Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 95.


__ADS_3

Malam berlalu begitu cepat, pukul enam pagi Avika sudah bangun dan mencuci muka di toilet yang terletak di dekat dapur.


Setelah mencuci muka, dia memasuki dapur dan membuka pintu kulkas. Semalaman dia tidak makan dan kini perutnya terasa perih.


Beruntung ada mie instan yang dia temukan di dalam kulkas, lalu dia menyalakan kompor dan memasaknya. Setelah itu dia melahapnya seperti orang yang sudah berhari-hari tidak makan, terlihat sangat rakus.


"Aaaak..."


Setelah menghabiskan satu mangkok mie rebus itu, Avika sendawa sambil mengusap perutnya yang sudah kenyang.


Beberapa menit kemudian dia meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamar Rai.


"Ceklek!"


Pintu tiba-tiba terbuka saat Avika menekan kenop. "Astaga, ternyata tidak dikunci."


Avika mengerutkan kening, tau begini sudah sejak semalam dia pindah ke kamar Rai. Dia pikir Rai mengunci pintu, sebab itu dia memilih tidur di sofa tanpa selimut. Dia kedinginan dan kesulitan tidur karena diganggu nyamuk nakal yang tak henti menggerogoti tubuhnya.


Sesaat setelah pintu terbuka, Avika melangkah masuk dan menutupnya kembali. Dia mendekati ranjang, Rai masih mendengkur di atasnya dengan kondisi bertelanjang dada.


Seketika seringai tipis melengkung di sudut bibir Avika. Dia duduk di sisi ranjang dan mengapit hidung Rai, pria itu menggeliat saat merasakan sesak.


"Kkhh..."


Segera Avika menjauhkan tangannya dan menutup mulut agar Rai tidak mendengar tawanya.


Sayang ternyata Rai mengetahui itu.


Sebenarnya dia sudah bangun saat hidungnya mengendus aroma mie instan yang dibuat Avika tadi. Dia sengaja pura-pura tidur, penasaran dengan reaksi Avika setelah apa yang terjadi tadi malam.


Lalu Rai merentangkan tangan tanpa membuka mata, dia sengaja membelit pinggang ramping Avika dan menariknya hingga tubuh mungil Avika terbawa ke pelukannya. Rai mendekapnya erat layaknya guling.


Avika melebarkan mata saat tubuhnya sudah terkunci di pelukan Rai, pria itu juga membelit paha Avika dengan kakinya. Rai bahkan tak segan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Avika.


"Ra-Rai..." gumam Avika terbata, sekujur tubuhnya gemetaran dengan keringat dingin yang mengalir di dahinya. Bahkan untuk bernafas saja rasanya begitu sulit, hembusan nafas Rai yang hangat membuatnya merinding.

__ADS_1


Rai mengulum senyum saat merasakan getaran yang timbul dari tubuh Avika. Dia tidak menghiraukannya dan malah mempererat pelukannya.


"Rai, tolong lepaskan aku!" pinta Avika dengan suara yang nyaris menghilang. Lagi-lagi Rai tidak mengacuhkannya.


Setelah beberapa menit, Rai membuka mata dan mengecup leher Avika. Gadis itu tersentak dengan mata terbelalak, dia berusaha melepaskan diri tapi tenaganya tidak cukup kuat melawan kekuatan Rai.


"Rai, tolong lepaskan aku!" pinta Avika sekali lagi.


Rai mendongakkan kepala, sesaat tatapan keduanya saling bertemu.


"Maaf..." lirih Rai dengan tatapan tak biasa, lalu melepaskan Avika begitu saja.


Rai beringsut dan bangkit dari pembaringannya. "Sudah pagi, pulanglah!" ucap Rai, kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan memasuki kamar mandi. Avika terpaku di atas kasur, dia merasa Rai sudah berubah dengan sikapnya yang begitu dingin.


Setelah selesai membersihkan diri, Rai keluar dari kamar mandi dan lekas mengenakan pakaian. Avika hanya diam menatap pergerakannya.


"Ayo, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Rai dingin tanpa menatap Avika.


