
Pukul sebelas malam semua orang sudah tidur di kamar masing-masing, begitu juga dengan Inara yang baru saja terlelap di kamarnya. Berbeda dengan Aksa yang justru masih bolak-balik seperti setrikaan panas. Jangankan untuk tidur, berbaring saja dia sangat enggan.
Sembari mengendap-endap seperti maling, Aksa membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati. Dia celingak celinguk ke sana kemari memperhatikan kondisi di sekitar, lalu berjalan ke kamar Inara setelah memastikan tidak ada yang melihat.
Saat menekan kenop, mendadak air muka Aksa berubah gelap. Dia pikir Inara tidak akan mengunci pintu tapi ternyata dia salah. Aksa menghela nafas berat dan kembali ke kamarnya dengan cepat.
"Astaga sayang, kenapa dikunci segala sih? Sudah tau calon suamimu ini tidak bisa tidur tanpa kamu," keluh Aksa dengan wajah kusut, terlihat sangat frustasi.
Lalu Aksa menyambar ponsel yang tergeletak di atas kasur. Segera dia menghubungi Inara dan berdiri di balkon kamar.
Tiga kali panggilan Inara sama sekali tak merespon. Terang saja, orang Inara sudah masuk ke alam mimpi. Dasar Aksa saja yang ngeyel, tapi dia tak mau menyerah dan menghubungi Inara terus menerus.
Entah panggilan yang ke berapa kali, akhirnya terdengar suara Inara yang serak-serak basah. Seketika jantung Aksa berdegup kencang seakan sudah lama sekali tak bertemu.
Rindu?
Ya, rasa rindu itu kian membuncah. Entah apa yang terjadi dengan Aksa? Padahal baru satu jam yang lalu mereka berpisah dan masuk ke kamar masing-masing.
"Apa Kak? Ganggu orang tidur saja," gumam Inara dengan mata yang masih terpejam.
"Sayang, buka pintunya dong! Kakak mau masuk, kenapa dikunci sih?" protes Aksa.
"Sudah malam Kak, ketemunya besok pagi saja ya. Aku ngantuk," sahut Inara.
"Ya sudah, Kakak kembali ke apartemen sekarang. Tidak usah ketemu juga tidak apa-apa,"
"Tut... Tut..."
Aksa mematikan panggilan tersebut. Dia meninggalkan balkon dan segera mengganti pakaian, lalu menyambar kunci motor dan bergegas meninggalkan kamar.
Inara langsung tersentak dan membuka mata lebar-lebar. Geram, kesal, marah, semua membaur jadi satu. Bisa-bisanya Aksa mengancamnya seperti itu.
Setelah kesadarannya kembali, Inara melompat turun dari kasur dan buru-buru membuka pintu. Dia sampai lupa bahwa tubuhnya hanya dibaluti sport bra dan celana sot saja.
Baru saja pintu terbuka, Aksa melintas di depan Inara dengan air muka dingin seperti es batu. Dia bahkan tak mau menoleh ke arah pintu.
"Kak Aksa mau kemana?" tegur Inara.
Aksa menghentikan langkahnya sejenak dan memutar lehernya beberapa derajat. "Kemana saja, yang penting bisa-" Ucapan Aksa tiba-tiba terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang menggoda pandangannya.
__ADS_1
"Astaga, gadis ini." Aksa membatin tatkala matanya disuguhi pemandangan indah yang mampu mengalahkan keindahan alam semesta.
Tanpa pikir, Aksa langsung mendorong Inara ke dalam kamar dan menutup pintu dengan punggung lalu memutar anak kunci.
"Sengaja mau menggodaku?" Sorot mata Aksa sangat tajam seperti buaya lapar.
Inara mundur satu langkah, dia bergidik ngeri melihat tatapan Aksa yang menyeramkan.
"Jangan melihatku seperti itu! Aku takut," lirih Inara dengan air muka memucat.
"Kenapa takut? Paling aku hanya ingin memakan mu saja." Aksa mengulas senyum miring. Dia mulai maju hingga Inara semakin mundur ke belakang.
Saat betis gadis itu menyentuh sisi ranjang, Aksa dengan cepat meraih tangan Inara dan menariknya hingga dada mereka saling membentur.
"Aaaaa..."
Inara berteriak saking terkejutnya, sementara Aksa malah mengukir senyum dan membelit pinggang Inara dengan erat. Aksa terkesima, kulit gadis itu terasa sangat lembut seperti kulit bayi. Pinggang kecil Inara sangat pas di tangannya.
