Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 94.


__ADS_3

"Vi..." lirih Rai yang masih duduk di balkon lantai dua. Sudah sedari tadi dia berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, tapi Avika sama sekali tidak mau mendengarnya.


"Vi, tolong dengarkan aku dulu! Gadis itu sebenarnya-"


"Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari mulutmu itu, pergi dan lakukan apa saja yang kamu inginkan! Diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa,"


Setelah mengatakan itu, Avika menyumbat telinganya dengan earphone. Dia memutar musik dengan volume tertinggi sehingga ucapan Rai sama sekali tidak terdengar di kupingnya.


"Avika, kamu salah paham. Gadis itu milik Aryan, mana mungkin aku-" Rai menghentikan ucapannya, dia benar-benar kesal karena Avika malah bersenandung dengan lantang tanpa mempedulikan apa yang dia bicarakan. "Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sesuai keinginanmu." imbuh Rai. Percuma juga menjelaskan apa yang terjadi kepada gadis keras kepala itu.


Dengan perasaan campur aduk Rai meninggalkan balkon dan turun dari lantai dua, kemudian meneruskan langkahnya menuju halaman rumah. Baru beberapa hari mereka menjalani hubungan, tapi sudah begini saja kejadiannya. Apa mereka berdua terlalu memaksakan diri?


Lalu Rai masuk ke dalam mobil, dia mendongak menatap balkon dan mendapati Avika yang tengah berdiri di sisi pagar. Sayang Avika malah membuang pandangannya ke arah lain.


"Dasar gadis aneh!" umpat Rai, lalu menyalakan mesin mobil dan berlalu pergi begitu saja. Rai memilih menginap di apartemen, lama-lama dia bisa gila menghadapi sikap keras kepala gadis pujaannya itu.


Setelah mobil yang dikendarai Rai menghilang, Avika berjalan meninggalkan balkon dan turun menuju lantai satu. Dia memasuki ruang makan dan bergabung bersama yang lainnya.


"Dari mana saja kamu?" tanya Aksa yang sudah lebih dulu duduk di kursinya. Aksa menatapnya dengan kening mengernyit.


"Mencari udara segar," jawab Avika. Apa yang ada di benaknya, itulah yang dia katakan.


"Rai mana? Kenapa tidak turun untuk makan malam?" Aksa bertanya lagi karena tak kunjung melihat sahabatnya.


"Mana aku tau, memangnya dia siapanya aku? Gak ngurus," jawab Avika seakan tidak ada hubungan apa-apa dengan Rai. Dia juga malas membahas pria pengkhianat itu.


"Yakin bukan siapa-siapa?" goda Aksa mengulum senyum.


"Tentu saja yakin, memangnya dia siapa?" Avika lekas mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.


Tidak berselang lama, Aina turun bersama Dara. Mereka berdua ikut bergabung di meja makan. Seketika air muka Avika berubah masam memandangi gadis itu. Bayangan di ruang tengah tadi masih tersimpan jelas di memorinya.


"Avika, kamu dari mana saja Nak?" tanya Aina sesaat setelah duduk di kursinya. Aina bertanya sembari menautkan alis.


"Dari atas Ma, memangnya kenapa?" jawab Avika dengan pertanyaan pula.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mama cuma mau mengenalkan kamu sama Dara. Dia calon adik ipar kamu," jelas Aina mengenalkan mereka berdua.


"Calon adik ipar?" Avika terperanjat sembari mengulangi kata-kata itu. Apa dia tidak salah dengar?


"Iya sayang, gadis cantik ini namanya Dara. Calon istri adik kamu Aryan," Aina memperjelas ucapannya.


"Calon istri Aryan?" Lagi-lagi Avika mengulangi kata-kata Aina. Raut penyesalan nampak jelas di wajahnya.


"Kamu kenapa sih? Aneh banget," timpal Aksa mengerutkan kening.


"Ma, kenapa tidak ngomong dari tadi?" keluh Avika tanpa menghiraukan pertanyaan Aksa barusan.


"Loh, gimana mau ngomong? Orang kamu nya main menghilang seperti hantu," Aina menautkan alis, dia benar-benar bingung dengan gelagat aneh Avika.


"Mama ih," Avika urung menyantap makanannya, selera makannya tiba-tiba hilang setelah mendengar penjelasan Aina tadi. Kemudian dia meninggalkan meja makan dan berlari memasuki lift.


"Rai..." gumam Avika. Rasa penyesalan itu datang setelah dia tau bahwa gadis itu ternyata calon adik iparnya, bakal istri dari adik kandungnya sendiri.


