Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 88.


__ADS_3

"Lola, tolong antar makanan ini ke kamar gadis itu!" Aina menyodorkan sebuah nampan yang berisi sepiring makanan dan segelas air putih ke tangan Lola.


Sejak tadi malam gadis yang akan dinikahi Aryan itu tidak mau keluar dari kamar, dia mengurung diri di kamar tamu. Entah karena takut setelah apa yang terjadi, entah karena apa? Aina juga tidak tau penyebabnya.


Sampai semua kebenaran terkuak, gadis itu akan tetap tinggal di kediaman Airlangga.


"Baik Nyonya," angguk Lola, lalu mengambil alih nampan itu dan berjalan menuju kamar tamu.


Sesaat setelah mengetuk pintu, gadis itu muncul di balik pintu yang terbuka sedikit. Lola memberikan nampan itu ke tangannya dan meninggalkan gadis itu sendirian. Lola tidak mengerti harus berbicara apa pada gadis bisu seperti dia.


Setelah punggung Lola menjauh dari pandangannya, gadis itu menutup pintu dan lekas menyantap makanannya. Wajahnya nampak sendu dengan mata berkaca, sepertinya dia tidak nyaman berada di rumah itu tapi dia sendiri tidak tau harus berbuat apa.


Beberapa saat setelah kejadian malam itu, dia jatuh pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. Tapi yang dia bingung, kenapa dia harus dibawa ke rumah itu? Dia juga tidak mengerti kenapa dia harus dinikahkan dengan pria yang tidak dia kenal.


Ingin sekali dia mengungkapkan apa yang ada di benaknya saat ini, tapi dia tidak tau bagaimana cara mengatakannya. Tidak ada seorang pun yang mengerti dengan bahasa isyarat yang dia peragakan.


"Ya Tuhan, tolong bantu aku agar bisa keluar dari masalah ini! Aku tidak ingin menikah dengan cara seperti ini, bukan dia yang menodai ku. Aku ingat betul wajah orangnya, tapi kenapa aku malah dibawa ke rumah ini? Pria itu pasti tersiksa karena tak terima dipaksa menikah denganku." batin gadis itu.


Ya, malam itu Tasya membuat skenario yang sama di tempat yang berbeda. Hal itu dia lakukan agar gadis bisu itu bisa ditukar dengan Dara. Gadis yang sesungguhnya telah dinodai oleh Aryan.


Sekarang Tasya tengah tertawa penuh kemenangan. Dia sangat puas dengan kinerja anak buahnya, apalagi setelah tau bahwa gadis bisu itu sudah dibawa oleh orang-orang kepercayaan Arhan.


Setelah pernikahan itu terjadi, Tasya akan bergerak untuk melanjutkan rencana keduanya. Dia akan menghancurkan keluarga mantan suaminya hingga tak bersisa.


...****************...


"Permisi Om," sapa Rai sesaat setelah tiba di dekat kolam renang. Arhan sengaja memintanya ke sana, dia tidak ingin orang lain mendengar percakapan mereka.


"Hmm... Duduklah!" sahut Arhan lalu menunjuk ke arah kursi kosong yang ada di sampingnya.


Rai mengangguk pelan dan duduk dengan air muka sedikit cemas, jantungnya berdegup kencang. Dia yakin ini ada hubungannya dengan Avika. Tapi dia belum berani mengatakan bahwa dia mencintai Avika, Arhan pasti akan menolaknya.


"Bicaralah!" seru Arhan. Bukannya bertanya, dia malah menyuruh Rai untuk bicara. Tentu saja Rai bingung harus berkata apa, salah-salah dia bisa kena skak dan dilempar dari rumah itu.


"Kenapa diam saja?" Arhan mengerutkan kening sembari menilik wajah Rai dengan intens.


"Ti-Tidak Om, maaf. Tapi-"


"Om memberimu kesempatan untuk jujur. Ingat, kesempatan hanya datang satu kali, tidak ada yang kedua!" tegas Arhan penuh penekanan.


