
Pukul empat sore Aksa dan Inara sudah tiba di kediaman Airlangga. Tadi sebelum pulang, Aksa sempat membawa Inara ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya, Aksa takut minuman yang dikonsumsi Inara tadi bisa mengganggu pertumbuhan janinnya.
Beruntung dokter mengatakan bahwa kandungan Inara baik-baik saja setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, dokter itupun meresepkan vitamin untuk menguatkan kandungan Inara.
Sesampainya di ruang tengah, kebetulan semua anggota keluarga tengah berkumpul di sana. Terdengar obrolan santai yang mengundang banyak tawa.
Namun tiba-tiba tawa semua orang menghilang saat menangkap kedatangan Aksa yang tengah menggendong Inara, mata mereka terbelalak melihat muka Aksa yang banyak lebam seperti bekas pukulan.
"Aksa, Inara... Apa yang terjadi Nak?" tanya Aina khawatir, dia langsung berdiri dan melangkah menghampiri keduanya. Aina menyentuh pipi Aksa pelan dan menatap air muka pucat Inara dengan raut kebingungan.
"Tidak apa-apa, Ma. Semua sudah berakhir," jawab Aksa santai lalu memilih duduk dan mendekap Inara di pangkuannya.
"Apanya yang berakhir?" timpal Arhan mengerutkan kening.
"Semuanya, Pa. Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang mengganggu keluarga kita." jelas Aksa.
Ya, semua orang yang ingin menghancurkan keluarga mereka sudah berakhir satu persatu. Tasya sudah meninggal dalam ledakan bom waktu itu dan Oberoi sekarang tengah menjadi santapan buaya liar peliharaan kenalan Baron.
Akhirnya penderitaan mereka semua menemui ujungnya. Sudah saatnya mereka hidup tenang tanpa gangguan para manusia iblis itu.
"Ma..." panggil Aksa setelah Aina kembali duduk di samping Arhan.
"Iya sayang, kenapa?" tanya Aina.
Lalu Aksa mengalihkan pandangannya ke arah Nayla. "Bun..." lanjutnya memanggil Nayla.
"Iya Nak, ada apa?" tanya Nayla.
Sontak kelakuan Aksa itu membuat Aina dan Nayla saling melirik. Mereka penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Aksa sebenarnya. Yang lain ikut terdiam menunggu Aksa berbicara.
"Ini..." Aksa menyodorkan sebuah amplop besar ke arah mereka berdua. "Hadiah untuk kalian berdua," imbuhnya dengan tatapan datar.
"Apa ini, Nak?" tanya Nayla setelah mengambil alih amplop itu.
"Lihat saja sendiri!" jawab Aksa dingin seperti kebiasaannya waktu kecil dulu, lalu mengelus pipi Inara dan menciumnya tanpa memikirkan pandangan orang-orang yang menatapnya.
"Apaan sih, sini lihat!" ucap Aina yang sudah semakin penasaran, lalu dia dan Nayla dengan cepat membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas.
__ADS_1
"Laporan Hasil Pemeriksaan?"
Setelah membaca tulisan yang ada di bagian atas, wajah keduanya tiba-tiba terlihat panik. Pikir mereka terjadi sesuatu pada Inara, sebab itulah Aksa menggendongnya.
Akan tetapi setelah membaca keseluruhan isi kertas itu sampai tuntas, keduanya tiba-tiba bersorak yang membuat semua orang terperanjat.
"Aaaaa..."
"Aina, Nayla, kalian apa-apaan sih?" ketus Hendru menutup telinga.
"Iya ih, udah pada tua masih teriak-teriak seperti bocah. Malu dikit sama anak dan menantu," timpal Arhan mengejek.
"Kak, apaan sih itu? Kok aku gak diajak?" keluh Inda dengan bibir mengerucut.
"Hehehe... Ayo, sini kamu!" panggil Aina tertawa lepas.
Setelah Inda mendekat dan membaca isi yang tertulis di kertas itu, dia ikut-ikutan berteriak. "Aaaaa... Ini benar?" pekiknya lantang memecah gendang telinga semua orang.
"Astaga, kalian para wanita benar-benar menjengkelkan ya. Bisa gak sih sedikit kalem jadi orang tua? Malu sama umur," keluh Arhan geram.
"Ah, bapak-bapak diam saja!" sahut Aina, hal itu membuat Arhan semakin geram dan menjewer kuping Aina.
