Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 72.


__ADS_3

Pukul tiga sore semua orang yang mengikuti wawancara mulai bubar dan meninggalkan kantor. Hasil akhir akan diumumkan esok hari, kini Avika dan dua sahabatnya tinggal meluruskan otot dan menyegarkan pikiran.


Mereka bertiga memilih jalan-jalan ke mall untuk berbelanja. Bukankah bagi para wanita berbelanja merupakan salah satu obat yang paling mujarab untuk menghilangkan stress? Begitu juga dengan mereka.


Sesampainya di pusat perbelanjaan terbesar di tanah air, mereka bertiga turun dari mobil dan memasuki mall tersebut sembari membahas wawancara tadi. Avika terlihat biasa saja, berbeda dengan dua sahabatnya yang mengoceh mengatakan ingin pingsan saat melakukan wawancara tadi.


Sebagai anak dari seorang pengusaha ternama yang disegani banyak kalangan, Avika tiba-tiba menjadi pusat perhatian pengunjung mall. Tak terkecuali para pria yang juga tengah berada di mall tersebut. Seperti biasa, Avika hanya cuek tanpa mempedulikan pandangan orang-orang di sekitarnya.


Setelah berputar-putar dan membeli apa yang mereka inginkan, ketiganya turun ke bawah. Avika dan dua sahabatnya itu baru saja membeli beberapa stel pakaian dan aksesoris penunjang.


Saat tiba di lantai dasar, mereka bertiga baru menyadari bahwa hari sudah mulai gelap. Sebelum pulang, mereka berencana mencari tempat makan terlebih dahulu.


Akan tetapi, saat di parkiran mereka bertiga bertemu dengan kekasih Indah yang juga bertiga dengan dua sahabatnya.


"Rio, kamu di sini juga?" sapa Indah pada kekasihnya. Seulas senyum terukir di bibir gadis itu.


"Indah, kebetulan sekali bertemu di sini." Rio dan Indah mengikis jarak, keduanya cipika cipiki menyambut pertemuan tak disangka itu. Setelah menyapa Indah, Rio beralih menyapa Avika dan Tia. Dua gadis itupun balik menyapa Rio.


"Iya, aku baru pulang dari wawancara, jadi mampir di sini dulu buat berbelanja. Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Indah penasaran.


"Sama, tapi aku cuma menemani mereka. Kamu sudah makan?" jawab Rio dengan pertanyaan pula.


"Belum, ini rencana mau makan sama Avika dan juga Tia." sahut Indah.


"Kebetulan sekali, kalau begitu kita barengan saja. Kami juga mau pergi makan," ucap Rio.


Avika dan Tia awalnya menolak, mereka berdua ingin pulang saja dan meninggalkan Indah bersama Rio. Akan tetapi, Rio dan dua sahabatnya memaksa hingga Avika dan Tia tidak enak hati menolak mereka.


Setelah mengiyakan ajakan Rio dan dua sahabatnya, Avika, Indah dan Tia masuk ke mobil Avika. Sedangkan Rio, Jaka dan Hari masuk ke mobil Rio. Dua mobil itu melaju beriringan.


Sekitar sepuluh menit menyisir jalanan, mobil Rio masuk ke parkiran klub malam yang terkenal di ibukota. Mau tidak mau Avika terpaksa mengikutinya.


"Loh, kok malah ke sini? Katanya mau makan?" tanya Avika dengan kening mengkerut saat mereka semua sudah turun dari mobil.


"Memang mau makan, yang bilang mau tidur siapa?" jawab Rio enteng. Dia tertawa melihat air muka Avika yang membagongkan.


"Tapi jangan di sini juga kali. Cafe kek, restoran kek, ini kan tempat bebas. Aku tidak pernah masuk ke tempat seperti ini." jelas Avika.

__ADS_1


"Maka dari itu dicoba dulu. Lagian kita cuma makan sama nongkrong doang kok, tidak usah berpikir aneh-aneh!" terang Rio.


"Tapi kan-"


"Ayolah Avika, sekali ini saja kok!" bujuk Indah dengan air muka memelas.


Sejenak Avika dan Tia saling melirik satu sama lain, tapi apa boleh buat. Demi Indah, mereka berdua mengangguk lemah meskipun dalam keadaan terpaksa. "Janji ya cuma makan doang, jangan minum apalagi mabuk!" tekan Avika.


"Iya janji," selang Rio.


Setelah perdebatan itu selesai, mereka semua masuk ke dalam klub malam tersebut. Baru berjalan beberapa langkah, Avika mulai gelisah melihat orang-orang yang sibuk dengan dunia mereka sendiri.


Ada yang sekedar duduk dan menyantap makanan, ada yang minum dan ada yang merokok, ada yang bermesraan dengan pasangan mereka, ada juga yang tengah menari mengikuti alunan musik DJ yang tengah dimainkan.


