Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 75.


__ADS_3

Setelah Rai berhasil melumpuhkan keenam sampah masyarakat itu, dia kemudian membuka jaket yang melekat di tubuhnya dan membungkus tubuh Avika, lalu menggendongnya meninggalkan gudang itu.


Sesampainya di mobil, Rai mendudukkan Avika di bangku depan. Saat mengaitkan sabuk pengaman, Avika menarik lengannya dan mengalungkan tangan di tengkuk Rai.


"Kak Rai..." de*sah Avika dengan nafas kian memburu. Hembusan nafasnya yang hangat membuat tubuh Rai tiba-tiba meremang.


Rai berusaha menahan diri, ini bukan waktu yang tepat untuk melayani keinginan Avika. Gadis itu dalam kondisi tidak sadar, Rai tidak ingin membuat kesalahan untuk yang kedua kali.


"Sabar ya, kita pulang sekarang." ucap Rai dengan air muka memucat menahan pikiran liar yang berlalu lalang di benaknya.


Jika saja Avika bukan adiknya Aksa, Rai akan melayaninya dengan senang hati tapi itu semua tidak akan pernah dia lakukan. Avika adiknya juga, dia tidak mungkin merusak adiknya sendiri.


Rai meraih tangan Avika yang masih melingkar di tengkuknya, tapi Avika bersitegang menahannya. "Kak, ini panas sekali. Bantu aku membuka pakaian, aku gerah Kak!"


"Nanti ya, tunggu sampai di rumah. Kamu pasti kuat!" Rai menyentak tangan Avika sedikit kasar, kalungan tangan gadis itu pun terlepas dibuatnya.


Segera Rai menjauh dan lekas menutup pintu. Dia mengitari mobil dan duduk di samping Avika lalu menginjak pedal gas. Perlahan mobil itu menghilang dari sana.


Lima menit berselang mobil Aksa tiba di tempat itu, sepertinya mereka berselisih jalan karena tempat yang gelap dan luas. Mungkin jalan yang mereka tempuh berbeda.


Aksa dan Baron turun dari mobil dan masuk ke dalam gudang itu. Mereka saling melirik saat menyadari tempat itu tak berpenghuni. Apa Rai salah mengirim informasi?


Akan tetapi saat keduanya hendak keluar, telinga mereka tak sengaja mendengar rintihan dari dalam sebuah ruangan. Aksa menghentikan langkahnya dan berbalik, lalu mengikuti arah datangnya suara tersebut. Baron pun mengikuti dengan revolver yang sudah siaga di tangannya.


"Braaak!"


Aksa menendang pintu dengan kasar dan tersentak mendapati enam orang pria tanpa pakaian tergeletak bersimbah darah.


"Ternyata benar di sini Om. Apa Rai sudah berhasil menyelamatkan Avika?" tanya Aksa.


"Bisa jadi, hebat juga dia. Satu lawan enam begini masih sanggup." jawab Baron enteng.


"Dia memang bisa diandalkan, simpanan nyawanya sangat banyak. Dia tidak akan mati dengan mudah," balas Aksa.


Keduanya menurunkan revolver yang ada di tangan masing-masing, lalu berjalan menghampiri enam pria itu.


Mata keenam pria itu membulat saat menyadari siapa yang berdiri di depan mereka saat ini.


Ya, siapa yang tidak kenal dengan Baron. Pria itu adalah raja di atas raja yang berkuasa, bajingan di atas bajingan yang menakutkan dan monster di atas para monster yang mengerikan. Tidak ada penjahat yang berani berkutik di depannya.

__ADS_1


"Hahahaha... Enak?" tanya Baron sembari tertawa mengejek.


"Tentu saja enak. Bagaimana, mau ditambah?" jawab Aksa sambil tersenyum licik.


"Tidak Tuan, jangan. Tolong ampuni kami, kami hanya melakukan perintah." jelas salah seorang pria yang sudah sekarat dengan punggung tersandar pada kaki meja.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Aksa mengeratkan rahang.


"Seorang wanita, kami tidak tau namanya. Dia meminta kami menggilir gadis itu, kami minta maaf. Kami benar-benar tidak tau kalau-"


"Dor..."


"Aww..."


Aksa menembak sebelah kaki pria itu tanpa belas kasih sedikitpun.


"Terlambat, tidak ada kata maaf untuk pecundang seperti kalian!" bentak Aksa dengan mata merah menyala.


"Harusnya kalian berpikir dulu sebelum menerima perintah dari wanita ja*lang itu. Kalian tidak tau siapa gadis yang sudah kalian culik?" geram Baron.


"Maaf Tuan, mereka berdua yang menculiknya. Kami tidak tau apa-apa," Seorang pria menunjuk pada dua orang rekannya.


