
"Dor..."
Sebuah tembakan melesat di kaca mobil bagian belakang. Inara tersentak dari pelukan Aksa dan menoleh ke belakang.
Aksa sendiri tidak kalah kaget, dia sangat yakin bahwa ini ulah anak buah Oberoi. Hanya dia satu satunya musuh Aksa yang tersisa setelah kematian Tasya waktu itu.
"Kak..." lirih Inara ketakutan dengan sekujur tubuh gemetaran. Aksa pun memeluknya erat dan meminta Pak Anang fokus mengendarai mobilnya. Pak Anang pun mengangguk cepat.
"Jangan takut, sayang. Kakak tidak akan membiarkan mereka menyakiti kamu dan anak kita." ucap Aksa menenangkan Inara. Aksa membelit tubuh Inara untuk menghalangi peluru masuk ke tubuh istrinya itu.
Sialnya Aksa tidak memiliki persiapan sama sekali, dia tidak menyimpan revolver miliknya di mobil itu. Mau tidak mau, jalan satu satunya hanya menghindari serangan mereka. Aksa tidak ingin membahayakan Inara dan calon anaknya.
"Om Baron, iya, Om Baron." batin Aksa, lalu dengan cepat mengeluarkan iPhone miliknya dari kantong celana.
Tanpa melepaskan pelukannya, Aksa lekas menghubungi Baron. Percakapan terjadi diantara mereka berdua selama beberapa menit.
Setelah mendengar ucapan Aksa, Baron memintanya membawa mobil itu ke sebuah tempat. Baron sendiri langsung meluncur mengikuti mobil itu melalui pantauan GPS.
"Dor..."
Lagi-lagi sebuah tembakan melesat di kaca mobil. Inara yang ketakutan sontak menangis di pelukan Aksa. "Hiks... Aku takut Kak, mereka akan membunuh kita."
"Sssttt... Itu tidak akan terjadi, Kakak tidak akan membiarkan kalian terluka sedikitpun." kata Aksa yakin. Dia akan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan Inara dan anaknya.
"Pak Anang, bawa mobil ini menuju jalan Adityawarman. Di sana ada sebuah gedung tua." titah Aksa.
"Baik, Tuan." angguk Pak Anang yang sebenarnya mulai gemetaran menerima serangan tak terduga itu.
Dia trauma mengingat kejadian sekitar dua puluh dua tahun yang lalu saat dia tidak berhasil menyelamatkan Aina dan Nayla.
Saat itu Nayla hampir saja keguguran Inara, sedangkan Aina nyaris kehilangan nyawanya dan Avika yang masih ada di dalam kandungan.
Akan tetapi, kali ini Pak Anang harus lebih kuat. Dia tidak ingin Aksa, Inara dan calon buah hati mereka terluka. Dia merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka.
Setelah membanting stir ke kanan dan ke kiri untuk menghindari serangan musuh yang semakin mendekati mobilnya, Pak Anang menginjak pedal gas sekencang yang dia bisa. Mobil itu melaju bak petir yang menyambar di siang bolong.
"Hiks..." isak Inara sesenggukan seraya mencengkram lengan Aksa.
"Dor..."
__ADS_1
"Dor..."
Kembali suara tembakan itu menakuti Inara, dia rasanya ingin mati saking takutnya. Beruntung Aksa tidak melepaskannya walau sedetik, pelukan Aksa lah yang memberinya kekuatan.
Setengah jam berlalu, akhirnya mobil itu tiba di jalan Adityawarman, tepat di depan sebuah gedung tua yang dimaksud Baron tadi. Karena jalanan itu buntu, mau tidak mau Pak Anang terpaksa menghentikan laju mobilnya.
"Tidak ada jalan lagi, Tuan." ucap Pak Anang sembari menoleh ke belakang. Dia pun melihat dua mobil yang ikut berhenti di belakang mereka. Satu persatu anak buah Oberoi turun dari mobil itu, terakhir Oberoi sendiri turun dibantu dua orang pria bertubuh tinggi besar.
"Tenang saja, aku yakin Om Baron sudah mengatur ini dengan baik. Jangan panik, kita pasti baik-baik saja." ucap Aksa meyakinkan Pak Anang dan Inara yang masih memeluknya erat.
"Aku tidak mau mati sekarang, Kak. Aku belum sempat melihat anakku, hiks..." Inara memeluk Aksa sekencangnya, Aksa sampai kesulitan untuk bernafas.
Hatinya hancur mendengar ucapan Inara yang seakan sudah yakin akan mati di tangan musuh-musuh itu. "Tidak ada yang akan mati, kita semua pasti selamat. Tuhan akan melindungi kita dengan cara-Nya." kata Aksa menenangkan Inara. Dia mempererat pelukannya dan mengecup kening Inara dengan sayang. Jika ada yang harus mati, maka dialah yang pantas mati lebih dulu. Inara harus tetap hidup dan membesarkan darah dagingnya.
"Braak!"
Tiba-tiba beberapa orang pria berbadan besar menendang pintu mobil. Mereka mengelilingi mobil itu hingga tidak ada tempat buat lari.
"Turun kalian, jangan sampai aku ledakkan mobil ini!" seru salah seorang pria sembari membuka pintu dengan paksa.
"Kak..." gumam Inara mengalungkan tangannya di tengkuk Aksa, dia memagutnya erat seakan sudah menempel terkena lem.
