Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 121.


__ADS_3

Keesokan harinya dokter sudah mengizinkan Aryan pulang ke rumah, dengan catatan dia harus istirahat total selama proses penyembuhan. Sekali tiga hari dia harus datang ke rumah sakit untuk kontrol ulang karena lukanya belum kering betul.


Setelah Aryan menyetujui apa yang dikatakan dokter itu, Dara mulai berkemas mengumpulkan barang-barang suaminya. Mungkin memang sebaiknya Aryan bed rest di rumah, jelas lebih nyaman daripada di rumah sakit.


Satu jam kemudian, tibalah mobil yang mereka tumpangi di depan kediaman Airlangga. Aina ikut membantu Aryan, dia memapahnya ke kamar tanpa bantuan kursi roda. Aryan tidak ingin jadi anak manja, sekarang statusnya sudah menjadi suami orang.


"Kalian berdua istirahat saja, Mama mau mandi sebentar lalu menyiapkan makanan untuk kalian. Ingat, jangan berantem!" kata Aina sesaat setelah membantu Aryan berbaring di tempat tidur dan meluruskan kakinya.


"Iya Ma, makasih ya." angguk Dara dengan senyuman tipis.


"Berantem di ranjang boleh kan, Ma?" seloroh Aryan menghentikan langkah Aina. Tadinya Aina sudah mau keluar tapi langkahnya tertahan mendengar ucapan nyeleneh putranya itu. Sedangkan Dara sendiri tertunduk malu menyembunyikan pipinya yang tiba-tiba memerah seperti saus tomat.


"Mau mati kamu?" Aina memelototi Aryan. "Bergerak saja sulit, pakai acara-"


"Kan ada Dara Ma, Dara pasti bisa mendominasi." potong Aryan seraya mengulum senyum dan mematut wajah istrinya yang kian memerah.


"Astaga Tuhan, mimpi buruk apa ini? Tidak bapak, tidak anak, semuanya sama saja." gerutu Aina menepuk jidat, lalu meninggalkan Aryan dan Dara begitu saja. Lama-lama otaknya bisa mendidih memikirkan tingkah mesum putranya itu. Ternyata benar kata orang, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.


Setelah Aina benar-benar menghilang dari pandangan mereka, Dara lekas menutup pintu dan menguncinya. "Kamu istirahat saja dulu, aku mandi sebentar." ucap Dara dengan pipi yang masih menyisakan tanda merah, dia nampak canggung berduaan dengan suaminya itu.


"Mandinya nanti saja, tolongin aku dulu!" pinta Aryan sembari meringis kesakitan, wajahnya nampak kecut seperti tersiram cuka.


"Kamu kenapa, Aryan?" Dara lantas berhamburan dan duduk di sisi ranjang, mencoba mencari tau penyebab suaminya meringis seperti itu. Saking takutnya, Dara dengan cepat membuka kancing kemeja yang melekat di tubuh Aryan. Pikirnya mungkin bekas luka itu meradang.


Sontak Aryan mengulas senyum nakal dan menarik Dara ke sisinya.


"Sakit sekali..." desis Aryan sembari mendekap erat tubuh Dara, tentu saja Dara semakin panik dibuatnya.


"Aku panggilkan Mama ya," Dara hendak menjauh tapi Aryan dengan sigap menahan pinggangnya.


"Tidak perlu, aku hanya butuh kamu. Kamulah obatnya," gumam Aryan sembari memasukkan tangannya ke baju Dara. Sontak mata Dara membulat merasakan sentuhan tangan Aryan di punggungnya.

__ADS_1


"Aryan jangan!" lirihnya dengan nafas tercekat di tenggorokan. Dara mencoba menghindar tapi dekapan Aryan malah semakin erat.


Sekujur tubuh Dara tiba-tiba gemetaran, dia takut Aryan akan mengasarinya seperti malam itu. Bayangan kelam yang dilakukan Aryan waktu itu mendadak muncul di ingatannya.


"Jangan sakiti aku Aryan, aku mohon!" pinta Dara dengan suara bergetar, air matanya menetes tanpa disengaja.


Mendengar itu, Aryan lantas mematung. Tidak pernah terbersit di pikirannya bahwa kejadian malam itu akan menimbulkan trauma di hati Dara.


"Ma-Maaf..." segera Aryan menjauhkan tangannya dan beranjak dari tempat tidur. Bisa-bisanya dia melakukan ini tanpa memikirkan perasaan Dara. Akan tetapi dia tidak bisa mengelak dari keinginannya yang sudah memuncak, dia menginginkan Dara.


Lalu Aryan memilih masuk ke kamar mandi dan menenangkan dirinya di sana. Tidak mungkin dia memaksakan diri jika Dara belum bisa menerimanya.