"Sssttt... Jangan berteriak sayang! Nanti ketahuan Ayah, bisa diamuk kita." bisik Aksa. Permukaan bibirnya menyentuh daun telinga Inara, seketika sekujur tubuh Inara merinding hingga bulu-bulu halus di kulitnya berdiri.
"Kak..." lirih Inara. Suaranya terdengar berat, deru nafasnya memburu menahan rasa panas yang membara.
Geli?
Ya, sangat geli hingga sekujur tubuh Inara terasa bagaikan tersengat aliran listrik. Kakinya bergetar menikmati rasa yang entah, ngilu sengilu ngilu nya. Apalagi saat Aksa turun mengecup leher dan bahunya, Inara sampai mematung sembari memicingkan mata dan menggigit bibir bawahnya.
"Seksi sekali, Kakak suka." gumam Aksa dengan suara yang nyaris menghilang. Hasratnya mulai berkecamuk tapi Aksa mencoba mengendalikannya sekuat tenaga.
Aksa kemudian melepaskan pinggang Inara, dia membuka pakaian hingga bertelanjang dada dan menghempaskan tubuhnya di kasur.
"Ayo, sini tidur!" ajak Aksa sembari merentangkan tangan, bermaksud menyuruh Inara tidur di atas lengannya.
"Jangan Kak, nanti ketahuan lagi!" tolak Inara.
"Tidak apa-apa, palingan besok kita langsung dinikahi. Makin cepat makin bagus kan, lama-lama Kakak bisa mati berdiri kalau harus nahan terus seperti ini." ucap Aksa enteng.
"Kak Aksa..." Inara memelototi Aksa dan meraih bantal, lalu memukuli kakaknya itu saking geramnya.
"Hahahaha..." Aksa tertawa terbahak-bahak melihat air muka Inara yang menggemaskan.
__ADS_1
...****************...
Malam sudah berlalu, pagi datang menjelang membangunkan dua anak manusia yang tengah dimabuk cinta itu.
Saat membuka mata, Aksa mengulas senyum melihat Inara yang bertengger di atas dadanya. Meski mata gadis itu sudah terbuka, dia masih enggan beranjak dari posisinya. Kehangatan tubuh Aksa membuatnya merasa aman dan nyaman.
"Pagi sayang," gumam Aksa dengan suara serak.
"Pagi," sahut Inara. Dia mempererat pelukannya dengan sedikit desa*han yang keluar dari mulutnya.
"Aish, jangan mende*sah gitu dong! Bikin ngilu saja," keluh Aksa. Dia memijat dahi dan menghela nafas berat.
"Aughhh..."
Bukannya diam, Inara malah mengulangi desa*hannya. Hal itu membuat jantung Aksa berdegup kencang tak beraturan, Inara bisa merasakan itu.
"Jangan mancing-mancing sayang, mau dimakan sekarang?" geram Aksa dengan tatapan menuntut.
"Mau..." jawab Inara yang sengaja ingin menggoda kakak mesumnya itu.
Inara kemudian mengangkat tubuhnya dan menumpukan tangan di setiap sisi lengan Aksa. Tatapan keduanya saling bertemu dan mematut dengan intim.
Seketika Aksa bergeming, tatapan Inara mampu meluluh lantakkan hatinya. Belum lagi hembusan nafas Inara yang menerpa wajahnya, bau jigong pun terasa wangi seperti bau parfum.
Aksa meneguk air liur dengan susah payah, rasanya sangat berbeda saat Inara sendiri yang berinisiatif menggoda dirinya. Nyali Aksa menciut seperti anak kucing takut di lidi.
"Sa-Sayang..." gumam Aksa terbata.
Melihat air muka Aksa yang membagongkan, Inara mengulas senyum lalu mengambil bantal dan menekannya ke wajah Aksa.
"Makan tuh bantal! Hahahaha..."
Inara langsung melompat turun dari kasur dan berlari menuju pintu kamar mandi.
"Inara..." Suara bariton Aksa menggelegar, kesal karena ternyata Inara cuma mengerjai dirinya.
"Bleeek... Emang enak, makanya jangan mesum jadi orang."
Setelah mengatakan itu dan menjulurkan lidahnya ke arah Aksa, Inara menghilang dan mengunci pintu kamar mandi dengan cepat.
__ADS_1
Bersambung...