Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 73.


__ADS_3

"Tolong... Tolong aku! Sahabatku dibawa orang-orang yang tidak dikenal. Mereka menculiknya," Tia benar-benar syok hingga berteriak histeris saat tiba di depan. Semua orang menatapnya heran termasuk Rido yang tengah melayani tamu di meja bartender.


Rido mengerutkan kening, dia seperti mengenali Tia sebelumnya. Setelah beberapa detik terdiam, Rido meninggalkan meja bartender dan menghampiri Tia yang tengah menghampiri meja yang diduduki Indah dan tiga pria yang datang bersama mereka.


"Tunggu!" Rido menarik tangan Tia dan membawanya ke tempat yang agak sepi. "Bukankah kamu yang bersama Avika tadi?" tanya Rido.


"Iya, Avika diculik. Dia dibawa oleh dua orang pria berpakaian hitam. Tolong bantu dia, Avika pasti ketakutan." jawab Tia memohon bantuan, sekujur tubuhnya gemetaran mengatakan itu.


Tanpa pikir Rido langsung mengeluarkan iPhone miliknya. Dia menghubungi Aksa dan memberitahukan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


Sembari menunggu Aksa datang, Rido meninggalkan Tia dan masuk ke ruangan monitor untuk memeriksa rekaman CCTV bagian belakang. Setelah mengcopy rekaman tersebut, Rido segera mengirimnya pada Aksa.


Sementara Tia sendiri sudah bergabung dengan Indah dan tiga pria yang duduk di meja itu, dia menceritakan semuanya pada mereka. Tentu saja Indah terkejut mendengar itu, begitu juga dengan ketiga pria yang ada bersamanya.


Di dalam sana, Rido mendapat telepon dari Aksa. Dia meminta Rido menahan siapa saja yang datang bersama adiknya ke klub malam tersebut. Berani sekali mereka mengajak Avika ke tempat seperti itu. Aksa akan memberi pelajaran pada mereka semua.


"Sayang, kita pulang ke rumah sekarang ya. Avika hilang, Kakak harus mencarinya." ucap Aksa. Dia terburu-buru mengenakan pakaian karena sejak tadi dia hanya bertelanjang dada di samping Inara.


"Hilang bagaimana Kak? Apa yang terjadi?" tanya Inara yang ikut-ikutan panik mendengar ucapan Aksa barusan.


"Kakak juga tidak tau kejadian sebenarnya. Kata Rido, Avika diculik di klub malam miliknya." Setelah mengenakan pakaian, Aksa menarik tangan Inara meninggalkan kamar.


"Klub malam? Sejak kapan Kak Avika suka datang ke tempat seperti itu?" tanya Inara penasaran.


"Entahlah, nanti saja kita bahas. Ayo cepat!" Setelah meninggalkan unit, keduanya masuk ke dalam lift. Aksa kemudian menghubungi Rai dan menceritakan semuanya, lalu mengirim salinan CCTV yang dia dapatkan dari Rido tadi.


Sesampainya di bawah, Aksa dengan cepat membuka pintu mobil. Setelah Inara masuk, dia ikut masuk dan melajukan mobil itu menuju kediaman Airlangga.


Di rumah, Rai bergegas menyiapkan alat tempur dan menyelipkannya di beberapa tempat tersembunyi. Dia kemudian meninggalkan rumah tanpa pamit pada siapapun. Dia tidak ingin anggota keluarga Aksa terkejut mendengar itu. Dia sendiri yang akan bergerak dan melacak plat mobil yang membawa Avika.


Sebenarnya Aksa meminta Rai untuk menunggunya, sayang Rai tidak suka menunggu lama apalagi ini menyangkut gadis yang sangat dia cintai. Dia tidak ingin Avika terluka meski hanya sebesar biji bayam. Sebab itulah dia mengambil tindakan sendiri tanpa Aksa.


...****************...

__ADS_1


"Siapa kalian sebenarnya? Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Avika setelah tiba di sebuah gudang tua yang sangat jauh dari pemukiman warga. Tubuh, tangan dan kakinya diikat di sebuah kursi besi sehingga dia tidak bisa bergerak kemana-mana.


"Sabar cantik, jangan terburu-buru seperti itu! Kita tunggu dulu bos kami datang, kamu akan tau apa yang dia inginkan darimu." sahut salah seorang penjahat bayaran itu. Awalnya mereka hanya berdua saja, tidak lama datang lagi empat orang pria berpakaian serba hitam dan memiliki tubuh tinggi besar yang menakutkan.


"Astaga, bos sepertinya sangat tau apa yang kita inginkan. Dia mengirim ikan segar pada kita semua." ucap salah seorang pria yang baru saja tiba di gudang itu. Tatapannya sangat liar seperti harimau jantan yang ingin menerkam mangsanya.


"Jangan kurang ajar kalian, cepat lepaskan aku!" teriak Avika sembari meronta membebaskan diri, sayang ikatan yang mengikat tubuhnya terlalu erat. Avika malah terluka dibuatnya.


