
Rai tiba di kediaman Airlangga setelah mengantarkan Aksa ke apartemen, dia menenteng sebuah paper bag dan memberikannya pada Nayla. Paper bag itu berisikan baju pengantin yang akan dikenakan Inara esok hari.
Saat Rai hendak ke kamar, dia berpapasan dengan Inara. Gadis itu menghadang langkah Rai dan menatapnya seperti kucing liar.
"Dimana Kak Aksa?" tanya Inara penuh penekanan.
"Loh, kenapa nanya Aksa sama aku? Kamu calon istrinya bukan? Harusnya kamu yang lebih tau." jawab Rai enteng.
"Rai, jangan membodohi ku! Kalian tadi pagi meninggalkan rumah bersamaan. Katakan padaku dimana Kak Aksa!" desak Inara dengan mata merah menyala.
"Apaan sih ribut-ribut?" Tiba-tiba Avika lewat dan menghampiri keduanya. Air muka Rai yang tadinya santai, kini berubah seperti anak kucing yang baru saja jatuh di kali.
"Ti-Tidak..." Rai terbata, lidahnya kelu untuk bicara.
"Kak Avika... Kak, tolong tanyain sama Rai! Dimana dia menyembunyikan Kak Aksa?" rengek Inara meminta bantuan pada Avika. Dia mencengkram lengan Avika dan menggoyang-goyangkannya.
Avika menatap Inara sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada Rai. Rai tidak sanggup menerima tatapan itu, tajam seperti anak busur yang siap menghujam jantungnya. Seketika tangan Rai gemetaran, dahinya mengeluarkan keringat dingin.
"Rai..."
"Aku tidak tau Avika, jangan tanya padaku!" potong Rai dengan cepat, lalu berbalik dan masuk ke kamarnya.
Avika menyipitkan mata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa Rai seperti melihat hantu begitu? Aneh, padahal Avika belum sempat bertanya apa-apa.
Karena tidak mendapat jawaban, Inara menghentakkan kaki dan berlari ke kamarnya. Dia kecewa karena semua orang yang ada di rumah itu tidak ada yang mau menjawab pertanyaannya.
Setelah Inara menghilang dari pandangannya, Avika menyusul ke kamar Rai. Dia sebenarnya juga penasaran kemana perginya Aksa. Seharian menghilang dari rumah dan semua orang hanya bungkam tanpa penjelasan.
Apakah Aksa kabur dari pernikahan itu? Tapi kenapa? Bukankah dia sendiri yang ingin menikahi Inara. Lama-lama otak Avika bisa ikut henk dibuatnya.
"Tok Tok Tok"
"Rai, buka pintunya! Ini aku Avika," sorak gadis itu berbarengan dengan suara ketukan pintu.
Rai yang berada di dalam sana terperanjat, dia gelagapan dengan air muka memucat sempurna. Apa dia tidak salah dengar? Kenapa Avika menggedor pintu kamarnya? Untuk apa?
Dengan telapak tangan yang mengeluarkan keringat dingin, Rai memutar anak kunci lalu membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Rai gugup.
"Boleh aku masuk? Aku ingin bicara sebentar," jawab Avika.
"Ma-Masuk?" Rai semakin gelagapan.
Avika menautkan alis, matanya menyipit melihat reaksi Rai yang aneh. "Kenapa wajahmu pucat begitu? Kamu sakit?"
"Ti-Tidak," Rai mengusap wajah dan menghela nafas berat.
"Ya sudah, minggir!" Avika menggeser bahu Rai dan melangkah masuk ke dalam kamar. Dia kemudian duduk di sisi ranjang dan menyisir setiap sudut kamar dengan manik matanya yang tajam.
Rai sendiri hanya mematung di dekat pintu. Dia tidak berani menghampiri Avika.
"Kenapa diam di situ? Kemarilah!" Avika menggerakkan tangan di udara.
"I-Iya..." Rai maju beberapa langkah dan berdiri dengan jarak dua meter.
"Kamu tau Kak Aksa kemana? Jangan bilang kalau Kak Aksa kabur dari pernikahan ini!" selidik Avika.
__ADS_1
"Tidak, Aksa tidak kabur. Dia ada di apartemen, cuma ngeprank Inara saja. Biar besok ketemunya lebih seru." jawab Rai jujur.
"Tapi jangan beritahu Inara ya, ini rahasia." imbuh Rai.
"Oh, ya sudah kalau begitu." Avika bangkit dari duduknya. Baru beberapa langkah berjalan, Rai memberanikan diri menghadang langkahnya.
"Mau kemana?" bisik Rai dengan suara bergetar.
"Ya mau keluar lah, mau kemana lagi?" Avika menautkan alis.
"Loh, katanya mau bicara." keluh Rai.
"Kan sudah barusan," sahut Avika santai.
"Gitu doang?" Rai mengerutkan kening.
"Iya itu, memangnya mau bicara apa lagi?" Avika menggeleng-gelengkan kepala.
"Siapa tau ada yang lain?" Rai berharapnya begitu.
"Tidak ada," Avika mencebik dan melanjutkan langkahnya.
"Tunggu Vi!" Rai berlari dan lekas menghadang pintu.
Avika mengerutkan dahi. "Siapa Vi?"
"Kamu lah, siapa lagi? Anggap saja itu panggilan sayang aku ke kamu." jawab Rai.