Rai mengusap wajah dan menghela nafas berat. Akankah dia jujur dan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya? Tapi bagaimana jika Arhan tidak bisa menerima ini?


Ya sudahlah, terima atau tidak, intinya Rai harus jujur. Sebagai seorang ayah, Arhan berhak mengetahui dengan siapa putrinya berhubungan dan sebatas mana hubungan mereka berdua.


"Om, a-aku..."


"Pa..." sorak Avika yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Ucapan Rai seketika terhenti olehnya, pria itu semakin gelisah saat menatap wajah Avika.


Avika tau Rai tengah kebingungan harus berkata apa. Sejak Rai meninggalkan meja makan tadi, Avika mengikutinya dan mengintip dari balik jendela. Dia yakin Rai merasa disudutkan, Avika tau persis bagaimana karakter Arhan. Dia tidak akan tinggal diam sebelum mendapatkan apa yang dia mau.


"Avika, kenapa kamu ke sini Nak?" Arhan menyipitkan mata, sepertinya Avika sengaja mendatangi mereka untuk menyelamatkan pria yang ada di sampingnya.


Avika mengulas senyum dan duduk di atas pangkuan Arhan, lalu mengalungkan tangan di tengkuk Arhan dan merebahkan kepalanya di dada sang papa.


"Kenapa jadi manja begini?" tanya Arhan. Tentu saja dia semakin curiga dengan gelagat Avika.


"Memangnya tidak boleh?" Avika mengerucutkan bibir.


"Bukan tidak boleh, tapi-"


"Maaf Om, aku permisi dulu." Rai ingin pergi, dia tidak mau mengganggu kebersamaan ayah dan anak itu tapi Arhan dengan cepat mencegahnya.


"Tetaplah di sini!" ucap Arhan yang membuat Rai urung bangkit dari duduknya. "Karena kalian berdua sudah di sini, sekarang ceritakan apa yang kalian sembunyikan dari Papa!" imbuh Arhan menunggu jawaban.

__ADS_1


"Tidak ada," jawab Avika cepat.


"Jangan bohong, sayang." selang Arhan.


"Siapa yang bohong, Pa?" Avika berlagak seolah tidak ada apa-apa diantara dia dan Rai. Sontak Rai tersenyum getir, mungkin sudah waktunya dia sadar. Jika Avika seperti ini, artinya gadis itu tidak ingin hubungan mereka diketahui oleh Arhan.


"Avika benar Om, diantara kami tidak ada hubungan apa-apa. Aku hanya menganggap Avika sebagai adik, begitupun sebaliknya. Om tidak perlu khawatir, mulai hari ini aku tidak akan mendekati Avika lagi. Aku janji," dengan perasaan yang campuk aduk, Rai bangkit dari duduknya dan berlalu pergi begitu saja.


Avika sontak terkejut, dia melepaskan kalungan tangannya dari tengkuk Arhan dan menatap punggung Rai dengan mata berkaca. Berbeda dengan Arhan yang malah tersenyum melihat tingkah aneh kedua anak muda itu.


"Kenapa? Sedih ya?" seloroh Arhan mengulum senyum.


"Pa..." lirih Avika. Setetes cairan bening jatuh di sudut matanya.


"Makanya jangan keras kepala, disuruh bicara malah mengelak. Lihat kan bagaimana jadinya? Rai pasti sedih karena kamu seolah-olah tidak mengharapkan kehadirannya." Arhan tertawa kecil dan mencubit hidung Avika gemas.


"Papa tidak marah kalau-"


"Untuk apa Papa marah? Rai pria yang baik, Papa suka sama dia." potong Arhan.


"Apa itu artinya-"


Arhan mengangguk pelan. "Iya, Papa setuju. Yang penting kamu bahagia, Papa percaya Rai bisa menjaga kamu dengan baik. Sekarang pergilah, kejar dia!"


"Aaah... Papa..."


