ada maksud untuk mengintip apalagi melecehkan mu. Aku menghargai mu sebagai adik sahabatku. Sebagai hukumannya, aku akan pergi dari rumah ini. Kamu tidak akan melihat wajah bajingan ini lagi." Rai mengecup kening Avika, lalu meninggalkan kamar itu tergesa-gesa.
"Rai..."
Avika mencoba menghentikannya, tapi Rai sudah keburu menghilang dari kamar.
Avika mencebik, lalu mengusap bibirnya yang masih basah. "Dia mencium ku?"
Seumur-umur baru kali ini bibir Avika dijamah oleh seorang pria dan hal itu terjadi begitu saja tanpa diduga. Avika ingin marah tapi tidak bisa. Kenapa?
Di bawah sana, Rai melewati ruang tengah begitu saja. Padahal ada Aina dan Arhan yang tengah duduk di sana. Rai bahkan tidak menoleh sedikitpun pada mereka.
Rai merasa bersalah atas kejadian barusan, dia tidak akan sanggup menatap wajah Arhan dan Aina jika mereka tau apa yang sudah Rai lakukan pada putri mereka.
"Rai... Kenapa jalannya buru-buru begitu? Sudah selesai mengganti lampunya?" tanya Aina.
Rai menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Aina. "Sudah Tante, permisi." Kembali Rai melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar.
"Bug!"
Rai melayangkan tinjunya di dinding. Dia merasa bodoh karena kehilangan kendali di depan Avika. Seharusnya dia menolak saja saat Aina menyuruhnya, pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
"Avika benar, kau memang brengsek Rai." Dia mengumpat pada dirinya sendiri, tidak seharusnya Rai seberani itu mencium Avika. Pasti gadis itu sangat marah dan membencinya.
Rai kemudian membuka pintu lemari dan mengemasi pakaiannya, dia tidak sanggup menatap wajah Avika setelah apa yang dia lakukan tadi.
Setelah menutup resleting kopernya, Rai berjalan meninggalkan kamar sembari menyeret koper tersebut.
"Permisi Om, Tante, Rai izin pamit. Terima kasih karena sudah mengizinkan Rai tinggal di rumah ini selama beberapa hari." Rai menghampiri keduanya, dia berniat menyalami tangan Arhan tapi ayah tiga anak itu menolaknya.
"Mau kemana kamu?" selidik Arhan dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
"Rai, apa-apaan ini?" sambung Aina menautkan alis.
"Maaf Om, Tante, Rai sudah punya tempat tinggal sendiri. Rai tinggal di sana saja," ucap pria itu.
"Lalu kenapa kalau kamu punya tempat tinggal sendiri? Apa di sini tidak cukup nyaman bagimu?" Arhan menyipitkan mata.
"Tidak Om, bukan begitu. Rai hanya ingin hidup mandiri," jawab Rai.
"Alasan saja, kembali ke kamarmu! Kalau mau pergi tunggu Aksa dulu. Jika dia mengizinkan, baru kamu boleh pergi." tegas Arhan.
"Tapi Om-"
"Tidak ada tapi tapi. Kamu pikir ini hotel main keluar masuk seenak jidatmu saja." oceh Arhan.
Rai terdiam menelaah kata-kata Arhan barusan. Sepertinya apa yang dikatakan Aksa tadi pagi benar adanya. Arhan tidak akan semudah itu melepaskan orang-orang yang sudah masuk ke dalam rumahnya.
Saat Rai masih membatu di tempatnya berdiri, Avika muncul di tengah-tengah mereka.
"Rai, kamu mau kemana?" tanya Avika menautkan alis, lalu duduk di samping Aina.
"Avika, tadi Mama menyuruh Rai mengganti lampu di kamar mandi kamu. Turun- turun Rai sudah ingin pergi saja dari rumah ini. Apa kalian bertengkar? Apa kamu mengusir Rai?" tanya Aina.
