
"Bug!"
Baru saja Oberoi hendak menyentuh Inara, tubuhnya sudah terpelanting ke tanah. Aksa sendiri terperanjat saat Baron tiba-tiba muncul dari sisi mobil sebelah kiri.
Ya, ternyata sejak sepuluh menit yang lalu Baron sudah berada di samping mobil itu. Dia terpaksa menahan diri mengingat banyaknya anak buah Oberoi yang berdiri di dekat sana. Bukan takut tapi Baron hanya khawatir pada Inara jika dia bertindak gegabah. Beruntung Oberoi menyuruh anak buahnya menjauh, itulah saat yang paling tepat untuk melumpuhkan pria cacat itu.
Mendengar suara benturan yang cukup keras, semua anak buah Oberoi langsung berbalik dan mengarahkan senjata mereka ke sana. Sayangnya mereka semua mati langkah saat Oberoi sudah dikelilingi anak buah Baron, termasuk Tobi yang tengah menginjak kepala musuh bebuyutan Aksa itu.
"Om..." lirih Aksa berderai air mata.
"Sudah, jangan cengeng!" ucap Baron, lalu membuka ikatan tangan dan kaki Aksa. "Bawa Inara ke dalam, di sana ada kamar yang cukup layak untuk kalian berdua. Bersenang-senanglah!" imbuh Baron seraya menepuk pundak Aksa.
Aksa langsung mengangguk tanpa berkata apa-apa, dia tau Inara tengah menderita menahan pengaruh obat yang sudah menjalar hingga ubun-ubun. Dia tidak mungkin membiarkan Inara tersiksa terlalu lama.
Segera Aksa berlari menuju mobil dan menggendong Inara di dadanya, empat orang anak buah Baron menyusul untuk berjaga di luar kamar.
Setelah kepergian Aksa, Baron menghampiri Oberoi dan melayangkan kakinya di pinggang pria itu. Anak buah Oberoi langsung bergerak, tapi lagi-lagi langkah mereka terhenti melihat Tobi menginjak kepala bos mereka itu.
"Buang senjata kalian!" titah Baron dengan tatapan malaikat maut. Dia siap mencabut nyawa Oberoi jika salah satu anak buahnya berani mendekat.
Mau tidak mau, anak buah Oberoi terpaksa membuang senjata mereka. Anak buah Baron yang lain lekas memungut revolver itu dan memeriksa tubuh mereka satu persatu untuk memastikan tidak ada lagi senjata yang mereka simpan.
"Aman Bang," seru salah satu anak buah Baron.
"Bagus, lumpuhkan mereka semua!" perintah Baron.
"Siap Bang," seru yang lainnya bersamaan.
__ADS_1
Tak ingin terlihat seperti pecundang, beberapa anak buah Baron memilih menghadapi mereka dengan tangan kosong. Sementara yang lainnya memantau dengan senjata yang sudah siaga di tangan masing-masing. Jelas Oberoi kalah jumlah dengan pasukan Baron. Baku hantam pun tak bisa dielakkan.
"Tobi, kau atau aku yang menyelesaikan pria cacat ini." tanya Baron, dia berjongkok di dekat kepala Oberoi yang masih mencium tanah.
"Bajingan, lepaskan aku!" bentak Oberoi dengan mata memerah, sayang dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Apa? Aku tidak dengar," tanya Baron mendekatkan telinganya.
"Aku bilang lepaskan aku!" hardik Oberoi.
"Bug!"
Tanpa pikir Baron pun memukul kepala Oberoi dengan ujung revolver yang ada di tangannya.
"Jangan pikir aku akan mengampuni mu dengan mudah! Kau lupa bagaimana putraku memohon tadi? Apa kau mendengarnya? Apa kau mengasihaninya? Kau bahkan tega ingin merusak putriku. Apa kau pikir aku akan melepaskan mu begitu saja?" sergah Baron dengan berbagai macam pertanyaan.
"Bug!"
"Arghhh..."
"Tidak, tidak, belum saatnya." ucap Baron menggelengkan kepala, lalu melepaskan tangannya dari leher Oberoi. Dia tidak akan membiarkan pria itu mati semudah ini.
