
Waktu semakin mendekati pukul empat sore. Tidak lama setelah Inara melakukan spa tadi, MUA datang dan mulai mendadani gadis itu. Sementara di bawah sana yang lain sudah menunggu dengan dandanan ala-ala mereka masing-masing.
Sedangkan Aina dan Arhan sendiri sudah tiba di apartemen sejak satu jam yang lalu. Mereka sengaja duluan untuk mengurusi catering yang baru saja tiba. Memang hanya acara keluarga tapi satu keluarga itu saja sudah bisa memenuhi apartemen.
"Sudah siap?" tanya Arhan pada Aksa yang baru saja keluar dari kamar. Dia terlihat sangat tampan dengan kemeja putih berbalut jas berwarna pink muda. Siapa saja akan terpana melihat ketampanannya.
"Sudah dong Pa. Bagaimana, Aksa tampan gak?" jawab Aksa dengan pertanyaan pula.
"Jelas tampan dong, siapa dulu seniornya. Produk Papa tidak ada yang gagal, iya kan Ma?" seloroh Arhan. Dia bermaksud menggoda Aina yang tengah menata meja makan.
"Iya, Papa kan tampan makanya junior Papa tak kalah tampan." jawab Aina santai dengan kesibukannya.
"Hahahaha... Mama saja mengakuinya, itu sebabnya Mama tidak mau jauh-jauh dari Papa." Arhan tertawa terbahak-bahak.
"Tapi rasanya kok aneh ya Pa, dari tadi dada Aksa berdetak kencang mulu. Padahal belum apa-apa, gimana nanti ya kalau ketemu sama Inara? Bisa-bisa Aksa pingsan sebelum mengucap ijab."
Aksa menarik kursi dan duduk dengan tubuh tegak. Semakin dia memikirkan Inara semakin tak beraturan pula detak jantungnya.
"Itu biasa, namanya juga mau menikah. Papa dulu juga begitu, sampai-sampai mau ngomong saja susah. Bawa rileks saja, jangan terlalu dipikirkan!"
"Iya juga sih, tapi... Entahlah," Aksa mengusap wajah dan menghela nafas berat.
"Nih, bawa minum dulu!" Aina menyodorkan segelas air putih ke tangan Aksa.
"Makasih ya Ma,"
Setelah Aksa menenggak air putih tersebut, Aina duduk di sampingnya.
"Tidak terasa waktu terlalu cepat berlalu. Perasaan baru kemarin kamu lahir ke dunia ini, sekarang sudah mau jadi suami orang saja." lirih Aina dengan tatapan sendu.
"Apaan sih sayang? Tidak boleh sedih begitu! Ini pernikahan putra sulung kita, harusnya Aina bahagia. Apalagi Aksa menikahnya sama putri kita juga, sudah ih." Arhan menarik tangan Aina dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
"Apaan sih Bang? Malu tau," Aina ingin beranjak tapi Arhan memeluknya dengan erat. Meski sudah tak muda lagi tapi Arhan tidak mau kalah dengan anak muda jaman sekarang. Kebucinan nya pada Aina tetap sama seperti dulu, bahkan lebih.
"Malu sama siapa? Orang di sini cuma ada Aksa doang kok. Lagian dia bukan anak kecil lagi, sebentar lagi sudah bisa bikin cucu buat kita." seloroh Arhan. Dia menumpukan dagu di pundak Aina dan mengecupnya lembut.
"Aksa, Papa cuma mau pesan sama kamu. Dalam rumah tangga pasti akan ada masalah yang muncul tanpa disengaja. Papa harap kamu bisa menyikapinya dengan bijak. Jangan sekali-kali membentak Inara apalagi mengasarinya. Kalau kalian bertengkar, lebih baik kamu mengalah. Wanita itu hatinya seperti tisu, kena air dikit habis deh. Nanti memperbaikinya susah, apalagi kalian berdua sudah sering berantem sejak kecil."
__ADS_1
"Kamu boleh tanya sendiri sama Mama. Apa pernah Papa membentak Mama? Apa pernah Papa mengasari Mama? Apa pernah Papa menyentil Mama? Pasti jawabannya tidak. Kami memang sering bertengkar tapi salah satu pasti ada yang mengalah."
"Iya sayang, Papa benar. Sebab itulah Mama bertahan sama Papa hingga detik ini." timpal Aina.
"Iya Ma, Pa, Aksa janji akan mengingat pesan kalian ini." Aksa bangkit dari duduknya lalu memeluk keduanya dengan mata berkaca-kaca. "Tetaplah seperti ini, kalian berdua adalah contoh buat Aksa."
