Terjebak Permainan Tuan Galak

Terjebak Permainan Tuan Galak
TPTG BAB TERAKHIR


__ADS_3

"Nona Avika..." panggil seorang suster dari ambang pintu.


"Iya, saya Sus." Avika mengangkat tangan, lalu bangkit dari duduknya bersama Rai. Keduanya langsung masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan itu.


Sesampainya di dalam, seorang dokter wanita mengulas senyum menyambut kedatangan mereka berdua. Avika dan Rai pun lekas duduk di hadapan dokter itu.


Setelah Rai menjelaskan keluhan yang dirasakan istrinya, dokter itu menyarankan Avika untuk melakukan tindakan USG. Rai mengangguk setuju dan ikut menemani Avika melakukan pemeriksaan.


Dibalik tirai yang ada di ruangan itu, Avika membaringkan diri di atas brankar dengan air muka pucat karena takut bercampur cemas. Rai mencoba menenangkannya dengan menggenggam tangan dan mengusap kepalanya lembut.


"Tidak apa-apa, sayang. Rileks saja!" ucap Rai mengukir senyum.


"Jangan takut, ini tidak sakit, cuma pemeriksaan luar saja," ucap dokter itu sembari tersenyum kecil.


Lalu dokter itu mengangkat baju Avika dan mengolesinya dengan gel. Sebuah alat yang tersambung ke monitor ditempelkan di perutnya.


Seketika mata Rai dan Avika terbelalak tanpa berkedip ketika menatap layar monitor yang menyala di samping brankar. Tampak sebuah kantong dan ada bulatan kecil sebesar kacang di layar itu.


"Selamat ya, Nona Avika positif hamil. Janinnya masih sangat kecil, kisaran tujuh minggu." jelas dokter itu.


"Hah?" Mata Avika tiba-tiba membulat dengan bibir sedikit menganga, ini benar-benar diluar perkiraannya. Dia pikir Inara salah mendeteksi dan menganggap dirinya hanya masuk angin.


"Ini benar kan Dok, saya tidak mimpi kan?" Rai hampir saja menangis saking terkejutnya mendengar penjelasan dokter itu. Alangkah bahagianya dia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


"Benar Tuan, ini bukan mimpi."


"Ya Tuhan, terima kasih atas anugerah terindah ini." lirih Rai meneteskan air mata, dia mengecup punggung tangan dan kening Avika saking bahagianya.


Selepas melakukan USG, dokter itu meninggalkan tempat duduknya dan kembali ke mejanya. Dia kemudian membuatkan resep obat dan vitamin untuk kandungan Avika.


Sesaat setelah Avika turun dari brankar, dia dan Rai menyusul dokter ke tempat duduknya. Dokter itu memberikan resep yang harus ditebus di apotik. Setelah itu mereka berdua berpamitan dan menyalami dokter itu sebelum meninggalkan ruangan.


Sesampainya di luar, Aryan dan Dara lekas berdiri dan menghampiri keduanya. "Bagaimana Kak? Apa kata Dokter?" tanya Aryan penasaran dengan mata menyipit.


"Positif, Kakakmu hamil tujuh minggu." jawab Rai tanpa ragu dengan seringai tipis yang melengkung di sudut bibirnya.


"Ya Tuhan, selamat ya untuk kalian berdua. Keponakan aku nambah satu lagi," Aryan memeluk Avika dengan penuh kebahagiaan. Dia sangat senang mendengar berita bahagia ini.


"Terima kasih, Aryan." sahut Avika dan Rai berbarengan.

__ADS_1


"Selamat ya Kak," sambung Dara dengan wajah kalemnya, dia turut bahagia mendengar kabar baik ini.


"Sama-sama Dara, semoga kamu juga ya." jawab Avika memeluk adik iparnya itu.


Dara tidak menyahut dan hanya menganggukkan kepalanya. Dia takut jika ternyata dia tidak seberuntung Avika dan Inara. Apa Aryan akan marah karena Dara tidak bisa mewujudkan keinginannya?


"Nona Dara..." panggil suster untuk antrian berikutnya.


"Iya, saya Sus." sahut Dara yang masih berada di pelukan Avika, lalu melepaskan pelukan mereka.


"Aku masuk dulu ya Kak." ucap Dara dengan suara melemah. Tangannya mulai basah dan gemetaran tapi Aryan dengan cepat menggenggamnya.


"Semoga berhasil," ucap Avika tersenyum lebar. Dia dan Rai kembali duduk menunggu Dara selesai diperiksa.


Seperti yang dilakukan dokter pada Avika tadi, Dara juga mendapatkan tindakan yang sama. Tapi kata dokter kandungan Dara malah sudah melewati usia tiga bulan.


Tentu saja hal itu membuat Dara dan Aryan terkejut bukan main. "Dokter tidak salah?" tanya Dara kebingungan.