Setelah hampir setengah jam, Aryan keluar dengan muka basah selepas mencucinya. Dia kembali berbaring di kasur dan membelakangi Dara yang masih diam di sisi ranjang.


"Aryan..." panggil Dara dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Hmm..." gumam Aryan dengan mata terpejam.


"Aryan, aku-"


"Dengar dulu!" tukas Dara.


"Aku ngantuk, biarkan aku istirahat sejenak!" timpal Aryan. Dia tidak ingin mendengar apa-apa, dia malas berdebat karena dadanya belum cukup kuat untuk bicara banyak. Lagian dia juga sudah tau apa yang ingin dibicarakan Dara.


"Ya sudah, tidur saja kalau begitu." ucap Dara dengan bibir mengerucut.


Setelah Aryan benar-benar tertidur, Dara pun pergi mandi. Setelah itu dia mengenakan dress selutut pembelian Aina lalu turun ke bawah. Dia ingin membantu Aina menyiapkan makan malam.


...****************...


"Siapa kalian, cepat lepaskan aku!" Seketika suara Tasya menggelegar kala seorang pria memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil.

__ADS_1


Pria itu adalah tangan kanan Oberoi. Seorang pria berkewarganegaraan Korea yang baru saja tiba di ibukota.


Ya, pagi tadi sebuah jet pribadi mendarat di tanah air. Beberapa orang pria berpakaian serba hitam turun bergantian, satu diantaranya merupakan seorang pria cacat yang sudah kehilangan kakinya. Pria itu hanya bisa duduk di kursi roda dan dituntun oleh anak buahnya.


Pria cacat itu adalah Oberoi, ketua Onix yang selama ini menjadi musuh bebuyutan Aksa. Dia memiliki darah Indonesia dari garis keturunan ibunya.


Sekitar satu tahun yang lalu dia harus merelakan kakinya diamputasi. Hal itu karena perseteruan Onix dengan Alliance yang sudah mendarah daging sejak dulu kala. Aksa hanya pelengkap yang mampu menghancurkan keangkuhan pria kejam itu.


Setelah berhasil menyeret Tasya, mobil itupun melaju menyusuri jalan raya. Dia dibawa ke sebuah villa yang terletak di pinggiran kota.


"Bug!"


"Aaaaaah..." pekik Tasya saat tubuhnya di dorong kuat sehingga membentur sudut meja. Darah segar pun mengalir di pelipis dahinya.


Seketika pandangan Tasya berubah nanar seperti ada bintang-bintang yang mengitari kepalanya. Disaat itu juga suara tawa seseorang menggelegar memecah gendang telinganya.


"Siapa kau?" tanya Tasya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Wajah pria itu samar-samar terlihat di matanya.


"Apa pentingnya bagimu?" sahut pria itu dengan pertanyaan pula. Dia menyeringai sembari memantik korek api dan menyalakan sebatang rokok. Gempulan asap semakin membuat Tasya kesulitan melihat perawakan pria yang duduk di kursi roda itu.


"Ck... Angkuh sekali gayamu," Tasya mengulas senyum sinis, tatapannya sangat tajam seperti mata elang.


"Aaaaaah..." pekik Tasya saat pria itu menempelkan rokok yang masih menyala di punggung tangannya. Ini benar-benar menyakitkan, air mata wanita iblis itu mengalir begitu saja.


"Cukup, jangan sakiti aku!" pinta Tasya mengiba, suaranya nyaris menghilang dengan tubuh gemetaran.


"Ini belum seberapa, makanya jangan main-main denganku!" ancam pria itu dengan tatapan mematikan. Ingin sekali dia menelan Tasya hidup-hidup agar tak memandang remeh dirinya. Salah jika wanita gila itu berurusan dengannya.


Oberoi bukan orang yang biasa, dia tidak akan membiarkan siapapun menentang dirinya. Apalagi hanya wanita lemah seperti Tasya, dia bisa saja menjadi malaikat maut dan mencabut nyawa Tasya saat ini juga.


Setelah Tasya setuju untuk bekerja sama dengannya tempo hari, Oberoi merasa di atas angin. Dia pikir wanita itu bisa membawanya kepada Aksa tapi ternyata dia salah besar mempercayai wanita sinting itu.

__ADS_1


Gara-gara kejadian waktu itu, beberapa orang anak buahnya harus meregang nyawa di tangan Aksa. Salah satunya adalah orang kepercayaannya.


Oberoi tidak bisa menunggu lagi. Kalaupun dia harus mati, dia akan membawa Aksa bersamanya. Aksa tidak boleh hidup setelah apa yang dia lakukan sebelumnya.


__ADS_2