Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 102.


__ADS_3

"Kamu tidak keberatan kan kalau kita tidur satu kamar?" tanya Aryan saat keduanya sudah tiba di ruangan yang luas itu. Aryan tau Dara agak risih, dari tatapannya terlihat jelas.


Sorot mata Dara nampak kosong, terkadang terlihat seperti orang linglung. Aryan sangat mengerti, dia tidak akan memaksa jika Dara enggan tidur sekamar dengannya.


"Ya sudah, nanti aku tidur di bawah saja. Yang penting kamu nyaman," imbuh Aryan mengulas senyum, lalu membawa Dara ke balkon.


Dara duduk di kursi panjang, pandangannya mengarah pada langit malam yang dihiasi bulan sabit dan dipenuhi bintang-bintang yang berkerlipan.


Sekilas garis bibir Dara melengkung. Dia ingat saat kecil sering duduk di depan gubuk menanti kedatangan kedua orang tuanya. Bulan sabit dan bintang-bintang itulah yang selalu setia menemaninya.


"Cantik kan?" ucap Aryan yang sudah duduk di samping Dara. Dia sebenarnya tidak peduli dengan bintang dan bulan itu, sedari tadi matanya tak lepas memandang kecantikan calon istrinya.


"Iya," angguk Dara.


"Kamu suka?" Aryan mengikis jarak hingga bahu mereka saling bersentuhan.


"Hmm..." gumam Dara. Sedetik kemudian dia menurunkan pandangan dan menoleh ke arah Aryan. Tatapannya nampak sendu dengan mata berkaca. "Kenapa Tuhan tidak adil padaku?" tanyanya pilu.


Sontak Aryan terdiam, hatinya terenyuh mendengar itu. Dipeluknya tubuh Dara yang tiba-tiba bergetar dan didekapnya dengan erat.


"Maafkan aku, akulah yang bersalah atas semua yang sudah terjadi padamu. Seharusnya aku tidak perlu minum malam itu," sesal Aryan menyayangkan apa yang sudah dia lakukan pada Dara.


"Aku tau ini bukan salahmu. Dari kecil aku sudah terjebak dalam permainan wanita itu. Harusnya aku yang minta maaf karena sudah menjeratmu dalam masalah ini. Kamu tidak perlu bertanggung jawab," isak Dara di pelukan Aryan. Tubuhnya semakin gemetaran hingga mengguncang tubuh Aryan.


"Tidak Dara, kamu tidak perlu minta maaf. Mungkin inilah cara Tuhan untuk menyatukan kita berdua, aku sudah mencintaimu sebelum aku tau bahwa kamulah wanita yang aku nodai malam itu. Ini bukan hanya sekedar tanggung jawab, tapi ini sebagai bentuk ketulusanku padamu." Aryan membelai rambut Dara dan mengecup pucuk kepalanya.


"Percaya padaku, aku akan mengganti semua rasa sakit itu dengan kebahagiaan. Aku akan menjagamu dan menyayangimu setulus hati. Tolong lupakan masa-masa kelam itu, kita mulai semuanya dari awal lagi!" imbuh Aryan.


Dara mengusap wajah dan menjauh dari pelukan Aryan. "Dari mana kamu tau bahwa wanita yang kamu nodai malam itu adalah aku? Aku tidak pernah mengatakannya padamu," tanya Dara penasaran. Dia menilik manik mata Aryan dengan intim.


"Entahlah, mungkin karena ada ikatan batin diantara kita berdua." jawab Aryan asal, lalu mengacak rambut Dara.

__ADS_1


"Aryan..." Dara membulatkan mata, tatapannya sangat tajam seperti pisau yang siap mengiris jantung.


"Hehe... Iya, iya," Aryan mencubit pipi Dara gemas, lalu menyelipkan rambut gadis itu ke belakang telinga. "Kamu tidak sadar bahwa anting mu hanya tinggal satu?" imbuh Aryan mengulum senyum.


Seketika Dara melongo, lalu mengangkat tangan dan menyentuh telinganya. "Dimana antingku satu lagi?" gumamnya.


"Ada, aku menemukannya di atas kasur pagi itu. Gara-gara anting itulah aku mengenalimu," ungkap Aryan. Dia tersenyum dan mengecup pipi Dara.


"Aryan..." Dara menajamkan tatapan dan memundurkan badannya.


"Cium doang kok marah sih, lupa kalau aku ini calon suamimu?" goda Aryan dengan seringai nakal di bibirnya.


"Maaf Aryan, kamu jangan salah paham dengan hubungan ini." Dara beringsut hingga bokongnya menjauh beberapa senti. "Aku menerimamu semata-mata karena memikirkan ucapan Mama tadi."


"Maksudnya?" Aryan mengernyit dengan banyaknya tanda tanya yang menempel di otaknya. Dia pikir Dara benar-benar menerimanya dari hati, tapi sepertinya Aryan harus menelan pil pahit setelah ini.


"Kita akan tetap menikah untuk menutup noda itu. Kalau aku hamil, aku akan melahirkan anak itu untukmu. Setelah itu biarkan aku pergi dari hidupmu, aku tidak akan mengambil anak itu." Dara diam sebentar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Tapi jika aku tidak hamil, kamu harus menceraikan aku setelah satu bulan." imbuh Dara.


