
Selepas makan malam dan berkumpul sejenak di ruang keluarga, satu persatu anggota keluarga mulai menghilang memasuki kamar masing-masing. Tak terkecuali Baron dan Inda yang sudah kembali ke rumah itu sejak tadi malam.
"Ra..." panggil Aksa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia ingin mengganti pakaian tapi kesulitan saat mengangkat tangan. Lengannya masih menyisakan rasa ngilu akibat luka tembak tempo hari.
"Hmm..." gumam Inara yang sudah berbaring di atas kasur. Seharian ini tubuhnya terasa lelah dan malas bergerak. Di kampus saja dia terlihat lesu dan kehilangan semangat. Saat makan tadi dia juga tidak berselera, mungkin efek kecapean gara-gara memikirkan kuliah, suami dan banyaknya masalah yang datang silih berganti. Apalagi beberapa hari ini dia kurang tidur karena harus menyelesaikan tugas akhir.
"Kamu kenapa?" Aksa mengerutkan kening ketika melihat Inara yang tidak bergairah seperti biasanya, lalu dia berjalan menghampiri istrinya itu dan duduk di tepi ranjang. Niat mengganti pakaian tadi akhirnya hilang entah kemana.
Lalu Aksa menempelkan punggung tangannya di kening dan leher Inara, seketika matanya terbelalak. "Kamu sakit?" tanyanya khawatir.
"Tidak," sahut Inara lesu sembari memeluk guling dengan erat.
"Apanya yang tidak? Badan kamu panas loh sayang," ucap Aksa, dia cukup terkejut mendengar jawaban Inara yang seakan menganggap enteng penyakitnya.
"Tidak apa-apa Kak, cuma kecapean doang kok. Tidak usah lebay begitu," keluh Inara mengerucutkan bibir. Dia merasa cuma butuh istirahat, besok juga sembuh.
"Ra..." geram Aksa menajamkan tatapan.
Inara hanya tersenyum dan menarik pergelangan tangan Aksa agar berbaring di sampingnya. "Sudah, tidur yuk!" ajaknya seraya bertengger di dada Aksa dan memeluknya erat.
Di kamar lain Avika masih duduk di sofa dengan laptop yang menyala di atas pahanya, sementara Rai hanya diam menatapnya dari kasur.
Siang tadi Avika ditunjuk untuk menangani sebuah kasus, dia harus belajar banyak dari beberapa file yang baru saja dikirim oleh seniornya. Meski sebenarnya Avika belum siap tapi dia harus mengambilnya, dia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia setujui.
Saking sibuknya, kehadiran Rai seperti tak ada artinya lagi di matanya. Tapi Rai mengerti itu, dia tidak protes dan memilih tidur lebih dulu.
Sedangkan di kamar lainnya, Aryan masih duduk di balkon memandangi langit yang gelap tanpa adanya bulan maupun bintang. Sepertinya alam mengerti apa yang dirasakan Aryan saat ini.
Meski Dara sudah berkata ingin memulainya, tapi tetap saja bukan ini yang Aryan inginkan. Untuk apa bersama tapi keduanya seperti orang asing yang tidak saling membutuhkan.
__ADS_1
"Kenapa duduk di sini? Ayo masuk!" seru Dara yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
Aryan memutar leher dan mengulas senyum tipis. "Kamu sendiri kenapa ke sini? Masuklah, di luar dingin." sahut Aryan, lalu membuang pandangannya ke arah lain.
Dara tersenyum getir, lalu mendekat dan duduk di samping Aryan. Dia menatap langit seraya melipat tangannya di dada dan mengusap masing-masing lengannya perlahan. Dinginnya hembusan angin terasa menusuk sampai tulang.
Sesaat suasana menjadi hening, hanya desiran angin yang terdengar di telinga keduanya.
"Ayo masuk, tidak baik lama-lama di luar." ajak Aryan, lalu berdiri dan berjalan memasuki kamar. Dingin memang, sama seperti dinginnya cuaca malam ini.
Setelah Aryan berbaring di atas tempat tidur, Dara menyusul masuk dan menutup pintu kaca itu dengan rapat lalu menarik tirai. Dia kemudian menghampiri ranjang dan berbaring di sebelah Aryan.
Sama seperti tadi, suasana kembali hening. Baik Aryan maupun Dara tak seorangpun yang berbicara.
