Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 81.


__ADS_3

"Aaaah... Cukup, aku tidak kuat lagi." de*sah Aryan setelah menghabiskan tiga botol minuman hingga tandas.


Kepalanya terasa pusing, matanya sangat berat dengan pandangan berkunang-kunang. Para sahabat yang tengah duduk bersamanya menjelma menjadi beberapa orang, Aryan tidak bisa lagi memposisikan diri dengan benar.


"Ayo sini, biar aku antar ke kamar!" Boni bangkit dari duduknya dan memapah Aryan ke kamar yang ada di lantai tiga, sebuah hotel yang mereka sewa untuk bermalam.


Aryan mulai kehilangan kesadaran, tubuhnya memanas dengan jantung berdebar-debar tak menentu. Saking panasnya dia ingin sekali membuka pakaian di tempat umum seperti itu.


Sesampainya di sebuah kamar, Boni mendorong Aryan, hampir saja tubuh Aryan tersungkur di lantai. Aryan berbalik namun pintu sudah ditutup dan di kunci dari luar.


"Bagus, ini untukmu." ucap seorang wanita berpakaian serba hitam yang sudah berdiri di depan pintu. Dia memberikan sebuah amplop berwarna coklat muda ke tangan Boni. Pria itu mengambilnya dan pergi meninggalkan tempat itu terburu-buru.


"Hahahaha... Selamat bersenang-senang bocah ingusan, sebentar lagi kehancuran keluarga kalian akan segera tiba." wanita itu tertawa kesetanan, dia sangat puas karena merasa menang dari lawannya. Kali ini rencananya pasti berhasil.


Di dalam sana gelap membuat Aryan tak sanggup mengenali apa saja yang ada di sekelilingnya. Aryan membuka pakaian yang melekat di tubuhnya, rasa panas itu semakin menggerogoti dirinya dan membuat libi*do nya muncul seketika.


Dengan bersusah payah Aryan berusaha kuat mencapai sisi ranjang dan melemparkan diri di atas kasur.


"Aaaaa..." terdengar jeritan seorang gadis yang tak sengaja tertindih oleh Aryan.


Karena pikirannya yang sudah hilang dan hasratnya yang sudah memuncak, Aryan beranjak dan menaiki tubuh gadis itu.


"Jangan, aku mohon!" lirih gadis itu. Dia menangis sesenggukan mempertahankan diri agar tak dijamah pria yang tidak dia kenal itu. Berharap pria itu mau mendengarnya.


Sayang Aryan tak mempedulikan tangisannya. Pikiran Aryan sudah dikuasai nafsu bejat yang tak bisa dia kendalikan. "Kau yang datang padaku, maka kau juga yang harus melayaniku. Aku tidak kuat lagi, kepalaku hampir pecah menahan siksaan ini." gumam Aryan dengan nafas kian memburu.


"Aaaaa..." pekik gadis itu saat pakaian yang dia kenakan ditarik paksa oleh Aryan. Tangannya ditahan di atas kepala dan Aryan dengan cepat memasukinya tanpa pemanasan terlebih dahulu.


Bisa dibayangkan bagaimana rasa sakit yang gadis itu alami saat pertama kali dimasuki seorang pria dalam keadaan kering tanpa cumbuan yang mampu melenturkan otot tengahnya.

__ADS_1


"Aakhh... Sakit... Jangan diteruskan!" pinta gadis itu dengan suara menggelegar, tapi tak dihiraukan oleh Aryan.


Dengan sekuat tenaga Aryan menekan inti gadis itu hingga robek. Aryan menekannya sampai dalam dan mengayunkan pinggulnya dengan cepat seperti seekor harimau liar yang kelaparan.


"Aakhh... Cukup, tolong hentikan! Ini sakit sekali," tangisan gadis itu pecah, tubuhnya terasa hancur dan remuk seperti dilindas alat berat.


Hilang sudah apa yang menjadi kebanggaannya selama ini. Tak pernah terbersit di benaknya akan mengalami penderitaan seberat ini. Belum cukupkah penderitaan yang dia tanggung selama ini? Kenapa harus ditambah lagi?


Setelah Aryan berhasil mencapai puncak kepuasan, dia tersungkur lemah di samping tubuh gadis itu. Suara gadis itu mendadak hilang, bahkan deru nafasnya tak terdengar lagi di telinga Aryan.


"Hei, bangun!" gumam Aryan sembari meremas rambut untuk menetralisir rasa pusing yang masih menguasai kepalanya.


