
Keesokan harinya Aksa sudah diizinkan pulang, dokter memintanya untuk istirahat sampai lengannya benar-benar pulih. Tapi bukan Aksa namanya jika dia tidak bisa menentang permintaan dokter itu.
Boro-boro istirahat, dia rasanya ingin sekali mencari tempat persembunyian Tasya dan melenyapkan wanita iblis itu dengan tangannya sendiri.
"Sudah Kak, ayo pulang!" desis Inara saat Aksa masih berdebat dengan dokter yang menanganinya. Ingin sekali Inara menjitak kepala suaminya itu agar tak lagi bicara seenaknya.
Lalu Inara berpamitan dengan Aina dan Nayla yang masih menunggui Dara di ruangannya, sementara di ruangan Aryan ada Airlangga dan Leona yang menunda keberangkatan mereka ke Seoul. Sepasang suami istri itu tidak sanggup meninggalkan anak dan cucu mereka disaat-saat seperti ini, apalagi Aryan yang belum juga sadarkan diri.
Setelah berpamitan, Aksa, Inara, Rai dan Avika pulang ke kediaman Airlangga, tidak dengan Tobi, Andi dan Dori yang ditugaskan menjaga dua pintu ruangan itu agar tak seorangpun bisa masuk kecuali keluarga, dokter dan para suster. Semua sudah diatur Arhan sejak malam tadi.
Setibanya di rumah, dua pasang suami istri itu masuk ke kamar masing-masing.
Aksa memilih berbaring di atas ranjang tanpa membersihkan diri terlebih dahulu, dia ingin istirahat karena semalaman matanya enggan terpejam di atas brankar yang terlalu keras menurutnya. Tubuhnya terasa sakit karena tak bisa leluasa memanfaatkan tempat tidur yang sempit itu, apalagi ada Inara yang tidur di dalam dekapannya.
Sementara Aksa tengah tertidur lelap, Inara memilih ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Sudah lama sekali dia tidak memasak dan ingin memanjakan lidah suaminya sesekali.
Sekilas dia teringat saat-saat bersama di kota Bukittinggi tempo hari, apalagi ketika teringat sosok Akbar yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali.
Inara sampai senyum-senyum sendiri mengenang kelakuan menjengkelkan pria yang kini sudah menjadi miliknya itu. Bisa-bisanya Inara terkecoh dan tidak menyadari siapa Aksa dan siapa Akbar sebenarnya, satu nyawa yang menjelma menjadi dua sosok pria yang memiliki sikap dan penampilan yang berbeda.
Di atas sana, Avika dan Rai baru saja selesai membersihkan diri secara bergantian. Setelah Avika mengenakan pakaian dan menguncir rambut, dia berjalan menuju pintu tapi langkahnya segera ditahan oleh Rai.
Rai memeluk Avika dari belakang dan mengecup pundak gadis itu dengan lembut, deru nafasnya seketika memburu saat tangannya mulai bergerak menyentuh gundukan kenyal milik istrinya itu.
"Rai... Apa yang kamu lakukan?" de*sah Avika dengan suara yang nyaris tak terdengar. Kelakuan suaminya itu membuat sekujur tubuhnya merinding, baru kali ini Rai menyentuhnya di tempat sensitif seperti itu. Ini mengagetkan buat Avika, detak jantungnya tiba-tiba berdegup tak menentu.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh melakukannya?" tanya Rai dengan suara yang tiba-tiba terdengar serak, jelas dia tengah menahan sesuatu yang sedang bergejolak di dirinya.
__ADS_1
"Tidak, bukan begitu. Ini masih siang Rai, jangan sekarang ya!" jelas Avika agar Rai tidak salah paham dengan ucapannya.
"Apa salahnya, sayang? Bukankah kita berdua sudah resmi menjadi suami istri? Kapan saja boleh kan?" desis Rai. Dia melepaskan tangannya dari gundukan kenyal itu lalu melangkah maju dan berdiri di hadapan Avika.
Gadis itu mengerjap saat menyadari tatapan Rai yang berbeda. Pipinya memerah dengan telapak tangan yang tiba-tiba basah mengandung keringat dingin.
"Rai... Mmphh..."
Belum sempat Avika berkata-kata, Rai sudah menarik tengkuknya dan melahap bibirnya dengan membabi buta. Avika benar-benar kewalahan sehingga mau tidak mau dia terpaksa memasrahkan diri.
Avika mengalungkan tangan di tengkuk Rai dan melu*mat bibir Rai sesuai ritme yang dimainkan suaminya itu. Tanpa disadari, tiba-tiba keduanya sudah terjatuh di atas kasur dengan posisi Avika yang berada di atas tubuh Rai.
Rai mengulas senyum nakal sembari menahan pinggang Avika agar tidak menjauh darinya, sementara Avika nampak malu-malu dan menggigit bibir.
