
"Akbar, aku mohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri! Aku terjebak di sini, tolong bawa aku pergi!" gumam Inara dalam tidur.
Inara kasak kusuk memutar leher ke sana kemari, pelipis dahinya mengeluarkan keringat jagung, namun dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Akbar..." teriak Inara bak petir yang sangat dahsyat. Inara terduduk dengan pandangan linglung, tatapannya nampak kosong.
Aksa yang tadinya baru bangun langsung terlonjak mendengar teriakan Inara. Dia berlari menuju kamar dan segera menghampiri gadis itu.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Aksa. Dia duduk di sisi ranjang dan mengusap wajah Inara.
Inara menatap Aksa dengan intens, alisnya bertautan, matanya menyipit.
"Akbar pergi, Akbar meninggalkan aku. Kenapa dia jahat sekali? Apa salahku padanya?" lirih Inara. Dia menekuk kedua kaki dan memeluk lututnya dengan erat. Air matanya terus mengalir tanpa henti.
Mendengar itu, hati Aksa terasa sakit. Segitu cintanya Inara pada sosok Akbar hingga sosok aslinya tak ada harga sama sekali di mata Inara.
"Ra, lihat Kakak!" Aksa menghela nafas berat, dia naik ke kasur dan duduk di hadapan Inara lalu menangkup tangannya di pipi gadis itu. "Akbar tidak pergi, dia ada di sini bersama kamu. Pria yang kamu lihat ini adalah Akbar, pria yang duduk di hadapan kamu ini juga Aksa. Akbar dan Aksa merupakan orang yang sama. Keduanya sama-sama mencintai kamu, tapi mereka tidak bisa menjadi dua orang sekaligus." jelas Aksa.
"Tapi aku merindukan Akbar, aku ingin Akbar ku kembali." isak Inara.
"Bukankah Akbar mu sudah kembali?" Aksa mengerutkan kening, dia membuka pakaian yang melekat di tubuhnya lalu meraih tangan Inara dan menyentuhkan telapak tangan gadis itu ke kulit dadanya yang menganga. "Lihat dan rasakan! Ini Akbar mu, dia tidak pergi. Dia ada di sini dengan sosok yang berbeda, tapi isi di dalam sini tetap sama." Aksa mendiamkan tangan Inara tepat di bagian hatinya.
Seketika Inara terdiam, dia bisa merasakan detak jantung Aksa yang berdegup sangat kencang. Jantungnya sendiri mengalami reaksi yang sama.
"Akbar..." Air mata Inara jatuh berguguran. "Kak Aksa Akbar ku?" lirih Inara dengan suara bergetar.
"Iya, Kak Aksa Akbar kamu. Kalau kamu mau, nanti Kakak pesan soflens di toko online. Tapi Kakak tidak bisa lama-lama menjadi sosok Akbar," Aksa merogoh kantong celana, dia mengeluarkan iPhone miliknya dan mencari toko yang bisa delivery detik ini juga.
"Sudah, sebentar lagi kamu akan melihat sosok Akbar." seru Aksa, lalu menaruh iPhone miliknya di atas nakas.
Aksa kemudian berbaring dengan posisi miring. "Kemarilah!" Dia menarik tangan Inara hingga gadis itu terjatuh di sampingnya. Aksa memeluknya erat sambil memicingkan mata.
Berat, sangat berat. Aksa pikir setelah kebenaran ini terungkap Inara akan menerimanya begitu saja. Tapi ternyata dia salah, Inara benar-benar sudah terjebak dalam cinta Akbar.
Aksa meraih iPhone miliknya yang ada di atas nakas, lalu mengirim chat kepada Aryan agar datang menemuinya di parkiran apartemen. Aksa juga meminta Aryan menggunakan sepeda motor dan mengirimkan lokasi keberadaannya.
Setelah Aryan membalas chat nya dan mengatakan iya, Aksa menutup layar ponsel dan mengembalikannya ke nakas.
__ADS_1
Lalu Aksa kembali fokus pada Inara yang tengah membelakanginya. Aksa mengecup pundak Inara dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu, kakinya membelit paha Inara layaknya guling.
Setengah jam berlalu, suara bel sayup-sayup terdengar di telinga Aksa. Dia merenggangkan pelukannya dan turun dari ranjang, lalu melangkah cepat menuju pintu utama.
"Ceklek!"
Seorang kurir sudah berdiri di ambang pintu dengan sebuah kotak kecil di tangannya.
"Permisi Pak, benar ini apartemennya Pak Aksa?" tanya kurir itu dengan ramah.
"Iya, saya Aksa. Apa itu soflens yang saya pesan tadi?" jawab Aksa dengan pertanyaan pula. Dia mematut box yang ada di tangan kurir itu dengan intens.
"Benar Pak, ini soflens pesanan Bapak." Kurir itu menyerahkan box yang ada di tangannya pada Aksa. Aksa mengambilnya dan memberikan uang lebih sebagai tips.