"Bodoh kamu Avika," umpatnya pada diri sendiri. Dia benar-benar menyesal karena sudah bertindak bodoh tanpa mendengarkan penjelasan dari Rai tadi.


Sayang Rai tidak mau mengangkat panggilannya. Setelah beberapa saat, nomor telepon Rai malah tidak bisa dihubungi.


"Ya ampun, nomornya tidak aktif. Apa dia benar-benar marah?" lirih Avika dengan air muka panik.


Tanpa pikir, Avika dengan cepat menyambar jaket yang tergantung di belakang pintu lalu mengenakannya dan berlari meninggalkan kamar.


Sesampainya di bawah, Avika berjalan dengan kaki meninjit. Dia mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan. Beruntung semua anggota keluarga tengah berada di ruang makan sehingga Avika bisa leluasa meninggalkan rumah.


Sesampainya di halaman, Avika lekas memasuki mobil dan meninggalkan gerbang. Dia melajukan mobil itu menuju apartemen Rai.


Setengah jam berlalu sampailah mobil Avika di parkiran apartemen. Setelah mematikan mesin, dia segera turun dan berlari kecil memasuki bangunan itu dan langsung menuju lift.


Tidak lama, lift berhenti tepat di lantai tiga. Setelah pintu lift terbuka, Avika kembali berlari menuju unit milik Rai. Wajahnya nampak kusut dengan piyama tidur berlapiskan jaket. Avika yang biasanya sangat memperhatikan penampilan, kali ini nampak acak-acakan. Dia bahkan tidak peduli dengan pandangan orang lain.


"Ting Tong"

__ADS_1


Terdengar bunyi bel dari arah pintu. Rai yang baru saja hendak ke kamar terpaksa putar arah dan melenggang menuju pintu.


"Ceklek"


Pintu terbuka sedikit, Rai menyipitkan mata saat menangkap keberadaan Avika yang mematung di ambang pintu.


"Maaf, di sini tidak menerima tamu." ucap Rai, lalu mendorong pintu perlahan.


"Rai tunggu!" Avika menyelipkan kakinya di sudut bagian bawah pintu, Rai kesulitan menutupnya. Jika dipaksakan dia takut Avika terluka.


"Maaf Nona, ini sudah malam. Sebaiknya Anda pulang, tidak baik seorang wanita terhormat datang ke apartemen pria di jam seperti ini." kata Rai dengan nada dingin.


"Rai, tolong biarkan aku masuk!" pinta Avika dengan air muka memelas.


"Maaf Nona, tapi-"


"Rai..." bentak Avika yang mulai tersulut emosi. Sekuat tenaga dia mencoba mendorong pintu dan menyelipkan tubuh mungil tipisnya hingga berhasil memasuki unit itu.


Karena Avika sudah terlanjur masuk, Rai terpaksa menjauh dari pintu. Dia melenggang menuju kamar tanpa mempedulikan Avika yang masih menatapnya dengan sendu.


"Rai tunggu!" pekik Avika, lalu berlari menyusul Rai.


"Maaf, saya lelah dan butuh waktu untuk istirahat. Jika Nona ingin tetap di sini, maka tidur saja di sofa itu." Rai menunjuk sofa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Tapi alangkah baiknya jika Nona pulang saja," imbuh Rai sembari menunjuk pintu utama.


"Kamu mengusirku?" Avika melemahkan nada bicaranya, bibirnya seketika mencebik.


"Terserah Nona mau berpikir seperti apa. Kalau begitu saya permisi," Rai lekas berbalik dan menekan kenop pintu, lalu memasuki kamar dan menutupnya kembali.


Sesaat setelah pintu kamar tertutup, Rai menyandarkan punggungnya di daun pintu. Tatapannya nampak sendu dengan nafas tercekat di tenggorokan. Meski berat tapi sepertinya inilah yang terbaik buat mereka berdua. Percuma memaksakan diri jika akhirnya akan melukai satu sama lain.


Setelah cukup lama bergeming dalam pemikirannya sendiri, Rai kemudian berjalan menuju ranjang. Dia berbaring sembari menghela nafas berat.


Di luar sana, Avika menangis tersedu-sedu. Dia menyesal dan ingin meminta maaf, tapi reaksi Rai malah sangat dingin terhadapnya.


Dengan langkah gontai Avika berjalan menuju sofa dan membaringkan diri di sana. Tidak apa-apa tidur ditemani nyamuk, siapa tau esok hari Rai mau memaafkannya.

__ADS_1


__ADS_2