
"Kak Aryan..." seru Bara dengan suara cempreng yang merusak gendang telinga. Semua mata yang berada di dalam ruangan sontak menoleh ke arahnya.
Tentu saja mereka semua terkejut melihat kedatangan bocah SMP itu, tapi tidak dengan Aryan dan Dara yang belum tau apa-apa tentang kepergian Baron.
"Bara..." pekik Aina yang langsung berhamburan memeluk putra kecilnya itu.
"Ma..." balas Bara yang memang sudah sangat merindukan Aina. Pelukan keduanya nampak semakin erat.
"Bara, kamu kemana saja Nak?" timpal Nayla seraya berjalan menghampiri keduanya.
Setelah Bara melepaskan pelukannya dari Aina, dia pun beralih memeluk Nayla. "Maafkan Bara Bun. Ayah itu loh, sepertinya dia sudah mulai gila." celetuk Bara merutuki ayah kandungnya sendiri. Tiba-tiba semua yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak.
Bisa-bisanya Bara mengatakan bahwa Baron sudah gila. Jika pria berdarah dingin itu mendengarnya, habislah dia.
"Kalian ini kenapa sih? Kok seperti sudah berhari-hari tidak bertemu begitu?" Aryan membuka suara, keningnya mengernyit melihat pemandangan itu.
"Tidak apa-apa, Aryan. Bara kan baru pulang dari kegiatan sekolah, iya kan Bara?" alibi Aina mengalihkan perhatian Aryan, dia tidak mau putra bungsunya itu kepikiran.
"Ooh..." angguk Aryan yang percaya begitu saja dengan ucapan Aina.
"Kak Aryan baik-baik saja kan? Kapan pulang?" tanya Bara setelah lepas dari pelukan Nayla, lalu dia berjalan menghampiri brankar dan duduk di samping kakaknya itu.
"Tanya sama dokternya gih!" sahut Aryan enteng, lalu terkekeh dengan sendirinya.
"Astaga, dalam keadaan seperti ini masih saja tidak tau diri. Mau aku pukul dadanya?" geram Bara mengepal tangan, lalu menyodorkan tinjunya ke wajah Aryan.
"Hahaha... Beraninya pas aku lagi sakit doang. Coba sebaliknya, pasti ujung-ujungnya ngadu." ejek Aryan. Hal itu membuat Bara semakin geram, tangannya gatal ingin menyentil luka tembak yang terpampang di dada Aryan.
"Teg!" sebuah sentilan kecil mendarat juga di dada Aryan.
"Aww..." rintih Aryan dengan kening mengerut. Meski pelan tapi rasanya sungguh luar biasa, mata Aryan sampai berkaca dibuatnya.
"Nah, enak kan? Makanya jangan usil jadi orang!" Bara lekas menjauh sebelum Aryan berhasil membalasnya.
"Dasar bocah tengik, sini kamu!" ketus Aryan menajamkan tatapan, ingin sekali dia mencincang Bara dan menelannya hidup-hidup.
__ADS_1
"Sudah, sudah, kalian ini benar-benar ya. Tidak di rumah, tidak di rumah sakit, kerjaannya berantem mulu." timpal Aina melerai pertengkaran kedua putranya itu.
"Anak manja Mama tuh, orang nanya baik-baik jawabannya malah nyeleneh. Memang dasar tidak punya akhlak," gerutu Bara, lalu meninggalkan ruangan dan memilih duduk di kursi tunggu bersama Tobi.
...****************...
Tak terasa waktu berputar begitu cepat. Malam hari Aksa, Inara, Rai, Avika dan Bara sudah pulang ke rumah. Begitu juga dengan Tobi yang sudah bisa istirahat karena Arhan dan Hendru yang akan menggantikannya.
Saat Arhan, Hendru dan Aryan tengah asik bercengkrama bersama istri mereka, pintu tiba-tiba terbuka dan muncullah sosok Baron yang berniat ingin melihat keadaan Aryan.
Sebelum tiba di rumah sakit, dia menghubungi Tobi terlebih dahulu. Dari pria itulah dia tau bagaimana kondisi Aryan yang sebenarnya.
Dengan perasaan canggung, Baron melangkahkan kakinya menghampiri Aryan dan disusul oleh Inda di belakangnya. Keduanya nampak sungkan seperti tamu biasa yang tengah berkunjung.
Mendadak suasana di ruangan itu menjadi hening. Arhan yang masih marah pada Baron, dengan cepat meninggalkan ruangan karena takut emosinya tersulut di hadapan Aryan.
"Bagaimana keadaan kamu, Aryan?" tanya Baron dengan suara bergetar, jelas ada kekhawatiran di dalam dirinya saat bertemu kembali dengan keluarga itu.
"Baik Om, Aryan tidak apa-apa kok. Om kemana saja? Kenapa baru datang?" jawab Aryan dengan pertanyaan pula. Keningnya tiba-tiba mengerut.