"Baiklah jika itu maumu," angguk Aryan dengan hati yang terluka. Dia terpaksa mengiyakan itu meski sebenarnya dia tidak sanggup menghadapinya.


Setelah mengatakan itu, Aryan bangkit dari duduknya dan meninggalkan Dara begitu saja. Ingin sekali dia berteriak untuk melepaskan kekecewaan yang terasa amat menyakitkan.


Jika akhirnya akan seperti itu, Aryan berharap Dara tidak hamil benihnya. Dia tidak akan sanggup memisahkan anak itu dengan ibunya dan dia juga tidak akan bisa berpisah dengan mereka.


Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini? Tidak bisakah Aryan memilih keduanya? Kenapa Dara harus memberikan pilihan yang begitu berat untuknya?


"Braaak!"


Dara tergelinjang saat mendengar suara benturan pintu yang sangat keras. Air matanya jatuh tak terbendung. Dia juga tidak ingin seperti ini, tapi apa yang bisa dia lakukan?

__ADS_1


Jika dia tetap bertahan, dia takut wanita gila itu akan menyakiti keluarga Aryan lagi. Dara tidak mau dijadikan umpan untuk menghancurkan Arhan dan anggota keluarganya. Mereka semua terlalu baik untuk disakiti.


Jujur, Dara sebenarnya mulai nyaman berada di rumah itu. Semua orang memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Dara seperti menemukan keluarganya sendiri, merasakan cinta dan perhatian tulus dari seorang ibu, ayah, kakak dan juga adik.


Tapi dia tidak akan bisa menjadi menantu seperti yang diharapkan Aina, dia juga tidak mungkin menjadi istri yang diinginkan Aryan. Wanita sepertinya lebih layak diasingkan dan hidup menyendiri tanpa kasih sayang seperti sebelumnya.


"Aryan, kamu kenapa?" tanya Rai yang tidak sengaja berpapasan dengan Aryan saat hendak memasuki kamar.


Kening Rai mengernyit memperhatikan mata Aryan yang merah padam dan air muka menyedihkan, bahkan pipinya sudah basah dengan air mata.


Tapi kenapa Aryan harus bersedih? Bukankah seharusnya dia bahagia karena Dara sudah mau menerimanya. Apa mereka bertengkar? Secepat ini?


Rai benar-benar bingung mengurai benang kusut yang tiba-tiba melilit di otaknya.


"Jahat, dia itu wanita paling jahat yang pernah aku temui. Dia egois, dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaanku." lirih Aryan berderai air mata.


"Selama ini aku tidak pernah meneteskan air mata hanya karena seorang wanita, aku tidak pernah kecewa jika mereka menolakku. Tapi kenapa kali ini rasanya sangat menyakitkan? Apa ini hukuman atas dosa yang sudah aku lakukan? Aku mencintainya, aku benar-benar mencintainya sebelum aku tau bahwa dia lah gadis itu. Kenapa dia harus menyudutkan aku seperti ini?"


Mendadak tubuh Aryan merosot di lantai, tangisannya pecah memenuhi seisi ruang tengah. Beruntung semua orang sudah naik ke lantai dua dan masuk ke kamar masing-masing, begitu juga dengan Baron dan Inda yang sudah kembali ke paviliun sehingga tidak satupun yang mendengar jeritan hati Aryan yang memilukan.


"Aryan, kamu jangan lemah seperti ini, jangan mudah menyerah! Tunjukkan padanya bahwa kamu laki-laki yang kuat dan bertanggung jawab, jangan bodoh Aryan!"


Rai berjongkok di hadapan Aryan dan mencoba menenangkan calon adik iparnya itu. Rai mengerti, dia sangat paham bagaimana perasaan Aryan saat ini. Sebenarnya masalah mereka berdua tidak jauh berbeda, hanya saja kasus Aryan sedikit rumit karena keduanya sudah melakukan hubungan terlarang itu.


"Sudah, kendalikan dirimu. Ayo, tidur di kamar Kak Rai saja malam ini!" Rai bangkit dari jongkoknya dan membantu Aryan berdiri, lalu membawanya ke kamar.


Setibanya di kamar, Rai menyuruh Aryan membersihkan wajahnya terlebih dahulu. Setidaknya agar Aryan merasa nyaman sebelum masuk ke alam mimpi.


Sesaat setelah Aryan keluar, kini giliran Rai yang masuk untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Lalu dia pun keluar dan berbaring bersebelahan dengan Aryan.


"Mau dipeluk?" seloroh Rai menahan tawa.

__ADS_1


"Ish, apaan sih Kak? Emangnya aku ini Kak Avika?" gerutu Aryan dengan tatapan jengkel, dia pun memiringkan tubuhnya dan memunggungi Rai seenak jidatnya.


Rai hanya tersenyum menatap ke arah Aryan, setidaknya dia merasa lega melihat calon adik iparnya yang sudah lebih baik dari sebelumnya. Lalu dia pun memejamkan mata, sudah waktunya mengendorkan otot-ototnya yang susah kaku dan mengistirahatkan otaknya.


__ADS_2