Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 68.


__ADS_3

Maaf ya, kemarin author lupa majang visual mereka. Author pajang di bab ini ya🙏🏻




Pukul sepuluh malam apartemen yang ditempati Aksa sudah sepi seperti kuburan. Semua keluarga sudah pulang ke kediaman Airlangga, kini tinggal Aksa dan Inara berdua saja di sana.


Setelah menutup pintu, Aksa menghampiri Inara yang masih duduk diam di sofa. Setelah resmi menjadi istri Aksa, Inara malah merasa canggung berduaan dengan kakak yang kini sudah resmi menjadi suaminya.


Tanpa berucap, Aksa langsung saja menggendong tubuh mungil Inara. Gadis itu terperanjat dan spontan mengalungkan tangan di tengkuk Aksa yang tengah berjalan memasuki kamar pengantin mereka.


Inara memutar manik matanya saat Aksa menginjakkan kaki di kamar tersebut. Lampu dimatikan, suasana terlihat romantis dengan lilin-lilin kecil yang menyala di dasar lantai, nakas dan meja rias. Bunga mawar merah bertaburan di mana-mana bahkan di atas kasur sekalipun. Bau aroma terapi menyeruak memanjakan penciuman.


Sesampainya di sisi ranjang, Aksa menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas kasur. Dia merangkak menaiki tubuh Inara yang masih berbalut gaun pengantin.


Inara mulai gugup, pipinya bersemu merah melihat tatapan Aksa yang tidak bisa diartikan.


"Kak... A-Aku... Mmphh..."


Aksa tak memberi Inara kesempatan untuk bicara. Dia lekas mengesap bibir istrinya dengan luma*tan lembut yang memabukkan. Suara decapan keduanya mengalun merdu mengisi kehampaan kamar. Semakin dalam dan semakin panas, Inara sampai kesulitan mengambil nafas.


"Kak, aku mau pipis." ucap Inara dengan susah payah.


Aksa melepaskan pagutan nya sembari mengerutkan kening.


"Minggir Kak, aku kebelet!" Inara mencebik dengan mata menyipit. Dia benar-benar tidak tahan, telat sedetik saja dia bisa ngompol di atas kasur.


"Ada-ada saja kamu nih," Aksa mengacak rambut Inara lalu beranjak dari posisinya.


"Hehe... Makasih," Inara tertawa kecil dan berhamburan ke kamar mandi.


"Haaah... Lega," gumam Inara setelah membuang apa yang seharusnya dia buang.


Berhubung sudah berada di kamar mandi, Inara pun mencuci wajah dan menggosok gigi agar nafasnya tidak bau.


Sementara di luar sana Aksa sudah membuka pakaian dan melakukan push up beberapa kali. Dia harus segar bugar agar bisa menembus benteng pertahanan Inara malam ini juga.


Saat pintu kamar mandi terbuka, Aksa segera menghentikan aktivitasnya dan duduk di sisi ranjang dengan tatapan yang sulit dimengerti.


Inara tersentak melihat Aksa yang hanya mengenakan segitiga pengaman di area sensitifnya. Ingin menghindar tapi tidak mungkin, sekarang Aksa sudah resmi menjadi suaminya.


"Kak, tolong bukain dong!" pinta Inara gugup. Sedari tadi dia mengalami kesulitan membuka resleting gaun yang dia kenakan, tangannya tidak sanggup menjangkau resleting tersebut.


Aksa mengulas senyum dan berjalan menghampiri Inara, lalu menurunkan resleting gaun itu. Seketika jantung Aksa berdegup kencang melihat kulit istrinya yang putih dan mulus seperti kulit bayi.

__ADS_1


Tanpa pikir Aksa langsung saja menurunkan gaun tersebut hingga tubuh Inara menganga di depan matanya.


"Kak Aksa ih, aku kan-"


Belum selesai Inara berbicara, tubuh mungilnya sudah melayang di gendongan Aksa. Pria itu kemudian berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan Inara di atas kasur, lalu mengunci tubuh polos berbalut bra dan segitiga itu di bawah kungkungan nya.


"Mau nyari alasan apa lagi sekarang?" tanya Aksa mengulum senyum.


"Siapa yang nyari alasan sih Kak? Aku beneran kebelet pipis kok tadi." jawab Inara dengan bibir mengerucut, lalu menutupi dadanya dengan tangan.


"Ini apa lagi? Kenapa pakai acara ditutupi segala?" Aksa mengangkat tangan Inara dan menahannya di atas kepala.


"Lepasin dong Kak, malu tau." pinta Inara dengan pipi bersemu merah.


"Malu sama siapa sayang? Kamu lupa siapa Kakak?" Aksa kembali mengulum senyum.


"Tidak, mana mungkin aku lupa? Justru Kakak lah yang lupa sama aku. Kemarin Kakak ninggalin aku sendirian, jahat banget sih." keluh Inara dengan mata berkaca.


"Hehehe... Jadi ceritanya masih marah?" Aksa tertawa kecil sambil melepaskan tangan Inara, lalu mengecup keningnya dengan sayang.


"Maafin Kakak ya. Maksudnya bukan mau ninggalin, tapi biar seru saja pas ketemu seperti ini. Kamu rindu kan?" jelas Aksa.


"Iya," angguk Inara dengan bibir mengerucut.


"Kalau begitu mari kita lepaskan kerinduan ini sekarang juga!"


Semakin lama pagutan mereka semakin dalam dan liar. Keduanya saling berbagi air liur dan saling membelit lidah. Suara decapan mereka sampai menggema memenuhi seisi kamar.


