
Di luar sana terang berganti gelap, Arhan dan Hendru sudah tiba di rumah sakit bersama Aksa, Inara, Rai dan juga Avika. Mereka bergantian menjaga Aryan dan meminta Tobi, Andi dan Dori pulang untuk istirahat.
Sedangkan Airlangga dan Leona sudah terbang ke Seoul dua hari yang lalu, mereka berdua tidak bisa berlama-lama di ibukota mengingat banyaknya pekerjaan yang terbengkalai di sana. Airlangga kembali mempercayakan semuanya pada Arhan.
Berbeda dengan Baron yang sejak satu minggu lalu menghilang entah kemana, dia juga membawa Inda dan Bara bersamanya. Aksa dan Rai sudah berusaha mencarinya tapi sampai detik ini belum berhasil menemukan mereka.
Tanpa terasa sudah dua jam saja Dara duduk di samping brankar yang ditiduri Aryan, tangannya mulai pegal karena Aryan tak kunjung melepaskan genggamannya.
"Dara, kamu di sini Nak?" tanya Arhan sesaat setelah memasuki ruangan Aryan, yang lain menyusul masuk di belakangnya.
"Iya Pa, Dara sudah diizinkan pulang oleh dokter." jawab Dara mengulas senyum.
Karena Arhan sudah ada di tengah mereka, Aina langsung berdiri dan menghampiri suaminya itu. Setelah menyalami dan mengecup punggung tangannya, Aina membawanya ke sisi brankar.
"Pa, Dara dan Aryan akan bercerai. Papa tolong urus secepatnya ya!" ucap Aina gamblang, dia lantas sengaja meninggikan volume suara.
"Ma, jangan bercanda!" tegas Arhan dengan mata menyipit tak percaya. Anggota keluarga yang lain ikut terkejut mendengarnya. "Baru nikah main cerai saja, apa kalian sudah gila?" geram Arhan. Dia menajamkan tatapan ke arah Dara, tak percaya menantunya akan berpikir sesingkat ini.
Sebelum Dara membuka suara, Aina dengan cepat mencubit lengan Arhan. Matanya mengerinyam memberi isyarat agar Arhan bersedia mengiyakan permintaannya itu.
Awalnya Arhan nampak kebingungan, dia sampai menoleh ke arah Hendru, Nayla dan yang lainnya. Siapa sangka Nayla mengangguk setuju, kening Arhan mengernyit dibuatnya.
"Dara, apa kamu yakin dengan keputusan ini? Pernikahan ini bukan lelucon Nak, kalian berdua sudah terikat dalam sebuah ikatan suci, jangan sampai menyesal setelah perpisahan itu terjadi!" tegas Arhan yang masih terlihat kebingungan.
"Tidak Pa, Dara sangat yakin. Aryan juga pasti setuju, sebelum menikah kami sudah membuat kesepakatan." ucap Dara enteng.
"Ya sudah kalau itu yang kamu inginkan, besok akan Papa urus ke pengadilan agama." sahut Arhan mengerutkan kening.
"Pa..." seru Aksa.
"Diam Aksa!" selang Nayla seraya menarik tangan putra sekaligus menantunya itu.
__ADS_1
"Tapi Bun-"
"Sssttt..." timpal Aina.
Sesaat setelah Arhan menyetujui permintaan gila itu, Dara meringis kesakitan. Tangannya kembali dicengkeram oleh Aryan, kuku-kuku Aryan yang tajam membuat punggung tangan Dara tergores. Rasanya sangat perih, tapi Dara mencoba menahannya.
"Kamu kenapa Dara?" tanya Inara sambil melangkah mendekati adik iparnya itu. Seketika mata Inara membulat menyaksikan gerakan tangan Aryan yang masih memelintir jari-jari mungil Dara.
"Aryan menggerakkan tangannya Ma, Pa." seru Inara meninggikan volume suaranya. Yang lain sontak terkejut dan segera menghampiri mereka.
"Iya, Mama tau itu. Sudah dua jam Aryan menggenggam tangan Dara, sampai detik ini dia tidak mau melepaskannya. Sepertinya kali ini harus dipaksa, Dara tidak boleh lagi berada di sini. Kita akan mengembalikan Dara ke tempat asalnya." jawab Aina yang membuat semua mata menatapnya dengan tajam. Tidak biasanya Aina bicara tanpa menggunakan hati seperti ini, apa Aina kerasukan setan Tasya?
"Mama benar, aku tidak mau lagi berada di sini. Aku akan pergi dari hidup Aryan, mungkin aku akan mencari pria yang lebih baik darinya. Untuk apa bertahan dengan suami lemah seperti ini? Bangun saja dia tidak bisa, bagaimana mungkin dia sanggup menjagaku dari orang-orang jahat itu?"
Kali ini semua mata beralih menatap Dara, tentu saja mereka marah mendengar ucapan tidak berperasaan wanita itu. Terlebih Aksa yang tiba-tiba meradang, dia merasa bahwa Dara tidak tau diuntung. Bukannya berterima kasih sudah diselamatkan, malah ingin meninggalkan Aryan dalam keadaan seperti ini. Hanya Aina dan Nayla yang tersenyum melihat kelakuan usil menantu mereka itu.
