
Pukul dua siang Avika keluar dari kantor advokat bersama dua orang sahabatnya. Mereka bertiga sudah memberikan proposal penawaran jasa konsultan hukum atau pengacara kepada pihak HRD, mereka juga sudah mengisi formulir pendaftaran sesuai dokumen pribadi yang mereka miliki. Tinggal menunggu panggilan untuk wawancara beberapa hari yang akan datang.
Setelah semua urusannya selesai, Avika berpisah dengan dua sahabatnya yang bernama Indah dan Tia. Karena hari ini sudah tidak ada kegiatan, Avika memutuskan untuk mampir ke Airlangga Grup karena jarak kedua kantor itu sangat dekat. Avika bermaksud ingin memberi surprise pada Arhan dan Aksa.
Tak jauh dari sana Hendru masih berkutat di kantor KUA mengurus surat nikah Aksa dan Inara. Seperti permintaan Aksa tadi pagi, Hendru meminta jasa kilat khusus agar pernikahan itu bisa cepat diselenggarakan. Hendru tidak ingin ketakutan Nayla menjadi nyata, dia juga sangsi melihat kedekatan Aksa dan Inara yang sudah semakin intim.
Setelah semua dokumen diserahkan, Hendru meninggalkan kantor itu dan kembali ke perusahaan.
Selang sepuluh menit, mobil yang dikendarai Hendru dan Avika masuk beriringan ke parkiran Airlangga Grup. Bapak dan anak itu bertemu muka saat baru turun dari mobil.
"Siang Ayah," sapa Avika. Dia berhamburan ke pelukan Hendru.
"Siang sayang, dari mana? Tumben mampir?" tanya Hendru mengerutkan kening. Tidak biasanya Avika ke kantor, apalagi siang-siang seperti ini.
"Dari kantor advokat Yah, kan dekat makanya mampir." jawab Avika enteng.
Sambil mengobrol, Avika melingkarkan tangan di lengan Hendru. Keduanya melangkah masuk dan langsung menuju lift.
"Ayah dari mana? Ini sudah lewat jam makan siang loh. Jangan bilang Ayah baru saja keluyuran, nanti Avika adukan sama Bunda ya!" ucap Avika saat keduanya sudah berada di dalam lift.
"Apaan sih sayang, siapa yang keluyuran? Ingat, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan! Ayah baru saja dari kantor KUA, ngurusin surat nikah buat Kak Aksa," jawab Hendru.
"Hah?" Avika melotot kan mata seakan tak percaya. "Ayah jangan bercanda dong! Masa' Kak Aksa mau nikah? Nikah sama siapa? Wanita mana yang mau sama pria kaku seperti itu?" cerca Avika dengan serangkaian pertanyaan.
Saat pintu lift terbuka, keduanya langsung berjalan menuju ruangan Arhan.
"Hehe... Penasaran ya?" seloroh Hendru sembari tertawa kecil.
"Ayah... Kasih tau dong! Masa' Avika tidak boleh tau? Avika kan adiknya Kak Aksa," Avika mengerucutkan bibir.
"Sama-" Ucapan Hendru terpotong saat keduanya berpapasan dengan Rai yang baru saja keluar dari ruangan Arhan.
"Siang Om, siang... Avika." sapa Rai. Dia terlihat sedikit canggung saat menangkap keberadaan gadis itu.
"Siang Rai, sudah selesai?" sahut Hendru.
"Sudah Om, aku pamit ke bawah dulu." Tanpa banyak bicara Rai langsung berjalan menuju lift. "Astaga..." Rai menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar, lalu masuk ke dalam lift terburu-buru.
Bayangkan jika seseorang tengah melihat penampakan hantu, begitu pula gemetarnya kaki Rai ketika melihat kedatangan Avika.
"Papa..." sorak Avika sesaat setelah menginjakkan kaki di ruangan Arhan.
__ADS_1
Arhan terperanjat dan mendongak saat mendengar suara manja putri semata wayangnya itu. "Avika?"
Avika langsung berhamburan menghampiri Arhan dan memeluknya dari belakang.
"Ada angin apa nih? Tumben ke kantor?" tanya Arhan sembari menoleh ke belakang.
"Papa sama Ayah sama saja ya, pertanyaannya itu mulu." Avika menggembungkan pipi dan melipat tangan di dada.
"Hahaha... Kok jadi ngambek gitu sih? Papa kan cuma nanya," Arhan tertawa dan mencubit pipi Avika.
"Mampir salah gak mampir apalagi," oceh Avika.
"Tidak ada yang salah, Papa senang kok kamu mampir. Sudah, jangan cemberut begitu, jelek tau." goda Arhan, lalu mengecup pipi Avika.
Di tengah keasikan keduanya, Hendru menyusul masuk dan duduk di sofa sembari menyilangkan kaki.
"Bagaimana?" tanya Arhan sembari menyipitkan mata.
"Beres, kata petugas besok atau lusa mereka berdua sudah bisa dinikahkan." jawab Hendru. Dia merentangkan tangan dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Baguslah, makin cepat makin baik." Arhan menghela nafas lega.