"Rai..." gumam Avika dengan perasaan yang tidak menentu. Dia turun dari ranjang dan melangkah menghampiri Rai yang tengah berdiri di depan cermin.


Ucapan Rai tiba-tiba terhenti saat Avika memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku Rai, aku yang salah." lirih Avika dengan mata berkaca. Dia tau kesalahan ada pada dirinya, dia terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


"Tidak ada yang salah dengan kamu. Aku yang salah, seharusnya hubungan ini tidak perlu terjadi. Sejak awal aku terlalu memaksakan diri, sekarang semua sudah berakhir. Aku tidak akan mengganggumu lagi, carilah kebahagiaanmu sendiri!" ucap Rai. Dia melepaskan tangan Avika yang melingkar di perutnya lalu berjalan meninggalkan kamar.


Melihat punggung Rai yang sudah menghilang, air mata Avika jatuh menyesali ucapannya semalam. Benar bahwa dia yang mengakhiri hubungan mereka, tapi semua itu terucap karena Avika kesal. Dia cemburu melihat Rai menggenggam tangan gadis lain.


Lalu Avika berlari menyusul Rai, dia menghadang langkah Rai yang hampir tiba di depan pintu utama.


"Maaf Rai, maafkan aku. Aku tidak ingin hubungan ini berakhir. Semalam aku emosi, aku cemburu. Aku pikir-" Avika melemparkan tubuhnya ke pelukan Rai, dia terisak dengan tubuh gemetaran. "Tolong maafkan aku!" imbuhnya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu tidak salah." lirih Rai sembari membelai rambut Avika. Gadis itu semakin mempererat pelukannya.


"Sudah, tidak perlu menangis. Mungkin kita tidak berjodoh," ucap Rai dengan mata berkaca.

__ADS_1


Avika menggelengkan kepala di dada Rai. "Tapi aku ingin berjodoh dengan kamu, aku mencintai kamu Rai. Beri aku kesempatan sekali lagi,"


"Tidak perlu dipaksakan, jalani saja seperti air yang mengalir. Biar waktu yang menjawabnya," sahut Rai.


"Tidak," Avika melangkahkan kaki hingga tubuh Rai terdorong ke belakang. Keduanya jatuh tepat di atas sofa.


"Aaah..."


Rai melebarkan mata saat Avika sudah berada di atas tubuhnya. Seketika pipi Rai memerah, keringat jagung keluar dari pelipis dahinya. Dadanya sesak dengan jantung berdetak tak menentu.


"Vi... Jangan seperti ini, ayo turun!" ucap Rai dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Tidak," geleng Avika.


"Vi..." Rai meneguk ludah dengan susah payah, dia takut tidak bisa mengendalikan diri jika Avika seperti ini.


"Hubungan ini belum berakhir dan tidak akan berakhir sampai kapanpun." tegas Avika dengan tatapan tajam menusuk kalbu.


"Terlambat Vi, semua sudah berakhir. Kamu sendiri yang mengakhirinya." jelas Rai.


"Kalau begitu aku akan memulainya kembali," Avika menurunkan kepalanya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.


"Vi..."


Ucapan Rai langsung terhenti saat Avika mengecup bibirnya. Rai memicingkan mata sejenak dan membukanya kembali setelah beberapa detik.


"Maafkan aku ya, aku janji tidak akan cemburu buta lagi." lirih Avika di bibir Rai.


Mendadak gerakan bibir Avika barusan membuat Rai merinding. Tanpa pikir dia lekas memagut Avika, dia mengesap bibir mungil itu dan melu*matnya lembut. Avika memicingkan mata dan membalas setiap gerakan yang dilayangkan Rai.


Suara decapan mereka menyatu mengisi ruangan, hal itu lantas tak menyurutkan semangat mereka. Keduanya masuk semakin dalam, membelit lidah dan bertukar liur hingga sesak.


"Aakhh..." de*sah Avika sesaat setelah melepaskan pagutan mereka, lalu menjatuhkan kepalanya di dada Rai. "Maaf..." lirihnya.


Rai mengulas senyum dan mendekap Avika dengan erat sembari membelai rambutnya. Dia bahagia karena Avika sudah menyadari kesalahannya, kemudian dia mengecup kening Avika dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2