
"Kak, bangun!" lirih Inara yang tengah duduk di kursi, tepat di samping brankar yang ditiduri Aksa saat ini. Dia menggenggam tangan Aksa dengan erat dan mengecupnya berulang kali. Sorot matanya nampak sayu mematut wajah suaminya yang masih tertidur lelap.
Perlahan mata Aksa mulai terbuka, dia mengulas senyum saat menangkap keberadaan Inara dan balas menggenggam tangan istrinya. "Hehe... Kakak tidak apa-apa sayang, kenapa wajahnya jadi sedih gitu? Jelek tau,"
Bukannya senang melihat Aksa yang sudah bangun, Inara malah meneteskan air mata dengan bibir mengerucut.
"Sudah, Kakak tidak apa-apa kok. Ini cuma luka kecil," imbuh Aksa memberi pengertian, lalu menarik tangan Inara dan menciumnya.
Spontan Inara bangkit dari duduknya dan menjatuhkan diri di atas dada Aksa. "Kenapa menakuti aku sampai seperti ini, Kak? Aku benar-benar takut," isak Inara sesenggukan.
"Kenapa harus takut, sayang? Suami kamu masih hidup loh, tidak akan ada yang bisa mencabut nyawa Kakak kalau Tuhan saja tidak mengizinkan. Masih banyak yang belum kita raih," desis Aksa sembari membelai rambut Inara. Semakin Aksa menyentuhnya, semakin pilu pula hati Inara dibuatnya.
"Sudah, jangan cengeng begini! Nanti cantiknya luntur," seloroh Aksa, lalu mengecup pucuk kepala Inara dengan sayang.
Sesaat setelah tangisan Inara mereda, Avika dan Rai masuk ke dalam ruangan. Kebetulan hanya ada Inara dan Aksa berdua saja di sana, sedangkan yang lain masih berada di ruangan Dara.
"Kakak tidak apa-apa kan?" tanya Avika sembari berjalan menghampiri brankar. Inara yang tadinya masih memeluk Aksa, lekas menjauh dan kembali duduk di kursi.
"Kamu lihat sendiri kan? Kakak baik-baik saja," sahut Aksa santai sambil mengukir senyum.
Saat itu juga Rai mendekat. "Maafkan aku, seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi sendirian." sesal Rai dengan tatapan sendu.
"Apaan sih, cuma luka kecil doang kok. Tidak usah lebay," sahut Aksa, lalu bergeser dan duduk dengan punggung tersandar di kepala brankar.
"Lukamu memang kecil, tapi bagaimana dengan Aryan? Dokter yang menanganinya saja belum keluar hingga detik ini," ucap Rai merasa bersalah. Jika boleh meminta, harusnya dia lah yang menerima timah panas itu.
"Dia pasti bisa melewati ini. Lagian siapa suruh menyelinap masuk ke dalam mobilku? Sudah tau bahaya, tapi malah sok sokan jadi pahlawan kesiangan," jawab Aksa enteng. "Eh, tapi dia hebat juga loh, tadinya aku pikir itu kau. Dia berhasil menembak satu musuh di bagian dada dan satunya lagi di punggung tangan. Apa diam-diam dia pernah belajar menembak?" imbuh Aksa dengan kening mengernyit. Dia tidak menyangka Aryan punya bakat dalam memainkan benda keramat itu.
__ADS_1
"Mana aku tau, dia kan adikmu." Rai mencebik sembari mengangkat bahu. Aneh memang, setau mereka Aryan tidak pernah bermain dengan senjata itu.
"Dalam keadaan terdesak, siapapun pasti bisa melakukannya. Apalagi setelah melihat istrinya yang dianiaya dengan keji," timpal Avika meluruskan kebimbangan mereka.
"Hmm... Mungkin," sahut Aksa manggut-manggut. Ada benarnya juga yang dikatakan Avika barusan.
Lalu mereka berempat melanjutkan obrolan dengan suara sedikit pelan, Aksa tidak ingin ada orang lain yang mendengar. Salah-salah, Aina bisa tau bagaimana perangainya selama ini. Susah payah dia menyembunyikan kebenaran agar sang mama tidak syok jika tau jejak masa lalunya yang kelam.
Di kamar lain, Dara mulai siuman dan membuka mata perlahan. Jejak kejadian itu masih membekas di ingatannya, apalagi ketika pikirannya tertuju pada Aryan. Dia tidak menyangka Aryan mau mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya.
"Aryan..." lirih Dara dengan pandangan mengabur. Air matanya menggenang dan jatuh satu persatu membasahi kulit pipinya.
Semua orang yang melihat itu lekas berlari menghampiri brankar.
"Sayang, kamu tenang dulu ya. Aryan baik-baik saja kok," alibi Aina agar Dara tidak syok, dia tidak boleh tau bagaimana keadaan Aryan yang sebenarnya.
