Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 65.


__ADS_3

Pagi telah datang, semua orang mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Sementara Inara sendiri masih bergulung di dalam selimut. Jangankan untuk turun ke bawah, bangkit dari kasur saja dia sangat enggan.


Inara pikir hubungannya dengan Aksa sudah tidak seperti biasa lagi, Aksa sudah berubah dan tidak peduli lagi padanya. Belum apa-apa saja sudah begini, bagaimana jika mereka sudah menikah, Inara tidak mau diperlakukan seperti ini.


"Tok Tok Tok"


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Inara menutup telinga, dia tidak mau membukanya. Untuk apa? Lebih baik dia mengurung diri saja di kamar.


"Inara, buka pintunya sayang! Ini Bunda," teriak Nayla dari luar sana.


Inara tidak menyahut, dia malah meraih bantal dan menutup telinganya.


"Inara, ayo cepat Nak! Ada yang nyariin kamu nih, kamu gak kangen?" alibi Nayla agar Inara mau membuka pintu.


Inara menjauhkan bantal dari telinganya, dia menajamkan pendengaran. Apa mungkin yang dimaksud Nayla itu Aksa? Tapi tetap saja Inara tidak mau membukanya, dia masih marah sama kakaknya itu.


"Inara sayang, ayolah, buka dulu pintunya!" bujuk Nayla.


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, mau tidak mau Nayla terpaksa mengambil kunci serap. Setelah berhasil membuka pintu, dia menghampiri Inara yang masih bergulung di dalam selimut.


"Ayo, kalian masuk saja!" ajak Nayla pada dua orang gadis yang Nayla sewa dari sebuah rumah cantik.


Dua orang gadis itu mengangguk dan masuk ke dalam kamar sembari menyeret barang bawaan mereka. Mereka akan melakukan spa pada tubuh Inara. Selain untuk kebugaran dan relaksasi pada tubuh calon pengantin itu, tujuan Nayla agar kulit putrinya semakin mulus dan kinclong untuk modal malam pertama nanti.


"Sayang, ayo bangun! Tidur mulu," Nayla menarik selimut Inara dan memaksa putrinya untuk bangkit.


"Apaan sih Bun? Inara tidak mau bangun, Inara ngantuk." Gadis itu mencebik dengan tatapan mata sendu.


"Ngantuk apanya? Sudah jam berapa ini? Ayo, cepat bangun! Bunda sudah membawa dua orang gadis ini untuk kamu." ucap Nayla.


"Untuk apa Bun?" tanya Inara acuh tak acuh.


"Kamu nanya? Apa mau Bunda cabut saja surat izin untuk kamu? Biar Bunda bilang sama Ayah agar pernikahan ini dibatalkan," gertak Nayla.


"Pernikahan?" Inara membuka mata dengan sempurna.


"Iya, jika kamu berubah pikiran biar Bunda bilang sama Ayah." ancam Nayla.


"Maksud Bunda?" Inara menautkan alis.

__ADS_1


"Akad akan dilangsungkan sore nanti. Itupun kalau kamu masih mau," jelas Nayla.


"Inara mau, tapi Kak Aksa-"


"Sudah, jangan pikirkan dia! Sekarang lakukan saja apa yang Bunda suruh!" tegas Nayla.


"Tapi Bun-"


Nayla mengalihkan pandangannya pada dua gadis tadi. "Ayo, lakukan pekerjaan kalian! Buat tubuh putri saya rileks dan jadikan kulitnya selembut kulit bayi!"


"Baik Bu," angguk keduanya bersamaan.


Inara akhirnya mengalah, dia turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Setelah Inara keluar, dua gadis tadi mulai melakukan tugas mereka.


...****************...


"Cie cie, sampai segitunya. Awas, nanti tulangnya pada rontok!" seloroh Rai dengan senyum mengejek.


Setelah sarapan tadi, Rai meninggalkan kediaman Airlangga. Dia juga membawakan sarapan yang dibuatkan Aina untuk Aksa.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Aksa dengan nafas tersengal. Sejak sepuluh menit yang lalu dia asik nge-gym di lantai dua apartemen. Hal itu dia lakukan buat persiapan nanti malam, dia akan membuktikan bagaimana gilanya macan saat kelaparan.


"Dedemit kepalamu, kalau iri bilang saja. Panas ya karena belum juga mendapatkan tempat untuk berbagi keluh kesahmu itu?" sindir Aksa yang terus saja berjibaku membentuk ototnya.


"Siapa yang iri? Orang sudah punya kok, tinggal tunggu waktu yang tepat saja." jawab Rai enteng.