"Cepat keluar!" bentak pria yang sudah menunggu di depan pintu.
Mau tidak mau, Aksa terpaksa mengangguk dan turun tanpa melepaskan Inara yang bergelayut di lehernya.
Saat Aksa menginjak tanah, beberapa orang pria itu menarik paksa masing-masing mereka sehingga pelukan itu terlepas.
"Tidak, jangan!" pekik Inara meronta-ronta ingin kembali ke pelukan Aksa.
"Diam, atau tembak kepalamu!" gertak seorang pria seraya menyodorkan senjata ke kepala Inara. Sontak Inara membeku dengan air mata yang jatuh berderai, sementara Aksa nampak menggertakkan gigi dengan tinju mengepal.
"Jangan sakiti istriku!" Aksa hendak mendekat tapi kedua tangannya ditahan oleh dua orang pria yang memegang revolver di tangan mereka. "Jangan jadi pengecut! Urusan kalian denganku, jadi selesaikan saja denganku." imbuh Aksa dengan tatapan mematikan. Jika saja tidak ada Inara, mungkin ceritanya akan berbeda.
"Hahahaha..."
Dari kejauhan tawa Oberoi menggelegar penuh kemenangan. Dia yakin kali ini dia tidak akan gagal lagi, tidak ada seorangpun yang bisa menyelamatkan Aksa dari malaikat maut yang siap mencabut nyawanya.
"Bawa wanita itu kemari!" titah Oberoi yang tengah duduk di kursi roda.
__ADS_1
"Tidak, jangan, aku tidak mau." teriak Inara saat tangannya ditarik paksa menghampiri Oberoi. Sekuat apapun dia menarik diri tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan.
"Bajingan, lepaskan istriku!" geram Aksa dengan amarah yang sudah memuncak, darahnya mendidih sampai ubun-ubun.
"Bug!"
Seseorang memukuli tengkuk Aksa sehingga tubuhnya terperosot ke tanah. Masing-masing tangannya diinjak dengan posisi tengkurap.
"Bunuh saja aku jika itu yang kau inginkan, tapi tolong jangan sakiti istriku!" Aksa mengangkat kepalanya dengan bibir yang ditempeli pasir, dia memohon agar Oberoi tidak menyakiti istrinya.
"Hahahaha..."
Kembali tawa Oberoi pecah menikmati permainannya.
"Istrimu terlalu cantik untuk dilepaskan, aku ingin mencicipinya terlebih dahulu." ucap Oberoi dengan senyum nakal mematut Inara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan dan body Inara yang ideal membuatnya sangat tertarik.
"Ikat dia di mobil, aku ingin bersenang-senang sebelum menyaksikan kematian suaminya. Aku juga ingin melihat bagaimana bergairahnya wanita itu melayaniku di depan suaminya sendiri." titah Oberoi pada anak buahnya.
"Tidak, aku tidak mau. Kak Aksa, tolong..." tolak Inara saat tubuhnya dipaksa masuk ke dalam mobil. Kedua tangan dan kakinya diikat lalu dicekoki minuman yang sudah dicampur obat. Inara terbatuk tapi dia tidak bisa memuntahkan minuman itu, rahangnya dicengkeram sehingga minuman itu mengalir membasahi tenggorokannya.
"Jangan Oberoi, aku mohon. Istriku tidak bersalah, tolong jangan sakiti dia!" pinta Aksa memohon dengan derai air mata yang jatuh membasahi tanah. Dia berusaha bangun tapi punggungnya diinjak oleh dua pria sekaligus, sementara punggung tangannya sudah berdarah akibat injakan yang sangat keras. "Tolong jangan sakiti, istriku!" lirih Aksa dengan suara yang nyaris tak terdengar. Dia kecewa pada dirinya sendiri, dia merasa gagal melindungi istrinya.
Sementara Pak Anang sendiri tidak bisa melakukan apa-apa sebab dia juga sudah ditahan di dalam mobil dengan ujung revolver yang menempel di pelipis dahinya.
"Apa obatnya sudah bekerja?" tanya Oberoi sembari mematut tubuh Inara yang sudah terbaring di dalam mobil.
"Sepertinya sudah Bos," jawab salah seorang anak buahnya.
Inara sudah tak berdaya dan merasa panas di tubuhnya. Sesekali dia menggeliat sembari mende*sah dengan mata sayu yang sudah terpengaruh obat. Dia membutuhkan seseorang untuk menetralisir gairah yang mulai membuncah di jiwanya.
"Ikat pria itu, biarkan dia melihat bagaimana aku dan istrinya bersenang-senang!" titah Oberoi pada anak buahnya yang lain.
Aksa kemudian diseret paksa menghampiri mobil itu, kedua tangan dan kakinya diikat kuat dan dijatuhkan di tanah. Sekuat tenaga Aksa mencoba melepaskan diri tapi semua itu sia-sia. Dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Saat Oberoi dibantu anaknya buahnya menaiki mobil, Aksa menggelepar seperti ayam yang baru saja disembelih, tetap dia tidak bisa melepaskan diri.
"Jangan Oberoi, aku mohon! Bunuh saja aku, tapi tolong lepaskan istriku!" pinta Aksa berderai air mata. Dia tidak akan sanggup melihat ini.
"Kalian menjauhlah, biar kami saja yang menikmati permainan ini!" perintah Oberoi pada semua anak buahnya. Mereka pun menjauh sesuai keinginan Oberoi.
__ADS_1