Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 50.


__ADS_3

"Kak..." Inara mendongak dan menatap lekat wajah Aksa. Aksa mengangkat lengan gadis itu hingga tubuh keduanya berdiri sejajar, lalu membawa Inara ke dalam dekapan dadanya.


"Sabar ya, kita pasti akan melakukannya. Tunggu sah dulu biar rasanya lebih wow. Kalau keduluan, nanti malam pertama kita tidak berkesan... Aww..." Ucapan Aksa tiba-tiba terpotong, dia meringis saat jari Inara menjepit perutnya.


"Ngomong apa sih? Siapa yang pengen? Siapa juga yang mau nikah sama kamu? Jadi orang tuh jangan terlalu kepedean!" ketus Inara kesal, pipinya menggembung seketika.


"Masa' sih?" Aksa mengerutkan kening. "Rugi loh nolak pria setampan Kakakmu ini. Nanti diambil orang baru tau rasa, nangis tujuh hari tujuh malam." goda Aksa menahan tawa.


"Biarin, kalau diambil orang tinggal cari yang lain. Apa susahnya?" jawab Inara enteng.


"Oh gitu, gampang banget ya ngomongnya. Nanti deh kita buktikan. Sekarang siap-siap dulu, Kakak sudah lapar banget nih." Aksa mengalihkan pembicaraan, perutnya sudah sangat lapar dan keroncongan sejak tadi.


"Makan di luar?" Inara menautkan alis.


"Iya, hari ini kita berdua akan menghabiskan waktu di luar. Anggap saja ini kencan kita yang pertama," bisik Aksa tersenyum nakal.


"Mmm... Maunya," Inara mengulum senyum dan berjalan menuju meja rias. Gila memang jika diingat kelakuan mesum sang kakak. Inara suka, hanya saja masih malu-malu tikus mengakuinya.


Setelah mengganti pakaian dan merapikan rambut, Inara mengambil tas selempang dan menyandangnya di bahu. Wajahnya polos saja tanpa makeup, meskipun begitu tetap terlihat cantik di mata Aksa.


"Sudah Kak," ucap Inara. Dia melenggang meninggalkan kamar dengan balutan celana kulot berwarna dark grey dan kaos putih, rambut di kuncir seperti ekor kuda dan memakai sneakers hitam.


"Tunggu sayang! Kok malah ditinggalin sih?" Aksa menyipitkan mata dan berlari kecil menyusul Inara.


Sesampainya di ambang pintu, Aksa meraih tangan Inara. "Jangan jalan sendirian begitu, nanti diculik lagi!"


"Loh, kok diculik lagi sih? Memangnya apa yang mereka inginkan dariku?" Inara menautkan alis.


"Bukan kamu, tapi Kakak. Mereka hanya menjadikanmu sebagai umpan, makanya mulai hari ini kamu harus berada di bawah pengawasan Kakak." terang Aksa.


"Ribet banget sih. Yang punya masalah Kakak, tapi kenapa harus aku yang jadi sasarannya?" Inara mengerucutkan bibir.


"Karena kamu salah satu bagian terpenting dalam hidup Kakak. Makanya mulai sekarang harus nurut, perjalanan kita tidak mudah." jelas Aksa.


"Datang-datang bawa masalah saja bisanya," Inara mengumpat dengan bibir komat kamit, mau tidak mau dia terpaksa melingkarkan tangannya di lengan Aksa.


"Jangan gitu dong ngomongnya! Apapun yang terjadi, Kakak akan melindungi kamu sampai titik darah penghabisan. Kakak tidak akan membiarkan kamu terluka sedikitpun." tegas Aksa.


"Jangan ngomong doang, buktikan!" ketus Inara.


"Iya, akan Kakak buktikan. Kakak juga akan membuktikan kalau Kakak layak untuk kamu."


Setelah mengatakan itu, mereka berdua meninggalkan apartemen dan turun ke lantai dasar. Sesampainya di parkiran, Aksa menghampiri sebuah motor. Inara menautkan alis melihat motor sport itu.

__ADS_1


"Pakai motor?" tanya Inara.


"Iya, kenapa? Kamu tidak suka?" jawab Aksa dengan pertanyaan pula.


"Tidak, lihat motor begini jadi ingat Akbar." lirih Inara dengan tatapan sendu.


"Mau Kakak jadi Akbar saja?" Aksa menyipitkan mata.


"Tidak usah, begini saja!" balas Inara.


"Yakin?" Aksa mencoba memastikan.


"Iya yakin," sahut Inara.


Setelah memastikan bahwa Inara tidak menginginkannya jadi Akbar, Aksa segera naik ke atas motor dan mengulurkan tangan kiri. "Ayo naik!"