"Kapan? Tunggu rambutmu memutih dulu?" ejek Aksa.


Rai meletakkan rantang yang dia bawa, lalu membuka pakaian dan ikut membentuk ototnya bersama Aksa.


"Bukankah semua itu butuh proses? Kau juga tidak gampang mendapatkan Inara kan? Jadi jangan pernah mengejekku lagi!" Rai tersenyum getir.


"Siapa? Ayo katakan padaku!" Aksa menyipitkan mata menunggu jawaban.


"Belum saatnya, tunggu saja tanggal mainnya!" jawab Rai dengan santai.


"Cih, pakai acara rahasia rahasiaan segala. Aku yakin gadis itu tidak secantik Inara ku," Aksa mengulas senyum miring.


"Siapa bilang? Sebelas dua belas lah sama gadis kesayanganmu itu," sahut Rai mengulum senyum.

__ADS_1


"Sayangnya aku tidak percaya padamu, bilang saja sedang menghibur diri." olok Aksa.


"Terserah kamu saja, percaya syukur tidak percaya juga tidak apa-apa." Rai mengangkat bahu, lalu melanjutkan aktivitasnya.


Setelah satu jam berjibaku melenturkan otot-otot yang mulai kaku, Aksa akhirnya menyudahi gym nya. Perutnya mulai keroncongan, dia mengambil rantang yang dibawa Rai tadi lalu kembali ke unitnya.


Sebelum menyantap sarapannya, Aksa memilih mandi terlebih dahulu. Setelah tubuhnya segar bugar barulah dia mengisi perut.


"Ahhh..." Rai datang dan menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Aksa..." panggil Rai.


"Hmm..." gumam Aksa dengan mulut yang dipenuhi makanan.


Rai menghela nafas berat lalu berkata. "Jika seorang gadis miskin mendapatkan seorang pangeran, itu sudah biasa kan?"


"Setahuku begitu, memangnya kenapa?" jawab Aksa mengerutkan kening.


"Hmm..." Rai manggut-manggut. "Lalu jika seorang pria miskin menyukai seorang putri kerajaan, apa itu mungkin?" imbuh Rai.


Aksa menyipitkan mata, dia merasa ada yang janggal dengan pertanyaan Rai kali ini. "Tergantung, yang penting saling mencintai. Tidak ada yang memaksa dan tidak ada yang dipaksa."


"Katakanlah mereka berdua saling mencintai. Apa keluarga dari pihak perempuan akan merestui? Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat putri mereka kan?" Rai nampak begitu serius menanyakan ini. Dia harus berhati-hati dalam melangkah, takut kehadirannya malah menjadi boomerang untuk keluarga Aksa.


"Tergantung keluarganya sih, terkadang banyak orang-orang kaya di luar sana yang menginginkan menantu dari kalangan atas. Tapi tidak semuanya juga, contohnya saja keluargaku. Status bukan hal utama di keluarga kami." ucap Aksa enteng.


"Misal nih ya, ini misal loh jangan marah dulu!" Rai menatap Aksa dengan tatapan serius. "Misalkan aku menyukai adikmu bagaimana? Apa aku layak?"


"Jangan main-main Rai!" Aksa mengeratkan rahang.


"Loh, kok marah? Kan aku bilangnya misal," Rai tersenyum getir.


Aksa mencoba memahami, tapi dia bukan orang bodoh yang bisa dikibuli. Sepertinya yang ditanyakan Rai tadi bukan semata berandai-andai, tapi jelas menunjukkan ada sesuatu yang Rai sembunyikan.


Tapi biarlah dulu, Aksa tidak ingin mempersulit pria itu. Aksa tau siapa Rai dan bagaimana kepribadiannya. Rai bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta, dia juga bukan tipe pria yang mudah dekat dengan wanita. Sejauh yang Aksa tau, dia belum pernah melihat Rai bersama wanita manapun.


Aksa juga tidak mau egois terhadap adik-adiknya, dia memberi kebebasan bagi mereka untuk memilih. Siapapun itu Aksa akan mendukung asal pilihan mereka bukanlah orang yang salah. Aksa tidak mau adik-adiknya mengikuti jejak sang papa yang pernah salah dalam memilih pasangan hingga akhirnya sang mama lah yang menderita.


Andai kata Rai dan Avika saling mencintai, Aksa tidak akan menghalangi mereka. Aksa sendiri sudah merasakan bagaimana rasanya mencintai dan ditentang oleh keluarganya sendiri. Rasanya sangat menyakitkan, Aksa tidak ingin Avika merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2