
Usai melaksanakan ritual pagi, Dara keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap. Tadi sebelum masuk dia langsung menyiapkan baju ganti, dia belum terbiasa mempertontonkan tubuhnya di hadapan Aryan.
Setelah Dara keluar, kini giliran Aryan yang masuk untuk membersihkan diri. Senyum di bibirnya mengambang setelah kejadian tadi, setidaknya Dara sudah memberinya sedikit ruang.
Tiga puluh menit berselang, Aryan keluar bertelanjang dada. Hanya ada handuk putih yang melingkar di pinggangnya.
Sontak Dara bergeming menatap suaminya. Meski tubuh Aryan tidak terlalu besar tapi cukup berotot dengan garis-garis kotak di perutnya. Air yang berjatuhan dari rambut Aryan membuat tenggorokan Dara tiba-tiba mengering, dia pun dengan cepat membuang muka dan mengambil pakaian yang sudah dia siapkan.
"Ini bajunya," ucap Dara seraya menyodorkan pakaian lengkap ke tangan Aryan.
Aryan mengulas senyum. Bukannya mengambil alih pakaian itu, dia justru menarik tangan Dara ke pelukannya.
Mata Dara membulat sempurna saat tak ada jarak diantara mereka. Tatapan keduanya bertemu seakan mata mereka tengah berbicara.
"Aryan... Mmphh..."
Kembali Aryan melayangkan ciumannya di bibir Dara, dia melu*matnya dengan lembut, membuat Dara bergeming dengan mata melotot tajam.
"Buka mulut kamu!" gumam Aryan sesaat setelah melepaskan pagutannya. Dia mencengkram pelan tengkuk Dara dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mendengar kalimat itu mata Dara semakin terbelalak dibuatnya. "Aku tidak bisa," desisnya dengan pipi bersemu merah. Malu, takut, canggung, semua rasa membaur jadi satu.
"Makanya dibuka, ikuti apa yang aku lakukan!" pinta Aryan dengan nafas tercekat di tenggorokan, lama-lama dia bisa gila memendam rasa ini sendirian. Dara seperti magnet yang menariknya untuk selalu menempel.
"Aryan... Aku... Mmphh..."
Aryan tidak memberi Dara kesempatan untuk menolak. Dia mengesapnya lagi dan lagi seakan tidak pernah puas hanya sekali.
Saat Dara membuka mulut, Aryan memasukinya semakin dalam. Lidah keduanya saling menaut dengan suara decapan yang bersenandung memenuhi seisi kamar. Suhu ruangan menjadi panas seiring deru nafas yang kian memburu.
Tanpa Dara sadari, bokongnya tiba-tiba sudah terhenyak di atas kasur. Aryan ikut duduk seraya menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang lalu membawa Dara duduk di atas pangkuannya.
"Aryan..." lirih Dara dengan tatapan sayu.
"Jangan takut sayang, aku suamimu. Aku tidak akan pernah menyakitimu," tekan Aryan dengan nafas tersengal, ubun-ubun nya semakin memanas saat intinya terjepit diantara kedua paha Dara. Ini kali pertama Aryan merasakan gejolak hasrat secara sadar, kepalanya cenat cenut menatap wajah istrinya dan turun ke area dada.
Tanpa aba-aba, Aryan kembali mengesap bibir Dara. Wanita itu termangu tanpa perlawanan.
Ya, sepertinya Dara mulai terbiasa dengan itu. Dia tidak menolak dan berusaha mengimbangi permainan Aryan. Perlahan matanya mulai terpejam saat tangan Aryan menggerayangi pinggangnya, naik ke punggung lalu tengkuknya.
Dan tanpa Dara sadari, tiba-tiba tangan Aryan sudah tiba di dadanya. Aryan meremasnya pelan, Dara membuka mata lebar-lebar saking gugupnya menerima sentuhan itu.
"Boleh ya, aku ingin!" pinta Aryan setelah melepaskan tautan bibir mereka. Deru nafasnya kian memburu menatap benda kenyal yang ada di hadapannya itu.
"Tapi Aryan-"
"Please sayang, tolong jangan menolak! Aku bisa mati menahan ini," lirih Aryan dengan mata yang mulai memerah. Tekanan dari intinya membuat kepalanya ingin pecah karena hasrat yang tak kunjung tersalurkan.
