
Satu jam setelah Aksa, Aryan dan Baron tiba di apartemen, Arhan, Aina dan Inara juga tiba di sana.
Aina tak hentinya menangis sembari memeluk Aryan. Sesekali dia memukuli lengan putra bungsunya untuk melepaskan kekecewaan yang bersarang di hatinya.
"Kenapa kamu melakukan ini Aryan? Apa begini cara Mama mengajari kamu selama ini? Tidak bisakah kamu berpikir sebelum melakukan sesuatu?" isak Aina berderai air mata.
"Maafkan Aryan Ma, Aryan tidak ada niat untuk melakukan ini. Aryan tidak sadar, Aryan juga tidak tau kenapa hal ini bisa terjadi. Semua diluar kendali Aryan Ma, maaf." lirih Aryan penuh penyesalan. Air matanya ikut menetes di pelukan Aina.
"Tapi kamu sudah menghancurkan hidup gadis itu, Aryan. Mama tau persis bagaimana rasanya kehilangan hal yang paling berharga di diri seorang gadis." ucap Aina.
"Ma, Aryan benar-benar tidak sadar. Aryan janji akan mempertanggung jawabkan perbuatan Aryan. Aryan akan menikahi gadis itu Ma, Aryan tidak akan lari." ungkap Aryan.
Meski sebenarnya Aryan belum siap untuk menikah, tapi dia tidak mungkin lepas tangan begitu saja. Bagaimanapun malam panas itu telah terjadi, Aryan sudah merenggut kehormatan gadis tak berdosa itu.
Aryan tidak ingin menjadi pecundang, dia ingat betul didikan yang ditanamkan Arhan dan Aina selama ini. Laki-laki sejati tidak boleh menghindar setelah melakukan kesalahan.
"Ma, ini bukan salah Aryan sepenuhnya. Aryan juga korban seperti gadis malang itu, Aksa janji akan mencarinya sampai ketemu. Mama harus tenang, pikirkan kesehatan Mama!" timpal Aksa. Dia menarik Aina dari pelukan Aryan dan membawanya duduk di sofa.
...****************...
Tobi : "Bang, gadis itu tidak ada di rumah sakit. Dia dibawa pergi beberapa menit sebelum kami tiba, sepertinya iblis betina itu sudah membaca pergerakan kita."
Baron : "Lalu bagaimana?"
Tobi : "Kami baru saja mendapat informasi dari pihak rumah sakit, gadis itu bernama Dara. Sayang tidak ada data lengkap selain nama dan tanggal lahirnya."
Baron : "Apa tidak ada petunjuk lain?"
Tobi : "Ini sedang diusahakan, plat mobil yang membawa gadis itu baru saja diketahui. Andi sedang melacak keberadaan mobil itu, nanti kalau ada perkembangan aku hubungi lagi."
Baron : "Baik, jangan pulang sebelum menemukan gadis itu. Bagaimanapun keadaannya, bawa dia ke kediaman Airlangga secepatnya!"
Tobi : "Oke, Bang."
Setelah berbalas pesan dengan Tobi, Baron menyimpan smartphone miliknya dan mengedipkan mata ke arah Aksa.
Aksa mengangguk lemah dan berjalan meninggalkan semua orang.
__ADS_1
"Ada apa Om?" tanya Aksa setelah keduanya menjauh dari ruang tamu.
"Suruh Rai ke sini, Om butuh bantuannya!" ucap Baron.
Tanpa pikir Aksa lekas menghubungi Rai dan memintanya untuk datang ke apartemen sesuai permintaan Baron.
"Kamu di sini saja, biar Om yang mengurus ini dengan Rai. Jangan tinggalkan Aryan sendirian, rasa bersalah itu bisa saja membuatnya berpikir singkat. Kamu harus tetap mengawasinya." jelas Baron.
"Iya Om, Aksa mengerti."
Baron menepuk pundak Aksa lalu meninggalkan unit apartemen tersebut dan memilih menunggu Rai di parkiran.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, Rai muncul tepat di hadapan Baron. Segera pria itu mengambil alih kemudi dan meminta Rai duduk di sebelahnya.
Sepanjang perjalanan Baron meminta Rai melacak plat mobil yang dikirim Tobi tadi. Tidak sulit bagi Rai mengurus hal kecil seperti itu sebab sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Satu jam berselang tibalah mereka di sebuah rumah mewah yang berada di tengah kota. Rasanya tidak mungkin gadis itu berada di rumah itu. Terlalu bodoh jika mereka menyembunyikan gadis itu di sana.