"Dara..." bentak Aksa mengepal tinju, emosinya benar-benar diuji.
Kesal karena tak diberi kesempatan untuk bicara, Aksa memilih meninggalkan ruangan dan membanting pintu dengan kasar. Wanita apa yang dinikahi adiknya itu? Jika Aksa tau begini akhirnya, lebih baik dia biarkan saja Dara diculik waktu itu.
Melihat suaminya yang sedang dibakar api kemarahan, Inara pun menyusul keluar. Dia tau Aksa tidak bisa menerima ini, Aksa tidak ingin Aryan sedih karena keputusan sepihak yang diambil Dara.
"Kak... Tolong kendalikan emosi Kakak, kita tidak bisa ikut campur urusan rumah tangga mereka. Kakak dengar sendiri kan, ini sudah menjadi kesepakatan mereka berdua." ucap Inara sesaat setelah duduk di samping Aksa. Dia mengusap punggung suaminya perlahan, bermaksud menenangkannya.
"Tapi ini sudah kelewatan sayang, minimal tunggu Aryan sadar dulu bisa kan? Memang dasar tidak tau diri wanita itu, sudah ditolong malah ngelunjak." geram Aksa menggertakkan gigi.
"Sudah, biarkan saja. Kita tidak bisa berbuat apa-apa." Inara melingkarkan tangannya di pinggang Aksa dan merebahkan kepala suaminya di dadanya.
Di dalam sana, Dara menatap Arhan dengan raut wajah bahagia. Tidak ada perasaan bersalah nampak di mukanya.
"Pa, tolong lepaskan genggaman Aryan dari tangan Dara! Dara harus pergi sekarang juga, Pa." pinta Dara kepada Arhan.
__ADS_1
Mau tidak mau, Arhan terpaksa mengangguk meski kepalanya mulai cenat cenut memikirkan situasi ini. Aryan pasti terluka jika tidak melihat Dara ketika bangun nanti.
Akan tetapi, Arhan tidak bisa mencegah keinginan menantunya itu. Jika ini yang terbaik, apa yang bisa dia perbuat.
Lalu Arhan menghampiri Dara dan meraih tangan Aryan. Meski sulit, Arhan terpaksa menggunakan kekuatannya agar Aryan mau melepaskan tangan Dara.
"Jangan Pa, jangan pisahkan aku dengan istriku!"
Seketika mata semua orang membulat dan menatap Aryan bersamaan. Arhan sendiri terperanjat dan lekas menjauhkan tangannya dari tangan Aryan yang masih menggenggam erat tangan Dara.
"Tolong jangan pisahkan kami, aku bisa mati jika Dara pergi dari hidupku. Aku mencintainya, aku tidak sanggup kehilangan istriku." Meski dalam keadaan mata tertutup rapat, tapi suara Aryan terdengar jelas di telinga semua orang.
Sontak air mata Dara berjatuhan di pipinya. Ini yang ingin dia dengar dari tadi, dia tau Aryan tidak akan pernah melepaskannya. Dara menyadari semuanya saat Aryan mengorbankan hidupnya, Dara percaya bahwa Aryan benar-benar mencintainya.
Tanpa berpikir panjang, Dara langsung saja menjatuhkan pipinya di wajah Aryan. "Aku janji tidak akan pergi dari hidupmu, tapi kamu harus bangun. Buka matamu dan lihat aku, aku di sini." isak Dara berlinangan air mata, ingusnya sampai keluar dan menetes di leher Aryan. Semua mata yang memandang ikut terharu dan meneteskan air mata di pelukan suami masing-masing.
"Kamu jorok sekali Dara, air apa yang membasahi leherku itu?" gumam Aryan dengan suara serak, nyaris tak terdengar.
"Hehe... Maaf Aryan, itu ingusku. Dia mengalir begitu saja," Dara sontak tertawa dan lekas menyeka wajahnya, lalu menyeka leher Aryan dengan tangannya.
"Biarkan saja, tidak usah dilap selama itu keluar dari tubuh istriku." kata Aryan. Tangannya bergerak perlahan dan melingkar di tengkuk Dara. "Tolong maafkan aku, aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu seperti malam itu!" imbuhnya seraya membuka mata.
"Iya, aku tidak marah. Pengorbananmu jauh lebih berharga dari apapun, kamu bahkan rela mempertaruhkan nyawamu demi aku. Aku yang harusnya minta maaf, aku istri yang buruk." sesal Dara.
"Tidak Dara, kamu tidak salah. Aku yang terlalu egois tanpa memikirkan perasaanmu. Beri aku kesempatan untuk menjadi suami yang baik untukmu, aku janji akan menjagamu dari semua orang yang ingin menyakitimu." ucap Aryan.
"Iya, kita coba dari awal ya." kata Dara.
"Heeh," angguk Aryan. Dia mengusap rambut Dara dan mengecup pipinya.
Melihat Aryan yang benar-benar sudah sadar sepenuhnya, Aina merasa lega. Tidak sia-sia Dara memancing emosi Aryan sejak sore tadi. Akhirnya usaha itu membuahkan hasil yang sempurna.
__ADS_1