Sekuat tenaga Aryan mencoba menggerakkan tubuhnya dan mengguncang lengan gadis itu tapi tetap tak ada sahutan sama sekali.


Aryan melompat turun dari kasur, namun tiba-tiba kesadarannya hilang dan tergeletak di dasar lantai sesaat setelah kepalanya membentur sudut nakas.


Aryan memukul kepalanya dan mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Sesaat ingatan semalam muncul di benaknya ketika merayakan ulang tahun sahabatnya, tapi dimana mereka? Bukankah mereka semua sudah berjanji akan menginap di hotel itu?


Aryan bangkit hendak mengambil pakaian, dia berpegangan pada sisi ranjang. Matanya tiba-tiba menyipit ketika mendapati kasur yang sangat berantakan.


Saat Aryan hendak melangkah, matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang terpampang di atas kasur. Dia tersentak dengan mulut menganga dan mata melebar.


Darah?


Dari mana datangnya darah itu? Aryan kemudian memutar manik matanya ke segala arah tapi tak menemukan siapa-siapa di sana.


Lalu dia menunduk dan memperhatikan pisang tanduknya dengan teliti. Sedikit noda merah yang sudah mengering nampak di batang pisang miliknya.


Seketika mata Aryan terbelalak, dia sangat syok melihat penampakan itu. Apa itu artinya dia sudah melepas keperjakaan nya dan merenggut kesucian seorang gadis? Tapi siapa gadis itu? Aryan benar-benar tidak sadar dan lupa dengan semua yang sudah dia lakukan.

__ADS_1


Aryan kemudian mengambil celananya yang tergeletak di lantai, dia mengeluarkan iPhone miliknya dan bergegas menghubungi Aksa. Hanya kakaknya itu yang bisa dia percaya untuk mengatasi situasi rumit ini.


Setelah menceritakan semua yang terjadi dan meminta Aksa menemuinya, Aryan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia menyalakan shower dan berdiri di bawahnya dengan pikiran kacau tak tentu arah.


"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku bisa menjadi bajingan seperti ini?" berkali-kali Aryan memukul dinding untuk melampiaskan kekecewaan pada dirinya sendiri. Rasa sakit tak lagi terasa melainkan penyesalan yang begitu besar atas kelakuan bejatnya. Kemana dia harus mencari gadis yang telah dia nodai? Dia bahkan tak sempat melihat wajahnya.


Sekitar pukul delapan pagi Aryan masih duduk di sisi ranjang menatap noda darah yang berserakan di permukaan sprei. Hatinya mencelos dengan mata berkaca-kaca, tidak pernah terbersit di pikirannya untuk melakukan hal keji seperti ini.


"Tok Tok Tok!"


Aryan terperanjat dan lekas menyapu wajahnya, dia berlari ke arah pintu dan membukanya tergesa-gesa.


"Kak Aksa..."


Aryan langsung berhamburan ke pelukan Aksa sesaat setelah pintu terbuka. Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya tumpah juga tanpa bisa dia kendalikan.


"Kak Aksa, maaf. Ini diluar kendali Aryan Kak, Aryan tidak tau kenapa hal ini sampai terjadi. Aryan juga tidak tau kenapa bisa masuk ke kamar ini. Aryan jahat Kak, Aryan sudah merenggut kesucian gadis itu. Aryan bahkan tidak tau siapa dan bagaimana rupanya." tangisan Aryan pecah di pelukan sang kakak.


Aksa mengusap wajah dan menghela nafas berat, lalu menepuk punggung Aryan berkali-kali untuk menenangkannya.


"Sudah, ayo masuk dulu!" Aksa merangkul pundak Aryan dan membawanya masuk ke dalam kamar. Baron dan Tobi menyusul di belakang.


Sesampainya di dalam Aryan menunjukkan noda darah yang ada di permukaan sprei. Dia juga menunjukkan sebuah anting kecil berbahan stainless yang dia temukan di atas ranjang.


Lalu Aryan menceritakan awal mula dirinya bisa berada di hotel itu. Dia hanya merayakan ulang tahun sahabatnya sesama lelaki, tidak ada seorang pun wanita yang bergabung bersama mereka.


Yang Aryan ingat dia disuguhkan minuman terus menerus hingga kepalanya pusing dan tubuhnya memanas, lalu Boni mengantarnya ke kamar. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Dia bahkan tidak ingat bagaimana caranya merenggut kesucian gadis itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2