
"Aryan, Dara, kalian kenapa?" tanya Aina saat memasuki kamar. Dia mengernyitkan kening mendapati air muka Aryan dan Dara yang nampak dingin seperti bongkahan es batu.
"Tidak apa-apa Ma, Aryan keluar dulu." lekas Aryan bangkit dari duduknya dan meninggalkan kamar sang mama begitu saja.
Apa yang terjadi dengan Aryan?
Aina benar-benar bingung. Padahal sebelum meninggalkan Aryan tadi, putranya itu terlihat baik-baik saja. Dia bahkan sangat bersemangat mengakui perasaannya terhadap Dara. Lantas kenapa selang beberapa jam saja sudah berubah?
Setelah Aryan menghilang dari pandangannya, Aina duduk di samping Dara yang masih membeku di sisi ranjang.
"Sayang, apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Aina sembari membelai rambut Dara. Gadis itu mengangkat kepala dan merebahkan dahinya di lengan Aina.
"Dara tidak tau Ma, mungkin Aryan marah." jawab gadis itu dengan suara lembut.
Aina menautkan alis dan mengusap lengan Dara. "Marah kenapa, sayang? Apa kalian bertengkar?" tanyanya penasaran.
Dara menggeleng. "Tidak Ma, mungkin Aryan marah karena-" Dara terdiam sejenak. "Dara menolaknya Ma," lanjutnya.
Aina hendak tertawa tapi dia dengan cepat menutup mulut. Terang saja Aryan marah, orang cintanya ditolak begitu.
Sebenarnya Aina juga ingin marah tapi mau bagaimana? Dia tidak ingin membuat Dara ketakutan, gadis itu baru saja menyesuaikan diri dengannya.
Dara mulai manja dengan Aina, mungkin karena selama ini dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang seperti yang Aina berikan.
"Ya sudah, biarkan saja. Sekarang kamu ikut Mama ya!" ajak Aina. Dara mengangguk lemah dan mengikuti langkah Aina.
Aina membawa Dara ke kamar Aryan, kamar yang tadinya berantakan kini sudah rapi setelah Aina membereskannya.
Aina mengganti sprei polos yang biasa digunakan Aryan dengan sprei motif bunga. Aina juga mengganti gorden jendela dengan warna yang lebih cerah agar Dara merasa nyaman menempati kamar itu.
Tidak mungkin Dara tidur di kamarnya terus, kasihan Arhan yang tiba-tiba merasa diasingkan.
__ADS_1
"Nah, sekarang ini kamar kamu. Nanti pakaian kamu menyusul, Mama sudah memesannya dari butik langganan Mama." terang Aina.
"Iya Ma, terima kasih. Tapi Mama tidur di sini juga kan?" jawab Dara dengan pertanyaan pula.
"Tidak sayang, kalau Mama tidur di sini lalu bagaimana dengan Papa? Papa itu tidak bisa tidur tanpa Mama." jelas Aina.
"Oh..." Dara manggut-manggut dengan air muka sedikit kecewa. "Kata Aryan Mama juga sama sepertiku, apa itu benar?" karena penasaran Dara pun menanyakan itu secara langsung.
"Iya, itu benar." angguk Aina.
Lalu Aina menceritakan sejarah perjalanan hidupnya di masa lalu. Dimana pertama kali dia bertemu dengan Arhan dan bagaimana cara mereka bisa bersatu dan menikah hingga memiliki tiga orang anak yang salah satunya sudah terikat dengan Dara.
Aina bahkan tidak segan menceritakan aibnya, bermaksud agar Dara mengerti dan memahami bahwa tidak semua pria itu buruk. Terkadang mereka tidak bisa menghindari kesalahan tapi mereka mau memperbaikinya dan menjadi lebih baik kedepannya.
Tidak jauh-jauh, Aina mencontohkan suaminya sendiri. Pria yang dulunya dikhianati istri pertama dan menjadikan wanita lain sebagai pelampiasan. Hingga pada akhirnya Aina sendiri yang mengantarkan dirinya pada pria itu.
Siapa sangka pertemuan tak diinginkan itu ternyata mengantarkan mereka pada hubungan yang kini semakin erat. Saling menyayangi dan mengasihi adalah kunci sebuah pernikahan bahagia.