Avika kembali mengalungkan tangan di tengkuk Arhan dan mencium pipinya. "Papa memang yang terbaik. Mmuach... I love you,"


Dengan perasaan yang tidak menentu, Avika melompat turun dari pangkuan Arhan dan berlari menyusul Rai.


Arhan yang melihat itu hanya tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Rasanya dia seperti kembali ke masa muda saat berusaha mendapatkan hati Aina yang juga keras kepala. Tak salah jika Avika menuruni sifatnya.


Di kamar, Rai duduk di sisi ranjang dengan mata memerah mengandung tangisan yang sengaja dia tahan. Semakin dia berharap, semakin terluka pula dia menanggung perasaan yang hanya bertepuk sebelah tangan.


Dia merasa beruntung karena Avika menyadarkannya disaat yang tepat. Dia juga bersyukur karena belum sempat mengatakannya pada Arhan.


Dengan begitu dia tidak akan memikirkan wanita lagi, dia bisa fokus menjadi Rai yang dulu. Hidup tanpa wanita dan tanpa perasaan.


Saat Rai hendak menekan kenop pintu, Avika lebih dulu mendorongnya dari luar. Seketika tatapan mereka bertemu, namun beberapa detik kemudian Rai membuang pandangannya.


"Mau kemana kamu?" tanya Avika saat menangkap sebuah koper yang ada di genggaman Rai.


"Kembali ke Seoul," jawab Rai dingin. Dia bahkan tidak mau menatap wajah Avika.


"Deg!"


Avika membulatkan mata, dadanya ngilu mendengar pernyataan Rai barusan.


"Tidak Rai, kamu tidak boleh pergi." Avika mencoba merampas gagang koper yang ada di genggaman Rai.


"Cukup Vi, cukup!" bentak Rai meninggikan suara, sontak Avika terperanjat dan menjauhkan tangannya dari koper Rai. "Sudah cukup memberiku harapan palsu, sudahi drama ini dan biarkan aku pergi!" imbuh Rai penuh penekanan.


Seketika air mata Avika jatuh membasahi pipinya. Dia tidak menyangka bahwa Rai akan berpikir sejauh ini. "Jangan pergi, aku mohon!" lirih Avika.


"Tidak ada alasan untukku tetap berada di sini, seharusnya sejak awal aku tidak perlu datang ke rumah ini." ungkap Rai menyesali kedatangannya ke rumah itu. Sekarang perasaannya hancur berkeping-keping.


Lalu Rai mendorong bahu Avika dan melangkah sembari menarik koper yang dia genggam.


"Rai... Jangan tinggalkan aku, aku mohon!" teriak Avika, sayang Rai sama sekali tidak peduli.


"Mau kemana kamu?" tiba-tiba langkah Rai terhenti saat tubuh tinggi tegap Arhan sudah berdiri di hadapannya.


"Maaf Om, aku harus kembali ke Seoul." Rai hendak melanjutkan langkahnya tapi Arhan dengan cepat menghadangnya.

__ADS_1


"Ingat, sekali saja kamu meninggalkan rumah ini, maka jangan pernah berharap untuk bisa kembali." ancam Arhan menajamkan tatapan.


Rai terdiam sejenak, lalu mengangguk lemah. "Baik Om, aku pastikan bahwa aku tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini." jawabnya.


"Kalau begitu silahkan!" Arhan bergeser dan memberi ruang agar Rai bisa pergi dengan leluasa.


"Tidak Rai, jangan pergi!" Avika berhamburan mengejar Rai dan memeluknya dari belakang. "Jangan pergi, aku juga mencintai kamu Rai. Tolong, tetaplah di sini!" isak Avika berderai air mata. Rai terkejut mendengar itu.


Sedangkan Arhan hanya tersenyum menyaksikan drama itu. Entahlah, mau marah tidak mungkin tapi tetap saja dia geram melihat tingkah keduanya. Batu ketemu batu ya jadinya seperti itu, tidak ada yang mau mengalah menahan ego di diri masing-masing.


