Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 91.


__ADS_3

Sebuah mobil jeep putih berhenti tepat di depan apotik yang didatangi Aryan dan Dara. Dua orang penjahat turun dengan pakaian serba hitam dan berpencar menelusuri kawasan itu.


Salah satu dari mereka masuk ke dalam apotik dan bertatapan muka dengan seorang apoteker yang tengah berjaga.


"Permisi, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya apoteker itu dengan santai seakan tidak tau apa-apa.


"Ya, saya sedang mencari seorang pria yang mengalami luka tembak di lengannya. Dia bersama seorang wanita," jawab penjahat itu sembari mengetuk-ngetuk etalase dengan ujung revolver yang ada di genggamannya.


"Aduh, Tuan terlambat. Mereka baru saja pergi beberapa menit yang lalu." sahut apoteker itu. Sebenarnya dia sangat takut tapi dia tidak boleh terlihat gugup.


"Kemana?" tanya penjahat itu dengan tatapan mengintimidasi.


"Sepertinya ke rumah sakit. Tadi pria itu meminta saya mengeluarkan peluru yang bersarang di lengannya, tapi saya tidak bisa melakukannya. Kemudian mereka pergi menaiki sebuah taksi," jelas apoteker itu.


"Apa kau tidak sedang membohongiku?" penjahat itu menajamkan tatapan. Sepertinya dia curiga dengan jawaban apoteker itu.


"Tidak Tuan, untuk apa saya berbohong? Lagian saya di sini hanya seorang apoteker, saya tidak mengenali orang itu. Jika Tuan tidak percaya, silahkan diperiksa!" apoteker itu malah menyuruh penjahat itu memeriksa tempatnya, bermaksud menghilangkan kecurigaan.


"Ide yang bagus," penjahat itu mengulas senyum menakutkan. Apoteker itu bergidik ngeri tapi masih berusaha terlihat tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan lagi. Dia pikir dengan berkata seperti tadi akan menyurutkan keinginan penjahat itu tapi dia sepertinya salah.


Saat penjahat itu menyisir apotik, seorang penjahat lain ikut masuk. Apoteker itu hanya bisa berdoa agar kedua orang yang dia sembunyikan tidak ditemukan oleh mereka.


Tidak berselang lama, sebuah mobil mewah berhenti tepat disamping mobil jeep putih milik penjahat itu. Aksa dan Rai saling menatap sebelum keduanya turun dari mobil.


"Sinyal bahaya," ucap Rai sembari mengukir senyum.


"Permainan dimulai," sahut Aksa dengan senyuman licik.


"Tunggu apa lagi?" Rai membuka pintu dan turun dengan santai. Aksa mengikuti layaknya orang biasa yang ingin membeli obat di apotik itu.


Sesampainya di dalam apotik, keduanya menghampiri apoteker yang masih mematung di bagian dalam etalase.


"Permisi, apa Anda yang menghubungi saya tadi?" bisik Aksa.


Apoteker itu tersentak kaget dan memutar leher. "Apa Anda Kakak dari pria itu?" apoteker itu balik bertanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.


Aksa pun menganggukkan kepala sebagai jawabannya.


"Dua orang penjahat masuk ke dalam mencari mereka, mereka ada di gudang sempit bagian belakang. Aku takut mereka menemukannya, adik Anda sudah tak berdaya." jelas apoteker itu.


"Mereka?" Aksa mengerutkan kening.


"Iya mereka, adik Anda bersama seorang wanita." ungkap apoteker itu.


"Baiklah, kalau begitu izinkan saya masuk." pinta Aksa.


"Silahkan!" apoteker itu memberi izin.


"Oh ya, sebaiknya Anda menunggu di luar saja. Saya akan memastikan keselamatan Anda dan saya juga akan bertanggung jawab atas kerugian apotik ini. Mungkin kami akan baku tembak di dalam sana." terang Aksa.


"Ya, saya mengerti." angguk apoteker itu, lalu berjalan meninggalkan ruko.