"Sssttt... Jangan begini sayang, kamu masih lemah. Tunggu keadaan kamu membaik dulu, setelah itu kamu baru boleh bertemu Aryan." bujuk Aina. Sebenarnya berat bagi Aina mengatakan ini, tapi tidak ada pilihan lain untuk menenangkan menantunya itu.
"Tidak Ma, Dara harus melihat Aryan sekarang. Dia tertembak Ma, dia terluka. Aryan-"
"Sayang, dengar Mama ya!" Aina menangkup tangan di pipi Dara. "Aryan baik-baik saja Nak, kita akan melihatnya nanti." imbuh Aina, lalu membawa Dara ke pelukannya.
Setetes cairan bening jatuh di sudut mata Aina, ini benar-benar menyakitkan. Bagaimana mungkin sepasang suami istri yang baru menikah itu bisa melalui cobaan sepelik ini? Aina tidak sanggup melihatnya, rasanya jantung Aina tidak kuat menghadapi kenyataan ini.
Bukankah seharusnya mereka semua tengah berbahagia setelah pernikahan yang baru kemarin dilangsungkan? Pergi berbulan madu dan bersenang-senang untuk merayakan status mereka yang baru.
Akan tetapi yang terjadi justru sangat memprihatinkan. Bukannya senyuman dan tawa yang dia lihat, tapi air mata yang berjatuhan tiada henti. Kenapa kejahatan tidak pernah bosan menghinggapi keluarganya?
__ADS_1
Di depan ruang ICU, pintu tiba-tiba berderit. Salah seorang dokter keluar dengan air muka yang cukup membuat penasaran, seketika Arhan melompat dari duduknya. "Dok, bagaimana keadaan putra saya?" tanyanya dengan raut panik dan mata yang tiba-tiba menyipit. Dia bahkan tak segan mengguncang lengan dokter itu. Rasanya dunia seperti berhenti berputar, tidak tau berita apa yang harus dia dengar.
Lalu Hendru, Baron dan Tobi ikut mendekat. Ketiganya juga penasaran dengan apa yang ingin disampaikan dokter itu.
Tapi apapun yang ingin dikatakan sang dokter, mereka semua berharap ada mukjizat yang datang dan membantu Aryan terlepas dari penderitaan ini. Dia terlalu muda, perjalanannya masih panjang. Jangan sampai Dara menyandang status janda secepat ini, kasihan dia.
"Kami sudah berupaya melakukan yang terbaik, peluru berhasil dikeluarkan dan pasien tadinya sudah membuka mata. Tapi tidak lama setelah itu, pasien tiba-tiba tertidur. Kita tunggu saja sekitar dua belas jam kedepan. Jika pasien tidak kunjung bangun, bisa jadi dia mengalami koma." dengan berat hati dokter itu terpaksa menjelaskan apa yang terjadi pada Aryan.
"Tidak Dok, ini tidak mungkin." Arhan memelototi dokter itu dengan tangan mengepal erat. Beruntung Hendru dan Baron menyadarinya dan lekas menahan Arhan agar tidak gegabah dalam bertindak.
"Ralat kata-kata dokter tadi! Ini tidak benar kan? Ini hanya lelucon kan?" mendadak suara Arhan meninggi sehingga mengganggu kenyamanan pengunjung lain. Beberapa pasang mata spontan menoleh ke arahnya sehingga suara bising pun tak terelakkan.
"Arhan, tolong jaga sikapmu! Ini rumah sakit, jangan membuat onar!" selang Hendru sembari menarik tangan Arhan sedikit menjauh dari dokter itu.
"Kau tidak dengar apa yang dia katakan barusan?" bentak Arhan yang mulai tersulut emosi. Matanya memerah menatap Hendru.
"Iya, aku dengar. Tapi tolong tenang dulu!" sahut Hendru.
"Bagaimana caranya bisa tenang sementara putraku tidak berdaya di dalam sana? Kau pikir ini lelucon? Aryan tidak boleh koma, dia harus bangun!" tegas Arhan penuh penekanan.
"Semua orang juga berharap seperti itu, bukan kau saja. Tapi kita tidak mungkin menentang takdir, tenangkan dirimu dan berdoalah untuk kesembuhan Aryan. Aku juga sedih, Aryan juga putraku. Tapi apa yang bisa kita lakukan?" lirih Hendru dengan mata berkaca. Dia juga marah mendengar ini, tapi kemarahan tidak akan bisa membalikkan keadaan.
Melihat perdebatan yang terjadi diantara Arhan dan Hendru, Baron semakin merasa bersalah. Andai dia tidak membiarkan Aksa pergi sendirian, kejadian ini tidak akan mungkin terjadi. Ini salahnya, dia yang bertanggung jawab atas semua ini.
Perlahan Baron mulai menjauh dan menghilang begitu saja. Tidak ada yang tau kemana dia pergi dan apa yang ingin dia lakukan.
Baron tidak sanggup menatap muka Arhan sebelum Aryan dipastikan sadar oleh dokter yang menanganinya. Lebih baik dia pergi mengasingkan diri sebelum Arhan sendiri yang mengusirnya secara tidak hormat.
__ADS_1