"Tapi aku takut," gumam Dara dengan tatapan sendu.
"Apa yang kamu takutkan? Keadaannya sudah berbeda. Malam itu aku tidak sadar tapi hari ini aku sadar seratus persen. Kamu pikir aku tega menyakiti istriku sendiri? Aku tidak sejahat itu, sayang." Aryan mencoba meyakinkan Dara. Dia menangkup tangan di pipinya dan mengelusnya lembut.
__ADS_1
Lama terdiam meyakinkan dirinya sendiri, Dara pun akhirnya mengangguk. "Silahkan!" gumamnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Seketika seringai tipis melengkung di sudut bibir Aryan, dikecupnya kening Dara dengan sayang lalu turun ke bibirnya.
Puas mengesap bibir merah merekah itu, Aryan mengangkat blouse yang melekat di tubuh Dara. Sontak keduanya saling memandang dengan tatapan yang berbeda.
Aryan memandangi gundukan berbalut bra itu dengan mata membola, sedangkan Dara nampak malu dengan pipi merona merah. Dia pun dengan cepat menutupnya dengan tangan.
"Harusnya dibuka bukan ditutup. Bagaimana caraku melakukannya kalau begini?" seloroh Aryan mengulum senyum lalu meraih tangan Dara dan meletakkan di pinggangnya.
Dengan raut muka memucat Dara menggigit bibir melihat tatapan Aryan yang tertuju pada dadanya, ingin sekali dia menyembunyikan muka saking malunya.
"A-Aryan..." Dara terbata saat Aryan membuka bra miliknya, sepasang gunung itu nampak lepas di mata Aryan tanpa ada lagi yang menghalangi.
"Aaakh..." de*sah Dara saat Aryan menundukkan kepala dan menghisap puncak dadanya. Aryan melahapnya dengan rakus sembari meremasnya, sekilas Aryan terlihat seperti bayi yang tengah menyusu pada induknya.
Dara hanya bisa memicingkan mata sembari meremas rambut Aryan, sekujur tubuhnya merinding dengan hembusan nafas yang tidak menentu.
Setelah puas melahap kedua benda kenyal itu, Aryan mengangkat tubuh Dara dan membaringkannya di atas kasur. Dalam hitungan detik handuk yang dikenakan Aryan tadi sudah terbang dan jatuh di lantai.
"Aaaaaa..."
Sontak Dara menjerit dan menangkup tangan di wajahnya. Ini benar-benar menggelikan, baru kali ini dia melihat batang berurat itu secara langsung. Hampir keseluruhan kulitnya meremang seperti kulit ayam.
Melihat reaksi Dara yang begitu, Aryan tak kuat menahan tawa. "Hahahaha..." suaranya menggelegar memenuhi seisi kamar.
"Buka sayang, jangan ditutup mukanya!" goda Aryan sembari menarik tangan Dara.
"Apa yang kamu takutkan? Ini punya kamu loh, mulai detik ini kamu akan terbiasa melihatnya." mendadak seringai tipis melengkung di sudut bibir Aryan. Dia menarik tangan Dara dan meletakkan di intinya.
"Aaaaa... Aryan jangan, aku geli." pekik Dara seraya menggeliat, permukaan kulitnya mendadak kesat.
"Hahaha... Dasar aneh!" gerutu Aryan menggertakkan gigi. Dia benar-benar gemas melihat kelakuan istrinya.
Tanpa pikir, Aryan lekas melucuti pakaian yang masih tersisa di tubuh Dara. Seketika kemulusan inti Dara tersingkap di hadapannya. Mata Aryan terbuka lebar dengan jakun naik turun meneguk ludahnya susah payah.
"Aryan..." pekik Dara saat suaminya itu menekuk kakinya.
"Apa lagi sayang? Tidak capek dari tadi teriak mulu?" sahut Aryan mengernyitkan kening. Dara pun dengan cepat menangkup tangan di intinya sambil membuka mata perlahan.
Aryan mematut Dara dengan intim lalu mengusap wajah dengan kasar. Sudah seperti ini tapi Dara masih saja tidak memberinya kesempatan, sementara kepalanya sudah semakin cenat cenut.
"Kamu kenapa sih? Tadi katanya boleh, sekarang seperti ini. Kalau tidak mau bilang dari tadi, jangan membuatku pusing!"