Dengan tubuh tegap, Aksa melangkahkan kaki seperti tengah memasuki sebuah mall. Tidak ada ketakutan sedikit pun, bahkan dia malah tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu juga dengan Rai yang dengan santainya mengunyah permen karet.


"Ups..." desis Rai saat berpapasan dengan salah seorang penjahat. "Maaf Tuan, saya kebelet pipis. Toiletnya dimana ya?" tanya Rai sembari menangkup tangan di bagian intinya.


"Mana saya tau?" ketus penjahat itu. Boro-boro toilet, dia bahkan sedang kebingungan mencari buronannya.


"Kalau begitu maaf, saya pikir Anda pelayan apotik ini." Rai menahan tawa melihat raut bingung penjahat itu.

__ADS_1


"Dasar bodoh, mana ada pelayan apotik berpakaian seperti ini?" umpat penjahat itu.


"Iya juga ya, berarti saya yang bodoh." Rai mengalihkan pandangannya sejenak. "Apa Anda seorang penjahat?" tanya Rai saat menatapnya kembali.


"Kau..."


"Bug!"


Baru saja penjahat itu ingin mengarahkan revolver yang ada di tangannya ke wajah Rai, penjahat itu sudah lebih dulu tersungkur saat bogem mentah Rai mendarat di rahangnya.


"Bajingan!" umpat Rai sembari menginjak telapak tangan penjahat itu dan memutarnya dengan sekuat tenaga.


"Aww... Sakit," rintih penjahat itu.


"Sakit ya?" tanya Rai mengulum senyum.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya penjahat itu dengan suara yang nyaris menghilang.


"Aku?" Rai menunjuk dirinya sendiri dengan mata menyipit. "Aku malaikat maut yang akan mencabut nyawamu." imbuh Rai. Dia merogoh bagian belakang pinggang celananya, sebuah revolver dengan seri berbeda keluar dari sana.


Seketika mata penjahat itu melebar dengan sempurna.


"Apa kau tau mainan apa yang saya pegang ini?" tanya Rai sembari mengarahkan revolver yang dia genggam ke kepala penjahat itu.


"I-Itu..."


"Ya, tidak semua orang bisa memiliki mainan tipe ini. Tag, sekali tembak kau akan langsung tiba di neraka." imbuh Rai, lalu membuang permen karet yang tadi dia kunyah ke wajah pria itu. "Selamat bermimpi indah,"


"Dor..."


Suara tembakan itu menggelegar memecah gendang telinga. Penjahat lain yang hampir saja membuka pintu gudang tempat persembunyian Aryan dan Dara langsung terperanjat dan berbalik.


"Bug!"


"Binatang!" umpat Aksa dengan tatapan menyala seperti mata elang yang siap mencabik-cabik mangsanya.


"Biar aku saja," seru Rai saat tiba di dekat Aksa, lalu menyuruh Aksa menyelamatkan Aryan. Rai takut Aryan tidak kuat untuk bertahan.


Aksa mengangguk setuju dan menyerahkan penjahat itu kepada Rai. Segera Aksa berlari kecil membuka pintu gudang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Braak!"


Pintu terbuka lebar dan terhempas sedikit keras.


"Aaaaa..."


Dara berteriak histeris saking takutnya dan memeluk Aryan yang tengah terbaring di atas pahanya.


"Jangan sakiti dia, aku mohon! Bawa saja aku, tapi tolong lepaskan dia! Dia tidak bersalah, akulah sasaran kalian yang sebenarnya. Biarkan dia pergi, dia tidak tau apa-apa." lirih Dara berderai air mata. Dia tidak tau siapa yang datang karena posisinya tengah memunggungi pintu.


"Dor..."


Suara tembakan yang berasal dari luar sana semakin membuat Dara panik dengan sekujur tubuh gemetaran.


"Aku mohon, jangan sakiti dia!" isak Dara sesenggukan tanpa melepaskan Aryan dari pelukannya.