"Kesempatanmu hanya sekali. Jika kamu pergi, maka Om pastikan Avika akan menikah dengan orang lain dalam waktu dekat ini." tegas Arhan penuh penekanan.


"Deg!"


Rai tersentak dengan jantung berdegup kencang. Menikah dengan orang lain? Tidak tidak, Rai tidak mau hal itu sampai terjadi. Dia sangat mencintai Avika, dia tidak akan rela Avika menjadi milik orang lain.


Lalu Rai melepaskan gagang koper yang dia genggam, dia menarik tangan Avika yang melingkar di perutnya dan berbalik.


"Jangan pergi!" lirih Avika. Dia kembali memeluk Rai dengan erat.


Rai ingin mendekapnya tapi dia ragu, Arhan pasti marah jika anak gadisnya dipeluk sembarangan.


"Bertanggung jawablah atas apa yang sudah kamu lakukan pada putriku!" tekan Arhan. Dia kemudian meninggalkan mereka berdua di sana. Dia ingin memberi kesempatan agar keduanya berbicara dari hati ke hati.


Rai mengerutkan kening. Memangnya apa yang sudah dia lakukan pada Avika? Apa yang harus dia pertanggung jawabkan?


"Jangan pergi, Rai!" gumam Avika dengan suara serak.


"Kenapa aku tidak boleh pergi?" tanya Rai mencari tau. Dia butuh alasan yang jelas.


"Karena aku mencintaimu, aku tidak mau kehilangan kamu. Aku-"


"Katakan sekali lagi!" potong Rai.


"Aku cinta kamu Rai, tetaplah di sini bersamaku!" ulang Avika.


"Benarkah?" Rai membulatkan mata seakan tak percaya.


Avika menganggukkan kepalanya. Rai pun akhirnya mendekap Avika dengan erat. Tak terbilang betapa bahagianya dia mendengar itu.


"Apa itu artinya kamu bersedia menjadi-"


"Ya, aku mau." selang Avika tanpa mendengar kelanjutan ucapan Rai. "Aku mau jadi istrimu," imbuhnya.


Lagi-lagi Rai membulatkan mata. "Vi, kamu tidak bercanda kan?" Rai mencoba memastikan.


"Tidak, aku serius." ucap Avika.


Saking senangnya, Rai pun mengangkat bokong Avika dan berputar-putar kegirangan.


"Aaaah... Hati-hati Rai, nanti aku jatuh." pekik Avika sembari mengalungkan tangan di tengkuk Rai.


Rai menghentikan aksinya dan menurunkan Avika dari gendongannya. "Kamu yakin mau menjadi istriku, aku tidak punya apa-apa. Kamu tidak akan mungkin bahagia bersamaku,"


"Tapi aku mencintaimu, tidak masalah asalkan ada kamu bersamaku." kata Avika sembari mengulas senyum.


"Vi..."


Rai ingin sekali mengesap bibir mungil Avika tapi urung dia lakukan, takut ada yang melihat dan menganggapnya pria yang tidak beretika. Apalagi posisi mereka sedang berada di ruang terbuka.


Tanpa mereka sadari, ternyata Arhan masih menguntit mereka dari kejauhan. Dia turut bahagia melihat Avika tersenyum bersama pria yang dia cintai. Setidaknya Arhan merasa lega karena Avika tidak akan jatuh ke tangan pria yang salah.


Arhan sangat yakin Rai bisa membahagiakan putri semata wayangnya itu. Dia juga percaya Rai sanggup menjaga Avika dengan kemampuan yang dia miliki. Buktinya Rai sudah melakukannya tempo hari, apalagi Aksa juga sudah mengatakan bahwa Rai adalah pria yang baik. Apa lagi yang Arhan ragukan darinya?

__ADS_1


Sekarang tinggal satu masalah yang harus dia pecahkan. Tapi sebelumnya dia harus menemukan Aryan terlebih dahulu.


Bersambung...


__ADS_2