
Pukul sebelas malam, mobil yang dikendarai Rai tiba di depan kediaman Airlangga. Rai sengaja turun lebih dulu setelah mematikan mesin mobil, dia merasakan ada yang aneh dengan dua sejoli itu. Diam mereka memiliki seribu makna yang tidak bisa dipecahkan olehnya.
Inara meraih kenop pintu. Saat hendak turun Aksa menggenggam pergelangan tangannya. "Tolong rahasiakan semua yang Kakak ceritakan tadi dari semua orang, anggap saja ini permintaan Kakak yang terakhir!" Setelah mengatakan itu, Aksa melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Inara turun tanpa sepatah katapun.
Inara langsung berlari setelah menapakkan kakinya di ubin, dia masih syok dan belum bisa menerima kenyataan ini sepenuhnya.
Sementara Aksa sendiri masih bergeming di dalam mobil, otaknya mendadak eror. Anggap saja dia sudah gila setelah melalui semua ini. Ya, dia memang pantas menyandang status gila karena perasaannya yang tak bisa dikendalikan.
Setelah cukup lama terdiam, Aksa memanjat jok dan duduk di bangku kemudi. Dalam hitungan detik, mobil itu menghilang meninggalkan rumah dan melesat menyusuri jalan raya.
Dalam pemikiran yang kacau tak menentu, Aksa melajukan mobil itu dalam kecepatan tinggi. Dia rasanya ingin sekali menabrakkan diri ke truk tronton yang tengah melaju agar besok pagi dia tidak perlu lagi menatap wajah Inara.
"Aahh... Sial," Aksa menginjak pedal rem secara mendadak, mobil itu menabrak trotoar hingga kepala Aksa menyeruduk stir.
"Ciiiit!"
"Braaak!"
"Sakit kan? Makanya jangan sok sokan main api. Kau itu lemah urusan wanita, pakai acara cinta cintaan segala! Makan tuh cinta," Aksa merutuki dirinya sendiri. Rasa sakit di kepalanya tidak sebanding dengan rasa sakit yang ada di hatinya.
Setelah hampir satu jam duduk diam di pinggir jalan, Aksa kembali melajukan mobilnya. Dia memutar stir ke sebuah bar dan berjalan tertatih dengan luka yang masih menganga di keningnya.
"Satu botol minuman yang bisa menghilangkan rasa sakit," ucap Aksa pada seorang bartender yang tengah membelakanginya.
Pria itu berbalik saat menyadari sesuatu yang aneh di telinga, dia seperti mengenali suara Aksa sebelumnya.
Benar saja. Saat manik mata mereka bertemu, keduanya saling memelototi satu sama lain.
"Aksa..."
"Rido..."
Rido berhamburan dari tempatnya berdiri, dia mengitari meja bartender dan keluar dari dalam sana. Keduanya saling berpelukan melepas rindu.
"Astaga Aksa, akhirnya kau pulang juga. Aku sudah lama mencari mu, tapi kata Om Arhan kau masih di luar negeri." ucap Rido sangat antusias.
"Ya, aku baru pulang. Bagaimana kabarmu? Makin tampan saja," seloroh Aksa. Dia menepuk-nepuk pundak Rido, tak percaya bisa bertemu lagi dengan sahabatnya itu setelah tujuh tahun tak bertemu.
"Kau lihat sendiri kan, aku baik dan sangat sehat." sahut Rido sembari menunjukkan tubuhnya yang nampak segar bugar.
__ADS_1
"Syukurlah, aku senang melihatmu seperti ini. Maaf untuk kejadian waktu itu, aku tidak sempat menemui mu. Dua hari setelah insiden itu, aku langsung dikirim ke Seoul." ucap Aksa penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, Om Tobi sudah menceritakan semuanya padaku. Tapi apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau terlihat kusut sekali? Jidatmu juga berdarah," Rido mengerutkan kening.
"Hanya kecelakaan kecil, tidak masalah. Sekarang berikan aku sebotol minuman, kalau bisa temani aku minum! Aku butuh teman," pinta Aksa.
"Baiklah, kau duduk dulu di sana!" Rido menunjuk sofa kosong yang ada di pojok ruangan.
"Hmm..."
Aksa mengayunkan kakinya menuju sofa, sedangkan Rido berjalan mengambilkan minuman untuk mereka berdua. Itung-itung reunian duo pria tampan itu setelah sekian lama tak bertemu.
Tidak lama setelah Aksa duduk, Rido datang dengan dua botol minuman di tangannya. Dia sengaja tidak membawa gelas, mereka akan menenggak minuman itu langsung dari bibir botol.
"Hahahaha..." Tawa keduanya pecah mengingat kenakalan mereka saat duduk di bangku SMP.