"Bagaimana? Apa kalian mengalami kesulitan?" tanya Baron mengalihkan perhatian pada pergulatan yang masih berlangsung antara anak buahnya dengan anak buah Oberoi.
"Tidak Bang, ini mah kecil." sahut salah seorang anak buah Baron enteng.
Satu persatu anak buah Oberoi mulai tumbang tanpa sanggup lagi untuk berdiri. Maka mereka yang kalah langsung dihadiahkan timah panas.
__ADS_1
Setelah semua anak buah Oberoi berakhir, Baron meminta Tobi tetap tinggal menjaga Aksa dan Inara kemudian mengajak sebagian anak buahnya untuk ikut bersamanya. Dia ingin membawa Oberoi untuk dijadikan santapan buaya.
Lima menit setelah dua mobil itu menghilang, Tobi masuk ke dalam gedung menyusul Aksa dan Inara yang sudah lebih dulu berada di sebuah kamar.
Di sana Inara sudah kehilangan kewarasan dan mengukung Aksa di bawah kendalinya. Meski dalam keadaan terluka, Aksa sangat menikmati permainan istrinya. Inara sangat agresif di bawah pengaruh obat jahanam itu.
"Pelan-pelan sayang, nanti dedek bayinya kaget." ucap Aksa mengukir senyum. Inara sangat bersemangat naik turun di atas perutnya. Tubuh Inara berdiri tegak seraya memutar pinggulnya, itu membuat Aksa benar-benar mabuk kepayang. Rasanya sangat nikmat menjalar hingga ubun-ubun.
Lalu Inara menjatuhkan tubuhnya, dia memainkan ujung dada Aksa dengan lidahnya dan sesekali menggigitnya. Suara lenguhan Aksa bergema memenuhi kamar itu.
Puas menguasai Aksa sepenuhnya, Inara turun dan merangkak di atas sofa. Kedua lututnya bertumpu pada sisi sofa dan tangannya berpegang pada kepala sofa. Aksa lekas bangkit dan berdiri di belakang Inara yang memunggunginya.
"Aaugh..." de*sah Inara saat Aksa memasuki dirinya. Pelan-pelan Aksa menggerakkan pinggulnya sambil memegang pinggang ramping Inara. Wanita itu tak hentinya men*desah sambil meremas kepala sofa.
"Yahh... Ohh... Aaugh..." racau Inara menikmati rasa yang entah. Tubuhnya menggeliat dengan kaki gemetaran.
Tidak lama setelah itu, keduanya berbagi sofa sempit itu dengan posisi miring. Aksa menumpukan sikunya pada sofa dan mengangkat sebelah paha Inara lalu menahannya.
Kembali Aksa memasuki Inara yang tengah mengalungkan sebelah tangannya di tengkuk Aksa. Sembari pinggul Aksa bergerak di bawah sana, bibir mereka ikut menyatu dan saling mengesap sambil sesekali membelit lidah.
"Aaugh... Yahh..." de*sah Inara mematut Aksa dengan tatapan tak biasa. Sudah dua kali dia mendapat pelepasan tapi raganya masih kuat untuk bermain. Mungkin karena pengaruh obat yang terlalu kuat.
Semakin cepat Aksa menyerang intinya, semakin rapat pula alunan de*sahan Inara. Dan itu terdengar jelas sampai ke telinga Tobi yang menunggu di luar sana.
"Astaga Tuhan, apa-apaan ini?" batin Tobi mengusap wajah. Dahinya tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin. "Hei, kalian tunggu di depan saja!" titah Tobi pada anak buahnya. Dia tidak ingin mereka semua ikut mendengar hal sensitif seperti itu.
Setelah para pria bertubuh tinggi besar itu meninggalkan ruangan, Tobi pun ikut menjauh. Otaknya bisa pecah jika kelamaan mendengar jerit kenikmatan dua anak manusia itu. Secara, dia baru saja mendapatkan itu kembali setelah bertahun-tahun lamanya berpuasa. Seketika, rasanya dia ingin pulang saja dan lekas mengukung istri kecilnya.
__ADS_1