
Dari Airlangga Group, Aksa melakukan video call dengan Andi, Dori dan Tobi secara bersamaan. Dia sengaja melakukan obrolan grup agar keadaan di tiga tempat berbeda itu bisa terpantau sekaligus.
Setelah mendapat jawaban bahwa suasana di setiap tempat itu aman dan terkendali, Aksa menghela nafas lega dan mematikan obrolan grup itu secara sepihak. Dia bisa kembali bekerja dengan tenang sampai jam kantor usai.
Tapi kini pikiran Aksa lantas tertuju pada Baron. Sudah satu minggu lebih, tapi dia sama sekali tidak tau dimana keberadaan Omnya itu sekarang. Entah apa yang salah sehingga Baron memilih meninggalkan mereka semua tanpa meninggalkan pesan.
Meski tidak memiliki hubungan darah sedikitpun, tapi sosok Baron sudah seperti ayah ketiga buat Aksa setelah Arhan dan Hendru. Dari kecil Baron sudah memanjakannya, dia juga yang mengajari Aksa untuk kuat setelah apa yang terjadi dengan keluarganya.
Jiwa binatang Aksa terbentuk dari didikan keras Baron yang membuatnya bisa jadi seperti sekarang ini. Meskipun begitu, Baron tidak pernah lupa mengajarkan kebaikan kepadanya. Tidak semua masalah harus dihadapi dengan kekerasan, ada kalanya dia harus menghadapi sesuatu dengan kepala dingin.
Tapi kini Aksa harus kehilangan sosok pemberani seperti Baron, pria yang tidak pernah mengeluh dalam hidup.
"Kenapa bengong?" tanya Rai saat mendapati perubahan air muka Aksa. Padahal saat melakukan video call tadi Aksa terlihat begitu bersemangat.
"Aku kepikiran Om Baron. Entah dimana dia sekarang?" lirih Aksa seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, pandangannya tiba-tiba menggelap.
"Jangan terlalu dipikirkan, aku yakin Om Baron tidak akan jauh-jauh dari keluarga Airlangga. Kita akan menemukannya," ucap Rai yang bermaksud menenangkan Aksa. Ini memang membingungkan, tapi Rai sendiri juga tidak tau penyebab kepergian Baron.
Sejenak kedua pria tampan itu terdiam dalam pemikiran masing-masing, tapi tiba-tiba Rai bersorak yang membuat Aksa terperanjat.
"Aku tau..." seru Rai dengan suara lantang memecah gendang telinga. "Ya, aku tau kemana kita harus mencarinya." imbuh Rai.
"Kau ini, bisa pelan tidak? Aku belum tuli," kesal Aksa sambil menggosok-gosok daun telinganya.
"Maaf, maaf, aku terlalu bersemangat." Rai terkekeh, lalu mengatakan apa yang sedang dia pikirkan pada Aksa.
Seketika mata Aksa menyipit, sepertinya yang dikatakan Rai barusan ada benarnya juga. Tidak ada salahnya jika mereka mencobanya terlebih dahulu.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Aksa lantas bangkit dari duduknya. "Ayo, ikut aku!" ajak Aksa sembari memungut iPhone miliknya dan menaruhnya di dalam saku celana, lalu menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
"Astaga, main tinggal saja ini orang." geram Rai membatin, lalu berlari kecil menyusul Aksa.
Baru saja mereka berdua hendak masuk ke dalam lift, Arhan tiba-tiba muncul di hadapan keduanya. Sontak Aksa dan Rai urung memasuki lift.
"Mau kemana kalian?" tanya Arhan mengerutkan kening.
"Ada urusan sebentar, Pa. Papa kenapa ke sini? Ada apa, Pa?" jawab Aksa dengan pertanyaan pula. Dahinya mengernyit menatap sang papa.
"Tidak ada, cuma mau melihat hasil kerja kalian berdua." jawab Arhan santai.
"Oh, semua dokumen sudah Aksa tandatangani. Ada satu yang harus direvisi terlebih dahulu, sepertinya ada beberapa kesalahan ketik. Papa lihat saja di meja Aksa, kami keluar sebentar." jelas Aksa, lalu menekan tombol lift. Sesaat setelah pintu terbuka, Aksa langsung menarik tangan Rai. Nyaris saja jidat adik iparnya itu membentur sudut pintu.
"Kau ini kenapa sih? Untung mataku masih terang, kalau keningku sampai bonyok bagaimana? Apa yang akan aku katakan pada Avika?" ketus Rai menggertakkan gigi.
"Dasar kakak ipar tidak ada akhlak!" umpat Rai dengan air muka masam.
