Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 117.


__ADS_3

Pagi hari semua anggota keluarga kembali ke aktivitas masing-masing. Arhan dan Hendru sudah berangkat ke perusahaan, begitu juga dengan Aksa dan Rai yang langsung menuju kantor setelah mengantarkan istri mereka ke kampus dan ke kantor.


Andi mendapat tugas menjaga Inara, dia menunggu di gerbang kampus sementara Dori ditugaskan menjaga Avika dan menunggunya di parkiran kantor advokat. Sedangkan Tobi sendiri telah kembali ke rumah sakit menunggui Aryan, Dara, Aina dan juga Nayla.


Sejak kejadian naas yang hampir merenggut nyawa Aryan itu, penjagaan semakin diperketat oleh Arhan. Dia tidak ingin kejadian buruk menimpa keluarganya lagi, sudah cukup Tasya membuat masalah dan kini Arhan tidak akan pernah mengampuninya.


Satu satunya cara agar keluarganya aman adalah menemukan Tasya dan melenyapkannya. Tidak ada ampun untuk wanita iblis sepertinya, entah sudah berapa banyak orang-orang yang tidak berdosa menjadi korban dari kebiadabannya.


Arhan juga tak lupa membayar beberapa orang detektif profesional untuk mencari keberadaan Baron, Inda dan Bara. Dia sangat kesal karena Baron pergi tanpa mengatakan apa-apa. Jika bertemu, dia ingin menembak kaki sahabatnya itu dengan timah panas agar tak bisa kabur lagi darinya. Bisa-bisanya Baron meninggalkan mereka semua disaat genting seperti ini, dimana otaknya?


Sedangkan untuk urusan Onix sudah ditangani oleh Aksa dan Rai, kebetulan dua hari yang lalu Aksa baru saja menghubungi beberapa mantan kaki tangannya dari Allince. Mereka bersedia membantu dan mulai melakukan penyerangan di beberapa titik dan markas Onix yang berada di kota Seoul. Untuk memancing Oberoi keluar, Aksa harus menghabisi anak buahnya terlebih dahulu.


...****************...


"Permisi," seorang suster memasuki ruangan sembari mendorong sebuah troli makanan. Setelah meletakkannya di samping brankar, suster itu dengan cekatan memeriksa keadaan Aryan dan mengganti infus yang baru saja habis. Setelah tugasnya selesai, suster itu lekas undur diri dari hadapan semua orang.


"Makanannya sudah tiba, aku suapi ya?" tawar Dara yang masih enggan meninggalkan rumah sakit, dia sudah bertekad akan menjaga Aryan sampai sembuh dan kembali pulang ke rumah.


"Hmm..." angguk Aryan dengan posisi setengah duduk, punggungnya tersandar di kepala brankar yang sudah dilapisi bantal.


Lalu Dara mengambil mangkok yang ada di atas troli dan menyuapi bubur itu pada Aryan, Aryan memakannya tanpa protes meski sebenarnya dia tidak suka dengan makanan itu. Rasanya terlalu hambar, tapi Aryan harus menelannya demi Dara. Dia ingin segera sembuh agar bisa pulang secepatnya, rumah sakit sangat membosankan baginya.

__ADS_1


Setelah bubur itu habis, Dara memberikan segelas air putih pada Aryan lalu menyodorkan beberapa butir obat yang sudah disiapkan suster tadi. Aryan menelannya dalam satu kali tegukan.


"Makasih, rasanya enak sekali." seloroh Aryan seraya mengukir senyum. Padahal dia tidak merasakan apa-apa, rasanya seperti air mineral biasa.


"Hehe... Dasar pembohong, mana ada rasanya enak? Aku sudah seminggu makan bubur seperti ini, rasanya sangat tidak enak." ungkap Dara dengan tatapan tak biasa. Bisa-bisanya Aryan berbohong untuk menyenangkan hatinya.


"Hihi... Rasanya tiba-tiba manis saat makannya sambil melihat wajah kamu." ucap Aryan terkekeh.


"Itu mah bisa-bisanya kamu saja, dasar tukang gombal!" Dara membuang pandangannya dan lekas membereskan troli, lalu mendorongnya ke sudut ruangan.


