
"Tidak, jangan, tolong lepaskan aku! Jangan lakukan ini padaku, aku mohon!"
Aryan tersentak dan membuka mata lebar-lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar igauan Dara yang kini nampak gelisah menggerakkan leher ke kiri dan ke kanan. Matanya masih terpejam, keringat dingin keluar dari pelipis dahinya.
Suara itu membuat dada Aryan tercabik-cabik, persis seperti saat Aryan memaksakan diri memasuki Dara malam itu.
Ya, kini memori itu kembali di ingatan Aryan. Mendadak dia mengingat semuanya, mungkin karena rasa bersalah yang kian mendalam di hatinya.
"Dara..." Aryan memiringkan tubuhnya. Dia menepuk-nepuk pipi Dara dengan pelan, bermaksud membangunkannya dari mimpi buruk itu.
"Aaaah..." Dara menjerit dan terduduk bermandikan keringat. Matanya berkaca dengan sorot kosong seperti orang linglung.
"Pergi!" teriaknya. Dia mendorong dada Aryan dengan kasar, hampir saja pria itu terjungkal ke lantai jika tidak sigap menumpukan tangannya pada sudut nakas.
"Dara, tenangkan dirimu! Ini aku Aryan," Aryan menangkup tangan di pipi Dara, sorot mata keduanya bertemu pandang. Beberapa detik kemudian Aryan mendekapnya dengan erat.
"Maafkan aku Dara, maaf. Aku memang bersalah, aku mengakuinya." lirih Aryan. Air matanya jatuh begitu saja.
"Lepaskan aku Aryan, kamu jahat. Kamu sudah-"
"Ya, aku memang jahat. Aku bajingan yang sudah menghancurkan hidupmu," angguk Aryan tanpa melepaskan pelukannya.
"Aku menyesal Dara, aku benar-benar menyesal. Tidak seharusnya kita bertemu dengan cara seperti itu." imbuh Aryan berderai air mata. Dia mengusap rambut Dara dengan lembut.
"Lepaskan aku Aryan, biarkan aku pergi dari sini!" isak Dara sesenggukan. Nafasnya tercekat di tenggorokan.
"Tidak Dara, kamu tidak boleh pergi. Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahi mu, aku janji." tegas Aryan.
__ADS_1
"Tidak Aryan, aku tidak mau." geleng Dara.
Aryan bisa merasakan guncangan yang berasal dari tubuh Dara, dia semakin mempererat pelukannya. "Kamu harus mau Dara, beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku!" pintanya penuh harap.
"Untuk apa? Ini bukan salahmu, apa yang harus kamu pertanggung jawabkan?" lirih Dara.
"Salah atau tidak, kita berdua sudah terikat Dara. Aku tau ini tidak mudah, tapi aku tidak bisa melepasmu begitu saja. Takdir sudah mempertemukan kita, belajarlah menerima kenyataan!" jelas Aryan. Dia melepaskan pelukannya dan kembali menangkup tangan di pipi Dara.
"Tidak Aryan, aku... Mmphh..." Aryan mengikis jarak dan melu*mat bibir merah delima Dara penuh kelembutan.
Dara membulatkan mata, dia terdiam seperti patung meresapi panasnya bibir Aryan yang memagut bibirnya.
"Ini tidak hanya bentuk tanggung jawab semata Dara, tapi ini adalah cinta. Ya, aku mencintaimu sejak hari pertama melihatmu di gubuk. Aku mengagumi ketulusan hatimu, aku menyukai kepolosanmu dan aku sangat menghargai dirimu." terang Aryan.
Lagi-lagi Dara hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan Aryan.
"Aryan, aku-"
"Aku sangat mencintaimu Dara. Tolong terimalah bajingan ini menjadi suamimu, izinkan aku menebus dosa ini dan membahagiakanmu. Aku janji akan menyembuhkan luka di hatimu, kita akan berbagi suka duka bersama." pinta Aryan dengan tatapan tak biasa.
"Sadar atau tidak, Tuhan telah mengatur semua ini untuk kita. Kamu sudah menjadi milikku, kita sudah menyatu. Bagaimana kalau ada benihku di dalam rahimmu? Apa kamu tega membiarkan dia hidup menderita sepertimu?" Aryan mencoba berandai-andai untuk meyakinkan Dara.