"Santai saja Avika, sekali-sekali nikmati hidup yang indah ini dengan bersuka cita." ucap Hari. Sedari tadi pria itu tidak hentinya mematut wajah Avika yang sangat cantik di matanya. Sayang Avika tak merespon sedikitpun.


Setelah mereka berenam mengambil tempat duduk dan memesan makanan serta minuman, Hari dan Jaka malah menjauh untuk beberapa saat. Kedua pria itu memesan minuman beralkohol dan meneguknya tanpa sepengetahuan Rio dan ketiga wanita itu.


Selepas menikmati minumannya, mereka berdua kembali ke meja yang ditempati Rio dan yang lainnya.


"Itu dia, dia putrinya Arhan Airlangga." bisik seorang pria berpakaian serba hitam. Tatapannya mengarah pada Avika yang baru saja menandaskan makanan yang ada di piringnya.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata tidak sulit menemukan gadis itu, dia sendiri yang datang mengantarkan dirinya. Sepertinya dia di sini tanpa pengawalan." sahut pria lainnya.


Keduanya saling menatap dan saling melempar senyum. "Tunggu apa lagi, ayo bergerak!" Kedua pria itu berpencar ke arah yang berbeda.


"Permisi, aku ke toilet sebentar ya." Avika bangkit dari duduknya, Tia pun menyusul dan mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di koridor, Avika tidak sengaja berpapasan dengan Rido. Meski sudah lama tidak bertemu tapi Rido masih ingat betul dengan Avika, dia tidak mungkin salah mengenali orang.


"Avika..." sapa Rido. Dia mengulas senyum tipis.


Avika mengernyit, dia tidak kenal dengan pria yang baru saja menyapanya itu. Kenapa pria itu bisa mengenali Avika?


"Maaf, Anda siapa ya? Anda kenal dengan saya?" tanya Avika bingung.


"Ya ampun, sudah besar malah lupa sama Kakak. Lupa beneran atau sengaja dilupain?" seloroh Rido menggoda Avika.

__ADS_1


"Maaf, tapi saya benar-benar tidak ingat. Permisi," Avika hendak melangkah tapi Rido dengan cepat menghalangi.


"Avika, ini Kak Rido. Masa' kamu lupa sih? Teman SMP nya Kak Aksa," ungkap Rido mengingatkan Avika tentang dirinya.


"Kak Rido...???" Avika terdiam sejenak, lalu mengulas senyum lebar. "Ya ampun, ternyata Kak Rido. Maaf ya Kak, Avika benar-benar lupa."


"Tidak apa-apa, lagian sudah lama sekali kita tidak bertemu. Oh ya kamu ngapain di sini?" tanya Rido mengerutkan kening.


"Itu, diajakin teman. Cuma makan doang kok Kak, gak aneh-aneh." terang Avika.


"Oh, baguslah kalau begitu. Awas ya kalau macam-macam, nanti Kakak adukan sama Kak Aksa!" gertak Rido.


"Gak kok Kak, janji." Avika mengukir senyum sembari membentuk huruf v di jarinya. "Kalau begitu aku pamit dulu ya Kak, mau ke toilet bentar."


Setelah mengatakan itu, Avika dan Tia masuk ke dalam toilet. Sementara Rido sendiri kembali ke meja bartender melayani para tamu yang masih berdatangan di klub malam miliknya itu.


"Tia, habis ini kita langsung pulang ya. Ini sudah malam, aku takut Papa dan Mama khawatir." seru Avika setelah keluar dari bilik kecil.


"Iya, kamu benar. Kalau Indah masih ingin bersama Rio biarkan saja, aku juga tidak enak lama-lama di tempat seperti ini." sahut Tia, lalu mereka berdua meninggalkan toilet.


Saat keduanya melewati koridor, tiba-tiba saja mulut Avika dibekap oleh seseorang. Avika terperanjat dengan mata membesar tapi dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan.


"Mmm..." Bahkan untuk berteriak saja Avika tidak bisa.


"Hei, siapa kau? Apa yang kau lakukan pada sahabatku? Cepat lepaskan dia!" Tia berusaha membantu Avika. Dia memukuli lengan pria itu dengan tasnya, tapi pukulannya seperti tak berarti apa-apa buat pria itu.


Tiba-tiba tubuh Tia terseret ke dinding saat seseorang mendorongnya dengan kasar. "Aww..."


"Mmm..." Avika ingin berteriak melihat Tia tapi tetap tak bisa.


"Bawa dia, aku sudah menyiapkan mobil di belakang!" ucap pria yang baru saja mendorong Tia.


Saat kedua pria itu membawa paksa Avika, Tia berusaha mengejar. Sayang dia malah kembali didorong hingga tubuhnya tersungkur di lantai.


"Jangan bawa sahabatku!" teriak Tia. Dia berusaha bangkit dan menyusul tapi langkahnya kurang cepat. Avika sudah dimasukkan ke dalam mobil dan mobil itupun langsung menghilang dari pandangannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2