Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB 38.


__ADS_3

"Huftt, dasar kepala batu." umpat Aksa sambil menghempaskan bokongnya di sofa. Setelah pertengkaran tadi, Aksa langsung ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.


"Siapa kepala batu?" Tiba-tiba terdengar suara Arhan yang sengaja berdiri di samping pintu agar Aksa tidak melihatnya.


Sontak Aksa terperanjat dengan mata membulat sempurna. "Pa-Pa... A-Anu Pa..." Aksa terbata sambil memperbaiki posisi duduknya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Anu apa?" Arhan mengulum senyum dan berjalan menghampiri Aksa.


"Ah... Sudahlah Pa, jangan bikin Aksa tambah pusing!" Aksa meninju udara dan menarik nafas dalam-dalam.


"Hahahaha... Marah sama siapa, dilampiaskan sama siapa, kamu sehat?" goda Arhan sambil tertawa cengengesan, lalu duduk bersebelahan dan menepuk pundak Aksa.


"Kenapa wanita itu sangat menjengkelkan sih, Pa? Apalagi anak kesayangan Papa itu, pagi-pagi sudah bikin darah tinggi." gerutu Aksa sambil mengepalkan tinju dan melayangkannya di dudukan sofa.


"Anak kesayangan Papa?" Arhan mengerutkan kening. "Yang mana? Diantara kalian berlima, semua kesayangan Papa." jawab Arhan dengan pertanyaan pula.


"Itu loh Pa, yang paling cengeng dan suka kabur-kaburan." geram Aksa.


"Oh, maksud kamu Inara?" ungkap Arhan.


"Namanya tidak usah disebutin juga kali Pa, bikin tambah emosi saja." gerutu Aksa sambil memijat dahi.


"Lagian untuk apa kamu pergi menemui dia? Bukannya langsung ke kantor malah keluyuran kemana-mana." oceh Arhan.


"Niat Aksa kan baik Pa, Aksa cuma ingin meminta dia buat melupakan Akbar dan membuka hatinya untuk Aksa. Eh malah kekeh mau nunggu si Akbar itu. Sudah jelas orangnya ada di depan mata." kesal Aksa sampai bersungut-sungut.


"Hahahaha... Makanya jangan main api kalau tidak mau terbakar!" ejek Arhan menahan tawa.


"Siapa yang main api sih Pa? Orang dia duluan kok yang godain Aksa, tau gini mending Aksa biarkan saja dia diculik waktu itu. Memang dasar tidak tau terima kasih," umpat Aksa sembari mendengus kesal.


"Eh, jangan ngomong seperti itu Aksa! Bagaimanapun Inara itu adik kamu loh," selang Arhan yang tidak suka mendengar ucapan Aksa barusan.


"Adik dari mananya? Adik Aksa cuma Avika, Aryan dan Bara. Gadis keras kepala itu tidak cocok jadi adik Aksa. Maunya menang sendiri, dia pikir dia siapa? Nanti giliran Aksa ketemu wanita yang lebih dari dia baru tau rasa," geram Aksa.


"Ya sudah, kalau begitu cari saja kalau kamu sanggup." jawab Arhan enteng sambil mengulum senyum.


"Aish... Bukannya dikasih solusi malah... Ah sudahlah... Aksa mau kerja dulu, puyeng." Aksa mengacak rambutnya sendiri, lalu berjalan menuju meja kerja. Akan lebih baik jika dia melupakan Inara barang sejenak, dari pada dipikirin terus malah membuatnya gila beneran.


"Hehehehe... Makanya jangan main hati! Sekarang makan hati kan?" Arhan tertawa terbahak-bahak lalu meninggalkan ruangan Aksa dan kembali ke ruangannya.


Selepas kepergian Arhan, Aksa mulai fokus pada pekerjaan yang sudah melimpah di atas meja kerja. Bukannya mereda, sakit kepala Aksa malah semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Aksa kemudian bangkit dari duduknya dan memilih meninggalkan ruangan. Dia masuk ke ruangan Rai dan membanting pintu dengan kasar.


"Braaak!"


"Eits..."


Rai terperanjat, dia langsung siaga sambil merogoh sesuatu di punggung. Tapi saat melihat siluet Aksa, dia segera memperbaiki posisi duduk dan merapikan jas yang melekat di tubuhnya.


"Gila kau, aku pikir-"


"Tidak usah banyak pikir, kau tidak akan kuat." potong Aksa, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Kenapa lagi?" Rai mengerutkan kening.


"Pusing," keluh Aksa sambil memijat dahi.


"Sudah minum obat?" tanya Rai dalam mode serius.


"Obatnya lagi kuliah," sahut Aksa dingin.


"Hahahaha... Sepertinya kewarasan mu mulai luntur gara-gara gadis itu," ejek Rai menertawakan Aksa.


"Kenapa tidak kau lakukan?" Rai mengulum senyum.