"Sayang, kemari lah, sini duduk dekat Ayah!" panggil Hendru sambil mengangkat tangan di udara.
Avika melepaskan kalungan tangannya dari leher Arhan lalu berjalan menghampiri Hendru. Setelah Avika duduk, Hendru melingkarkan sebelah tangan di pundak gadis itu. Avika pun merebahkan kepala di belahan ketiak Hendru.
"Yah, ayo bicara! Jangan bikin Avika penasaran bisa gak sih Yah!" desak Avika dengan air muka cemberut.
"Iya sayang, ini Ayah mau bicara." Hendru mengulas senyum dan mengacak rambut Avika. "Jadi sebenarnya Kak Aksa itu mau menikah sama adik kamu, Inara." ungkap Hendru.
"Apa?" Avika terperanjat dan menjauh dari ketiak Hendru. Dia sama sekali tidak menyangka, bagaimana mungkin Inara bisa menikah dengan Aksa. Bukankah mereka semua bersaudara. "Ayah jangan bercanda dong, ini gak lucu." Avika menilik manik mata Hendru dengan intens.
"Siapa yang bercanda? Siapa juga yang bilang lucu?" Hendru hanya tersenyum menanggapinya.
"Sayang, yang dikatakan Ayah itu benar. Kak Aksa sama Inara memang mau menikah. Mau diapain lagi?" timpal Arhan.
"Tapi kenapa Pa, Yah? Bukankah kami berlima bersaudara? Harusnya hubungan kami hanya sebatas kakak adik saja kan?" Avika masih penasaran dan belum bisa menerima kenyataan itu sepenuhnya.
"Benar, kalian berlima memang bersaudara tapi antara Kak Aksa dan Inara tidak ada hubungan darah. Jadi pernikahan ini boleh dilakukan." jelas Arhan.
"Kalian menjodohkan mereka?" Avika menautkan alis.
__ADS_1
"Tidak, ini murni keinginan mereka berdua. Mereka saling mencintai," selang Hendru.
"Astaga, kok Avika jadi kudet begini sih? Awas saja Kak Aksa, pengen Avika jitak kepalanya itu." Avika mendengus kesal, lalu bangkit dari duduknya. "Avika pergi dulu," imbuh gadis itu, lalu berjalan menuju pintu.
"Kamu mau kemana sayang?" sorak Arhan.
"Mau ke bawah, Avika mau bikin perhitungan sama Kak Aksa. Dulu sok-sokan membenci Inara, sekarang malah jatuh cinta." gerutu Avika, lalu meninggalkan ruangan Arhan terburu-buru.
Arhan dan Hendru saling melirik satu sama lain, lalu mengulas senyum di bibir masing-masing.
Sesampainya di lantai bawah, Avika langsung melangkah menuju ruangan Aksa. Saat membuka pintu, Avika menangkap punggung seorang pria yang tengah membelakangi dirinya.
"Plaaak!"
"Bug!"
"Aww..."
Avika memukuli punggung pria itu dengan membabi buta. "Dasar Kakak gak ada akhlak! Dulu mati-matian membenci Inara dan membuatnya menangis sepanjang waktu, sekarang berani bilang cinta." omel Avika. Dia terus menghujani punggung pria itu dengan pukulan mautnya.
Pria yang sudah kewalahan menghadapi serangan Avika itu langsung berbalik. "Apa-apaan ini?"
"Deg!"
Avika menghentikan serangannya, matanya membulat dengan sempurna dan termundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur pintu. "Ma-Maaf, aku pikir kamu Kak Aksa." Avika menunduk, selain merasa bersalah dia juga malu setengah mati karena sudah salah memukuli orang.
Bukannya marah, Rai malah tersenyum dan mengikis jarak diantara mereka. "Jadi aku tidak ada akhlak ya?" Rai mengulum senyum.
"Ti-Tidak, maafkan aku. Aku-"
Rai menumpukan kedua tangannya di sisi lengan Avika, gadis itu gemetaran dan meremas ujung-ujung jarinya. Gugup, takut, malu, semua rasa membaur jadi satu. Avika bahkan tak bisa menghindar karena tubuhnya sudah dikunci oleh Rai.
"Mau aku tunjukkan bagaimana sebenarnya pria yang tidak ada akhlak itu?" goda Rai. Wajahnya semakin merapat hingga jantung Avika berdegup kencang dibuatnya.
"Ja-Jangan!" Avika mendongak dan memberanikan diri menatap manik mata Rai. "Maaf, tadi aku benar-benar tidak sengaja. Bisa tolong lepaskan aku, aku kebelet pipis." pinta Avika dengan air muka memelas.
Rai mengerutkan kening. "Kamu..."
"Aaaaa..." Avika berteriak kencang dan mendorong dada Rai dengan kasar, lalu berlari menuju toilet. Dia tidak bohong, perasaan takut barusan membuat kantong kemihnya menyempit. Rai yang melihat itu hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Bersambung...
__ADS_1