"Kau juga sama, dasar adik ipar tidak tau diri! Sudah jelas aku ini kakak iparmu, panggil kakak kek, abang kek." omel Aksa dengan bibir komat kamit seperti mbah dukun yang tengah membaca mantra.
"Hihihi... Kak Aksa," ledek Rai, lalu menjulurkan lidahnya.
"Tuh kan, memang dasar tidak ada otak." imbuh Aksa tersenyum sinis.
Sesampainya di parkiran, Aksa melemparkan kunci mobil ke wajah Rai. Beruntung Rai dengan sigap menangkapnya, jika tidak bisa saja matanya tercolok benda tajam itu.
Lagi-lagi Rai menggertakkan gigi. Jika tidak memandang Aksa sebagai kakak ipar, sudah dia ajak kakak istrinya itu bergulat di parkiran. Tentu saja Rai yakin bahwa dialah yang akan menang, secara tubuhnya lebih besar dan kemampuannya sedikit di atas Aksa.
__ADS_1
Setelah menekan remote, Rai membuka pintu mobil dan duduk di bangku kemudi, Aksa pun duduk di sampingnya. Kurang dari satu menit mobil itu sudah menghilang meninggalkan gerbang Airlangga Group.
...****************...
"Ayah, aku ingin pulang ke rumah Papa Arhan, aku kangen sama mereka semua. Kenapa kita harus pergi sih, Yah?" ucap Bara sesaat setelah menangkap kedatangan Baron yang sengaja menjemputnya dari sekolah.
Bocah SMP itu memanyunkan bibir, dia tidak senang hidup berjauhan dengan keempat kakaknya dan anggota keluarga Airlangga yang sudah seperti keluarganya sendiri.
Di sana dia dilahirkan dan dibesarkan. Semua orang menyayanginya, sama seperti empat kakaknya yang lain. Tidak ada perbedaan diantara mereka berlima, kasih sayang Arhan, Hendru, Aina dan Nayla sama seperti kasih sayang yang diberikan Baron dan Inda padanya.
Bara bahkan memiliki kamar sendiri di rumah besar itu. Kamar yang sama luas dan mewahnya dengan kamar keempat kakaknya. Semua kebutuhannya dipenuhi oleh Arhan, apapun yang dia minta pasti diwujudkan oleh sang papa.
Tapi kini dia merasa kehilangan, dia kesepian karena tak bisa lagi berkelakar dengan Aryan yang selalu menjahilinya. Dia tidak bisa lagi mengadu pada Avika dan tidak ada lagi yang akan memarahinya seperti yang biasa dilakukan Inara.
"Sudah, sekarang semuanya sudah berubah. Kita hanya tamu di rumah itu, pada akhirnya kita harus tetap meninggalkan rumah itu." ucap Baron dengan tatapan sayu.
Rencananya Baron ingin memindahkan Bara ke sekolah biasa. Menurutnya sekolah sekarang tidak cocok untuk putranya itu. Selain mahal, sekolah itu terlalu elit. Baron tidak yakin dengan kemampuannya.
Selama ini semua kebutuhan Bara ditanggung oleh Arhan, biaya pendidikan dan segala macamnya juga sudah diatur oleh sahabatnya itu. Baron tidak perlu memikirkan apa-apa, bahkan untuk makan mereka juga ditanggung oleh Arhan. Baron hanya tinggal ongkang-ongkang kaki menjaga keluarga Airlangga, dengan begitu uang bulanan tetap mengalir ke rekeningnya.
Sesaat setelah Baron dan Bara duduk di atas sepeda motor, mobil yang dikendarai Rai tiba di depan gerbang sekolah. Rai menatap ke arah gerbang yang tengah ramai dilalui para murid yang baru selesai mengikuti pelajaran, sayang matanya tak bisa menangkap keberadaan Bara.
"Jalan Rai, cepat!" titah Aksa saat matanya tak sengaja menangkap sebuah sepeda motor yang baru saja melaju di hadapan mobilnya. "Itu Om Baron sama Bara," imbuhnya. Saking semangatnya, Aksa tak sadar sudah mencubit paha Rai beberapa kali.
"Aww..." ringis Rai.
"Cepat Rai, jangan sampai kita kehilangan jejak mereka!" desak Aksa dengan pandangan lurus ke depan menilik pergerakan sepeda motor itu.
__ADS_1
"Cepat sih cepat, tapi tidak perlu dicubit juga kali." tukas Rai memutar pandangannya ke arah depan. Segera dia menginjak pedal gas dan melesat pergi mengejar sepeda motor yang dikendarai Baron.