Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 37.


__ADS_3

Setelah mematikan mesin mobil, Aksa menatap lekat wajah Inara sambil menyandarkan sisi tubuhnya pada sandaran jok. Seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.


"Kak Aksa mau ngomong apa?" tanya Inara.


"Tidak ada," jawab Aksa enteng, matanya terus saja menatap Inara tanpa kedip.


"Tidak ada?" Inara menautkan alis. "Kalau tidak ada, kenapa mendatangiku ke sini? Apa Kak Aksa tidak kerja?" imbuh Inara dengan air muka kebingungan.


"Ini lagi kerja," sahut Aksa.


"Kerja apanya? Duduk gini kok dibilang kerja," Makin kesini Inara semakin kebingungan melihat sikap aneh Aksa.


"Iya, maksudnya kerja lihatin kamu." Aksa mengukir senyum dan menangkup sebelah tangan di pipi Inara.


"Astaga Kak, kamu sudah gila apa?" Inara meraih tangan Aksa dan menjauhkannya dari pipinya.


"Hmm... Kamu benar, mungkin kakakmu ini sudah mulai kehilangan kewarasan." jawab Aksa santai.


"Benarkah?" Inara memelototi Aksa. "Nanti aku bilang sama Papa biar Kak Aksa cepat ditangani. Butuh dokter jiwa apa psikiater?" Inara mengulum senyum setelah mengatakan itu.


"Tidak butuh dua-duanya, tapi Kak Aksa butuh kamu." Aksa sedikit beringsut dan kembali menangkup tangan di pipi Inara, lalu menatapnya dengan intim mulai dari mata hingga bibir Inara yang kini sudah menjadi candu untuknya.


Mendadak Inara bergeming dengan mata menyipit memperhatikan wajah Aksa yang semakin dekat dengan dirinya. Detak jantung yang tadinya biasa-biasa saja, kini mulai berdetak dengan cepat, terasa menyumbat sampai pembuluh darah.


Semakin dekat wajah Aksa semakin gugup pula Inara dibuatnya. Panas, pengap dan sesak bahkan dada Inara mulai naik turun mengatur nafas.


"Kak Aksa... Mmphh..."


Tak ingin menunggu lagi, Aksa langsung melahap bibir mungil Inara dan mengesap nya dengan penuh kelembutan. Tangan Aksa meraih tengkuk Inara yang menganga, matanya memicing meresapi setiap decapan yang keluar dari penyatuan bibir mereka.


"Kak... Mmphh..."


Seakan tak ingin melepaskan, Aksa mempercepat luma*tannya, tak seinci pun lepas dari penguasaannya. Bahkan kini pagutan mereka semakin erat dan dalam. Lidah keduanya bersua dan saling membelit sambil sesekali meneguk ludah yang sudah membaur jadi satu.

__ADS_1


"Aaaah..."


Inara berusaha mencari celah untuk mencuri nafas, hal itu seketika menyadarkan Aksa dari keinginannya yang sudah membara.


Aksa melepaskan tautan bibir mereka dan menarik Inara ke dalam dekapannya, lalu mengecup telinga, leher dan pundak Inara bergiliran. Tangan Aksa melingkar erat di punggung Inara.


"Bisakah kamu melupakan Akbar demi Kakak? Kakak janji akan menjadi pria terbaik dan terhebat untuk kamu. Lupakan dia, buka hatimu untuk Kak Aksa!"


Tanpa disadari ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Aksa, berat sekali menahan diri untuk tidak mengatakan itu. Semakin Aksa berusaha kuat, semakin menyempit pula alat pernafasannya. Dadanya semakin sesak mengingat cinta Inara yang begitu besar pada Akbar. Aksa ingin perasaan itu ditujukan untuknya, bukan orang lain meskipun dia dan Akbar adalah orang yang sama.


Inara terperanjat, matanya membulat dengan sempurna. Dia bergeming menelaah kata-kata Aksa barusan.


"Kak Aksa sayang kamu Ra, Kak Aksa cinta sama kamu." ungkap Aksa.


"Deg!"


Lagi-lagi mata Inara membulat dengan sempurna, bahkan seperti mau melompat dari tempatnya. Darahnya berdesir, dadanya ngilu mendengar itu.


Cinta?


Tanpa berpikir, Inara dengan cepat mendorong dada Aksa hingga pelukan mereka terlepas.