Suara Aryan sedikit meninggi, emosinya tersulut. Senyum yang tadinya merekah kini hilang dengan sendirinya.
Saat Aryan hendak menjauh, Dara dengan cepat menahan tangannya. Dia mengangguk pertanda siap melakukannya.
"Jangan dipaksa kalau tidak mau," ketus Aryan dengan pandangan mengabut. Kepalanya ingin pecah memikirkan ini.
"Aku mau," angguk Dara dengan pipi bersemu merah lalu menarik Aryan untuk kembali mengukungnya.
__ADS_1
"Kamu yakin?" Aryan mencoba memastikan.
"Iya, aku yakin." angguk Dara lagi.
Karena sudah mendapat lampu hijau, Aryan pun dengan cepat mengesap bibir Dara. Keduanya saling melu*mat dan membelit lidah.
Lalu Aryan turun mengecup setiap inci leher Dara dan menggigitnya, dia sengaja meninggalkan tanda merah yang akan diingat Dara saat menatap lehernya sendiri.
"Aaaugh..." tiba-tiba Dara mende*sah saat Aryan melahap kedua gunung miliknya bergantian. Lalu turun ke perutnya dan turun lagi ke intinya.
"Aryan..." de*sah Dara saat lidah Aryan menjilati intinya, sesekali Aryan menghisapnya kuat hingga kaki Dara gemetaran saat merasakan sesuatu yang entah.
"Aaakh..." pekik Dara. Tubuhnya menggelinjang dengan mata memicing dan menggigit bibir.
Sesuatu mengalir di intinya saat Aryan tak hentinya menjilat dan menyedot kelopak berwarna pink itu dengan rakus. Saking ngilu nya Dara pun menjambak rambut Aryan dengan kasar, tapi hal itu tidak menyurutkan semangat Aryan. Dia malah semakin gencar menyedot inti Dara, dia tidak akan berhenti sampai Dara sendiri yang memohon untuk dilepaskan.
"Cukup Aryan, aku tidak kuat lagi!" rengek Dara membuka mata dan menarik rambut Aryan.
"Kenapa?" goda Aryan dengan senyuman nakal.
"Tidak apa-apa," balas Dara dengan suara yang nyaris tak terdengar. Intinya terasa becek setelah dua kali pelepasan.
"Itu belum seberapa, sekarang nikmati tongkat suamimu ini!"
Setelah mengatakan itu, Aryan lekas memposisikan batang beruratnya di permukaan inti Dara. Pelan-pelan Aryan mencoba memasukinya.
Meski tidak sesempit malam itu, tapi tetap saja juniornya kesulitan menerobos liang surga milik Dara. Rasanya tetap sama dengan pertama kali Aryan melakukannya.
"Pelan-pelan Aryan, sakit." rengek Dara dengan mata berkaca.
"Jleb!"
"Aaugh..." pekik Dara seiring de*sahan yang lolos dari mulutnya.
Aryan mengulas senyum lebar seraya mengayunkan pinggulnya. Dara tak hentinya mende*sah mengikuti hentakan yang menusuk intinya.
"Masih sakit?" tanya Aryan dengan nafas tersengal. Butir-butir keringat mulai keluar dari pori-porinya.
"Tidak," de*sah Dara malu-malu. Rasanya sangat berbeda dengan yang dilakukan Aryan malam itu. Kali ini Aryan benar-benar membuktikan kata-katanya. Dia bermain lembut yang membuat Dara mabuk kepayang.
Tanpa menghentikan goyangannya, Aryan kembali mengesap bibir Dara. Istrinya itu membalasnya sembari mencengkram pelan tengkuk Aryan. Mereka berdua benar-benar menikmatinya.
Satu jam berpacu, keduanya mengerang bersamaan. Aryan tumbang setelah menabur benihnya di dalam diri Dara dan tersungkur di atas tubuh istrinya itu.
Setelah beberapa saat, Aryan pun menarik diri dari inti Dara dan menjatuhkan tubuhnya di samping wanita yang dicintainya itu. Aryan kemudian memeluknya dan mengecup keningnya.
"Aww..." rintih Aryan saat bekas lukanya tak sengaja tergesek oleh Dara.
"Kamu kenapa?" tanya Dara khawatir.
"Tidak apa-apa," jawab Aryan mengulas senyum lalu mengesap bibir Dara gemas.
__ADS_1