Lama terdiam, Aryan kemudian menarik selimut dan mulai memejamkan mata. Lagian tidak ada yang bisa dia katakan, dia tidak ingin salah dalam berucap.
Melihat sikap Aryan yang begitu dingin, hati Dara tiba-tiba mencelos. Aneh saja, padahal saat di gubuk tempo hari Aryan nampak begitu ceria meski dalam keadaan sakit sekalipun. Berbanding terbalik dengan saat ini.
"Haaaaakh..." Aryan menguap, mulutnya menganga dengan sempurna. Saat hendak menutup mulut, tangannya terasa berat lalu dia pun membuka mata perlahan.
"Deg!"
Mata Aryan melebar dengan jantung berdegup kencang. Dia tidak menyangka Dara akan memeluknya seerat ini. Pantas saja tangannya sulit digerakkan, ternyata semua itu kerjaan istrinya.
Meski tanpa disengaja tapi Aryan senang melihatnya, setidaknya dia bisa merasakan pelukan istri yang dicintainya itu.
Tidak berselang lama, Dara menggeliat saat matanya terasa silau karena pantulan matahari yang masuk dari sela-sela gorden. Dia mende*sah dan membuka mata perlahan.
"Deg!"
__ADS_1
Mendadak mata Dara melotot menatap wajah Aryan yang begitu dekat depan mukanya. "Ma-Maaf..." desis Dara tergugu. Dia hendak menjauh tapi Aryan dengan cepat mendekapnya.
"Lepas Aryan! A-Aku..."
"Sssttt... Biarkan aku memelukmu, tolong jangan menghindar lagi dariku!" gumam Aryan seraya membelai rambut Dara.
Sebenarnya dada Aryan terasa ngilu tapi dia sama sekali tidak peduli. Rasa sakit itu tidak seberapa dibanding pelukan langka yang dia dapatkan dari istrinya.
Secara sadar Dara tidak akan mungkin memeluknya, sebab itulah Aryan tidak mau melewatkan kesempatan ini.
"Aryan, dadamu masih sakit. Ayo lepas!" pinta Dara memohon. Ketakutan itu kembali datang menggerogoti benaknya, dia takut Aryan menyakitinya lagi seperti malam itu. Tubuhnya tiba-tiba gemetaran dan Aryan bisa merasakannya.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Aku mencintaimu Dara, mana mungkin aku tega berlaku buruk padamu. Jika malam itu aku melakukannya, percayalah bahwa aku benar-benar tidak menyadarinya. Bukankah kamu bilang mau memulainya dari awal, kenapa tidak memberiku kesempatan untuk membuktikannya?" ucap Aryan dengan mata berkaca, dia merenggangkan pelukannya dan menangkup tangan di pipi Dara.
"Bagaimana caraku membuktikannya kalau kamu saja tidak mau memberiku kesempatan? Pernikahan seperti apa ini?" imbuh Aryan menitikkan air mata. Terkadang dia merasa lelah berjuang sendirian, entah kapan Dara menerimanya dengan sungguh-sungguh?
"Bukan begitu Aryan, aku hanya belum terbiasa seperti ini. Aku takut kamu-"
"Berapa kali harus ku katakan padamu? Aku mencintaimu, aku tidak akan pernah menyakitimu." tegas Aryan dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Percaya tidak percaya, aku yakin dengan perasaanku padamu. Coba lihat aku, pandang aku sebagai suamimu! Aku bukan monster, aku juga bukan binatang buas. Apa yang kamu takutkan dariku?" geram Aryan yang mulai kehilangan kesabaran.
"He..." hampir saja tawa Dara menggelegar, beruntung dia masih waras dan menundukkan pandangannya.
"Dara please," Aryan mengangkat dagu Dara dan memiringkan kepalanya.
"Mmphh..."
Mata Dara melotot kala bibir Aryan berlabuh di bibirnya. Aryan melu*matnya lembut dan bertahap. Hal itu membuat tubuh Dara kembali gemetaran.
__ADS_1
Dara ingin mendorongnya tapi Aryan dengan cepat menahan tengkuknya. Aryan benar-benar memperlakukan Dara selembut mungkin agar rasa takut itu lenyap dari pikiran Dara.
Saat Aryan mulai masuk semakin dalam, Dara pun memicingkan mata perlahan. Dia mencoba menerimanya dan membiarkan Aryan mengesap lidahnya.