"Sepertinya ini jebakan," ucap Baron sesaat setelah memarkirkan mobil itu di depan gerbang. Tidak ada penjagaan di sana dan suasana rumah terlihat sangat sepi.
"Sebaiknya jangan berhenti di sini Om, lebih baik sedikit menjauh. Aku yakin sebentar lagi pasti ada yang keluar dari gerbang ini, kita bisa mengikuti pergerakan mereka dari belakang." kata Rai.
Setelah cukup lama menunggu, mobil Tobi tiba di sana dan berhenti tepat di belakang mobil yang dikemudikan Baron. Keduanya berkomunikasi melalui aplikasi whatsapp.
Tidak berselang lama, sebuah mobil keluar dari gerbang. Baron mengikuti mobil tersebut dan meminta Tobi untuk tetap stay di sana. Tobi ditugaskan memasuki rumah itu untuk mengobrak-abrik isi di dalamnya, siapa tau gadis itu disembunyikan di sana.
Sesuai perintah Baron, mobil yang dikemudikan Tobi masuk ke gerbang itu. Setelah memarkirkan mobil, Tobi turun diikuti oleh Andi dan Dori. Ketiganya berpencar menjelajahi rumah itu.
"Sepi seperti kuburan, apa ini benar-benar jebakan?" batin Tobi saat menginjak lantai dua rumah itu. Meskipun begitu dia tetap berhati-hati dan siaga dengan sebuah revolver di tangannya. Bisa saja musuh datang di saat dia sedang lengah.
"Aish, tempat apa ini? Tidak seru," keluh Andi. Setelah berkeliling di lantai satu, punggungnya malah berbenturan dengan Dori. "Bug!" Hampir saja baku tembak terjadi, beruntung keduanya cepat menyadari dengan siapa mereka berhadapan.
"Sial, baru saja aku ingin menembak kepalamu." umpat Dori.
"Kenapa tidak kau lakukan?" jawab Andi enteng.
"Hehehe... Aku belum siap kehilangan partner sepertimu." Dori tertawa kecil.
__ADS_1
"Alasan," Andi mencebik dengan senyum mengejek, lalu keduanya melanjutkan pencarian.
"Tidak ada siapa-siapa, ternyata rumah ini kosong." seru Tobi saat menuruni anak tangga.
"Iya, tapi-"
"Aww..."
Tiba-tiba langkah mereka terhenti saat mendengar suara rintihan dari arah sebuah kamar. Kepala ketiganya sontak bergerak ke arah sumber suara.
Dengan langkah pelan Tobi berjalan menuju kamar itu, Andi dan Dori mengikuti dari belakang.
"Braaak!"
Pintu dibuka dengan kasar, seorang wanita nampak terbaring lemah di atas kasur.
Tobi menoleh ke belakang. Andi dan Dori mengangkat bahu bersamaan, lalu ketiganya mendekati ranjang dan menatap wanita itu dengan tatapan sendu.
Tangan dan kakinya terikat, ada bekas pukulan di lengannya. Apa mungkin wanita itu yang semalam bersama Aryan?
"Permisi, apa Anda yang bernama Dara?" tanya Tobi mencari tau.
Wanita itu tidak menyahut, dia malah menangis terisak-isak. Hal itu sontak membuat Tobi kebingungan dengan kening mengkerut. Begitu juga dengan Andi dan Dori.
"Maaf Nona, kami bukan orang jahat. Kami datang untuk membantu Anda, bisakah Anda bicara?" Andi mencoba menenangkan wanita itu sebisanya dan bertanya dengan pelan. Sayang wanita itu masih tak mau bicara dan malah menangis sejadi-jadinya.
"Apa dia bisu?" bisik Dori tepat di telinga Andi.
"Entahlah, aku tidak tau. Biar saja Bang Tobi yang mengurusnya!" jawab Andi.
"Loh, kok aku sih?" Tobi menajamkan tatapan dengan tangan mengepal erat. Dia bukan spesial perempuan, mana mengerti dia cara menenangkan wanita itu.
Sesaat suasana menjadi gaduh karena ketiganya saling melempar tugas. Tidak ada dari mereka yang tau bagaimana cara membujuk wanita.
"Bang Tobi sudah punya pengalaman sebelumnya, beda dengan kami. Ayolah, tenangkan wanita itu!" desak Dori.
Mau tidak mau Tobi pun terpaksa duduk di sisi ranjang. Dia berusaha bicara dengan lembut agar wanita itu tenang dan mau membuka suara.
__ADS_1
Bersambung...