"Aku paling benci dengan gadis itu, enak saja dia mengadukan ku pada guru. Itulah sebabnya aku kurung dia di gudang." Aksa tertawa lepas.
"Tapi kau curang, aku yang harus menanggung hukuman gara-gara perbuatanmu." Rido tersenyum kecut.
"Itulah gunanya sahabat, saling membantu dan saling melengkapi. Aku yang makan nangka kau kena getahnya." Lagi-lagi Aksa tertawa sepuasnya, sesaat beban di pundaknya terasa ringan. Apalagi Aksa sudah mulai sempoyongan setelah menghabiskan hampir dua botol minuman.
Waktu terus berlalu, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat pagi.
"Tidak usah, simpan saja uangmu. Ini bar milikku, kali ini aku yang mentraktir mu." tolak Rido yang juga mulai sempoyongan setelah menenggak minuman tersebut.
"Ambillah, traktirannya kapan-kapan saja." Aksa menaruh uang itu di atas meja, lalu berjalan menuju parkiran.
"Ah, pusing sekali." gumam Aksa sesaat setelah duduk di bangku kemudi. Matanya mulai berat tapi Aksa sengaja menahannya. Dia harus segera tiba di rumah sebelum Aina bangun.
Setengah jam kemudian, mobil itu masuk ke dalam gerbang. Aksa memarkirkannya secara asal dan masuk ke dalam rumah dengan penglihatan berkunang-kunang.
"Bruuuk!"
Berkali-kali ambruk, berkali-kali pula Aksa bangkit dan melanjutkan langkahnya.
Saat Aksa keluar dari lift, saat itu pula Inara keluar dari kamar. Gadis itu bermaksud mengambil air ke dapur, tenggorokannya kering setelah mengalami mimpi buruk.
Seketika tatapan keduanya bertemu barang sejenak, tapi Aksa dengan cepat membuang wajahnya. Dia menyeret tangannya di dinding untuk mencapai pintu kamar, dia bersenandung lirih mengungkapkan perasaan di hatinya.
__ADS_1
"Bruuuk!"
Aksa kembali ambruk tepat di depan pintu kamar. Inara yang melihat itu langsung berhamburan menghampirinya.
"Kak Aksa..." Inara berjongkok dan menepuk pipi Aksa, bau alkohol menyeruak mengganggu penciumannya. "Astaga, Kak Aksa mabuk." imbuh Inara.
"Jangan sentuh aku! Kamu itu gadis jahat, kamu penyihir tua. Jelek, keriput dan ompong. Hahahaha..." Aksa bergumam dan tertawa dengan lepas, tapi sudut matanya mengeluarkan sesuatu berbentuk butiran air.
Inara yang tadinya ingin marah, seketika tersenyum mendengar ucapan Aksa yang aneh. Lucu saja menurutnya.
"Dasar bodoh! Katanya mencintaiku, tapi mengejekku seperti itu. Awas saja kalau kamu sudah sadar, aku habisi kamu dengan tanganku sendiri." geram Inara.
"Silahkan, aku rela mati di tanganmu!" Meski matanya sudah terpejam, Aksa masih sempat menjawabnya.
"Baiklah, nanti aku lakukan."
Setelah mengatakan itu, Inara menekan kenop pintu dan mendorongnya. Dia berusaha kuat mengangkat tubuh Aksa dan memapahnya ke dalam kamar.
Sesampainya di sisi ranjang, Inara berputar dan bersiap menjatuhkan Aksa di atas kasur. Namun karena tangan Aksa merangkul pundaknya, tubuhnya ikut terbawa hingga keduanya terhempas bersamaan.
"Aaaaaa..."
Aksa membuka mata dan menyeringai saat menyadari tubuhnya sudah berada di atas tubuh Inara.
"Katanya tidak suka, kenapa sekarang menggodaku?" Aksa tersenyum licik.
"Ti-Tidak, a-aku tidak sengaja terjatuh." Pipi Inara bersemu merah karena panik.
"Mmuach..." Tiba-tiba Aksa mengecup bibir Inara dan melu*matnya dengan lembut, lalu menyelipkan wajahnya diantara telinga dan leher gadis itu.
"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu." lirih Aksa.
Kemudian Aksa menjatuhkan tubuhnya di samping Inara dan memeluknya dengan erat. Seperti tali yang di simpul, susah untuk dilepaskan.
"Kak Aksa, lepasin aku!" pinta Inara memelas.
"Sssttt... Biarkan aku memelukmu sebentar!"
Aksa membelit Inara dengan kakinya, lalu membuka pakaian hingga memperlihatkan dada bidangnya yang terlukis indah.
__ADS_1
Layaknya sebuah guling, Aksa membawa Inara ke dalam dekapan dadanya dan menindih pinggang Inara dengan kakinya.
Bersambung...