Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 57.


__ADS_3

Seperti biasa, Inara memeluk pinggang Aksa dan menumpukan dagu di pundak kakaknya itu. Aksa tak henti mengulas senyum menikmati perjalanan mereka menuju kampus Inara. Laju motor pun tidak kencang karena Aksa ingin berlama-lama dengan gadis pujaannya itu.


"Pelan banget sih Kak. Kapan sampainya kalau begini?" tanya Inara.


"Gak sampai-sampai pun gak masalah, yang penting bisa berduaan sama kamu." jawab Aksa.


"Mulai deh penyakitnya," Inara mengerucutkan bibir.


"Hehehehe..." Aksa tertawa kecil dan menggenggam tangan Inara dengan sebelah tangan, lalu mengecupnya dengan lembut.


"Kak Aksa jangan gini dong, nanti jatuh." omel Inara. Dia menarik tangannya dan kembali memeluk pinggang Aksa.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, sampailah mereka berdua di depan gerbang kampus. Inara turun dari motor dan berdiri tepat di sisi Aksa.


"Makasih ya Kak, aku masuk dulu." Inara hendak melangkah tapi Aksa bergegas menahan tangannya.


"Gitu doang?" Aksa mengerutkan kening.


"Terus gimana lagi Kak?" jawab Inara.


"Cium kek, salim kek, masa' main pergi-pergi saja. Aku ini calon suami kamu loh, gak ada harganya sama sekali." kesal Aksa dengan air muka cemberut.


"Ya Tuhan, gini banget ya dapat calon laki." gerutu Inara. Mau tidak mau dia terpaksa mengecup pipi Aksa, lalu menyalami dan mencium punggung tangan calon suaminya itu.


"Nah, gitu dong. Itu baru namanya calon istri kesayangan, sekarang giliran Kakak." Tanpa ragu Aksa dengan cepat mengesap bibir Inara, gadis itu membatu saking syok nya.


Apa Aksa sudah gila?


Di tengah keramaian seperti itu main nyosor saja tanpa malu. Kan pipi Inara jadi memerah dibuatnya.


"Dasar Tuan mesum," umpat Inara. Ingin sekali Inara mencekik leher Aksa dan mendorongnya ke dalam got, tapi Inara tidak tega menyakiti calon suaminya itu.


"Biarin mesum, yang penting kamu suka kan?" seloroh Aksa menahan tawa.


"Suka dari Hongkong," ketus Inara mengulum senyum, pipinya bersemu merah mengatakan itu.


"Hehehehe..." Aksa tertawa kecil. "Oh ya, nanti pulang jam berapa?" tanya Aksa.


"Kayaknya agak sore tapi entahlah, tergantung dosennya." jawab Inara.


"Ya sudah, nanti sebelum pulang hubungi Kakak dulu ya, biar Kakak jemput!" ucap Aksa.


"Tidak usah, aku bisa naik taksi." tolak Inara.


"Tidak boleh, mulai hari ini Kakak yang akan jadi ojek pribadi buat kamu. No debat," tegas Aksa.


"Iya iya, sekarang pergilah!" usir Inara.

__ADS_1


"Kamu duluan yang masuk!" balas Aksa.


"Baiklah, sampai jumpa nanti sore."


Setelah mengatakan itu, Inara melenggang memasuki gerbang kampus. Pada saat Inara menghilang dari pandangannya, barulah Aksa berlalu meninggalkan gerbang. Kali ini laju sepeda motornya sangat kencang seperti balapan liar.


"Hai Ra," sorak Riska yang tengah duduk di bangku taman.


"Hai Ris, akhirnya ketemu juga." Inara menghampiri Riska dan duduk di sebelahnya. Keduanya berpelukan melepas rindu.


"Empat bulan lebih tidak bertemu makin cantik saja nih, bagi resepnya dong!" seloroh Riska.


"Apaan sih? Biasa saja kali, kamu juga makin cantik." balas Inara.


"Ngejek," Riska mengukir senyum.


"Bukan ngejek tapi fakta yang bicara," jelas Inara.


"Hahahaha... Bisa saja kamu," Riska tertawa terbahak-bahak, Inara pun ikut ketularan.


"Oh ya, aku mau minta maaf masalah waktu itu. Aku terpaksa memberitahukan keberadaan kamu dan memberikan nomor kamu pada seorang pria, aku diancam olehnya. Makanya aku-"


"Tidak usah dibahas lagi, lagian sekarang ceritanya sudah berbeda. Aku sudah pulang ke rumah dan semuanya sudah kembali seperti semula. Hanya saja-"


"Hanya saja apa?" potong Riska.


"Aku apa?" desak Riska.


"Aku mau menikah," ungkap Inara.


"Nikah?" Riska membulatkan mata dengan sempurna. "Nikah sama siapa? Setahuku kamu tidak punya pacar, jangan bilang kamu dijodohkan."