Tidak lama, Tobi muncul dari balik pintu. Dia membawa empat box makanan yang baru saja dia ambil dari tangan kurir. Tadi Aina sengaja memesan makanan untuk mereka berempat, mereka juga butuh tenaga untuk menjaga Aryan.


Setelah memberikan kantong itu kepada Aina, Tobi mengambil satu box untuknya dan kembali meninggalkan ruangan. Dia memilih mengisi perut di kursi tunggu sembari memperhatikan keadaan di sekelilingnya, tidak seorangpun yang bisa mendekat ke pintu ruangan Aryan selain keluarga, dokter dan suster yang mereka kenal.


Semua aib masa lalu Aryan dibongkar oleh Aina dan Nayla, Aryan yang mendengar itu hanya bisa mengurut dada.


Tidak apa-apa, bagaimanapun Dara adalah istrinya. Tidak ada salahnya jika Dara tau tentang kebobrokannya di waktu kecil, lagian ada lucunya juga. Aryan sampai senyum-senyum sendiri mematut wajah Dara yang tengah tersenyum bahagia. Baru kali ini Dara memperlihatkan senyumannya yang begitu lepas, hati Aryan tiba-tiba mencelos dibuatnya.


Puas bercengkrama, Aina dan Nayla meninggalkan ruangan dan memilih duduk bersama Tobi di luar. Dua ibu itu sengaja memberi ruang agar Dara semakin leluasa menyesuaikan diri dengan Aryan.


"Mau tidur?" tanya Dara yang kini sudah kembali menghampiri Aryan. Dia berdiri di sisi kanan brankar sembari menarik kursi yang hendak dia duduki.

__ADS_1


"Iya, tolong dong! Bantalnya ketinggian," jawab Aryan yang sudah lelah duduk sedari tadi.


Sesuai permintaan Aryan, Dara pun membantunya berbaring dan merebahkan bantal yang tadi ditegakkan. Saat Dara mengangkat kepala Aryan, otomatis dadanya bertemu dengan wajah suaminya itu. Pria itu mendadak gelagapan dengan tatapan yang berubah aneh, pipinya memerah dengan jantung berdetak kencang.


Tanpa aba-aba, Aryan lekas mendekap punggung Dara. Sontak wajahnya menempel di dada istrinya itu. Dara terkejut, matanya terbelalak dengan perasaan yang tidak menentu.


"Aryan jangan, lepas ya!" gumam Dara dengan nafas tercekat di tenggorokan, rasanya benar-benar aneh. Dia berusaha mendorong bahu Aryan tapi pelukan itu malah semakin erat membelit tubuhnya.


"Biarkan seperti ini, biarkan aku merasakan kehangatan tubuh istriku. Aku ingin tidur seperti ini," pinta Aryan sembari menggesekkan hidupnya di dada Dara. Wanita itu kehilangan akal dengan pipi bersemu merah, dia tidak tau bagaimana caranya menghentikan Aryan.


"Aryan, ini rumah sakit. Nanti kalau Mama sama Bunda masuk gimana? Malu Aryan, ini tidak benar." lirih Dara sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia benar-benar bingung menghadapi sikap Aryan yang mendadak manja seperti anak kecil yang ingin disayang.


"Kenapa harus malu? Kamu kan istriku?" Aryan mengerutkan kening. "Ayo, berbaringlah di sampingku!" imbuh Aryan menarik pinggang kecil Dara, kaki wanita itu nampak mengambang dari dasar lantai.


Mau tidak mau Dara terpaksa mengangguk, apa lagi yang bisa dia buat?


Lalu dia naik ke brankar berbagi tempat tidur kecil itu, Aryan memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di dada Dara. Perlahan matanya terpejam menikmati aroma dan kehangatan tubuh istrinya itu.


Tidak butuh waktu lama bagi Aryan untuk tertidur, beberapa menit saja dia sudah masuk ke alam mimpinya.


Tidak lama, Dara juga menyusul. Matanya berangsur terpejam dengan tangan melingkar erat di kepala Aryan.

__ADS_1


Aina dan Nayla yang tadinya hendak masuk, tiba-tiba mengurungkan niat mereka setelah melihat pemandangan itu dari balik pintu yang terbuka sedikit. Seringai tipis melengkung di sudut bibir keduanya, Aina merapatkan pintu itu dan kembali duduk bersama Tobi.


__ADS_2