Inara mengangguk dan menggenggam tangan Aksa. Setelah bokongnya menyentuh jok, Inara melingkarkan tangan di pinggang Aksa tanpa diminta. Dagunya bertumpu pada pundak kakaknya itu.


"Ternyata masih ingat cara duduk di atas motor, Kakak pikir sudah lupa." seloroh Aksa mengukir senyum.


"Ingat lah, masa' begini saja lupa. Harus dipeluk biar tidak jatuh," omel Inara.


"Hehehe... Pintar banget sih. Cium dulu dong!" pinta Aksa. Dia memutar leher, seketika pipinya langsung menempel di bibir Inara.


"Aww... Sakit sayang, jangan dicubit terus!" keluh Aksa dengan kening mengkerut.


"Sayang, sayang, ralat lagi ucapannya!" ketus Inara.


"Apanya yang mau diralat? Orang beneran sayang kok," Aksa tersenyum kecut, lalu menyalakan motor dan melesat pergi meninggalkan parkiran apartemen.


Tidak tau kemana Aksa akan membawanya, Inara hanya diam sambil terus memeluk pinggang kakaknya. Rasanya seperti saat-saat masih bersama Akbar tempo hari, hanya saja dengan wujud yang berbeda.


Inara mempererat pelukannya dan menempelkan pipinya di pundak Aksa, sesekali dia memicingkan mata meresapi aroma tubuh yang masih sama dengan sebelumnya.


"Tak disangka permainan ini hampir saja membuatku gila." gumam Inara.


Aksa melirik Inara dari kaca spion, dia tau Inara baru saja berbicara tapi sayang Aksa tak bisa mendengarnya. Selain suara Inara yang sangat pelan, suara knalpot motor juga mengganggu pendengarannya.


Beberapa menit kemudian, Aksa memutar stang motornya ke arah rumah makan Padang. Dia ingin mengulang momen indah saat mereka berdua masih berada di kota Bukittinggi tempo hari.


"Ayo turun!" ajak Aksa sesaat setelah mematikan mesin motor.


"Hmm..." Inara bergumam dan melepaskan pelukannya, lalu turun dari motor.

__ADS_1


Setelah kaki Aksa menginjak lantai parkiran, dia menggenggam tangan Inara dan membawanya masuk ke dalam rumah makan. Keduanya duduk di pojokan tepat di samping jendela kaca.


"Mau makan sama apa?" tanya Aksa yang kini sudah duduk bersebelahan dengan Inara.


"Mau rendang sama ayam bakar," sahut Inara.


Aksa mengangguk kecil lalu mengangkat tangan memanggil pelayan. Dia memesan rendang dan ayam bakar sesuai permintaan Inara, lalu menambahkan ayam goreng dan gulai usus lengkap dengan nasi.


"Minumnya apa sayang?" tanya Aksa lagi.


"Jus jeruk saja," sahut Inara.


Lalu Aksa memesan jus jeruk dan es teh manis untuk mereka berdua.


Sembari menunggu pesanan mereka datang, keduanya asik mengobrol kecil sambil tertawa sesekali. Aksa merasa seperti ABG yang baru pertama kali jatuh cinta.


Tapi bukankah kenyataannya begitu? Aksa memang baru kali ini jatuh cinta, itupun pada adiknya sendiri.


"Nanti malam kita pulang ya, kita tidak bisa berlarut-larut seperti ini." ajak Aksa.


"Tidak mau, aku mau di apartemen saja." jawab Inara cepat. Ekspresi wajahnya tiba-tiba menggelap setelah mendengar itu.


"Sayang, kamu dengar Kakak ya!" Aksa menangkup tangan di pipi Inara. "Kita tidak bisa menghindari permasalahan ini. Kalau kabur begini, Ayah dan Bunda pasti menyalahkan Kakak. Kamu mau mereka berdua membenci Kakak?" terang Aksa.


"Aku tidak mau dijodohkan," rengek Inara dengan bibir mengerucut.


"Selama ada Kakak, kamu tidak akan dijodohkan. Tapi sebagai gantinya, kamu mau kan nikah sama Kakak?" tanya Aksa memastikan.


"Tidak mau," jawab Inara cepat.


"Yakin?" Aksa mengulum senyum.


Belum sempat Inara menjawab, dua orang pelayan sudah datang mengantarkan pesanan. Keduanya memilih makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembahasan tadi.


"Rendangnya enak, tapi lebih enak lagi yang di Bukittinggi waktu itu." ucap Inara sambil mengunyah makanannya.


"Jelas beda lah sayang, itu di kampungnya langsung. Tentu cita rasanya berbeda. Mau ke sana lagi?" Aksa tersenyum lebar.


"Mau, tapi nanti saja saat libur. Sekarang tugas kuliah masih banyak." sahut Inara.


Aksa tak bertanya lagi. Dia diam sejenak sembari menghabiskan makanan di piringnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2