Lalu ketiga wanita itu berhamburan menghampiri Aksa. Mereka bertiga berebutan ingin memeluk Inara lebih dulu.
Karena Aksa tak kunjung melepaskan Inara dari dekapannya, terpaksa mereka bertiga memeluk keduanya bergantian.
"Selamat ya sayang, bahagia selalu untuk kalian berdua." ucap Aina, dia mengecup pipi Aksa kemudian beralih mengecup pipi Inara.
Setelah itu giliran Nayla dan Inda, keduanya melakukan hal yang sama terhadap Aksa dan Inara.
"Ma, Bun, Tan, ini ada apa sih sebenernya?" tanya Avika penasaran, keningnya mengernyit menanyakan itu.
"Anak kecil tidak usah tau," ketus Aksa menahan tawa.
"Kecil darimananya? Aku ini sudah punya suami loh, Kak." geram Avika mengerucutkan bibir.
"Sudah, sudah, tidak usah ribut! Sekarang katakan dengan jelas, ini ada apa?" selang Arhan dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Tanya sama istri Papa saja!" jawab Aksa dingin.
"Astaga, malah main teka teki." Arhan mengusap wajah dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Itu loh Bang," Aina pun mengatur nafas sebelum mengatakan yang sebenarnya. "Inara positif hamil, Abang akan jadi Kakek." imbuh Aina seraya tersenyum lepas.
"Apa?" sontak Arhan dan Hendru terperanjat. Keduanya saling melirik, lalu terkekeh begitu saja.
"Ya ampun, ternyata kita berdua sudah semakin tua." seloroh Hendru seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ngomong dong dari tadi, bikin penasaran saja kerjanya." geram Avika, lalu tertawa setelah itu.
Satu persatu dari mereka kemudian menghampiri Aksa dan Inara untuk mengucapkan selamat, tak terbilang betapa bahagianya keluarga itu setelah tau akan ada anggota baru yang datang di tengah-tengah mereka.
Setelah semua mendapat giliran menyelamati mereka berdua, Aksa kemudian pamit ke kamarnya. Inara harus banyak istirahat setelah mengalami kejadian yang menimpanya tadi. Kembali Aksa menggendongnya dan masuk ke dalam lift menuju lantai atas.
"Tak disangka kita bertiga akan jadi Nekmud ya," seloroh Nayla penuh kebahagiaan.
"Apaan Nekmud?" timpal Hendru mengerutkan kening.
"Hahaha... Nekmud itu maksudnya Nenek muda Yah, Ayah kudet banget sih." ejek Avika menertawakan Hendru.
"Mana Ayah tau, sayang. Bahasa jaman sekarang tuh aneh-aneh, Ayah gak paham." jawab Hendru terkekeh. Malunya terasa hingga ubun-ubun.
"Sekarang Inara sudah, kini giliran kamu sama Dara. Kalian berdua jangan mau kalah, biar nanti kita bertiga dapat tiga cucu sekaligus." ucap Inda menanyakan kesiapan Avika dan Dara. Sontak pipi Avika dan Dara bersemu merah mendengar celetukan Inda itu.
"Apaan sih, Tan? Baru juga nikah," Avika menyembunyikan wajahnya di samping kepala Rai. Sementara Dara sendiri menekuk wajah sembari memainkan jari-jari lentiknya. Dia sama sekali tidak bersuara dari tadi.
"Ya sudah, kalau itu mau kalian, kami akan membuatnya lebih dulu." Aryan membuka suara seraya menggenggam tangan Dara, lalu membawanya meninggalkan semua orang.
"Apaan sih Aryan?" gumam Dara tersipu malu.
"Kita buat sesuai permintaan mereka, bila perlu dua sekaligus." ucap Aryan tanpa malu sedikitpun, lalu menarik Dara memasuki lift.
"Kami berdua juga ingin membuatnya, iya kan sayang?" Rai pun tidak mau kalah dan lekas bangkit dari duduknya, lalu membawa Avika menuju lift menyusul Aryan yang sudah lebih dulu tiba di lantai atas.
"Ya ampun, anak jaman sekarang kelakuannya begitu ya. Baru dibilangin udah mau nyosor saja." Aina menahan tawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sama saja, kita dulunya juga begitu. Jangan melupakan jejak!" timpal Arhan, lalu tertawa terbahak-bahak.