Di kediaman Airlangga semua sudah berkumpul di lantai bawah, termasuk Inara yang baru saja turun dari lantai atas. Gadis itu terlihat cantik dan anggun dengan gaun putih yang melekat di tubuh mungilnya, dandanan natural dan rambut disasak semakin terlihat sempurna seperti bidadari surga. Semua orang sampai pangling menatapnya.
"Wow, Tuan Putri kita cantik sekali. Pusing pusing deh Kak Aksa dibuatnya." sanjung Avika. Dia sendiri juga terlihat sangat cantik dengan dandanannya.
"Bidadari kayangan," timpal Bara.
"Jelas cantik dong, kalau gak mana mungkin Kak Aksa sampai tergila-gila begitu." sambung Aryan.
"Kalian apaan sih? Bikin malu saja," sahut Inara dengan pipi bersemu merah.
"Cie cie, pipinya sudah seperti tomat busuk saja tuh." Rai ikut menimpali.
"Sudah, sudah, bercandanya nanti saja dilanjutkan. Kasian Kak Aksa kelamaan menunggu, ayo jalan sekarang!" ajak Nayla yang masih berdiri di samping Inara. Tadi dia sendiri yang menjemput putrinya ke kamar. Dia awalnya juga pangling melihat kecantikan Inara. Dia berharap putri semata wayangnya itu akan bahagia bersama Aksa.
Karena semuanya sudah siap, mereka pun melangkah meninggalkan rumah.
Baron, Inda, Nayla dan Inara berada di mobil yang sama. Sementara Pak Anang bersama Lola, Aryan dan Bara. Sedangkan mobil satunya diisi oleh para pekerja lain dan pengawal rumah itu. Kini tinggal Avika dan Rai yang belum mendapatkan tempat.
"Aryan, Kakak nyelip di samping kamu ya." ucap Avika.
"No, di sini sudah penuh." sahut Aryan. Padahal hanya ada dia dan Bara di bangku penumpang, harusnya bangku itu masih muat untuk Avika yang memiliki tubuh mungil.
Sebenarnya Aryan sengaja ingin mengerjai Avika, entah kenapa dia merasa senang melihat kakaknya itu bersama Rai.
"Avika, kamu sama Rai saja ya Nak. Om jalan dulu." seru Baron, lalu melesat pergi meninggalkan kediaman Airlangga. Kemudian mobil yang dikendarai Pak Anang pun menyusul diiringi mobil yang dikendarai Tobi.
Avika mencebik melepas kepergian tiga mobil itu. Kenapa dia harus ditinggalkan bersama Rai? Setelah kejadian kemarin dia merasa canggung berdekatan dengan pria itu.
"Mau ikut atau tinggal di rumah sendirian?" ucap Rai yang sudah duduk di dalam mobil.
"Maunya sih tinggal, tapi aku takut di rumah sendirian. Tidak ada siapa-siapa," Dengan bibir mengerucut, Avika membuka pintu belakang.
__ADS_1
"Eh, mau ngapain?" seru Rai.
"Ya masuk lah, ngapain lagi?" ketus Avika.
"Duduk di depan! Kamu pikir aku sopir," Rai mengulum senyum.
"Kan emang sopir. Bukankah kamu duduk di bangku kemudi?" Avika menautkan alis.
"Beda lah, ini namanya pengemudi bukan sopir. Ayo cepat masuk! Lelet banget sih," geram Rai.
"Iya iya, judes banget sih mulutmu itu. Sudah seperti ibu-ibu arisan saja." Avika membuka pintu depan dan duduk dengan wajah cemberut.
"Pasang sabuk pengamannya!" titah Rai.
"Repot banget sih, ini sudah sore gak bakalan ada polantas." keluh Avika.
"Bukan masalah sore atau polantas. Ini untuk keselamatan kamu Markonah,"
"Hei, namaku Avika bukan Markonah." protes Avika.
"Suka suka aku dong, mulut mulut aku." Rai mengulum senyum dan beringsut dari duduknya.
Seketika Avika membatu saat Rai membantu mengaitkan sabuk pengamannya. Wajah mereka nyaris bersentuhan hingga membuat Avika menahan nafas. "Jangan ditahan, lepasin saja!" goda Rai. Dia sengaja melakukan itu untuk melihat reaksi Avika.
"Huftt..."
Karena sesak Avika akhirnya membuang nafas tepat di wajah Rai.
Sontak Rai terdiam dan menatap Avika dengan tatapan yang tak biasa. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang, darahnya mengalir cepat dengan sedikit rasa ngilu yang mengiris.
"Vi..." lirih Rai dengan tatapan yang sulit dimengerti.
Mendadak mata Avika melebar saat bibir Rai menempel di bibirnya.
"Plaaak"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rai. Rai memicingkan mata sejenak dan membukanya kembali. "Terima kasih," lirih Rai dengan mata berkaca. Dia lekas menjauh dan segera menginjak pedal gas.
__ADS_1
Bersambung...