"Sudahlah Om, habisi saja!" ucap Aksa.


"Tidak ada Tuan, kami belum sempat melakukan apa-apa. Pria itu datang disaat kami baru saja ingin melakukannya."


"Dor... Dor... Dor..."


Suara letusan senjata api menggema di ruangan itu.


"Pergilah kalian semua ke neraka!"


Setelah menghabisi semuanya, Aksa dan Baron bergegas meninggalkan gudang itu. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi begitu saja.


Di tempat lain, Rai memarkirkan mobilnya di depan sebuah apotik. Dia lekas turun dan membeli obat penawar, tak lupa pula dia membeli air mineral untuk Avika.


Setelah mendapatkan itu, dia kembali ke mobil dan melajukan nya menuju apartemen yang tak jauh dari sana. Hanya lima menit saja mobil itu sudah tiba di parkiran.


Lalu Rai menggendong Avika seperti karung beras dan membawa gadis itu ke unit miliknya yang ada di lantai lima.

__ADS_1


Setelah melewati lobby dan memasuki lift, sampailah mereka di unit yang dituju. Segera Rai menurunkan Avika di sofa dan membaringkannya perlahan.


"Kak Rai..." Avika menarik baju Rai hingga pria itu terjatuh di atas tubuhnya.


"Vi... Ini tidak benar, kamu harus menahannya. Sekarang minum obat ini dulu ya!" Rai menarik diri dan membuka obat yang dia beli tadi dari bungkusnya, lalu membuka air mineral. "Ayo, buka mulutnya!" Rai menekan sudut bibir Avika dan memasukkan obat itu, lalu menempelkan mulut botol ke bibir gadis itu.


"Glug!"


Avika berhasil menelannya dengan susah payah.


"Pintar, gitu dong. Sabar ya, sebentar lagi panasnya pasti hilang!" Rai mengusap rambut Avika dan mengecup keningnya. Avika pun memeluknya dengan erat.


"Panas Kak, aku-" de*sah Avika tepat di telinga Rai. Pria itu memicingkan mata sejenak dan membukanya lagi setelah beberapa detik. Lagi-lagi keimanan Rai harus diuji melihat gairah Avika yang mampu membuat tubuhnya merinding.


Terpaksa Rai menggendong Avika ke dalam kamar dan membawanya ke kamar mandi. Rai menaruh Avika di dalam bathtub dan menyalakan air dingin. Mungkin dengan berendam bisa membuat panas di tubuh Avika hilang. Hanya itu yang bisa Rai lakukan saat ini. Dia juga tidak tega melihat gadis yang dia cintai menderita terlalu lama.


Setelah hampir satu jam membiarkan tubuh Avika mengapung di dalam air, Rai kemudian mengangkatnya dan melingkarkan handuk di tubuhnya.


"Kak, dingin." gumam Avika sembari mengalungkan tangan di tengkuk Rai.


"Iya, sekarang ganti baju dulu ya. Habis itu tidur biar tubuhnya kembali segar!"


Rai membawa Avika ke luar dan mendudukkannya di sofa. Segera Rai mengambil pakaian di dalam lemari, sebuah baju kaos dan celana pendek. Lumayan dari pada Avika harus mengenakan pakaian basah.


"Ayo, ganti bajunya dulu!" ucap Rai sembari menyodorkan pakaian itu ke tangan Avika, lalu dia segera berbalik membelakangi gadis itu.


Avika kemudian mengenakan pakaian itu dengan cepat. "Sudah Kak," ucapnya.


Rai kembali berbalik dan mengambil pakaian basah Avika lalu menaruhnya di kamar mandi. Setelah itu Rai meninggalkan kamar, dia berjalan menuju dapur dan membuatkan teh hangat lalu membawanya ke kamar.


"Ayo, minum dulu!" ucap Rai sembari menyodorkan cangkir itu ke tangan Avika.


Avika mengambilnya dengan tangan bergetar lalu meneguknya perlahan.


Rai kemudian mengambil handuk kecil di dalam lemari, kemudian mengeringkan rambut Avika agar tidak masuk angin.


Setelah rambut Avika kering dan teh di tangannya tandas, Rai menyuruh Avika berbaring di atas kasur lalu menyelimutinya. "Tidurlah, aku keluar sebentar!"


"Jangan pergi!" Avika menggenggam pergelangan tangan Rai. Dia masih trauma dengan kejadian itu.

__ADS_1


Terpaksa Rai mengurungkan niatnya untuk pergi dan memilih duduk di sisi ranjang sembari mengusap pucuk kepala Avika hingga tertidur. Tak lupa pula Rai menghubungi Aksa dan memberitahu keberadaan mereka.


Bersambung...


__ADS_2