Aryan yang tadinya sudah kehilangan tenaga, tiba-tiba seperti mendapat kekuatan baru. Pelukan Dara membuatnya sangat nyaman.


Sejenak Aryan teringat dengan kejadian malam itu, aroma yang sama dan suhu tubuh yang sama pula. Aryan bisa merasakannya, hembusan nafas Dara sama persis dengan yang dia rasakan pada malam itu. Aryan semakin yakin bahwa Dara adalah wanita yang telah dia nodai.

__ADS_1


"Kak..." gumam Aryan saat matanya menangkap kedatangan Aksa.


Sontak Dara terperanjat dan mengangkat kepala, dia memutar leher dan ikut menangkap keberadaan Aksa. Sedetik kemudian dia menatap Aryan kembali. "Apa dia kakakmu?" tanyanya terisak.


Aryan mengangguk lemah sembari mengulas senyum.


"Syukurlah," Dara menghela nafas lega, lalu menurunkan kepala Aryan dari pahanya.


Dengan kaki yang masih bergetar, Dara bangkit dari duduknya dan membungkukkan punggung di hadapan Aksa.


"Tolong bawa dia ke rumah sakit, kondisinya sangat lemah. Aku minta maaf karena sudah melibatkan dia dalam masalahku. Aku permisi," Dara mengayunkan kakinya dan berlari meninggalkan gudang itu.


"Tidak, jangan pergi!" teriak Aryan. Dia mencoba bangkit tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk berdiri.


Sementara Aksa sendiri hanya plangak plongok menyaksikan drama itu.


"Kak, kenapa diam saja? Kejar dia, dia tidak boleh pergi." Aryan meninggikan suara.


"Kenapa? Kamu menyukai gadis itu?" Aksa mengerutkan kening.


"Bukan menyukainya lagi, tapi aku mencintainya." ungkap Aryan.


"Ck... Seorang Aryan apa bisa jatuh cinta? Bukankah kamu seorang playboy cap tikus?" seloroh Aksa menahan tawa.


"Kak Aksa..." Aryan menajamkan tatapan.


"Iya, iya," Aksa menjulurkan kepalanya dari pintu gudang.


"Rai, tahan gadis itu!" titah Aksa.


Rai mengangguk pelan dan lekas mengejar Dara yang sudah tiba di teras ruko.


"Jangan pergi!" seru Rai yang berhasil meraih tangan Dara.


"Lepaskan aku, aku harus pergi!" Dara meronta sembari menarik tangannya dari genggaman Rai, tapi kekuatannya tak sanggup menandingi tenaga pria itu.


"Diam, atau aku akan menamparmu!" gertak Rai sembari mengangkat sebelah tangan.


"Aaaaa..." Dara berteriak sembari memejamkan mata, rupanya Rai sama sekali tidak melakukan apa-apa padanya. Dia pun membuka matanya kembali.


"Kak Rai, tolong bawa dia ke mobil!" seru Aryan yang tengah dipapah oleh Aksa.


"Aku tidak mau, aku harus pergi." selang Dara. Dia masih berusaha membebaskan diri dari cengkraman Rai tapi tetap tak bisa.


"Jangan keras kepala, mulai hari ini kamu sudah menjadi tanggung jawabku!" tegas Aryan penuh penekanan.


"Tapi-"


"Tidak ada tapi tapi," potong Aryan.


"Ceileh, sok-sokan mau bertanggung jawab pada anak gadis orang. Ngurusin diri sendiri saja tidak becus." ejek Aksa menahan tawa.


"Diam kamu Kak!" ketus Aryan dengan tatapan mematikan.


"Huu... Takut..." seloroh Aksa. Dia akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.


Setelah mereka berempat tiba di dekat mobil, Baron tiba bersama Andi dan Dori. Lalu Aksa meminta Om nya itu mengurusi mayat dua orang penjahat yang ada di dalam apotik sekaligus memberikan ganti rugi untuk beberapa barang yang telah hancur karena ulah mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2