"Tidak, ini murni keinginanku sendiri." Inara menghela nafas berat. "Menurutmu aku ini bodoh atau gimana sih? Aku sudah jatuh cinta pada orang yang pernah menyakitiku, dia juga sempat mempermainkan perasaanku. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku sangat mencintainya."


"Siapa orangnya?" tanya Riska penasaran.


"Kakakku, pria yang pernah mendatangimu waktu itu." jawab Inara jujur.


"Hah?" Riska memelototi Inara. "Kamu yakin mencintai pria itu? Dia galak loh Ra, dia juga bukan orang sembarangan. Kepalaku ditodong senjata sama dia." terang Riska.


"Iya, aku tau itu. Dia bahkan tidak segan melenyapkan nyawa orang, aku sendiri yang jadi saksinya. Tapi dia melakukan itu hanya kepada orang-orang jahat saja, dia sebenarnya baik dan penyayang. Dia juga perhatian dan menyayangiku sepenuh hati. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya." jelas Inara.


"Kamu yakin?" Riska menyipitkan mata.


"Iya, aku tidak bisa jauh-jauh darinya. Dia seperti sebuah bintang, dia bisa mengerti apa yang aku mau, dia juga mau mewujudkan semua yang aku inginkan. Aku merasa berharga bila di sisinya." ucap Inara.


"Ya sudah kalau begitu, aku juga tidak bisa melarang mu. Semoga kamu bahagia ya memilih dia." kata Riska.

__ADS_1


"Aku yakin aku akan bahagia bersama dia." Inara nampak bersemangat mengatakan itu.


"Lalu kapan nikahnya?" tanya Riska.


"Tergantung, sekarang Ayah sedang mengurus surat nikah buat kami. Jika besok selesai, maka besok kami berdua akan menikah." sahut Inara.


"Secepat itu?" Riska menautkan alis.


"Hmm... Dia tidak mau menunggu lama-lama, takut kebablasan katanya. Kalau sudah halal kan enak, tidak perlu mikir dosa." terang Inara.


"Iya juga sih, berarti otaknya masih waras. Biasanya laki-laki itu kan mau senangnya doang, abis manis sepah dibuang." Riska terlihat kesal.


"Dia bukan orang seperti itu, dia sangat baik dan bertanggung jawab. Aku tau bagaimana dia, kami kan dibesarkan di keluarga yang sama." jelas Inara.


"Lucu ya, kakak adik ternyata berjodoh." Riska tertawa geli.


"Kakak adik cuma status doang, aslinya kami tidak ada hubungan darah. Keluarganya sudah menganggap kami seperti keluarga sendiri." ungkap Inara.


"Baguslah, doaku selalu menyertaimu. Berbahagialah dengan pilihan hatimu, hanya maut yang akan memisahkan kalian berdua." Riska memberikan doa terbaiknya.


"Aaminn..."


Setelah melewati obrolan yang cukup panjang, keduanya meninggalkan taman dan masuk ke dalam kelas.


Di perusahaan, Aksa baru saja tiba di ruangan. Kedatangannya disambut dengan tatapan masam oleh Rai yang sedari tadi sudah menunggu.


"Enak ya, mentang-mentang sudah direstui terus aku mau dibuang begitu saja. Dasar sahabat tidak ada akhlak! Aku yang menemanimu selama tiga tahun terakhir ini, giliran kenal wanita main tinggal begitu saja." gerutu Rai dengan tatapan tajam seperti mata elang.


Aksa mengerutkan kening. "Apa yang kau bicarakan? Siapa yang ditinggalkan dan siapa yang meninggalkan? Jangan sok dramatis begitu, tidak pantas!"


"Bulshit, kau memang sengaja ingin menyingkirkan aku dari hidupmu kan? Dasar tidak tau terima kasih," umpat Rai.


"Hahahaha... Kau ini sedang cemburu atau gimana sih? Lalu aku harus apa? Menikahi mu?" seloroh Aksa.


"Kampret kau, kau pikir aku ini cowok apaan? Begini-begini aku masih waras," ketus Rai dengan tatapan mematikan.


"Sudahlah, jangan seperti anak kecil begitu. Aku tidak akan pernah melupakan semua jasamu, kau akan tetap mendampingiku. Kalau kau malas satu mobil sama Papa, nanti aku berikan satu mobil untukmu." jelas Aksa.


"Tidak perlu, aku tidak butuh mobil. Cukup hargai aku sebagai sahabat sekaligus asisten pribadimu, jangan main tinggal seenaknya begitu!" keluh Rai.


"Iya iya, maaf. Harusnya kau bisa memahami bagaimana posisiku saat ini, kau juga akan merasakannya saat kelak menemukan tambatan hatimu." jelas Aksa.


"Aku sudah menemukannya, tapi-"


"Tapi apa?" potong Aksa.


"Tidak jadi, aku permisi dulu. Periksa dokumen itu dan tandatangani segera, nanti aku akan kembali mengambilnya. Papamu membutuhkan dokumen itu secepatnya." Tanpa menunggu jawaban, Rai langsung menghilang dari ruangan Aksa. Aksa hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2