Setelah kurir itu pergi, Aksa menutup pintu dan kembali ke kamar.
Sebelum menghampiri ranjang, Aksa membuka box itu terlebih dahulu. Dia berdiri di depan cermin dan memasang soflens biru itu di manik matanya, lalu merapikan rambut seperti style Akbar biasanya.
Hanya bermodalkan celana pendek saja, Aksa berjalan menghampiri Inara yang masih berbaring di atas kasur. Dia duduk di sisi ranjang dan menyentuh bahu Inara. "Sayang, Akbar mu datang."
Inara menggerakkan bahu, dia memutar leher dan tersentak saat mendapati sosok Akbar yang sangat dekat dengan dirinya. "A-Akbar..."
Karena tak kuat menahan diri, air mata Inara tiba-tiba berjatuhan. Dia berhamburan dari tidurnya dan memeluk Aksa dengan sangat erat. Saking semangatnya, tubuh Aksa kehilangan keseimbangan dan terhempas ke lantai.
"Aww..." Aksa meringis saat bokongnya membentur lantai. Sayang Inara tak peduli, dia terus saja menindih Aksa tanpa mau melepaskan pelukannya.
"Jahat, kamu sangat jahat." gumam Inara berderai air mata.
"Tidak sayang, aku tidak jahat. Aku selalu ada di sisimu, hanya saja dengan wujud yang berbeda." terang Aksa.
"Tapi aku maunya wujud ini, aku menyukai wujud ini." lirih Inara.
"Sama saja sayang. Baik wujud ini maupun wujud Aksa, keduanya sama-sama mencintaimu. Bahkan wujud Aksa jauh lebih baik dari ini. Kamu lupa siapa yang sudah menyelamatkanmu dari penculik itu? Aksa sayang, dia rela mengorbankan dirinya untukmu. Dia tidak takut mati demi kamu, aku tidak akan bisa seperti dia." jelas Aksa.
"Tapi dia galak, dia sering menghina dan memarahiku. Bilang bodoh lah, tidak punya otak lah, aku tidak suka." rengek Inara.
"Hahaha... Kenapa harus marah? Bukankah kenyataannya memang begitu?" Aksa terkekeh, hal itu membuat tubuh Inara berguncang di atasnya.
__ADS_1
"Jangan ketawa, atau aku akan memakan mu sekarang juga!" Inara mengangkat kepala, pipinya menggembung dengan bibir mencebik.
"Makan saja! Aku pasrah ditelan mentah-mentah olehmu," Aksa merentangkan tangan, membiarkan Inara berbuat sesuka hati pada tubuhnya.
Kesal karena Aksa menantang dirinya, Inara pun menggertakkan gigi. Dia kemudian menenggelamkan wajahnya di leher Aksa. Seperti vampir yang haus darah, Inara menggigit leher kakaknya itu sekuat tenaga.
"Aww..." Aksa menggelinjang, mau marah tapi gadis itu Inara. Terpaksa Aksa menahan rasa sakit sambil menutup mata dan menggigit bibir.
Terkejut karena Aksa tak bereaksi apa-apa, Inara pun melepaskan gigitannya. Dia mengangkat kepala dan menatap wajah Aksa dengan intim.
Aksa hanya diam dengan mata tertutup rapat, hembusan nafasnya melemah. Hal itu sontak membuat Inara gemetar ketakutan.
"Kak, Kak Aksa, bangun Kak!" lirih Inara sambil menepuk-nepuk pipi Aksa.
Aksa tak menyahut, sebisa mungkin dia berusaha menahan nafas agar Inara menyadari betapa pentingnya dia di hati Inara. Dia tau Inara mencintainya, tapi gadis itu gengsi mengakuinya. Persis seperti Aksa yang dulu juga sok jual mahal mengungkapkan perasaannya.
"Kak Aksa bangun, jangan menakuti ku!" rengek Inara menitikkan air mata.
Karena Aksa tak kunjung bangun, Inara pun mencengkram rahang Aksa hingga mulut kakaknya itu menganga, lalu Inara menempelkan bibirnya dan meniupkan nafas buatan ke mulut Aksa.
Aksa menyeringai, awalnya dia hanya diam menerima. Beberapa detik kemudian dia menggerakkan tangan dan menahan tengkuk Inara.
Aksa mengubah nafas buatan itu menjadi lu*matan lembut, dia memagut setiap inci bibir Inara tanpa sisa.
"Kak... Mmphh..."
Kali ini Aksa tidak mau mengampuni Inara. Dia membalikkan diri hingga posisi mereka berubah. Kini Inara yang di bawah dan Aksa yang berkuasa di atasnya.
"Aaaaaa..."
"Kak Aksa jangan, geli Kak."
"Kak Aksa ampun,"
"Aakhh..."
Jeritan jeritan kecil keluar dari mulut Inara saat Aksa mulai menakali tubuhnya.
__ADS_1
Bersambung...