Inda yang tadinya berdiri di belakang Baron, seketika berhamburan dan memeluk Aryan untuk melepaskan rasa rindunya. Aryan juga putranya, dia ikut andil membesarkan pria yang berada di pelukannya itu.
"Maafkan Tante, sayang. Tante baru sempat menjenguk kamu sekarang," lirih Inda berderai air mata, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
"Tidak apa-apa, Tan. Sudah, jangan menangis! Aryan baik-baik saja kok, besok juga pulang." ucap Aryan. Dia menyeka pipi Inda dan mengecup keningnya.
Melihat kedekatan antara Aryan dan istrinya, perasaan bersalah itu kembali datang menghinggapi dada Baron. Tidak seharusnya dia berpikir singkat memisahkan Inda dengan keluarga Airlangga, bagaimanapun Inda sudah menyatu dengan keluarga itu sebelum dia hadir di tengah-tengah mereka.
Karena tak kuat menahan diri, Baron pun berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan. Seketika manik matanya bertemu dengan Arhan yang juga tengah menatapnya dari kursi tunggu.
"Angin apa yang membuatmu sampai datang kemari hah? Bukankah aku ini bukan keluargamu lagi?" Arhan mengepal tangan dan lekas bangkit dari duduknya. Ingin sekali dia menghajar pria yang menurutnya tidak tau diri itu. Setelah pergi tanpa berpamitan, sekarang seenaknya kembali tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Arhan..."
"Bug!"
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Arhan dengan cepat mendaratkan bogem mentahnya di wajah Baron. Baron hanya diam tanpa bicara ataupun membalasnya.
Dia pantas menerima ini. Wajar Arhan marah setelah apa yang dia lakukan sebelumnya.
"Ayah macam apa kau ini hah?" Arhan hendak menghajarnya lagi tapi tiba-tiba Hendru muncul dan lekas menahan tangannya.
"Arhan, kendalikan dirimu! Ini rumah sakit, jangan membuat masalah malam-malam begini!" timpal Hendru meninggikan volume suaranya.
"Bela saja dia terus, kalian berdua sama saja." Hendru yang tidak tau apa-apa ikut terseret karena kemarahan Arhan yang sudah memuncak.
"Aku tidak membela siapa-siapa, lihat dimana kita berada sekarang! Kau ingin semua orang menertawakan kelakuanmu ini?" terang Hendru mengingatkan posisi Arhan. Dia tidak akan membela siapapun jika mereka bersalah, tapi masalahnya Arhan tidak mengenal tempat kala meluapkan emosinya.
Mendengar itu, Arhan pun akhirnya menjauh dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia meninju udara dan menarik nafas dalam-dalam.
Dia sendiri tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini emosinya gampang sekali meledak. Apalagi setelah banyaknya masalah yang datang menimpa keluarganya.
"Arhan, aku minta maaf. Aku tau tindakanku salah, tidak seharusnya aku meninggalkan kalian saat itu. Aku marah, aku juga sedih melihat keadaan Aryan, aku merasa gagal menjaga putraku sendiri. Aku tidak sanggup menampakkan wajahku di hadapanmu," jelas Baron dengan air muka penuh penyesalan.
"Kau memang salah, menghindar tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Harusnya berpikir dulu sebelum bertindak, tidak main pergi begitu saja." timpal Hendru yang sebenarnya juga marah pada Baron, hanya saja dia tidak seperti Arhan yang tidak bisa mengendalikan emosi.
"Ya, aku tau itu. Tolong maafkan aku!" pinta Baron seraya menangkup kedua tangannya di depan dada, air mukanya nampak sendu.
"Jika kau benar-benar ingin lepas dari keluarga Airlangga, maka pergilah sejauh mungkin! Tidak perlu menampakkan mukamu lagi di hadapanku!" ucap Arhan sembari membuang muka.
"Baiklah, aku akan pergi dari hidup kalian." angguk Baron. Mungkin begini lebih baik untuk mereka semua.
Saat Baron berbalik hendak memanggil Inda, Arhan dengan sigap membuka sendalnya dan melemparkannya ke punggung Baron.
"Bug!"
"Pergi jauh-jauh sana, bila perlu mati sekalian!" geram Arhan dengan tatapan mematikan.
"Kenapa tidak kau saja yang membunuhku?" tanya Baron, dia kembali berbalik menghadap Arhan.
"Aku ingin, tapi aku tidak tega." jawab Arhan yang kembali membuang muka.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan berlagak cuek seperti itu! Aku tau kau tidak akan sanggup kehilangan aku, bukankah aku ini istri keduamu?" seloroh Baron mengundang tawa. Sontak Arhan menatapnya kesal dan melemparkan sendal satunya lagi ke muka Baron. Kali ini Baron berhasil menangkapnya dan melemparkannya balik kepada Arhan.
"Sudah, sudah, kalian ini seperti anak kecil saja." Hendru yang melihat itu mendadak tertawa terpingkal-pingkal.