"Maunya di atas ya?" seloroh Rai dengan nafas tersengal. Belum apa-apa saja dia sudah membayangkan bagaimana liarnya Avika saat berayun di atas kedua pahanya.
"Astaga sayang, kenapa masih malu begini sih? Aku suami kamu loh, apa yang salah dengan ini?" Rai mengerutkan kening, tak percaya bahwa Avika masih saja menatapnya seperti orang asing.
Lalu Rai melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Avika. "Pergilah!" ucapnya dingin, lalu mendorong Avika ke sisinya dan menjauh sembari merapikan pakaiannya. Dia kemudian membuka pintu dan melenggang menuju lantai bawah.
"Kok marah sih? Aku bukannya tidak mau, tapi tunggu malam bisa gak sih?" kesal Avika dengan bibir mengerucut. Siapa bilang dia tidak mau, dia juga ingin merasakan bagaimana jadi istri yang sesungguhnya tapi waktu saja yang belum tepat. Masa' Avika harus mandi lagi, sementara perutnya sudah sangat lapar dan keroncongan.
Sesampainya di meja makan, Rai langsung duduk di kursinya. Kebetulan Inara baru saja selesai menyiapkan makan siang untuk orang-orang yang berada di rumah.
"Huh, tumben kamu yang masak?" tanya Rai saat Inara tengah sibuk menata makanan di atas meja.
"Siapa lagi? Mama sama Bunda di rumah sakit, Tante Inda tidak tau kemana." jawab Inara seadanya. Tadi dia sempat mencari Inda ke paviliun tapi tak melihat batang hidungnya.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Rai langsung saja mengisi makanan ke dalam piring. Dia sudah sangat lapar sehingga tidak ada waktu lagi untuk menunggu.
"Mmm... Enak ya punya istri pandai masak seperti kamu ini, sebulan lagi Aksa pasti gemuk kalau disuguhi makanan enak tiap hari." seloroh Rai dengan mulut yang dipenuhi makanan.
Ini kali pertama bagi Rai mencicipi masakan Inara, rasanya sangat enak. Aksa sangat beruntung punya istri seperti Inara, tidak hanya cantik dan pintar tapi juga pandai menyenangkan hati suami.
"Biasa saja, setiap wanita bukankah harus pandai memasak? Istrimu juga bisa kok, masakannya malah lebih enak dariku." jawab Inara menyanjung kakak sekaligus adik iparnya Avika.
"Jadi maksudmu aku ini tidak pandai memasak?" seru Avika yang tiba-tiba muncul di tengah mereka. Reflek air mukanya menjadi keruh dan gelap gulita seperti langit yang hendak menurunkan hujan lebat dan badai petir yang menakutkan.
Seketika Rai tersedak dan membulatkan mata dengan sempurna. Kapan dia mengatakan bahwa Avika tidak pandai memasak? Dia cuma bilang Aksa enak punya istri pandai memasak, lalu salahnya dimana?
"Nah, rasain. Makanya jangan asal ngomong," Inara menahan tawa dan lekas meninggalkan mereka berdua. Dia membawa nampan yang baru saja dia siapkan untuk makan siang Aksa yang tadi masih tidur di kamar.
Setelah Inara menjauh dari pandangannya, Rai dengan cepat meneguk air minum untuk menetralisir kekhawatirannya. Bukan tidak mungkin Avika akan mencincangnya seperti masakan yang tengah dia makan.
"Suami tidak tau diri, bisa-bisanya menyanjung wanita lain di hadapan istrimu sendiri. Tidak punya perasaan," ketus Avika dengan tatapan masam, kemudian memilih duduk sejauh mungkin dari Rai.
Melihat kemarahan di wajah cantik istrinya, air muka Rai tiba-tiba mengecut. Padahal tidak pernah terpikir di benaknya untuk membanding-bandingkan Avika dengan Inara. Istrinya saja yang salah menafsirkan sesuatu.
"Aku tidak pernah berkata seperti yang kamu tuduhkan barusan, yang aku bilang Aksa enak punya istri pandai masak. Jika hal itu menurutmu salah, aku minta maaf."
Setelah mengatakan itu, Rai langsung bangkit dari duduknya. Selera makannya mendadak hilang dan memilih masuk ke kamar yang biasa dia tempati.
Entah siapa yang salah, tapi sepertinya sampai detik ini Avika belum bisa menyesuaikan diri dengannya. Lebih baik Rai menghindar, dia tidak ingin berdebat dan merusak pernikahan yang baru seumur jagung itu.
Baru dua hari menikah sudah dihadapkan dengan pertengkaran kecil yang datang tanpa diduga. Sulit bagi Rai menempatkan diri jika selalu disalahkan seperti ini, apalagi selama yang dia tau Avika adalah tipikal wanita keras kepala.
__ADS_1