
Setelah fokus mengikuti kemana arah sepeda motor Baron melaju, sampailah mobil yang dikendarai Rai di depan sebuah rumah petak yang nampak begitu sederhana.
Baron dan Bara lekas turun dari motor, keduanya disambut oleh Inda yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Tak terasa air mata Aksa langsung berjatuhan membasahi pipinya, dia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan mereka di tempat seperti ini.
Setelah ketiganya masuk ke dalam rumah, Aksa menyeka wajahnya dan turun dari mobil. Rai tidak ikut turun, dia memilih menunggu Aksa di mobil.
"Prok Prok Prok"
Suara tepukan tangan yang dilayangkan Aksa membuat Baron, Inda dan Bara menghentikan langkah mereka. Ketiganya berbalik badan hingga mata mereka terbelalak menangkap keberadaan Aksa yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Kak Aksa..." seru Bara. Dia lantas berhamburan ke pelukan kakaknya itu. Delapan hari tidak bertemu membuat Bara benar-benar rindu, dia memeluk Aksa dengan erat, air matanya berjatuhan tanpa dia sadari.
"Hebat sekali kalian," Aksa tersenyum getir seraya melangkah masuk ke dalam rumah itu. Bara tidak mau melepaskan pelukannya, dia mengikuti langkah Aksa dan duduk di sebuah sofa berkerangka kayu. "Keluarga macam apa ini? Datang dan pergi sesuka hati tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang ditinggalkan," imbuh Aksa dengan senyum mengejek sambil mengusap kepala Bara.
"Kak Aksa, aku tidak ingin tinggal di sini. Bawa aku pulang!" pinta Bara dengan air muka memelas, dia merindukan rumah dan semua anggota keluarga Airlangga yang ikut serta membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, kita akan pulang." sahut Aksa sembari menepuk-nepuk pundak Bara.
Baron dan Inda yang melihat itu hanya diam di tempat mereka berdiri, terlebih Baron yang nampak gelisah dengan air muka yang tiba-tiba berubah gelap. Dia tidak tau harus berkata apa.
"Bagaimana keadaan Aryan, Nak?" tanya Inda dengan mata berkaca. Dia tidak bisa membohongi hatinya, dia sangat merindukan Aksa dan berjalan menghampirinya.
"Tante dan Om sama saja, kalian berdua tidak punya hati. Bahkan kalian tidak berniat melihat Aryan untuk terakhir kalinya. Ibu dan Ayah seperti apa kalian ini?" geram Aksa. Dia sengaja memancing emosi sepasang suami itu agar keduanya syok dan semakin merasa bersalah. Kapan lagi mengerjai mereka berdua?
"Aksa... Apa maksud kamu?" suara bariton Baron tiba-tiba menggelegar memecah gendang telinga, dia tidak bisa menerima ucapan Aksa. Dia tidak percaya Aryan akan meninggalkannya secepat ini. Seketika tubuh besar Baron merosot di lantai, perasaan bersalah itu semakin kuat menggerogoti hatinya.
__ADS_1
"Aksa... Tolong jangan bercanda, Nak! Aryan tidak mungkin-"
"Lihat dia untuk yang terakhir kalinya, atau tidak usah datang selamanya!" potong Aksa, lalu memilih bangkit dari duduknya.
"Kak, aku ikut!" pinta Bara menahan lengan Aksa.
"Ayo!" sahut Aksa, lalu meninggalkan rumah itu tanpa pamit.
Setelah punggung Aksa menghilang dari pandangan mereka, Inda mematut Baron dengan tatapan menyala. Dia marah karena Baron memaksanya pergi meninggalkan keluarga Airlangga, dia menyesal karena tidak bisa menemani Aryan disaat-saat terakhirnya.
"Puas kamu Kak," teriak Inda berderai air mata. "Jika saja kita tidak pergi, aku tidak akan kehilangan kesempatan untuk menemani Aryan disisa hidupnya." imbuh Inda. Tubuhnya ikut merosot di lantai, dia tidak bisa menerima kenyataan menyedihkan ini.
Sementara Baron hanya diam berurai air mata. Apa yang bisa dia katakan? Dia berpikir bahwa semua yang terjadi pada Aryan adalah salahnya.
...****************...