"Kamu benar-benar sudah gila Kak Aksa, sinting kamu. Bagaimana bisa kamu memiliki perasaan itu padaku? Ingat Kak, aku ini adikmu!" bentak Inara meninggikan suara.


"Apa yang salah dengan itu? Kamu memang adikku, tapi diantara kita tidak ada ikatan darah. Lalu dimana salahnya?" jawab Aksa dengan mata berkaca.


"Walaupun diantara kita tidak ada ikatan darah, tapi tetap saja hubungan kita hanya sebatas kakak dan adik. Jangan berharap lebih!" hardik Inara yang sudah tersulut emosi. Inara hendak turun tapi Aksa dengan cepat menahan tangannya.


"Tunggu, lihat aku!" Aksa menangkup kedua tangannya di pipi Inara, tatapannya nampak sendu mematut manik mata Inara. "Jangan membohongi perasaanmu sendiri! Hubungan kita tidak hanya sebatas kakak dan adik, tapi lebih dari itu."


"Tidak Kak, kamu salah. Hubungan kita hanya sebatas itu," tekan Inara.


"Bukan aku yang salah, tapi kamu." Aksa menempelkan dahinya di kening Inara. "Kamu tau apa yang sudah kita lakukan selama ini? Pelukan itu, ciuman itu. Tidak ada kakak adik melakukan hal seperti itu, hanya kita yang melakukannya. Mana ada kakak adik saling melu*mat bibir? Mana ada kakak adik menciptakan kehangatan seperti yang kita lakukan? Kita memiliki gairah di diri kita masing-masing, itu sudah membuktikan bahwa hubungan kita lebih dari sekedar kakak dan adik." ungkap Aksa.

__ADS_1


"Tidak, kamu salah Kak. Aku hanya menganggap mu sebagai kakak, tidak lebih!" terang Inara.


"Heh..." Aksa tersenyum miring. "Menganggap ku sebagai kakak tapi membiarkanku menyentuhmu. Apa yang ada di otakmu itu hah? Apa menurutmu sentuhan itu adalah hal biasa?" ketus Aksa, dia tak habis pikir dengan jalan pikiran Inara.


"Kamu yang memaksaku, jadi jangan pernah salahkan aku!" kesal Inara.


"Oh, jadi menurutmu apa yang aku lakukan adalah pemaksaan? Hebat sekali," Aksa mengukir senyuman sinis. "Terpaksa tapi menikmatinya sampai mende*sah, terpaksa tapi melu*mat bibirku dengan rakus, terpaksa tapi membiarkanku menyelami rongga mulutmu, terpaksa tapi dengan senang hati membelit lidahku bahkan meneguk air ludahku tanpa jijik. Aneh memang," Aksa menjauhkan diri dan membuang pandangannya ke sisi kanan.


Inara terdiam sejenak, dia tidak tau harus menjawab apa.


"Maaf, aku harus pergi." ucap Inara setelah beberapa menit mematung.


"Tunggu saja Akbar mu itu sampai lebaran kingkong sekalipun, aku pastikan dia tidak akan pernah kembali ke dunia ini!" gumam Aksa penuh kekesalan.


"Apa maksudmu? Hati-hati kalau bicara!" ketus Inara menajamkan tatapannya.


"Maksud apa? Siapa yang bicara?" Aksa mengernyit dan mengangkat bahu seakan tidak bicara apa-apa sebelumnya.


"Akbar ku pasti kembali, dia pasti kembali karena kami saling mencintai." tegas Inara penuh penekanan.


"Heh... Makan tuh cinta." Aksa tersenyum miring. "Sudah jelas ada yang menginginkanmu di depan mata, masih saja mengharapkan orang yang sekarang tidak tau dimana rimbanya." gerutu Aksa dengan pandangan menggelap.


"Kalau begitu tunggu saja sampai berkarat. Dan jangan lupa janjimu pada Ayah, jika dia tidak kembali bersiaplah dijodohkan dengan si Erick Erick itu!"


"Oh ya satu lagi." Aksa mengacungkan jari telunjuk. "Jika saat itu tiba, jangan meminta bantuan apa-apa padaku! Aku tidak akan mengemis-ngemis cinta darimu, aku akan mengingat penolakanmu ini sampai kapanpun." geram Aksa.


"Kamu-"


"Silahkan turun!" Aksa menajamkan tatapannya.


"Siapa juga yang mau berlama-lama denganmu?"


Setelah mengatakan itu, Inara membuka pintu dan turun dengan cepat. Dia kemudian membanting pintu dengan kasar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2