Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 129.


__ADS_3

"Kenapa wajahmu seperti kucing kecebur got begitu?" tanya Baron pada Tobi yang tengah termenung di gazebo taman samping, lalu Baron duduk di sampingnya sembari menatap Tobi dengan mata menyipit.


"Tidak apa-apa Bang, cuma lelah saja." jawab Tobi lesu kemudian membaringkan tubuhnya dengan tangan terlipat di bawah kepala, lalu menghembuskan nafas berat.


"Lelah tidak harus seperti orang mau mati begitu. Seharusnya kau itu bersemangat karena sekarang kau sudah tidak sendiri lagi." ucap Baron sembari menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas gazebo lalu meluruskan kakinya.


"Justru itulah masalahnya, aku jadi pusing sendiri memikirkan istriku itu." kata Tobi menatap lekat langit-langit gazebo. Pandangannya mengabur dengan sedikit genangan air di kelopak matanya.


"Apa lagi yang kau pikirkan? Ingat Tobi, dia itu sekarang sudah menjadi istrimu. Bagaimanapun masa lalunya, kau harus siap menanggung konsekuensinya. Harusnya kau bersyukur karena dapat istri kecil seperti dia, kau itu sudah tua dan seorang duda. Mikir kalau mau cari perawan dengan usiamu sekarang," sergah Baron.


"Ya elah Bang, main nyerocos saja mulut lu. Bukannya ngasih solusi malah bikin tambah puyeng, bukan itu masalahnya." ketus Tobi mengerutkan kening.


"Lalu apa?" Baron ikut-ikutan mengerutkan keningnya.


Tobi diam sejenak dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Dia tidak mau aku sentuh, katanya takut hamil karena kejadian malam itu. Dia tidak ingin aku menanggung aibnya," lirih Tobi.


"Hahahaha..."


Tiba-tiba tawa Baron menggelegar, hal itu mengundang rasa penasaran di hati Aksa yang tak sengaja mendengarnya dari dalam rumah.


"Segitu doang sudah menyerah. Alangkah bodohnya kau Tobi. Aku pikir mantan duda sepertimu suhu ternyata cupu, payah." ejek Baron seraya membalikkan jempolnya ke bawah.


"Ketawa saja terus, dasar tidak punya hati." umpat Tobi menajamkan tatapan, dia lekas bangun dan hendak pergi tapi tiba-tiba langkahnya dihadang oleh Aksa.


"Mau kemana Om? Aku datang kenapa Om malah pergi?" Aksa mengernyit menatap Tobi lalu beralih menatap Baron yang masih cengengesan tidak jelas. Hal itu justru membuatnya semakin penasaran.


"Om kamu itu lagi sedih, kasihan tongkat saktinya sudah karatan." ejek Baron terkekeh.


"Karatan bagaimana? Bukannya sudah diasah?" tanya Aksa kebingungan.


"Lubangnya tidak mau dimasukin." jawab Baron enteng tanpa malu sedikitpun.


"Apaan sih? Gak waras lu Bang," Tobi membuka sendalnya dan melemparkannya pada Baron. Jika saja tidak memikirkan jasa Baron yang begitu banyak padanya, mungkin sudah dia habisi Baron detik ini juga.


"Hahaha... Marah? Makanya jangan goblok jadi orang. Masa' menaklukkan satu wanita saja tidak becus? Pepet terus, jangan kasih kendor." tegas Baron.


"Urus tuh Om kamu, bila perlu mandiin sama kembang tujuh rupa biar otaknya encer!" ucap Tobi pada Aksa, lalu meninggalkan taman dan kembali ke belakang.


Setelah kepergian Tobi, Aksa duduk di tepi gazebo dan bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya. Baron pun mengatakan seperti yang dikatakan Tobi barusan.


Tidak lama setelah itu, Aksa meninggalkan Baron sendirian. Dia masuk ke dalam rumah dan lekas menuju kamarnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu punya alat tes kehamilan gak?" tanya Aksa gamblang pada Inara yang tengah berbaring di atas kasur.


"Tidak, untuk apa memangnya?" jawab Inara menautkan alis. Tumben datang-datang malah nanyain tespek, untuk siapa? Pikir Inara dalam hati.


"Tidak apa-apa, Kakak pikir punya." balas Aksa, kemudian meninggalkan kamar dan turun ke bawah.


Setelah kepergian Aksa, Inara termangu memikirkan apa yang ditanyakan Aksa barusan. Ngomong-ngomong masalah tespek, dia jadi teringat dengan jadwal menstruasinya.


Tiba-tiba mata Inara terbelalak. Dia melompat turun dari kasur dan berlari ke arah kalender yang tergantung di dinding.


"Deg!"


Seketika Inara terperanjat dengan jantung bergemuruh kencang. Matanya membulat memperhatikan goresan spidol yang dia lingkari di angka terakhir dia datang bulan.


"Ya Tuhan, sudah telat seminggu." gumam Inara tidak percaya. Padahal sejak menikah dia diam-diam mengkonsumsi pil KB di belakang Aksa, tidak mungkin dia hamil kan? Apa siklus haidnya mulai tidak teratur?


Beragam pertanyaan mulai muncul di benak Inara. Dia sangat yakin bahwa selama ini dia tidak pernah lupa meminum pil KB yang dia sembunyikan dari Aksa.