"Jangan galak begitu, sabar sedikit! Sebentar lagi kita akan bersenang-senang." ucap pria lainnya dengan tatapan mesum.


"Cih, jangan mimpi kalian. Aku tidak akan sudi melayani bajingan seperti kalian semua, kalian hanyalah sampah masyarakat. Semoga saja kalian cepat ditangkap polisi agar kalian semua insaf dan kembali ke jalan yang benar." umpat Inara dengan amarah yang memuncak hingga ubun-ubun.


"Tap Tap Tap"


Terdengar derap langkah kaki yang berasal dari luar. Semua mata penjahat itu mengarah padanya sembari membungkukkan punggung. Avika pun menatapnya dengan heran.


Ternyata bos yang mereka maksud merupakan seorang wanita. Wanita yang terlihat cukup cantik dengan bekas luka jahitan yang ada di pipi dan dahinya.


"Siapa kau?" tanya Avika penasaran.


"Tidak penting siapa aku, yang jelas kita akan bermain-main sejenak." ucap wanita itu.


Wanita itu mengangkat sebelah tangan sembari menggerakkan telunjuk, salah satu anak buahnya kemudian mendekat sembari membawa sebotol minuman beralkohol dan gelas kosong.


"Tuangkan minuman itu!" titah wanita itu yang dijawab anggukan kepala oleh anak buahnya.


Setelah minuman dituang ke dalam gelas, wanita itu memasukkan sebuah pil dan menunggunya hingga larut. Dia kemudian mendekati Avika dan mencengkram rahang gadis itu.


"Aww... Sakit," rintih Avika.


Wanita itu hanya tersenyum dengan licik. "Sakit ya? Ini belum seberapa sayang, tunggu permainan selanjutnya. Aku akan membuatmu merasakan surga dunia yang sesungguhnya."


Seperti yang pernah dia alami puluhan tahun yang lalu, kejadian itu akan terulang kembali pada Avika. Dia akan membuat Avika mabuk dengan obat perangsang yang sudah dia larutkan di dalam minuman dan menonton permainan ranjang gadis itu bersama enam orang pria yang akan menjadi aktornya.

__ADS_1


Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya kesempatan itu datang juga. Meski tidak bisa membalaskan sakit hatinya pada Aina dan Arhan, setidaknya dia bisa melampiaskannya pada putri mereka. Dia akan tertawa dengan lantang setelah menjadikan gadis itu alat untuk membalaskan dendamnya.


Dulu dia digilir enam orang pria sekaligus tanpa ampun dan sekarang Avika juga akan merasakannya.


"Sini minumannya!" titah wanita itu pada anak buahnya.


Setelah mendapatkan gelas tersebut, wanita itu mencengkram rahang Avika lagi dan memaksanya meneguk minuman itu hingga tandas.


Avika bersusah payah menolaknya tapi tetap saja minuman itu lolos melalui tenggorokannya. Rasanya sangat aneh dan pahit, Avika ingin memuntahkannya tapi mulutnya dibungkam dengan kasar. Matanya sampai berair menahan rasa sakit dan sesak yang menusuk dada, bajunya sampai basah saat mencoba membuangnya.


"Telan, jangan membuatku marah!" Wanita itu semakin mempererat cengkraman nya. Matanya membesar memaksa Avika.


"Cukup, aku tidak mau!" tolak Avika dengan susah payah tapi wanita itu tetap saja menuangkannya ke mulut Avika.


"Telan sampai habis, baru aku akan melepaskan mu!" bentak wanita itu.


"Aaaaakh... Cukup!" ucap Avika dengan mata memerah menahan sesak yang kian menyiksa.


Setelah minuman di gelas itu habis. Wanita itu melepaskan cengkraman tangannya dari rahang Avika. Gadis itu terbatuk dengan tubuh yang mulai berubah aneh.


Setelah beberapa menit, tiba-tiba kepala Avika terasa pusing. Penglihatannya kabur dan tubuhnya terasa panas seperti terbakar di dalam bara api yang tengah menyala.


"Apa yang kau berikan padaku?" lirih Avika dengan suara serak dan mata memerah.


"Hanya obat penambah stamina agar kau kuat melayani enam pria itu sekaligus." jawab wanita itu.


"Kalian, silahkan minum jatah kalian. Aku ingin permainan ini memanas agar kedua orang tuanya tau bagaimana sakitnya putri mereka mengalami hal ini." Wanita itu mengulas senyum lebar.


"Baik bos," Lalu keenam pria itu meneguk minuman mereka yang ternyata juga sudah dicampur dengan obat perangsang.


"Lihatlah Arhan, Aina, sebentar lagi kehancuran kalian berdua akan tiba!" gumam wanita itu dengan tatapan tajam seperti mata elang. Seulas senyum licik kembali terukir di bibirnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2