"Sayang?" Lagi-lagi Avika mengerutkan dahi. "Jangan aneh-aneh!"
"Tidak, dimana letak anehnya? Kamu kan adiknya Aksa, Aksa sahabatku, berarti kamu adikku juga." jelas Rai.
"Sh*it... Kenapa aku harus berkata seperti itu?" Rai mengusap wajah dan mengacak rambut dengan kasar.
Bodohnya Rai karena mengatakan bahwa dirinya menganggap Avika sebagai adik. Harusnya tidak begitu kan? Harusnya Rai bilang karena dia menyukai Avika, tapi ternyata keberanian pria itu tak sekokoh tubuhnya.
Kapan Avika akan tau perasaannya jika Rai saja tidak berani berbicara? Bukankah cinta butuh pengakuan? Kalau dipendam terus malah membuat dada sesak.
"Ma, lampu di kamar mandi Avika putus." teriak Avika dari ujung tangga sana.
"Iya sayang, tunggu Papa atau Ayah pulang dulu ya." sahut Aina dari dapur sana.
"Sekarang dong Ma, Avika mau mandi." teriak Avika lagi.
"Tapi sekarang tidak ada siapa-siapa sayang. Kamu mau Mama panggilin Pak Anang?" jawab Aina.
"Jangan dong Ma! Masa' Pak Anang masuk kamar Avika?" tolak gadis itu.
"Ya sudah tunggu saja!"
Avika mencebik dan kembali ke kamarnya. Tidak lama setelah itu, Rai keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Perutnya terasa lapar, dia butuh makanan untuk mengganjal perut.
"Sore Tante," sapa Rai.
"Sore Rai, kamu sudah pulang? Bagaimana dengan Aksa? Apa persiapannya sudah rampung?" cerca Aina dengan berbagai macam pertanyaan.
"Sudah Tan, semua sudah beres." jawab Rai. Dia kemudian menangkap keberadaan roti tawar di atas meja, lalu mengambilnya dan mengolesinya dengan selai.
"Rai, kamu bisa manjat gak?" tanya Aina.
__ADS_1
"Bisa Tan, kenapa?" Rai mengerutkan kening.
"Itu, lampu di kamar mandinya Avika putus. Om Arhan sama Om Hendru belum pulang. Om Baron juga tidak tau entah kemana. Kamu bisa bantuin Tante gak?"
"Bisa Tan, bolanya mana?" angguk Rai.
"Itu, coba lihat di lemari sana!" Aina menunjuk lemari kaca.
"Baik Tan," Rai urung menyantap rotinya. Dia menaruh roti itu di atas piring dan berjalan mengambil bola lampu di lemari.
Setelah mendapatkan lampu tersebut, Rai melangkah menaiki anak tangga.
Sesampainya di depan pintu kamar Avika, Rai mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena tidak ada sahutan, dia menekan kenop dan mendorong pintu perlahan.
"Avika..." panggil Rai. Tak ada sahutan, sepertinya Avika tidak ada di dalam.
Lalu Rai memberanikan diri untuk masuk dan langsung menuju kamar mandi, kebetulan pintu kamar mandi terbuka dan Rai dengan cepat mengganti bola lampu.
"Cling!"
Lampu menyala sesaat setelah Rai menggantinya.
"Aaaaa..." Avika menjerit histeris menangkap keberadaan Rai. Seketika handset di telinganya terlepas.
Rai mematung dengan mata melebar sempurna, dia meneguk ludah dengan susah payah.
"Bajingan, berani sekali kau masuk ke kamarku." Avika bergegas meraih handuk dan menutupi tubuhnya yang sedang polos.
"Ma-Maaf..." Rai mengedipkan mata dan melompat turun dari beton pembatas. Dia tidak berniat mengintip Avika, dia benar-benar hanya ingin mengganti lampu sesuai permintaan Aina.
Dengan balutan handuk yang melilit di tubuhnya, Avika keluar dari pintu kaca dan memukuli Rai dengan membabi buta. "Brengsek kamu Rai, laki-laki tidak tau malu!"
"Mama..."
"Papa..."
"Sssttt..." Mau tidak mau Rai terpaksa membungkam mulut Avika dengan tangannya dan melingkarkan sebelahnya lagi di pinggang gadis itu.
"Jangan berteriak! Kamu mau aku dibunuh di rumah ini?" bisik Rai. Dia menekan tubuh Avika hingga tersandar di dinding.
"Mmm... Mmm..."
Avika ingin berteriak tapi Rai tidak mau melepaskannya.
"Maaf, aku tidak tau kalau kamu ada di dalam. Tadi Tante Aina yang memintaku mengganti lampu, aku sudah memanggilmu tapi kamu tidak menjawab. Aku pikir kamu tidak ada di kamar makanya aku masuk." Rai terdiam sejenak.
"Sumpah, aku tidak bohong. Aku tidak mungkin kurang ajar padamu, aku tau dimana posisiku." lirih Rai.
"Mmm..."
Avika menggerakkan tubuhnya.
"Iya, aku lepaskan tapi tolong jangan berteriak!" pinta Rai memohon.
Avika mengangguk, Rai pun menjauhkan tangannya dari mulut Avika.
"Mama... Mmphh..."
Avika terdiam dengan mata membulat sempurna. Kali ini Rai tidak lagi membungkam mulutnya dengan tangan melainkan dengan bibirnya yang panas. Rai bahkan melu*matnya dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Bersambung...