"Tidak, kalian bisa lihat sendiri kan. Ini janinnya sudah berbentuk," jelas dokter itu memperlihatkan janin yang sudah membesar di perut Dara.


"Tapi aku tidak pernah mual selama ini, tubuhku baik-baik saja. Aku juga tidak pernah capek, selera makanku juga tidak hilang." ungkap Dara.


Setelah dokter itu menjelaskan, dia meninggalkan Dara dan Aryan lalu membuatkan resep untuk mereka.


"Aryan..." lirih Dara dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Sudah, tidak usah dipikirkan. Intinya kamu hamil. Itu sudah cukup membuatku bahagia," Aryan mengecup kening Dara dan membantunya turun dari brankar.


Setelah mendapatkan resep dan berpamitan, keduanya meninggalkan ruangan dan disambut senyum kebahagiaan oleh Avika dan Rai.


"Bagaimana Dara, Aryan?" tanya Avika dan Rai bersamaan.


"Sudah lewat tiga bulan Kak, itu artinya benihku sudah tumbuh sejak kejadian malam itu." ungkap Aryan.


"Hah?" sontak mata Avika dan Rai terbelalak mendengar itu. "Kok bisa? Selama ini bukannya Dara tidak merasakan apa-apa?"


"Justru itu yang membuat aku bingung, tapi kata dokter ada beberapa wanita yang mengalami ini." jelas Aryan.


"Ooh..." Avika manggut-manggut seakan mengerti. Tidak masalah mau berapa bulan, intinya Dara hamil dan ini adalah kabar bahagia untuk keluarga Airlangga.

__ADS_1


Setelah menebus resep dokter di apotik rumah sakit, mereka berempat langsung masuk ke dalam mobil dan pulang menuju rumah.


...****************...


"Kami pulang," seru Avika saat baru saja tiba diambang pintu. Suara lantangnya jelas terdengar sampai ruang tengah.


Aina, Nayla dan Inda langsung bangkit dari duduk mereka dan lekas menyusul anak menantu mereka.


"Bagaimana sayang?" tanya ketiganya bersamaan.


"Capek Ma, Bun, Tan, kami duduk dulu ya." sahut Avika yang sengaja membuat tiga ibu itu penasaran.


Setelah mereka semua duduk, pandangan semua orang langsung mengarah pada mereka berempat. Inara yang dari tadi duduk di pangkuan Aksa pun ikut terdiam menunggu penjelasan Avika maupun Dara.


"Sudah, ayo bicara!" kata Arhan yang ikut-ikutan penasaran.


"Kata dokter-" Avika menahan ucapannya.


"Kata dokter apa?" selang Aina.


"Sabar Ma," timpal Aryan.


"Gimana mau sabar? Kalian berempat bikin naik darah saja." sambung Hendru.


"Hahaha..." keempat anak itu malah tertawa cengengesan.


"Avika hamil tujuh minggu dan Dara sudah lewat tiga bulan." ungkap Rai yang tidak ingin membuat mertuanya naik pitam.


"Apa?" semua orang melongo dengan pandangan nyalang menatap Avika dan Dara bergantian. Terlebih Dara yang membuat bingung semua orang.


"Dara itu istimewa, dia tidak sama dengan yang lain. Tanpa demam, tanpa muntah, tanpa kehilangan selera makan tau-tau sudah ndung. Hebat kan, ternyata cetakan malam itu langsung menggigit. Hahaha..." tawa Aryan menggelegar memuji keunikan Dara dan kehebatan dirinya.


"Huh... Jangan sok kepedean, Papa lah yang lebih jago dan itu turun sama kalian." timpal Arhan yang merasa dirinya lah yang paling hebat karena menciptakan sosok Aksa dalam sekali semprot saja.


"Apaan sih Bang, bikin malu saja. Dekat anak menantu tidak ada harga dirinya sama sekali." keluh Aina mencubit perut suaminya itu.


"Lah, kenapa harus malu? Mereka semua anak-anak Abang, tidak ada orang lain di sini." tukas Arhan, dia sama sekali tidak malu mengakui apapun di depan anak-anak dan keluarganya. Mereka semua juga tau bagaimana sikap Arhan yang masih pecicilan di usia setua ini, bahkan sudah mau cucu pun sikapnya tidak berubah sedikitpun.


"Iya, iya, Papa paling top deh pokoknya." Aksa ikut menimpali sambil mengusap perut buncit Inara yang masih duduk di atas pahanya. Aksa merupakan salah satu wujud Arhan yang lain yang juga tidak memiliki malu memangku istrinya di depan semua orang.

__ADS_1


Lalu satu persatu orang tua itu menghampiri Avika dan Dara untuk memberikan ucapan selamat. Tak terbilang besarnya rasa syukur mereka atas apa yang sudah Tuhan berikan untuk keluarga itu. Berharap kedepannya rumah tangga putra putri mereka akan selalu dilimpahkan kebahagiaan tanpa ada lagi yang mengganggu keutuhan keluarga mereka.


__ADS_2