Dara menggelengkan kepalanya. Jika benar dia hamil, dia tidak mau anaknya memiliki nasib yang sama seperti dirinya. Tidak mudah hidup tanpa orang tua, apalagi Dara juga sadar bahwa dirinya tidak akan sanggup membesarkan anak itu sendirian. Dia tidak punya apa-apa dan dia tidak tau cara menghasilkan uang.
"Tolong pikirkan lagi apa yang aku katakan barusan! Aku tidak akan mendesak mu, tapi aku berharap kamu mau menjawab iya. Aku tidak ingin kehilangan kamu," Aryan meraih tangan Dara dan meletakkannya di dadanya.
"Rasakan detak jantungku ini, dia berdetak kencang saat bersamamu. Aku yakin kamu bisa merasakannya, aku juga yakin bahwa kamu merasakan hal yang sama." imbuh Aryan.
__ADS_1
Dara mematut manik mata Aryan dengan intim. Ya, dia juga merasakannya. Jantungnya turut berdetak kencang saat berdekatan dengan Aryan. Walau hanya seminggu bersama, dia seperti menemukan dunianya saat di sisi Aryan. Pria itu mampu memberi warna di hidup Dara yang selama ini kelam.
"Apa aku pantas?" lirih Dara menitikkan air mata.
"Tidak ada yang tidak pantas jika Tuhan sudah berkehendak. Derajat seseorang tidak dibutuhkan di keluarga ini. Mereka melihat orang dari hati bukan harta dan kemewahan." jelas Aryan.
"Tapi aku berbeda Aryan. Selain miskin aku juga tidak tau siapa diriku dan dari mana asalku." kata Dara.
"Sudah aku bilang itu tidak penting. Kamu bisa lihat sendiri kan bagaimana Mama dan Papa memperlakukan kamu? Mereka menyayangi kamu sepenuh hati, semua orang yang ada di rumah ini menerima kamu apa adanya. Tidak ada yang mempermasalahkan statusmu."
"Asal kamu tau saja, hanya Papa orang yang berkuasa di rumah ini, yang lain sama sepertimu. Bahkan Mama dulunya juga bukan siapa-siapa. Mama hanya gadis yatim piatu dan tidak punya apa-apa. Buktinya Mama bahagia hidup bersama Papa. Rumah ini dibuat Opa dengan rasa cinta yang besar terhadap Oma, harapan Opa cinta itu akan selalu berkembang di rumah ini. Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari cinta itu. Kamu pasti bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu." jelas Aryan.
"Tapi Aryan-"
"Sssttt..." Aryan menaruh telunjuknya di bibir Dara, ucapan gadis itu langsung terhenti dibuatnya.
"Belajarlah menyesuaikan diri dengan keluarga ini, aku yakin kamu tidak akan menyesal. Kamu akan mendapatkan semua yang tidak pernah kamu rasakan selama ini. Apa kamu mau kehilangan kasih sayang yang sudah Mama berikan untukmu?"
"Tidak..." geleng Dara. Dia baru saja mendapatkan kasih sayang seorang ibu, dia tidak ingin kehilangan itu secepat ini.
Melihat anggukan Dara, Aryan mengulas senyum dan kembali mengecup bibir gadis itu. Lagi-lagi Dara membulatkan mata lebar-lebar.
"Kalau begitu kamu harus bahagia mulai detik ini. Tersenyumlah dan tunjukkan pada dunia kalau kamu juga berhak hidup seperti orang lain di luar sana." Aryan mengusap rambut Dara dan mengecupnya sesekali.
Setelah berhasil meyakinkan Dara, Aryan turun dari ranjang dan menggenggam tangan gadisnya itu dengan erat. "Ayo, ikut aku ke bawah! Bilang sama Mama dan semua orang kalau kamu bersedia menjadi istriku." ajak Aryan dengan senyum sumringah.
Sontak Dara terdiam dan menahan tangannya. "Aryan, kapan aku bilang mau jadi istrimu?"
__ADS_1
Seketika Aryan terhenyak dan lekas melepaskan tangan Dara dari genggamannya. Senyuman yang tadi merekah mendadak hilang dari bibirnya.