"Hust... Bicara apa kamu?" selang Aksa sembari menoleh ke arah belakang. Di sana Bara duduk sendirian dengan pandangan lurus ke depan.
"Tapi tadi-" ucapan Bara lantas terhenti, keningnya mengernyit mengingat ucapan Aksa di rumah tadi.
"Kapan Kak Aksa bilang kalau Kak Aryan sudah meninggal? Kakak cuma menyuruh mereka melihat Kak Aryan untuk terakhir kali, itu saja." jelas Aksa sembari menyeringai menampakkan barisan giginya yang putih rapi. Setidaknya dia sudah berhasil mengacak-acak emosi Baron. Siapa suruh meninggalkan keluarga Airlangga tanpa izin? Sekarang tanggung sendiri akibatnya.
"Astaga Kak, aku pikir-"
"Sudah, tidak perlu banyak mikir!" potong Aksa sembari tertawa terbahak-bahak. Rai sendiri ikut tertawa melihat kelakuan nakal kakak iparnya itu.
Mengingat hari yang sudah mulai sore, Rai kemudian memutar stir mobilnya ke arah kampus Inara. Aksa memintanya mampir karena jam segini biasanya kelas Inara sudah usai.
__ADS_1
Sesampainya di depan gerbang kampus, mereka mendapati Inara yang hendak naik ke sepeda motor yang diduduki Andi.
"Heh, mau kemana kalian?" seru Aksa sesaat setelah membuka kaca mobil dan menjulurkan kepalanya ke luar jendela.
Inara memutar leher dan tersenyum menangkap kedatangan suaminya. "Mau pulang lah Kak, kemana lagi?" sahut Inara. Dia pun urung menaiki sepeda motor itu dan berjalan menghampiri mobil yang berjarak beberapa meter saja dari motor Andi.
"Kirain lupa kalau sudah punya suami." Aksa mengulum senyum dan bergegas turun dari mobil. Setelah memeluk dan mencium kening Inara, dia membukakan pintu belakang. Sontak Inara terperanjat melihat Bara yang tengah duduk manis menatapnya.
"Bara..." pekik Inara, lalu lekas masuk dan memeluk adik bungsunya itu dengan erat.
Aksa yang melihat itu hanya bisa tersenyum, dia tau Inara sangat menyayangi Bara. Setelah menutup pintu, dia kembali masuk dan duduk di samping Rai.
Setelah mobil itu melaju, suara Inara dan Bara sahut menyahut memulai obrolan mereka. Aksa dan Rai hanya bisa tersenyum sembari melirik satu sama lain.
Tidak berselang lama, mobil itu kembali berhenti di depan kantor Avika. Kebetulan Avika baru keluar dari gerbang dan langsung disambut oleh Rai yang tiba-tiba sudah turun dari mobil. Sama seperti Aksa tadi, Rai juga memeluk Avika dan mencium keningnya. Setelah itu membukakan pintu belakang.
"Bara..." teriak Avika yang tak kalah bersemangatnya dengan Inara tadi. Dia langsung masuk dan mengapit Bara diantara mereka.
Setelah Rai menutup pintu, dia kembali masuk dan melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
"Senang ya, diapit dua wanita cantik." seloroh Aksa seraya memutar leher ke arah belakang.
"Hahaha... Ya iya lah senang. Kenapa, Kak Aksa cemburu?" seloroh Bara, dia terkekeh penuh kemenangan. Kapan lagi memanasi kakak sulungnya itu?
"Heh... Dasar bocil ingusan, jangan kegeeran jadi orang! Siapa juga yang cemburu sama bocah bau kencur sepertimu, gak level kali." desis Aksa dengan senyum mengejek, lalu membuang pandangannya ke arah depan.
Sesaat suasana di dalam mobil itu menjadi riuh layaknya pasar malam yang tengah diserbu banyaknya para pengunjung. Bara, Avika dan Inara tak hentinya mengoceh membicarakan hal-hal yang tidak penting di mata Aksa dan Rai. Tapi kebersamaan itu seketika membuat Aksa tersenyum bahagia. Inilah yang dia inginkan sebenarnya, keluarga yang lengkap, damai dan bahagia tanpa gangguan penyihir jahat sialan itu.
__ADS_1