Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 126.


__ADS_3

Tidak lama setelah ledakan terjadi, mobil Baron tiba di lokasi kejadian bersamaan dengan mobil anak buahnya yang menyusul di belakang.


Baron dan Tobi berhamburan keluar dari mobil kala menyaksikan keadaan yang sudah kacau tidak terkendali. Api masih menyala seiring kepulan asap hitam yang membumbung tinggi. Sementara bagian bangunan yang terbuat dari kayu sudah habis dilalap si jago merah.


"Periksa setiap sudut, apapun caranya kalian harus menemukan Aksa dan Rai!" titah Baron kepada anak buahnya. Dia benar-benar panik, pikiran buruk mulai berkecimpung di benaknya.


Kali ini dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Aksa dan Rai, dia tidak akan sanggup menghadapi kemarahan Arhan andai putra dan menantunya itu tidak bisa diselamatkan.


"Ya Tuhan, tolong tunjukkan mukjizat-Mu pada kami!" pinta Baron memohon doa. Berharap ada keajaiban yang terjadi di dalam sana.


Satu persatu anak buah Baron mulai bergerak menyisir setiap sudut yang bisa mereka jangkau. Hawa di dalam gedung itu terasa sangat panas, tapi mereka tidak akan berhenti sebelum menemukan Aksa dan Rai.


Namun sayang, anak buah Baron cukup kesulitan mengenali beberapa mayat yang tergeletak di permukaan lantai. Tubuh mereka sudah menghitam dan hangus terbakar.


"Aksa... Rai..." seru Tobi. Dia melakukan pencarian di luar gedung dan berputar-putar mengitari area sekitar.


"Aksa... Rai... Tolong jangan bercanda, keluarlah Nak!" sambung Baron dengan perasaan yang tidak menentu. Ingin sekali dia berteriak dan meraung sejadi-jadinya untuk melepaskan kekecewaan pada dirinya sendiri.


Kenapa dia selalu telat saat putranya dalam bahaya? Ayah macam apa dia? Setetes cairan berwarna bening jatuh begitu saja di sudut matanya.


"Om, kami di sini." gumam Aksa dengan suara yang nyaris tak terdengar. Dia dan Rai terjebak diantara reruntuhan puing-puing bangunan yang sudah hancur lebur. Sulit bagi Aksa menggerakkan tubuhnya.


Meski Baron tidak bisa mendengar suara Aksa, tapi hatinya bisa merasakan kehadiran putranya itu.


"Aksa, Om tau kamu masih hidup. Ayo Nak, keluarlah!" lirih Baron berderai air mata.


Dengan susah payah Aksa berusaha menggerakkan kakinya, beruntung ada sebuah kayu yang tiba-tiba berderik karena pergerakannya.


Mendengar suara itu, sontak Baron memutar leher. Dia bisa melihat ada yang bergerak tak jauh dari tempatnya berdiri.


Karena penasaran Baron pun lekas mendekat. Tiba-tiba matanya membulat dengan mulut sedikit menganga menyaksikan tubuh Aksa yang terjepit diantara reruntuhan bangunan. "Aksa..." seru Baron, lalu dengan cepat berjongkok dan bergegas menyingkirkan apa saja yang menindih tubuh Aksa.


"Sakit Om," lirih Aksa yang sudah kehilangan tenaga. Untuk berucap saja rasanya sangat sulit.


"Tobi, cepat bantu aku!" sorak Baron saat menangkap kaki Rai yang tersingkap di balik tumpukan kayu. Sayang Rai tidak bersuara seperti Aksa, tentu saja hal itu membuat Baron panik bukan kepalang.


Tobi yang tadinya hendak masuk ke dalam, tiba-tiba berbalik saat mendengar Baron memanggilnya. Dia pun mengayunkan langkah seribu menghampiri Baron.


"Astaga, ternyata mereka di sini. Syukurlah," Tobi menghela nafas lega saat menangkap keberadaan Aksa dan Rai, lalu dengan cepat menyingkirkan tumpukan kayu yang menindih tubuh Rai.

__ADS_1


Setelah berhasil menyelamatkan keduanya, Baron dan Tobi menggendong mereka berdua ke dalam mobil lalu mencoba membangunkan mereka berdua dengan bantuan sebotol air mineral.


"Aksa, Rai, bangun! Buka mata kalian!" ucap Baron seraya menepuk pipi keduanya, lalu menuang air ke telapak tangannya dan memercikkannya ke wajah Aksa dan Rai bergantian.


"Haus," desis Rai yang tiba-tiba tersadar, namun matanya terasa berat untuk dibuka. Berbeda dengan Aksa yang langsung membuka mata lebar-lebar.


"Iya, ini minum!" Baron menyodorkan mulut botol itu ke bibir Rai, dengan susah payah Rai mencoba menenggaknya.


"Gleg!"


Nafas Rai cekat cekot saat air mineral itu membasahi tenggorokannya.


"Hah..." Rai menghembuskan nafas dengan kasar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Apa aku sudah mati?" tanyanya sambil membuka mata perlahan. Samar-samar wajah Baron dan Tobi tertangkap oleh netranya. "Aku belum mati?" tanyanya lagi.


"Harusnya sudah," jawab Aksa terengah. Dia ingin tersenyum tapi bibirnya terasa kaku. Lalu keduanya saling bersandar hingga kepala mereka saling menempel seperti kembar siam.


"Hahaha..." keduanya tiba-tiba cengengesan tanpa sebab yang jelas. Sontak Baron dan Tobi saling melirik dan mengerutkan kening bersamaan.