"Seiring berjalannya waktu, cinta itu tumbuh karena perlakuan Papa yang baik, lembut dan penuh kasih sayang. Justru setelah itu Mama lah yang tidak bisa jauh-jauh dari Papa." imbuh Aina.
"Sekarang pilihan ada di tangan kamu. Mama berharap kamu mau menerima Aryan sebagai suami kamu. Aryan itu anak yang baik meski terkadang sikapnya menjengkelkan, sama seperti Kak Aksa dan Papa. Apalagi dia sudah mengakui bahwa dia mencintai kamu. Berdamai lah dengan keadaan dan buka hatimu! Mama yakin kamu pasti bahagia bersama Aryan. Tutup buku lama itu dan bukalah lembaran baru!" ucap Aina panjang lebar.
Sejenak Dara terdiam menelaah kata-kata Aina barusan. Dia juga ingin membuka lembaran baru, tapi apa dia pantas menjadi bagian dari keluarga itu?
Lalu bagaimana dengan wanita iblis yang sudah menghancurkan hidupnya selama ini? Dia tidak mungkin diam saja jika tau bahwa Dara sudah lepas dari genggamannya.
Bertahun-tahun dia bersabar menunggu saat ini tiba, mana mungkin dia akan menyerah sampai di sini.
"Tidak perlu menjawabnya sekarang, pikirkan saja dulu. Mama yakin kamu pasti tau mana yang baik dan mana yang tidak untuk masa depan kamu. Sekarang mandi dulu, ini pakaian sudah Mama siapkan." Aina menunjuk pakaian yang ada di atas kasur.
Setelah mengatakan itu, Aina mengacak rambut Dara dan berlalu meninggalkan kamar.
__ADS_1
Dara mengulas senyum tipis saat menatap kepergian Aina.
...****************...
"Rai..." panggil Avika.
"Hmm..." sahut Rai dingin.
"Kok jawabnya gitu sih?" Avika mengerucutkan bibir.
"Aku ngantuk Vi, ngomongnya nanti saja ya." ucap Rai dengan mata memicing.
Setelah mendapatkan restu tadi, mendadak sikap Rai berubah dingin terhadap Avika. Entah apa yang dia pikirkan saat ini? Tentu saja Avika bingung dibuatnya.
"Ya sudah, kalau begitu tidur saja, bila perlu tidak usah bangun sekalian." ketus Avika. Dia berlalu pergi dan membanting pintu dengan kasar.
"Braaak!"
Sontak Rai terperanjat dengan mata terbuka lebar, lalu mengurai senyum dan kembali menutup mata.
Sebenarnya semalam Rai tidak bisa tidur memikirkan Avika, entah berapa kali dia keluar masuk kamar hanya untuk memastikan Avika tidur dengan nyenyak.
Berada di dalam satu apartemen bersama gadis yang dia cintai itu membuatnya sedikit takut. Takut tidak bisa mengendalikan diri dan kebablasan. Beruntung Avika tidur dengan nyenyak sehingga pikiran kotornya itu lenyap begitu saja.
Kini restu dari kedua orang tua Avika dan semua anggota keluarga sudah dia kantongi. Hanya saja dia masih ragu dengan perasaan Avika terhadap dirinya, dia takut Avika tidak benar-benar mencintainya.
Rai ingin menikah hanya sekali seumur hidup, dia ingin Avika juga berpikir yang sama dengan dirinya.
Sebelum hari itu datang, dia ingin melihat seberapa besar cinta Avika untuknya. Bukan bermaksud mengerjai Avika atau apalah, tapi dia ingin memastikannya terlebih dahulu agar di kemudian hari hubungan mereka bisa berjalan dengan baik.
Rai berkaca pada hubungan Aina dan Arhan, Nayla dan Hendru, Baron dan juga Inda. Dia menjadikan hubungan ketiga pasang suami istri itu sebagai contoh yang baik.
__ADS_1
Meski diusia mereka yang sudah tidak muda lagi, Rai bisa merasakan bagaimana intimnya hubungan mereka. Saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain sehingga tidak ada tempat untuk saling menyakiti.