"Tidak Ma, Avika tidak ngusir dia. Tadi tuh..."
Tiba-tiba air muka Rai berubah panik. Apa Avika ingin menceritakan kejadian tadi pada kedua orang tuanya?
"Tadi apa?" tanya Aina penasaran.
"Tidak ada apa-apa Ma. Tadi Rai terjatuh, lalu Avika menertawakannya. Mungkin dia marah karena itu," alibi Avika mengelabui Aina dan Arhan. Dia juga tidak ingin Rai pergi dengan cara seperti ini, bisa-bisa monster Aksa mengamuk dan mencabik-cabik tubuhnya.
Rai tersentak kaget dan mengangkat kepalanya, seketika pandangannya dan Avika bertemu untuk sejenak.
Apa Rai tidak salah dengar? Apa artinya kejadian itu hanya mereka berdua saja yang tau? Rai tidak menyangka Avika akan membungkam mulut seperti ini.
"Astaga, cuma kejadian seperti itu saja sudah merajuk. Kamu ini pria apa banci sih? Badan saja yang besar," sindir Arhan. Dia memijat dahi mengingat kebodohan Rai.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi? Kembali ke kamarmu!" timpal Aina.
Mau tidak mau Rai terpaksa mengangguk. Dia menilik manik mata Avika dengan tatapan tajam seperti mata elang, Avika membalasnya dengan menjulurkan lidah.
Rai ingin marah tapi merasa lucu melihat kelakuan Avika. Dia mengulum senyum dan balas menjulurkan lidah. "Awas kamu!" ancam Rai dengan pergerakan bibir tanpa suara, lalu menyeret kopernya ke kamar.
Sesampainya di kamar, Rai menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.
Di atas sana, Inara masih berusaha menghubungi Aksa tapi tak kunjung dijawab oleh calon suaminya itu. Inara sangat kesal dan mengirim pesan sebanyak-banyaknya.
Sedangkan di apartemen sana Aksa asik membaca pesan dari Inara sembari tertawa dengan sendirinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana menggemaskannya muka Inara saat ini.
"Sabar ya sayang, cuma sehari doang kok. Besok kita akan bertemu dan melepaskan kerinduan ini sampai puas." gumam Aksa sembari mengotak atik iPhone miliknya.
Aksa sengaja tidak membalas satupun pesan Inara. Dia ingin melihat sebatas mana Inara sanggup bertahan saat berjauhan dengan dirinya.
"Brengsek kamu Kak, awas saja jika kita bertemu nanti. Aku tidak akan memaafkan mu," gerutu Inara mengepalkan tinju.
Malam sudah datang, semua orang berkumpul di ruang tengah membicarakan pernikahan Aksa dan Inara yang akan dilangsungkan esok hari. Hanya Inara yang tidak ada di sana.
Meski hanya pernikahan biasa, tapi semua anggota keluarga sangat antusias membahasnya.
Ijab akan dilakukan di apartemen, setelah itu lanjut dengan acara kumpul keluarga. Sementara resepsi sendiri akan digelar satu bulan mendatang, butuh persiapan yang sangat matang untuk menggelar pesta mewah tersebut.
"Kak Aksa besok mau menikah sama Kak Inara, Kak Avika kapan? Masa' kalah sih sama kakak dan adiknya?" seloroh Aryan menahan tawa.
"Apaan sih Aryan? Jangan mulai!" ketus Avika dengan bibir mengerucut.
"Kak Rai juga, masa' kalah sih sama sahabatnya?" imbuh Aryan.
Seketika air muka Rai berubah pucat, dia tak menyangka Aryan akan menggodanya di hadapan semua orang. "Maaf, aku permisi dulu."
Rai memilih pergi meninggalkan semua orang, dia tidak mau menjadi bulan-bulanan Aryan yang dia tau sangat suka mencari masalah. Begitu juga dengan Avika yang memilih pergi daripada mendengar candaan Aryan yang menyudutkan.
Bersambung...
__ADS_1