"Rumit, sangat rumit." Aksa menghela nafas berat. "Andai dia bukan adikku, sudah ku makan sejak kita masih di Busan. Tapi entahlah, kepalaku rasanya ingin pecah." Aksa membaringkan diri dan menutup wajah dengan tangan. Kepalanya serasa ingin meledak seperti bom waktu.


"Hihihihi, makanya jangan main hati!" ledek Rai.


"Sekarang kau menang karena bisa mengejekku sesuka hatimu, tapi saat giliranmu tiba aku akan menghakimi mu lebih dari ini. Tertawa lah di atas penderitaan ku!" Aksa bergumam dan memicingkan mata.


Rai terdiam menelaah kata-kata Aksa barusan. Apa benar? Bisa jadi kan?


Karena tidak semua hubungan bisa berjalan dengan mulus, pasti ada saja rintangannya. Apalagi saat ini Rai tengah tertarik dengan seorang gadis, tapi pria itu tidak mau menuruti perasaannya.


Lebih baik menjaga sebelum terlambat. Dia tidak ingin bernasib sama seperti Aksa yang tiba-tiba menjadi bodoh gara-gara seorang wanita.


Dimana Aksa yang dulunya dingin, keras, dan arrogant. Sekejap mata Aksa bisa berubah menjadi kucing imut yang suka disayang-sayang. Terkadang Rai sendiri bingung melihat perubahan drastis di diri Aksa.


Di kampus, Inara baru saja keluar dari kelas. Dia kemudian masuk ke ruangan dosen dan memberikan proposal hasil magang yang dia bawa.


Setelah mempelajari proposal itu dengan seksama, dosen itu manggut-manggut sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tidak mengecewakan," Hanya kalimat itu yang terlontar dari mulut dosen itu. Tentu saja Inara sangat puas mendengarnya. Dipikirannya, dia ingin menyuntik mati Aksa setelah mendapatkan gelar.


"Hahahaha... Tunggu saja tanggal mainnya!" batin Inara tersenyum puas.


Selepas bertukar pikiran dengan dosen itu, Inara pamit setelah lebih satu jam duduk di ruangan itu, lalu memilih pulang sebelum jam kantor sang ayah selesai.


Sebenarnya Inara ingin sekali menemui Riska. Dia ingin curhat pada sahabatnya itu, sayang hari ini Riska tidak datang. Terpaksa Inara bersabar hingga esok hari.


Inara meninggalkan kampus, dia menyetop sebuah taksi tepat di depan gerbang. Setelah masuk, Inara meminta sang sopir mengantarnya pulang.


Sayangnya laju taksi itu terhenti tepat di jalanan yang cukup sepi. Sebuah mobil jeep memotong laju taksi itu.


"Kenapa berhenti Pak?" tanya Inara yang belum menyadari apa yang terjadi, sedari tadi dia sibuk memainkan iPhone miliknya.


"Ada mobil yang menghadang kita Non," sahut sang sopir dengan suara bergetar. Matanya tak sengaja menangkap senjata tajam dan senjata api yang ada di tangan beberapa orang pria bertubuh besar yang baru turun dari mobil.


Inara mendongak dan terperanjat, matanya membulat, jari-jarinya bergetar menggenggam iPhone yang masih ada di tangannya.


Sebelum para pria itu mendekat, Inara menyempatkan diri mencari kontak Aksa. Tapi sebelum sempat menekan tombol telepon, pintu mobil sudah dibuka paksa.


Inara tersentak dan bergegas memasukkan iPhone nya ke dalam tas. Tanpa disengaja, tombol telepon itu tersentuh saat Inara menyimpannya.


Aksa yang tadinya tertidur langsung terbangun saat merasakan getaran di area sensitif nya.


"Siapa sih? Ganggu orang tidur saja," kesal Aksa, lalu merogoh kantong celananya.


"Inara..." Mata Aksa yang tadinya enggan terbuka, kini melotot dengan sempurna.


"Hmm... Tadi sok jual mahal, sekarang menelepon. Dasar labil," Aksa menyeringai. Sebenarnya dia malas sekali mengangkat telepon itu, tapi karena penasaran Aksa pun menggeser tombol hijau ke atas.


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dariku?" teriak Inara yang membuat Aksa terperanjat.


"Inara... Inara... Apa yang terjadi denganmu?" Aksa berhamburan dari tidurnya dan berdiri sambil mengepalkan tinju.


"Inara..." panggil Aksa.


"Hahaha... Ikan segar nih," ucap seorang pria, dan itu terdengar jelas di telinga Aksa.


"Bawa gadis itu, jadikan dia umpan agar bos muda Alliance mau keluar dari persembunyiannya!" Terdengar suara seorang pria memberi perintah, lalu mulut Inara dibekap dengan sapu tangan yang sudah diberi bius. Dalam beberapa detik Inara mulai kehilangan kesadarannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2