Inara sangat rindu dengan permainan bibir Aksa yang menggairahkan itu, dia juga rindu dengan aroma tubuh Aksa yang memabukkan.


Puas memagut bibir, Aksa turun menggerayangi leher istrinya. Aksa mengecupnya bertubi-tubi, menjilatinya dan menggigitnya hingga menyisakan tanda kepemilikan berwarna merah tua. Tidak hanya satu tapi Aksa meninggalkan jejak sebanyak mungkin yang menandakan bahwa Inara adalah miliknya.


"Aughhh..." de*sah Inara saat bibir Aksa sudah tiba di belahan dadanya.


Aksa melepaskan bra yang menghalangi pandangannya, seketika dada Aksa berdenyut ngilu menyaksikan betapa indahnya pemandangan itu.


"Aughhh..." Kembali Inara mende*sah saat Aksa meremas dua gunung kembar miliknya. Apalagi saat Aksa memainkan lidah di puncak gunung itu, Inara seperti melayang terbang tinggi di udara.


Semakin Inara mende*sah semakin gencar pula Aksa menghisapnya dan memberikan sedikit gigitan kecil yang membuat sekujur tubuh Inara merinding. Seketika itu juga adik Aksa bangun dari tidurnya dan menonjol di bawah sana.


Sesak, panas dan memabukkan. Begitulah rasa yang tercipta diantara keduanya.


Tak sanggup menunggu lagi, Aksa kembali turun dan mengecup perut rata Inara. Turun lagi hingga bibirnya menyentuh bukit belah Inara yang masih bersembunyi di dalam segitiga pengaman yang mengganggu pandangannya.


Tanpa pikir Aksa langsung melucuti nya. Lagi-lagi dada Aksa berdenyut ngilu dengan nafas kian memburu. Inara tersipu malu dengan pipi merona merah, dia pun menyembunyikan wajah di balik telapak tangan.

__ADS_1


Seulas senyum melengkung di sudut bibir Aksa saat menangkap reaksi Inara yang menggemaskan. Aksa kemudian mengecup inti Inara, menekuk kakinya dan menyelami setumpuk semak liar itu.


"Aughhh..." Inara mende*sah manja dan menggigit bibir bawahnya saat lidah Aksa bergerak liar di bawah sana. Hisapan Aksa membuat tubuhnya menggeliat menikmati rasa yang entah. Kakinya tiba-tiba bergetar saat merasakan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Aakhh..." jerit Inara memecah kesunyian malam. Sepertinya wanita itu berhasil mencapai titik kepuasannya.


"Kenapa sayang?" tanya Aksa mengulum senyum.


"Lagi Kak! Aku suka, rasanya enak banget." pinta Inara dengan tatapan menuntut.


Sesuai permintaan Inara, Aksa menyelaminya lagi dan menjilatinya dengan membabi buta.


"Aughhh... Ya..." racau Inara dengan de*sahan beruntun tiada henti. Kakinya bergetar hebat menikmati sengatan yang mengaliri sekujur tubuhnya.


"Sudah ya, Kakak tidak tahan lagi." gumam Aksa sembari memainkan adiknya yang sudah membengkak.


Inara mengangguk lemah, tenaganya benar-benar terkuras setelah menikmati permainan gila Aksa barusan.


Sebelum Aksa menyatukan diri, dia mengesap kembali bibir mungil Inara dengan penuh kelembutan. Menggigit daun telinga dan mengecup leher serta menghisap pundak dada Inara seperti macam liar yang kelaparan.


"Pelan-pelan ya Kak!" pinta Inara saat adik Aksa tengah mencari jalan untuk masuk ke liangnya.


"Aakhh... Sakit Kak," rengek Inara sembari mencengkram lengan Aksa sekuat tenaga.


"Maaf sayang, ini sudah pelan kok." gumam Aksa dengan nafas tersengal. Dia kesulitan memasuki Inara, seperti ada jarak yang menghalangi penyatuan mereka. Aksa sendiri meringis karena kepala adiknya berasa terjepit.


Aksa menghentikan aksinya sejenak. Dia kembali menjilati inti Inara dan membaluri nya dengan ludah.


"Tahan ya!" ucap Aksa saat menerobosnya lagi dan lagi, lalu melu*mat bibir Inara untuk meredam rasa sakit yang menghantam inti mereka.


"Aakhh... Kak Aksa sakit..." rengek Inara di bibir Aksa.


"Dikit lagi sayang, ini sudah mau masuk." ucap Aksa.


Mau tidak mau Aksa terpaksa membungkam keseluruhan bibir Inara agar istrinya tidak berteriak, lalu Aksa menekannya dengan sekuat tenaga.


"Jleb!"


"Mmm..." teriakan Inara hilang di dalam mulut Aksa. Air matanya menetes begitu saja.


"Sssttt... Sudah, jangan menangis sayang! Setelah ini tidak akan sakit lagi."


Aksa mulai mengayunkan pinggul sembari terus melu*mat bibir Inara, sesekali dia menyambar dada istrinya dan menghisap pucuknya.


Kini rasa sakit itu berganti nikmat yang sungguh luar biasa, de*sahan demi de*sahan tak kunjung berhenti keluar dari mulut Inara. Sesekali dia menjerit saat merasakan getaran di kaki.

__ADS_1


Setelah setengah jam lebih berpacu, Aksa akhirnya tumbang dan terkapar di atas tubuh Inara. "Aakhh..."


Bersambung...


__ADS_2