Tepat saat jam makan malam tiba, dua mobil yang dikendarai Baron dan Tobi tiba di garasi. Setelah mematikan mesin mobil, keduanya membantu Aksa dan Rai turun dan memapah mereka memasuki rumah.


"Aksa... Rai..." suara Aina menggelegar saat menangkap kedatangan mereka. Semua mata langsung mengikuti arah pandang Aina.


"Kak..."


"Rai..."


Inara dan Avika pun tak kalah heboh saat menyaksikan kondisi suami mereka yang sudah babak belur, lalu berlarian menghampiri suami masing-masing.


"Kak, apa yang terjadi? Kenapa Kak Aksa jadi seperti ini?"


"Rai, kamu kenapa? Apa yang terjadi dengan kalian berdua?"


Suara Inara dan Avika sahut menyahut menanyakan apa yang terjadi pada suami mereka.


"Bertanyanya nanti saja, biarkan mereka duduk dulu!" selang Baron, lalu mendudukkan Aksa di sofa, Tobi pun ikut mendudukkan Rai di samping Aksa.


Tanpa menunggu, Inara dan Avika pun turut duduk di samping suami mereka masing-masing.


"Kak, kamu kenapa sih?" lirih Inara dengan mata berkaca. Dia memberanikan diri menyentuh bibir, pipi dan rahang Aksa yang memar dan membiru. Bahkan masih ada bekas darah yang menempel di sudut bibir dan hidungnya.

__ADS_1


Aksa mengulas senyum dengan susah payah dan menggenggam tangan Inara yang masih berada di bibirnya. "Tidak apa-apa, sayang. Ini cuma luka kecil," alibi Aksa agar Inara tidak khawatir. Dia tau Inara masih demam, dia tidak ingin menambah beban pikiran istrinya itu.


"Bohong, ini bukan luka kecil Kak. Aku ini calon dokter, aku tau mana luka kecil dan mana luka besar. Jangan membodohiku!" ketus Inara dengan bibir mengerucut.


Sontak Aksa tertawa kecil mendengar pengakuan istrinya. "Hehehe... Ketahuan deh bohongnya, lupa kalau istri cantik Kakak ini calon dokter." Aksa merentangkan tangannya dan membawa Inara ke pelukannya lalu mengecup pucuk kepala Inara dengan sayang.


Dia pikir tak akan bisa lagi bertemu istrinya yang manja itu, tapi ternyata Tuhan masih memberi mereka kesempatan untuk bersama.


"Rai, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Avika dengan tatapan mengintimidasi.


"Cuma insiden kecil, tidak perlu khawatir!" jawab Rai sembari menangkup tangan di pipi Avika. Sama seperti Aksa, dia juga berpikir tak akan bertemu lagi dengan istrinya. Tapi takdir masih ingin melihat mereka bersatu.


Sepuluh menit kemudian, Inda datang membawakan kotak p3k lengkap dengan baskom berisi air hangat.


Inara yang sudah terbiasa menangani hal seperti itu, dengan cepat mengompres luka di wajah Aksa lalu membersihkannya dengan alkohol dan menutup lukanya dengan plester.


Kemudian Inara membuka jas dan kemeja Aksa satu persatu lalu membersihkan darah yang masih mengalir di lengannya. Selain bekas luka kemarin yang kembali menganga, ada luka baru juga yang terdapat di bagian yang sama, hanya berjarak beberapa cm saja dengan yang lama.


Setelah membersihkan luka itu, Inara membalutnya dengan perban agar tidak terjadi infeksi.


Usai membantu Aksa, Inara beralih menghampiri Rai yang juga butuh pertolongannya. Namun tiba-tiba Aksa menarik tangannya dengan cepat. "Mau ngapain?" tanya Aksa dengan tatapan tak biasa.


"Bantuin Rai dong Kak, ngapain lagi?" jawab Inara menautkan alis.


"Ada Avika, biar dia saja yang mengobati luka suaminya." tegas Aksa menekankan. Jelas dia tidak suka Inara bersentuhan dengan pria lain meski pria itu adalah adik iparnya sendiri.


"Astaga Kak Aksa, memangnya seorang dokter bisa milih-milih pasien? Lagian ini merupakan tanggung jawab Kak, aneh-aneh saja ih." keluh Inara mencebik bibir. Semua orang yang melihat mereka sontak tertawa terbahak-bahak.


"Aksa, Aksa, jangan terlalu posesif jadi laki-laki. Wanita kalau digituin, yang ada malah bertingkah." timpal Hendru dengan tawa menggelegar.


"Iya nih, lagian Rai itu suaminya Avika. Dia itu adik ipar kamu loh, jangan mikir macam-macam!" sambung Nayla terkekeh.


"Hahaha... Makan tuh cemburu, telan sampai kenyang!" Aryan tentunya tak mau kalah, kapan lagi menertawakan kakaknya itu.


Melihat semua orang yang menertawakan dirinya, air muka Aksa tiba-tiba memerah. Ada sedikit perasaan malu di hatinya mengingat ketakutannya yang terlalu berlebihan. "Ya sudah, terserah kamu saja." ucap Aksa menebalkan muka. Malu-malu deh, lagian urat malunya juga sudah putus kan? Tidak masalah mereka semua menganggap ini lelucon atau apa.


Setelah mendapat izin dari Aksa, Inara pun dengan cepat mengobati luka Rai seperti yang dia lakukan pada Aksa barusan.


Selepas itu Inara dan Avika menyuapi suami mereka makan dan memberikan obat antibiotik untuk keduanya.

__ADS_1


__ADS_2