Karena penasaran, Inara pun segera bersiap-siap. Lalu dia meninggalkan kamar dan turun ke bawah.


Tanpa sepengetahuan Aksa, Inara dengan cepat meninggalkan rumah. Dia mendatangi sebuah apotik yang berjarak beberapa km saja dari kediaman Airlangga.


"Dari mana saja?" tanya Aksa menajamkan tatapan. Dia menilik Inara dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu manik matanya berhenti bergerak tepat di tangan Inara yang menenteng sebuah kantong kecil. "Apa yang ada di tanganmu itu?" imbuh Aksa penasaran.


Sontak Inara tergagap, dia kesulitan mau menjawab apa. "Bu-Bukan apa-apa," Inara pun menyembunyikan tangannya ke belakang.


Aksa yang penasaran lekas bangkit dari duduknya dan menghampiri Inara dengan tatapan mengintimidasi. "Sini lihat!" Aksa merampas kantong itu dari tangan Inara.


"Jangan Kak, ini punyaku." Inara berusaha menahan kantong itu tapi Aksa malah menariknya dengan paksa. Kantong itupun terlepas dari tangan Inara.


"Kak, jangan!" Inara mencoba mengambilnya kembali tapi Aksa tidak memberinya ruang untuk bergerak.


Dengan cepat Aksa menjauh dan membuka kantong itu. Mata Aksa membulat saat mengeluarkan isinya.


"Untuk apa alat tes kehamilan sebanyak ini?" tanya Aksa mengerutkan kening saat mendapati beberapa tespek dengan berbagai macam merek.


Inara menggigit bibir, dia tidak tau harus menjawab apa.


"Kakak nanya Ra, kenapa diam saja?" Aksa menyipitkan mata memperhatikan ekspresi wajah Inara yang memucat.


"I-Itu... Bukannya Kakak nanya itu tadi? Aku ternyata menyimpannya, itu baru nemu di dapur." jawab Inara berbohong untuk menutupi ketakutannya. Jika Aksa tau dia baru saja keluar rumah, pasti suaminya itu marah besar.

__ADS_1


Sayang Aksa sama sekali tidak percaya dengan ucapan Inara. Dengan sudut mata tajam, dia kembali menghampiri Inara dan mematutnya dengan intim. Inara gemetaran dan termundur ke belakang. Sontak reaksinya itu semakin menimbulkan kecurigaan di hati Aksa.


"Bug!"


Langkah Inara langsung terhenti saat punggungnya membentur pintu lemari.


"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Aksa dengan tatapan mengintimidasi. Dia menempelkan telapak tangannya di permukaan lemari dengan posisi mengapit lengan Inara.


Inara bergeming sejenak, lalu meneguk ludah dengan susah payah. Hembusan nafas Aksa sangat terasa saking dekatnya jarak diantara mereka sekarang.


"Bukan apa-apa Kak, a-aku..."


"Jangan membuat Kakak marah! Ngomong atau-"


Inara menggigit bibir dan memicingkan mata sejenak. "Iya, iya, itu untukku. Aku mau menggunakannya, aku mau memastikan apa aku hamil atau tidak." jujur Inara dengan suara bervolume. Setelah itu dia membuka mata dan mendorong dada Aksa, lalu berlari menuju pintu.


Sayang langkah Inara mendadak terhenti saat Aksa meraih tangannya dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu tes sekarang!" tegas Aksa. Dia menarik tangan Inara dan menyambar kantong yang dia letakkan di atas kasur, lalu membawa Inara ke kamar mandi.


"Ayo, tes sekarang!" desak Aksa setelah keduanya tiba di kamar mandi.


"Tidak mau," geleng Inara dengan bibir mengerucut.


"Kenapa tidak mau? Tadi katanya mau tes hamil atau tidak," geram Aksa.


"Tidak jadi," lirih Inara.


Aksa menggertakkan gigi dan meninju udara dengan kasar. Ingin sekali dia marah tapi tidak mungkin dia lakukan.


"Apa itu artinya kamu tidak menginginkan ada anakku di rahimmu? prasangka Aksa yang kehilangan kewarasannya. "Kalau mau tes, tes saja. Apa salahnya jika aku tau? Kecuali kalau kamu memang tidak menginginkannya."


Aksa yang kecewa lantas meninggalkan kamar mandi dengan mata memerah. Dia tidak mengerti jalan pikiran Inara sebenarnya.


"Braaak!"


Inara terperanjat mendengar suara pintu yang dibanting. Biar saja Aksa marah, nanti juga baik dengan sendirinya.


Setelah memastikan bahwa Aksa benar-benar sudah pergi, Inara dengan cepat menampung kencingnya di dalam wadah kecil. Selepas itu dia membuka satu kemasan tespek dan merendamnya sesuai batas yang dianjurkan.


Tidak hanya satu, Inara sengaja merendam tiga tespek sekaligus untuk memastikan akurat atau tidaknya benda tersebut.


Setelah menunggu sekitar tiga menit, Inara pun mengangkat tiga tespek itu dengan perasaan cemas bercampur aduk. Lalu menaruhnya di atas permukaan wastafel.

__ADS_1


__ADS_2